Khalayak Pasar Masih Bebas

Pedagang jarang pakai masker dan cuci tangan. (FOTO2: Abdul Muis/CowasJP)

COWASJP.COM – Sudah dua kali saya menembus batas tiga kota yang mulai Selasa (28/04/202) menerapkan PSBB. Pembatasan Sosial Berskala Besar. Yaitu Surabaya, Sidoarjo dan Gresik ("Susiresik"). 

Kota pertama yang saya obok-obok tentu Surabaya. Kota ini awal kali yang dinyatakan sebagai zona merah di Jawa Timur. 

Tempat tujuan utama yang saya singgahi adalah pasar dan masjid. Dua tempat ini yang belum bisa melepaskan aktivitas hariannya. Berkumpul. 

Pasar, tentu banyak orang berada di sini untuk berjualan dan membeli kebutuhan hidup. Hampir semua pasar tradisonal di Surabaya tetap beraktivitas seperti biasa. 

Mulai dari Pasar Menur, Karangmenjangan, Pasar Pacar Keling, Pasar Kembang sampai Pasar Tembok yang buka dua waktu: pagi dan sore itu, tetap ramai penjual. Tidak berkurang.  

Para pedagangnya juga tak semua memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Mereka rata-rata acuh tentang aturan pemerintah yang sudah menjadi SOP (standard operational procedure) itu. 

Begitu pula beberapa masjid yang saya singgahi untuk sholat. Para jamaah tetap menggelar sholat lima waktu berjamaah seperti biasa. 

Suara adzan juga tidak diubah. Sama. Tidak ada seruan untuk sholat di rumah masing-masing. 

Mereka juga menempati barisan atau soft yang tersedia. Tidak pakai jarak. Kendati ada yang mengenakan masker. 

Masjid-masjid di perumahan ada yang mengunci pintunya. Tapi juga ada yang tetap membiarkan sholat berjamaah. 

Begitu pula saat saya berada di pasar-pasar tradisional di Sidoarjo. Pasar besar di daerah Waru, Candi, Porong, Taman dan Sidoarjo Kota tetap menggelar dagangnya seperti biasa. 

Para pedagangnya juga sama dengan yang di daerah Surabaya. Tak semua bermasker. Tak juga semua menyediakan tempat cuci tangan. 

parkir.jpgParkir Pasar Rungkut sediakan tempat cuci tangan.

Hanya beberapa pasar kaget atau dadakan, yang menyediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabun cairnya. Seperti pasar pagi di kawasan perumahan Kepuh Permai Waru itu. 

Pengurus pasar tersebut menyediakan tempat cuci tangan di area parkir. Ini juga saya saksikan ketika singgah di pasar kaki lima kawasan Gresik Kota Baru (KGB). Serta kawasan Pongahan.

Kesadaran masyarakat pasar ini ternyata masih rendah untuk mensukseskan program memutus mata rantai virus corona (Covid)-19. Begitu pula beberapa masjid yang ada di Sidoarjo dan Gresik. Masih ada yang tetap menggelar sholat lima waktu berjamaah. 

Malah ada yang tetap mengadakan Jumatan. 

Seperti Rabu (22/04/2020) malam itu. Saya hadir dalam undangan khusus majelis zikir di salah satu musholla. Jamaah yang ikut sholat tak perlu ambil jarak. Tetap merapatkan barisan. 

Jamaah hanya diwajibkan cuci tangan bersabun sebelum masuk. Juga harus pakai masker. Jika tidak punya, takmirnya sudah menyiapkan masker untuk jamaah. 

Itu perbedaan yang mencolok dari masyarakat pasar dan masjid. Sama-sama berkerumun, tapi masyarakat pasar lebah abai dengan SOP. 

Mengapa?

Seorang pedagang ikan di Pasar Waru mengaku hampir setiap usai "mbeteti" selalu cuci tangan. Malah setelah menerima uang dari pembeli dia juga mencuci jemarinya di kobokan atau waskom yang tersedia. Bukan air mengalir. 

Tidak pakai sabun? "Kalau bolak-balik pakai sabun, takutnya tar kelupaan pak. Nanti ikannya rasa sabun semua hehe," kilah ibu setengah penjual ikan gurami ini. 

Kenapa tidak bermasker? Pedagang lainnya yang berjualan palawija mengaku risih. Tidak terbiasa menutup hidungnya. "Yang penting saya kan ambil jarak," kilah Maksum, pria asal Jombang ini. 

Ya. Rata-rata tingkat kesadaran mereka untuk menjalankan SOP di musim wabah Covid-19 ini sangat minim. Mereka kurang mendapat pengetahuan tentang keberadaan virus berbahaya ini.

Itu pendapat Salam, si Jukir. Juru Parkir di Pasar Rungkut.

parkir.jpg2.jpg

Pria asal Madura ini memang rajin membaca postingan dari grup WA-nya. Sehingga dia rajin pakai masker dan cuci tangan setelah terima uang parkiran. 

Sama dengan dia. Sueb, pemilik Warung Kopi di Pasar Karangmenjangan ini juga rajin menjaga diri. Pria kelahiran Mojokerto ini selalu gonta-ganti masker dan memberi tempat cuci tangan plus sabun untuk pelanggannya. 

Yang paling suka nongkrong di warkopnya adalah para ojol (ojek online). Soalnya di sekitaran Pasar Krempyeng itu, juga banyak penjual makanan kuliner yang bisa dibeli secara daring. 

Tak pelak obrolan di warkop kecil inipun kian gayeng. Khususnya bahas rencana PSBB di "Susiresik" itu. 

Ada yang pro dan kontra. Yang pro kian yakin tali Covid-19 bakal lenyap di Surabaya, jika pelaksana tugas mampu menerapkan dengan tegas. 

Seperti yang dipredeksi penarik Gojek, Joko Simin. "Jika tidak. Bakal diperpanjang lagi. Bakal kita-kita ini ndak riyoyoan," keluh duda ini. 

Afrizal, rekan Joko dari ojol provider lainnya justru pesimis. Sebab, masyarakat pasar dan masjid sulit diatur. 

"Mereka susah mengubah tradisinya," katanya. Apalagi ini bulan suci Ramadhan. 

Pria tampan itu menyebut umat Islam yang fanatik tidak akan mau meninggalkan sholat tarawih berjamaah. Juga, katanya, pedagang pasar tetap akan mengejar omzet dan keuntungan di bulan penuh belanja ini. 

"Seharusnya ada solusi lain. Bukan harus menerapkan PSBB seperti di Jakarta itu," usul Afrizal. 

YUNASA.jpg

Lantas?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa seharusnya melakukan out of the box. Tidak njiplak Jakarta. 

Khofifah harusnya menyesuaikan kultur masyarakat "Susiresik" yang jauh berbeda dengan orang Jakarta. 

Untuk memutus tali Covid-19, menurut dia, sebaiknya pemerintah kota dan kabupaten melakukan pendataan langsung kesehatan warganya melalui kepala RT dan RW. Turba. Turun ke bawah. 

Misalnya, kata sarjana ilmu politik ini, masing-masing kepala RT dan perangkat kesehatan dari kelurahan atau kecamatan, memeriksa langsung rumah warga. Jika ada warga yang mencurigakan, langsung ditangani secara medis.

"Balai RT atau RW setempat bisa dipergunakan untuk karantina atau isolasi," usulnya. "Tidak harus dirujuk langsung ke rumah sakit. Ini lebih efisien dan efektif," imbuhnya. 

Dananya? Ya, menggunakan dana desa. "Saat ini semua desa tidak boleh menggunakan dananya, kecuali untuk kesehatan masyarakat," jelasnya.  

Menarik sekali! 

Jadi, memutus mata rantai virus mematikan itu, bukan harus dengan PSBB. Cukup skala kecil saja. Istilahnya Pembatasan Covid Skala Kecil (PCSK). 

Kami berempat sepakat. Apalagi Sueb. Yang tidak punya BPJS.

Kalau saja pemeriksaan kesehatan masyarakat melalui door to door, hasilnya akan valid. Dan, ini harus dilaksanakan serempak. 

Pemeriksaannya juga harus dilakukan secara berkala. Setelah 14 hari tahap pertama selesai, ada pemeriksaan ulang. Dan, seterusnya sampai daerah tersebut dinyatakan aman.

Jadi, perlu pendeteksian kesehatan sejak dini dari rumah ke rumah. Seperti yang dilakukan pengurus RW tentang Posyandu itu. Hal ini sudah ditulis dalam DI's Way 24 April 2020, judul: "Pro-test Hafidz." (*)

Penulis: Abdul Muis Masduki adalah wartawan senior yang kini mengelola berita-rakyat.co.id

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda