Fashion Tidak Ada Matinya

COWASJP.COM – ​Jadi model adalah impian semua perempuan, termasuk saya. 

Tapi untuk jadi model, modal dasarnya bukan hanya wajah dan tubuh proporsional. Dukungan dari orang tua juga punya peranan penting, selain passion tentunya.

Tidak banyak orang yang berani terjun di dunia modeling. Mengapa? Selain persyaratan banyak, biaya kursus lumayan, modal dasar lain yang memiliki peranan sangat besar adalah berani bertarung dan bersaing dengan pendatang baru, yang semakin lama kecantikannya semakin sempurna. 

Tidak banyak orang yang punya mental berani gagal. Kalau berani sukses, dipuja puji sih banyak. Apalagi saat ini, mudah untuk viral tanpa kapasitas yang memadai.

yuni-sara.jpgDulu tidak ada model postur mungil. Kini nyatanya Yuni Shara jadi legenda di usia 40-an. (FOTO: tribunnews.com)

Beberapa model terangkat karena mereka adalah pemula atau mereka adalah orang yang berprestasi, atau mungkin faktor keberuntungan karena tidak ada yang lainnya, dan dia ada kesempatan. 

Itu cerita dulu, di era Baby Bomers (zaman mereka yang lahir di bawah 1960 an) dan era Gen X (jamannya saya lahir 1970-1980/1990 an).

Namun di era Milenial di mana mereka yang lahir di atas 1990 an, persaingan untuk jadi model luar biasa ketat, karena kelahiran anak dari pasangan kombinasi gen berbagai ras semakin banyak dan beragam. Sehingga hasilnya kombinasi semakin sempurna, jauh lebih cantik atau tampan. 

Selama itu pula apakah fashion ada matinya? Tidak!! 

erna.jpgDulu tidak ada model "big size." Sekarang tidak ada masalah. (FOTO: idfl.me)

Dari tahap sederhana hingga cantik sekali, kemudian berputar lagi menjadi "semua individu bisa dan semua individu itu unik", maka di era digital ini, diakui atau tidak, siapa pun bisa jadi model. Siapa pun bisa menginspirasi, dan siapa pun bisa viral. 

Semakin berbobot, maka semakin bertahan lama, semakin unik, maka  semakin mendunia. 

Dulu tidak ada model gemuk (Big Size). Sekarang hingga pakaian dalam pun di peragakan oleh mereka yang berpostur BIG SIZE.

Untitled-3.jpgFOTO: kaskus.co.id

Dulu tidak ada postur mungil, nyatanya Yuni Shara menjadi legenda sepanjang masa dari semua trend setternya.

Dulu kulit harus mulus, sekarang penderita vitiligo  dan hiper pigmentasi/hipo pigmentasi, Mongolia ras skin menjadi model yang menarik. Bahkan perwakilan negara negara di Benua Afrika beberapa kali terpilih menjadi Miss Universe.

Artinya di sini paradigma kecantikan perempuan mulai berubah, dan siapa pun bisa menjadi modelnya.

Wahai Perempuan Indonesia, siapa pun dirimu jadilah bagian dari trend setternya fashion di Indonesia. Terutama busana kebaya sebagai bagian dari jatidiri budaya Indonesia. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda