Catatan Tofan Mahdi tentang Kota Surabaya (1)

Bu Risma dan Tugas yang Segera Purna

Bunga Tabebuya bermekaran di Jalan Marmoyo dan Jalan Diponegoro dekat Kebun Binatang Surabaya. (FOTO: tribunnews.com)

COWASJP.COM – Pekan lalu, selama dua hari, saya pulang ke Surabaya. Bagi yang pernah tinggal di Surabaya atau cukup lama meninggalkan kota ini, setidaknya setelah satu dekade atau lebih, pasti kaget dengan wajah Surabaya. 

Sudah sangat berubah dan tidak berlebihan jika secara kasat mata saya berani menyebut, saat ini Surabaya adalah kota terbaik di Indonesia. Atau lebih tepatnya ibukota provinsi terbaik di Indonesia.

Karena alasan dinas, saya telah mengunjungi hampir semua ibukota provinsi di Indonesia (minus dua ibukota di Papua). Saya belum pernah sama sekali ke Papua. Semua kota-kota di Indonesia tipologi-nya sama. Bahkan banyak kota yang terkesan jalan sendiri tanpa tampak kehadiran pemerintah-nya.

Ciri khas kota-kota di Indonesia adalah kondisi lalu lintas yang semrawut dan pengendara kendaraan bermotor yang tidak tertib. Tidak ada akses bagi pejalan kaki yang memadai (trotoar), beberapa sudut kota ada yang kumuh dan tidak tertata, pasar tumpah, hingga berbagai persoalan sosial lain. Sampai hal-hal kecil lain juga saya amati seperti kondisi rambu dan lampu lalu lintas, marka jalan, sampai masih adakah sampah berserakan di jalan.

Namun, saya tidak mengukur bagaimana pelayanan publik di kota tersebut, sudah baik, transparan, manusiawi, dan atau masih biasa-biasa saja. 

fan1.jpgTofan Mahdi, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007. (FOTO: CoWasJP)

Kalau diminta menyebut kota-kota besar manakah yang juga baik menyusul Surabaya, saya akan sebut: Balikpapan (bukan ibukota tapi tertib dan bersih), Jogjakarta, (mungkin) Semarang, dan surprisingly saya akan menyebut kota Ambon.

Di luar kota-kota besar tadi, banyak kota-kota kecil di Indonesia yang juga bagus dan nyaman seperti Ngawi, Purwokerto, Magelang, Wonosobo, Tanjung Pandan (Belitung), Bukitinggi (Sumbar), dan masih banyak lagi.

Kota-kota besar umumnya menghadapi tantangan ledakan jumlah penduduk, sehingga perlu kerja keras yang ekstra untuk menata kotanya. 

Sekali lagi, semua penilaian di atas adalah pandangan subjektif saya. Semata-mata dari apa yang saya lihat dan rasakan. Saya tidak menganilisis APBD kota tersebut, PDRB-nya berapa, PDRB per kapita, tingkat UMK, pun tanpa mengukur tingkat kebahagiaan warganya.

Seperti halnya saat saya menulis tentang kota-kota di luar negeri yang pernah saya kunjungi, saya hanya menulis dari apa yang saya lihat dan alami saja. Jika misalnya seperti di Amsterdam atau Singapore kotanya bagus dan indah, tetapi warganya tidak bahagia karena biaya hidup yang mahal, itu hal lain yang tidak masuk dalam konteks yang saya tulis.

fan2.jpgFOTO: istimewa.

 Pun tentang Surabaya ini, semata-mata dari apa yang saya lihat saat ini dan yang pernah saya lihat dan rasakan satu dekade lalu saat selama lebih 12 tahun tinggal di kota ini.

Surabaya di Tangan Bu Risma

Siapakah sosok di balik perubahan wajah kota Surabaya? Semua sepakat hanya ada satu nama: Tri Rismaharini atau arek Suroboyo biasa memanggil Bu Risma. Tangan dingin Bu Risma mulai kelihatan saat dia masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya zaman walikota Bambang DH.
Pelan tapi pasti, wajah Kota Surabaya berubah dari sebuah kota yang gersang, panas, kotor, dan banyak wilayah yang kumuh menjadi kota yang berangsur bersih dengan mulai banyak pohon ditanam di sudut-sudut kota. Juga mulai banyak dibangun taman-taman yang indah. Pelan tapi pasti dan konsisten.

Kalau dihitung sejak Bu Risma menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan tahun 2005, berarti sudah 15 tahun hingga hari ini, wajah Surabaya pun berubah menjadi seperti yang kita lihat sekarang. 

Saya tidak kenal dekat dengan Bu Risma. Hanya pernah dalam sebuah kesempatan di Universitas Kristen Petra, saya menjadi moderator dan Bu Risma sebagai pembicara. Saat itu Bu Risma sudah “naik pangkat” sebagai Kepala Bappeko (Badan Perencanaan Pembangunan Kota). Kalau tidak salah itu tahun 2008. Usai seminar, kami sempat ngobrol. Namun lebih tepatnya saya mendengarkan curhat Bu Risma karena habis ditegur sama Pak Wawali Surabaya Arif Afandi WakGus Arif Afandi. Gegara Bu Risma dianggap menolak saat dipanggil untuk menghadap ke ruangan Wawali. Mungkin karena Bu Risma tahu saya temannya Wawali Arif Afandi, jadi dia curhat.

fan3.jpg

“Aku iku pas sik rapat sama Pak Bambang DH (walikota), lha koq terus di-sms Pak Arif ngene ‘sekarang sudah tidak mau menghadap saya ya. Saya masih wakil walikota Anda lho.’ Sampaikan ke Pak Arif ya Mas, waktu itu aku masih di ruangan Pak Wali,” kata Bu Risma.

Pada sebuah kesempatan  bertemu Arif Afandi, curhat dan pesan Bu Risma tadi langsung saya sampaikan. 

“Ini bukan sekali,” kata Arif Afandi kepada saya.  Meski waktu itu Pilwali Surabaya masih dua tahun lagi, tapi suhu politik kota Surabaya sudah panas. Santer terdengar, Bu Risma akan maju sebagai calon walikota. Arif Afandi sendiri juga akan maju sebagai calon walikota karena Bambang DH sudah dua periode sebagai Walikota Surabaya.

Singkat cerita, pada Pilwali 2010, pasangan Tri Rismaharini - Bambang DH yang diusung PDIP mengalahkan tiga pasangan lain, salah satunya yaitu pasangan Arif Afandi - Adies Kadir yang diusung Partai Demokrat dan Golkar. Selisih suaranya cukup tipis hanya sekitar 3 persen basis poin.

Surabaya tetap menjadi kandang banteng. Dalam Pilwali 2015, pasangan Tri Rismaharini - Whisnu Sakti Buana menang mutlak dengan meraih suara 86,3% mengalahkan pasangan Rasiyo - Lucu Kurniasari. 

Meski bukan “anak kandung” Banteng (PDIP), namun Bu Risma yang DNA-nya adalah seorang birokrat mendapatkan tempat yang istimewa di kandang Banteng.

Sukses Bu Risma memimpin Surabaya membuat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri jatuh hati. Bu Risma bisa menjadi ikon PDIP, menjadi role model pemimpin publik dari PDIP, dan mendapatkan akses komunikasi yang istimewa langsung dengan Mbak Mega. 

Pernah saya mendengar sebuah cerita tentang betapa Bu Risma sangat disayangi Mbak Mega. Dalam sebuah kunjungan Megawati ke Surabaya, Bu Risma yang saat itu sudah menjadi walikota, lupa atau sengaja tidak diberitahu oleh jajaran PDIP Surabaya (Jatim) tentang kedatangan Mbak Mega. Ketika tiba di Surabaya, Mbak Mega justru yang menanyakan di mana Bu Risma dan meminta para pengurus PDIP memanggil Bu Risma untuk mendampingi Mbak Mega selama kunjungan ke Surabaya. Namun cerita ini belum pernah saya konfirmasi kebenarannya kepada teman-teman di PDIP atau kepada Bu Risma sendiri. Dan kecintaan Mbak Mega kepada Bu Risma ini terbukti dengan amannya posisi Bu Risma selama 10 tahun memimpin Surabaya. Tidak ada pengurus PDIP yang berani mengusik kepemimpinan Risma, karena mereka akan berhadapan dengan pemimpin tertinggi mereka sendiri. Sebuah privilege dan prestasi politik yang luar biasa dari seorang Tri Rismaharini.

Tahun ini, Bu Risma akan purna tugas. Prestasi dan legacy yang ditinggalkan di Kota Surabaya akan abadi, seabadi legacy yang ditinggalkan salah satu  Walikota Surabaya yang juga melegenda, yang dikenal sebagai bapaknya Pasukan Kuning, yaitu Purnomo Kasidi. 

Ke mana Bu Risma setelah dari Surabaya? Apakah PDIP akan membawa dia untuk bertarung sebagai calon gubernur di Jakarta? Wallahualam. Yang pasti dan tidak kalah menarik adalah siapa kira-kira yang akan melanjutkan legacy Bu Risma di Surabaya? Dan sebagian nama yang sepertinya sudah siap bertarung dalam Pilwali Surabaya 2020 sudah bertebaran di sudut-sudut jalan kota Surabaya. Siapa saja mereka? Mampukah mereka? Tunggu tulisan saya yang kedua. (bersambung)

Penulis: *Tofan Mahdi, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007) dan Pemimpin Redaksi SBO TV Surabaya (2008-2009).

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda