Berbagai Problem Remaja (1)

Gejala Skizofrenia pada Remaja

ILUSTRASI FOTO: Gejala skizofrenia pada remaja.(FOTO: klikdokter.com)

COWASJP.COM – Skizofrenia pada masa kanak-kanak dan remaja didefinisikan sama dengan skizofrenia pada masa dewasa. Dengan gejala psikotik yang khas. 

Seperti adanya defisit pada fungsi adaptasi, waham, halusinasi, asosiasi yang melonggar atau inkoherensi (isi pikir yang kacau), katatonia, afek yang tumpul atau tidak dapat diraba-rabakan. 

Waham adalah keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata. Dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika.

Gejala ini harus ada selama paling sedikit 1 bulan atau lebih. Defisit pada fungsi adaptasi yang terdapat pada skizofrenia masa kanak-kanak dan remaja, muncul dalam bentuk kegagalan mencapai tingkat perkembangan sosial yang diharapkan. Atau pun hilangnya beberapa keterampilan yang telah dicapai. 

Gangguan mood/afektif yang disertai dengan gejala psikotik. Pada mania dengan gejala psikotik, gambaran klinisnya lebih berat daripada mania tanpa gejala psikotik.

WASPADAI HARGA DIRI BERLEBIHAN 

Harga diri yang membubung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran, dan kegelisahan serta kecurigaan menjadi waham kejar. Aktivitas yang terus menerus dapat menjurus kepada agresi dan kekerasan.

Nah, anak-anak muda yang merasa harga dirinya sudah kelewat batas harus diwaspadai. Berarti mereka sudah terpapar gejala psikotik.

Pada depresi berat dengan gejala psikotik, gambaran klinisnya lebih berat dibandingkan dengan depresi berat tanpa gejala psikotik. Biasanya disertai dengan waham, halusinasi atau stupor depresif (mematung). 

Wahamnya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina/menuduh atau tercium bau kotoran atau daging membusuk. 

Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Gangguan waham kelompok gangguan ini ditandai secara khas oleh berkembangnya waham yang umumnya menetap, dan kadang bertahan seumur hidup. 

Waham beraneka ragam isinya, sering berupa waham kejaran, hipokondrik, kebesaran kecemburuan, curiga, atau adanya keyakinan bentuk tubuhnya abnormal/ada yang salah. 

Awitan (onset) biasanya muncul pada usia pertengahan, tetapi kadang-kadang pada kasus yang berkaitan dengan keyakinan tentang bentuk tubuh yang salah. Dijumpai pada usia dewasamuda/remaja akhir. 

Waham tersebut harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya dan harus bersifat pribadi (personal), bukan subkultural. Termasuk: paranoia, psikosis paranoid. 

dokter-erna-skizofrenia-1.jpgSulit membedakan mana kenyataan mana khayalan. (FOTO: halodoc.com)

Tidak termasuk: gangguan kepribadian paranoid, skizofrenia paranoid. Gangguan mental organik dengan gejala psikotik. Yang termasuk gangguan ini antara lain delirium suatu sindrom yang etiologinya tidak khas. Ditandai oleh gangguan kesadaran yang bersamaan dengan menurunnya perhatian, persepsi, proses pikir, daya ingat, perilaku psikomotor, emosi dan siklus tidur (sleep– wake–cycle). 

Kondisi ini dapat terjadi pada semua usia.

PENYEBAB 

Genetika

Perkiraan dari heritabilitas bervariasi karena kesulitan dalam memisahkan efek yang disebabkan oleh faktor genetika dan lingkungan. 

Risiko terbesar timbulnya skizofrenia adalah adanya hubungan saudara tingkat pertama dengan penyakit (risikonya 6.5%); lebih dari 40% pada kembar monozigotik dari penderita skizofrenia juga terpengaruh. 

Tampaknya bahwa banyak gen yang terlibat, setiap bagian kecil memberi efek dan transmisi serta ekspresi yang tidak diketahui. Banyak penyebab yang telah diajukan, termasuk yang spesifik seperti variasi jumlah salinan, NOTCH4, dan lokus protein histon. 

Sejumlah segala sesuatu yang menyangkut genom seperti misalnya protein jari seng 804A juga telah ditautkan. Terdapat tumpang tindih yang signifikan pada genetika skizofrenia dan kelainan bipolar.

Dengan mengasumsikan adanya dasar keturunan, suatu pertanyaan dari psikologi revolusioner adalah mengapa gen yang meningkatkan kemungkinan psikosis berkembang. Dengan asumsi bahwa kondisi ini mungkin disebabkan oleh adanya ketimpangan adaptasi dari pandangan evolusi. 

Satu teori mengimplikasikan keterlibatan gen dalam evolusi bahasa dan sifat alami manusia, tetapi hingga saat ini ide seperti itu tetap menjadi teori secara alamiah.

Lingkungan

Faktor lingkungan berhubungan dengan timbulnya skizofrenia di antaranya adalah lingkungan tempat tinggal, penggunaan obat dan stres masa kehamilan. 

Gaya pengasuhan tampaknya tidak memberikan pengaruh besar, walaupun penderita yang mendapat dukungan dari orang tua keadaannya lebih baik daripada penderita dengan orang tua yang suka mengkritik dan kasar. 

Tinggal di lingkungan urban pada waktu masa kanak-kanak atau masa dewasa secara konsisten tampaknya menaikkan risiko skizofrenia dua kali lipat. Bahkan setelah memperhitungkan faktor penggunaan obat, kelompok etnis, dan ukuran dari kelompok sosial. 

YUNASA.jpg

Faktor lain yang memainkan peranan penting termasuk isolasi sosial dan imigrasi yang berhubungan dengan kesulitan sosial, diskriminasi rasial, disfungsi keluarga, pengangguran, dan kondisi perumahan yang buruk.

Penyalahgunaan Obat

Sejumlah obat dihubungkan dengan timbulnya skizofrenia, termasuk kanabis, kokain, dan amfetamin. Sekitar sebagian dari penderita skizofrenia merupakan pengguna obat-obatan dan/atau alkohol secara berlebihan. Peran kanabis dapat merupakan penyebab, tetapi obat lainnya dapat digunakan hanya sebagai cara untuk mengatasi depresi, kecemasan, kebosanan, dan rasa kesepian.

GANJA DAN KOKAIN

Ketergantungan dalam penggunaan ganja dengan dosis tinggi berisiko berkembangnya gangguan psikotik. Yang sering berkorelasi dengan dua kali peningkatan risiko psikosis dan skizofrenia. 

Walaupun penggunaan ganja diterima sebagai sebab yang berkontribusi terhadap skizofrenia oleh banyak pihak, hal itu tetaplah kontroversial. Amfetamin, kokain, dan pada derajat tertentu yang lebih rendah, alkohol, dapat menyebabkan psikosis yang bergejala sangat serupa dengan skizofrenia. 

Meskipun tidak secara umum dipercaya sebagai satu sebab penyakit, penderita skizofrenia menggunakan nikotin dengan rerata yang jauh lebih besar dibandingkan populasi pada umumnya.

Faktor Perkembangan

Faktor-faktor seperti hipoksia dan infeksi, atau stres dan malnutrisi pada ibu pada masa perkembangan janin, dapat mengakibatkan sedikit peningkatan resiko skizofrenia di kemudian hari. Orang-orang yang didiagnosis menderita skizofrenia lebih sering dilahirkan pada saat musim dingin atau musim semi (setidaknya di belahan bumi utara). Mungkin merupakan akibat dari peningkatan rerata paparan virus di dalam kandungan. Perbedaan ini sekitar 5 sampai 8%.

Penatalaksanaan

Terapi biologis.

Terapi farmakologisdengan anti – psikotik , misalnya :

Terapi kejang listrik/ECT ( Electro – Convulsive Therapy).

Terapi Psikososial.

Terapi keluarga:

Pasien dan keluarganya akan mendapatkan manfaat dari terapi yang menyediakan dukungan dan pendidikan bagi keluarga. Gejala-gejala yang muncul pada penderita berpotensi membaik jika keluarga memahami penyakit tersebut. Dapat mengenali situasi yang penuh tekanan yang mungkin memicu kekambuhan, dan membantu pasien  tetap menjalankan rencana pengobatan. 

Terapi keluarga juga akan membantu pasien berkomunikasi lebih baik dengan anggota keluarga yang lain saat ada masalah. Selain itu terapi keluarga juga membantu anggota keluarga mengatasi dan mengurangi tekanan  kondisi pasien.

Hospitalisasi, bila dianggap membahayakan dirin sendiri maupun orang lain di sekitarnya. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda