Letjen TNI Doni Monardo Ulang Tahun di Tengah "Perang"

COWASJP.COM – Baru sekarang ini (2020) umat manusia di bumi mengalami perang tiada tara. Baru kali ini, di sepanjang sejarah hidup manusia. Bukan seperti Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II silam (1939-1945). Bukan pula seperti perang melawan teroris yang disertai gelegar bom bunuh diri dan rentetan tembakan.

Kini, 212 negara dan teritori di dunia terlibat dalam perang menghadapi lawan yang sama: Covid-19. Perang Dunia I dan II hanya melibatkan belasan negara. Perang meredam teroris pun hanya di beberapa negara saja, tidak serentak. 

Tapi sekarang, seluruh penjuru dunia diguncang perang total menghadapi lawan tak kasat mata, senyap, dan mematikan. Menyebar cepat selaras kecepatan dan jauhnya mobilitas miliaran manusia era milenial.

Tak hanya menelan korban nyawa, tapi juga melumpuhkan perekonomian ratusan negara. Merumahkan ratusan juta bahkan mungkin miliaran tenaga kerja! Membatasi pergerakan manusia. Di mana pun berada.

Tak hanya negara-negara berkembang yang kalang kabut. Negara adidaya Amerika Serikat (AS) lebih kewalahan lagi, bahkan terparah di dunia. Yang jelas, sampai Minggu pagi 10 Mei 2020 pukul 09.15, tercatat 280.431 orang tewas di seluruh dunia. Sebanyak 4,1 juta orang positif terinfeksi Covid-19, baru 1,4 juta yang sembuh. Angka ini masih terus bergerak naik.

Sampai Minggu pagi ini, di AS sebanyak 1.347.309 orang terinfeksi, dan 80.037 orang meninggal dunia. Jumlah terinfeksi dan yang tewas tertinggi di dunia.

Sementara itu, di Indonesia, sampai Minggu pagi ini (10 Mei 2020) tercatat 13.645 terinfeksi, dan 2.609 yang sembuh. 

Belum ada satu lembaga riset pun yang berani memastikan, kapan perang tiada tara ini akan berakhir. Sampai berapa juta lagi orang yang terinfeksi dan berapa puluh ribu lagi yang meninggal dunia? Sampai sekarang, belum ada satu pun vaksin yang lolos tiga tahapan uji klinis. Grafik total kasus dan kematian di dunia masih bergerak naik, entah kapan mendatar kemudian melandai, dan nol.

Di tengah perang dunia dan perjuangan keras menaklukkan Covid-19 inilah, Letjen TNI Doni Monardo berulang tahun ke-57. Minggu 10 Mei 2020 ini. 

monardo.jpgDari kiri: Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Presiden Joko Widodo, dan Mayjen TNI Doni Monardo saat dilantik jadi Sekjen Wantannas, 6 April 2018. (FOTO: kanal73.com)

Ketika beliau belum pulang ke rumah sejak medio Maret lalu. Setelah dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dibentuk 13 Maret 2020. 

Selama tugas, seperti dituliskan Dr Aqua Dwipayana, sahabat akrabnya, Pak Doni Monardo rata-rata hanya tidur 4 jam sehari. Sebagian besar waktunya, berada dan bersiaga di markasnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jalan Pramuka 38, Jakarta.

Di tengah perang akbar ini, izinkan penulis mengucapkan: “Selamat ulang tahun Letnan Jenderal TNI Doni Monardo. Semoga Anda selalu sehat dan sukses dalam menjalankan tugas sebagai panglima perang melawan Covid-19 di Tanah Air Indonesia.”

Dua Kali Ketemu Letjen Doni Monardo, Santun tapi Kesannya Tegas dan Berwibawa

Penulis kenal dengan lulusan Akademi Militer 1985 ini Senin siang 2 April 2018, di Hotel Mason Pine, Kota Baru Parahiyangan, Bandung. Diperkenalkan oleh Dr Aqua Dwipayana, pakar Komunikasi dan motivator nasional yang baik itu. 

Saat itu, Pak Doni Monardo masih berpangkat Mayor Jenderal TNI dan menjabat sebagai Sekjen Wantannas (Dewan Ketahanan Nasional).

Waktu itu, penulis bersama Pak Yamin Ahmad (mantan wartawan Jawa Pos) diajak Mas Aqua menghadiri acara promosi gelar Doktor Dhimam Abror Djuraid (mantan Pimred Jawa Pos) di Universitas Padjadjaran Bandung.

Nah, sebelum ke acara di Unpad itulah Mas Aqua mengajak kami bertemu dengan Pak Doni Monardo. Dalam pertemuan pertama ini Pak Doni Monardo mengenakan seragam TNI-AD. Jenderal bintang dua. Ketika kami datang, beliau sudah menunggu di lobi hotel. Bersama beberapa tamu lainnya.

monardo1.jpgKetua BNPB Letjen TNI Doni Monardo. (FOTO: BNPB)

Beliau tak banyak bicara, tapi sinar matanya bersahabat dengan siapa pun. Bicaranya jarang bernada tinggi. Tidak tergesa-gesa dalam berkata, tertata, dan gampang dipahami. Santun, tapi kesannya tegas dan berwibawa. 

Beliau sudah lama bersahabat dengan Mas Aqua Dwipayana. Kalau tidak salah sejak Pak Doni menjabat sebagai Danjen Kopassus (5 September 2014 – 25 Juli 2015), kemudian Pangdam XVI/Pattimura (25 Juli 2015 – 27 Oktober 2017). 

Pangdam III/Siliwangi (27 Oktober 2017 – 19 Maret 2018). Sekjen Dewan Ketahanan Nasional (14 Maret 2018 – 27 Mei 2019). Kemudian menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak 9 Januari 2019 sampai sekarang.

Pertemuan kedua dengan Pak Doni terjadi 17 April 2018. H-1 jelang keberangkatan jamaah umrah POS II (The Power of Silaturahim gelombang kedua: 18 – 26 April 2018) yang diprakarsai Dr Aqua Dwipayana. Semua jamaah umrah diajak Mas Aqua untuk bertemu Pak Doni di ruang rapat kantor Wantanas di Jakarta Pusat. (LIHAT VIDEO-nya) 

Beliau masih ingat dengan penulis. Alhamdulillah. Dari dua pertemuan itu, penulis menduga kuat bahwa Letjen TNI Doni Monardo adalah sosok panglima yang komitmen, fokus, petarung (pantang menyerah), dan pejuang keras. 

Beliau tidak ambisi jabatan. “Yang terpenting, apa yang kita kerjakan bermanfaat bagi masyarakat luas. Jika itu tercapai tentu masyarakat akan mengenang kita,” kata Pak Doni Monardo. 

Sejak dipercaya sebagai Pangdam XVI/ Pattimura Agustus 2015, misalnya, Doni langsung menancapkan program Emas Biru dan Emas Hijau. Emas biru berarti potensi laut dan emas hijau merupakan potensi alam daratan yang hijau royo-royo.

“Alhamdulillah, dengan pola prosperity approach (pendekatan kesejahteraan) itulah kita berhasil mendamaikan beberapa desa atau negeri yang bertikai,” katanya. Maluku kembali damai setelah lama dicekam konflik sosial antaragama. Luar biasa!

monardo2.jpgDoni Monardo ketika masih menjadi Pangdam XVI/Pattimura (no 2 dari kanan) dan Yamin Akhmad (paling kanan). (FOTO: istimewa)

Sedang Mengemban Tugas Besar: Menaklukkan Covid-19 Bersama Berbagai Komponen Bangsa
Kini, Pak Doni sedang mengemban tugas besar: menaklukkan Covid-19 bersama berbagai komponen bangsa. Militer, Polri, ASN, para pakar, petugas medis, tokoh-tokoh masyarakat, sampai para relawan.

Di awal tugasnya sebagai Kepala Pelaksana Gugus Tugas, 20 Maret 2020 tercatat hanya 369 pasien yang positif terinfeksi. Yang meninggal 32 orang. Kemudian melesat pada 15 April 4.221 orang positif dan 446 orang meninggal dunia.

Dan Minggu 10 Mei melesat lagi jadi 13.645 terinfeksi dan 959 yang meninggal dunia.

Peningkatan pesat jumlah yang terinfeksi terjadi karena semakin intensifnya “perburuan” virus. Setelah Gugus Tugas dibentuk. Rapid test dilakukan di mana-mana. Jumlah laboratorium yang melakukan pemeriksaan Covid-19 semakin banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. 

Total 89 laboratorium: 48 di rumah-sakit rumah sakit, 15 di perguruan tinggi, 18 jejaring laboratorium di bawah Kemenkes, 5 lainnya jejaring laboratorium kesehatan di daerah. Semuanya mempercepat “tertangkapnya” orang yang terinfeksi, tergejala, maupun yang tanpa gejala tapi menjadi carrier virus.

Harus dilakukan secepat mungkin untuk menghambat kebrutalan virus. Di satu sisi Doni menggalang kekuatan untuk mempercepat terdeteksinya warga yang terinfeksi, bahkan diklasifikasi sebagai OTG, ODP, PDP, positif. 

Di sisi lain, Gugus Tugas dan jajarannya sampai ke daerah harus menegakkan disiplin masyarakat: jaga jarak, harus mengenakan masker, dan di rumah saja. 

Tidak mudah! Kejadian seperti ini memang baru kali ini ada sepanjang sejarah umat manusia. Orang harus cuci tangan berkali-kali. Harus jaga jarak dan sebagainya.

Tapi perlahan, dengan tindakan-tindakan terukur, sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Sabtu sore 9 Mei kemarin, kata teman penulis (Soerijadi) yang masih aktif di Jawa Pos, jalan-jalan di Surabaya sepi. Ini menandakan warga mulai mematuhi perintah negara, demi keselamatan bersama. Alhamdulillah. Perjuangan keras mulai menampakkan hasil positif.

imawan.jpgDari kiri: Imawan Mashuri, Dr Aqua Dwipayana, Yamin Akhmad ketika menghadiri acara promosi Doktor Dhimam Abror Djuraid.(FOTO: Slamet Oerip Prihadi)

Tiongkok diperkirakan paling cepat bisa memproduksi massal vaksin Covid-19 September 2020. Para pakar kesehatan AS dan Eropa memperkirakan baru medio 2021 memassalkan vaksin. Berarti, perjuangan Letjen TNI Doni Monardo dan seluruh jajarannya cukup lama.

Sekarang inilah puncak serangan Covid-19 di Indonesia. Grafik memuncak, belum menunjukkan tren menurun secara jelas. Sabtu 9 Mei terjadi penambahan 533 kasus positif. Tertinggi sejak awal Maret. Pada 13 Maret, misalnya, “hanya” 35 kasus positif yang ditemukan.

Namun, jumlah yang meninggal dunia mulai menurun. 14 April 60 orang meninggal dunia. 9 Mei kemarin 16 orang meninggal dunia di seluruh Indonesia. Yang sembuh semakin banyak.

“Selamat ulang tahun ke-57 Pak Doni Monardo. Semoga selalu sehat dan sukses dalam memimpin perjuangan hebat menaklukkan Covid-19 di Indonesia. Aamiin YRA.” (*)

Penulis: Slamet Oerip Prihadi, Wartawan Senior di Jawa Timur.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda