Seperempat Abad BPRS Baktimakmur Indah (3-Habis)

Dr. Tjuk Kasturi Sukiadi, Sosok di Bank Pionir

Dr. Tjuk K. Sukiadi.

COWASJP.COM – Kebesaran nama BPR Syariah Baktimakmur Indah (BPRS BMI), tak bisa lepas dari nama Dr Tjuk Kasturi Sukiadi (74), akademisi yang juga dikenal sebagai praktisi perbankan.

Sebab, sejak bank yang hadir untuk kalangan umat kelas menengah ke bawah ini berdiri, sosok yang dikenal pekerja keras itu sudah mulai berkiprah. Berkat perannya itu pula, ketika bank ini beroperasi, dia dijadikan sebagai Komisaris Utama (Komut).

Tjuk banyak berperan dalam proses berdirinya untuk bank yang berkantor pusat di Sepanjang, Sidoarjo ini. “Sebelum bank ini berdiri, saya sudah mulai disuruh bantu oleh teman-teman,” kata Tjuk -- sapaan akrab Tjuk K. Sukiadi dalam percakapan dengan CowasJP.com  usai RUPS bulan lalu.

Tjuk menceritakan, awalnya dia didaulat oleh mantan Gubernur Jawa Timur H. Moch Noer (alm) dan HMY Bambang Suyanto, tokoh PITI yang kemudian dikenal sebagai pendiri Masjid Cheng Ho Surabaya. Desakan tersebut disampaikan dalam RUPSLB BPRS Bakti Makmur Indah di Pabrik Panci Kedawung milik Bambang di Warugunung, pada 1993.

“Sebenarnya saya menolak karena nerasa nol puthul (tidak tahu apa-apa) tentang Syariah Banking. Namun Pak Noer memaksa saya karena beliau beranggapan saya sedikit banyak tahu masalah perbankan karena mengajar Mata Kuliah Ekonomi Moneter dan Manajemen Perbankan di FE Universitas Airlangga,” kata Tjuk.

Singkat cerita, Tjuk terpaksa menerima tugas tersebut. Baru kemudian Tjuk mengirim permohonan ke Bank Islam Malaysia Berhad di Kuala Lumpur untuk melakukan studi dan peninjauan singkat. Bank umum syariah pertama di Malaysia itu pun memberi kesempatan seminggu untuk melakukan studi observasi. Ketika itu mereka baru beroperasi selama 11 tahun.

Tjuk juga mengatakan, untuk mengurus perijinannya, dia juga harus mondar-mandir Surabaya-Jakarta. “Saya juga harus mondar-mandir Surabaya-Jakarta untuk mengurus perijinan. Ya tidak sendirian. Bersama pendiri yang lainnya,” cerita Tjuk, yang dikenal sebagai pakar ekonomi di Universitas Airlangga, sebuah kampus negeri yang bergengsi di Surabaya.

Dengan modal kedekatannya dengan mantan Menteri Keuangan, Mar’i Muhammad, membuat Tjuk lebih gigih lagi mengurus ijin bank ini. “Alhamdullilah, karena niatan kami tulus untuk umat, dan atas seijin Allah, semuanya berhasil,” cerita Tjuk, yang menjadi Komisaris Utama sejak bank ini berdiri hingga awal Mei 2018. Dia mengundurkan diri sebagai Komut, setelah menjabat lebih dari 20 tahun.

Perannya untuk pengembangan BPR Syariah Bhaktimakmur Indah, memang luar biasa. Di tangan dialah bank ini bisa berkembang dengan pesat seperti sekarang ini. Bahkan dana sebuah yayasan yang dikelolanya, dimasukkan ke bank ini. Sehingga, saham mayoritas berada di tangannya. Ini semua adalah merupakan salah satu perjuangan Tjuk dalam memajukan bank untuk umat itu.

“BPRS Bhaktimakmur Indah berkembang dari equity Rp 250 juta dan total asset Rp 500 juta pada tahun 1994 menjadi equity Rp 20 miliar dan total asset Rp 150 miliar pada tahun 2018 ketika saya mengundurkan diri,” kata Tjuk, yang juga dikenal sebagai tokoh Soekarnois Jawa Timur.

Lantas apa harapan Tjuk pada bank yang menjadi cikal bakal bank syariah di Indonesia ini. Kata Tjuk, yang harus dilakukan adalah peningkatan keterampilan profesional perbankan sumber daya manusia (SDM). “Kalau ingin lebih maju, tidak ada pilihan lain, kecuali meningkatkan keterampilan profesional bidang perbankan sumber daya manusianya,” sarannya.

Bahkan tak segan-segan pendiri bank ini mengkritiknya. “Kalau boleh saya kritik, kemampuan profesional perbankan SDM di bank kita ini masih lemah. Ini kalau kita melihat perkembangan sangat pesat dunia perbankan sekarang. Karena itu, kemampuan SDM harus terus ditingkatkan,” tegasnya.

Apa yang disampaikan Tjuk, adalah karena kecintaannya terhadap bank yang sekarang memiliki kantor di Sidoarjo dan Surabaya tersebut. Dia ingin agar bank yang pernah dibesarkannya ini, bisa jauh lebih maju lagi. Para pimpinan dan staf  generasi penerusnya di bank ini harus jauh lebih pintar lagi.

“Bank ini milik umat. Sebab itu, harus dikelola oleh orang-orang yang cerdas, serta amanah,” tambahnya. (*)

Pewarta : M Nasaruddin Ismail
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda