Jumat yang Mendebarkan

COWASJP.COM – Biasanya bila menunaikan ibadah shalat Jumat, hati rasa ayem. Pikiran terasa tenang. Karena mendekatkan diri kepada Allah. 

Tapi Jumat kali ini beda. Hati saya berdebar. Pikiran melayang ke mana-mana. Sholat pun terasa tidak khusyu'. Tapi, apa dikata. 

Ceritanya. Jumat tadi (3 April 2020), saya sholat di Masjid Al Wahyu.  Tak jauh dari rumah (Rungkut Barata, Surabaya). Di kawasan Rungkut.

Sampai di halaman masjid, nampak belasan orang antre. Mereka cuci tangan. Satu demi satu. Padahal. Azan sudah berkumandang. 

Saya pun antre.  Sekitar 5 menit.  Baru dapat giliran. Untuk cuci tangan. 

Sesampai pintu masuk masjid,  semua orang dites suhu tubuhnya.  Dengan termometer digital. 

Semua normal. Dengan suhu tubuh rata-rata 36 derajat lebih. Saya melihat,  salah seorang  sebelumnya disuruh minggir.  Karena suhu tubuh lebih dari 70.

JUMATAN.jpgSetiap jamaah diukur suhu tubuhnya di Masjid Al Wahyu, Rungkut, Surabaya. (FOTO: H. Nasyaruddin Ismail/CowasJP)

Sekarang. Giliran saya. Termometer digital itu pun,  diarahkan ke dahi. Saya terkejut. Suhu tubuh 70 lebih. 

Saya orang kedua. Yang tidak boleh masuk masjid.  Diminta berdiri sebelah pintu. "Pak Nas (nama penulis, H. Nasyaruddin Ismail, red). Bapak tunggu di luar dulu. Tidak apa-apa kan," kata petugas. 

Dia memang sudah lama kenal saya. Sejak saya tinggal di Wonocolo. Kala masih kuliah. 

"Tidak apa-apa.  Demi kabaikan," sahut saya singkat. 

Semua mata yang antre, memandang ke saya. Mungkin mengira. Kalau saya terjangkit virus corona. 

Dalam pikiran saya,  sudah melayang ke mana-mana.  Misalnya. Apakah saya terinfeksi Covid-19?

Kalau terinfeksi. Nanti akan dikarantina. Sudah tidak bisa bertemu keluarga lagi.  Tidak bisa main WA lagi. Termasuk dengan teman-teman Cowas JP (Perkumpulan Konco Lawas mantan Jawa Pos Group). 

Pikiran pun kian tak karuan. 

Misalnya. Kalau meninggal. Pemakamannya tidak bisa dihadiri oleh sanak keluarga. Tidak bisa dihadiri anak dan isteri. Dan segala macam pikiran buruk. 

Usai shalat Jumat. Saya cepat-cepat pulang. Shalat sunat ba'da yang biasa dilakukan,  kali ini tidak dikerjakan. Langsung tancap gas. 

Sampai di rumah,  saya ceritakan ke nyonya yang lagi masak di dapur. 

Nampaknya dia pun ikut panik,  dengar cerita saya. 

Dengan cepat, dia minta termometer digital. Yang biasa digunakan cucu. Alhamdulillah.  Ternyata suhu tubuh normal. Hanya 36,2. Semuanya ikut bahagia, melihat angka di termometer itu. Wah, alat pengukur di masjid tadi salah.

"Alhamdulillah," sahut nyonya. "Wah,  membuat kaget saja," lanjutnya. 

Semoga kita semua,  dijauhkan dari virus corona. Semoga kita semua diberi kesehatan oleh Allah, aamiin.... Salam sehat.(*)

Pewarta : M Nasaruddin Ismail
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda