Prof Dr M Quraish Shihab

Hindari Emosi Keagamaan yang Meluap-luap

Prof Quraish Shihab terpaksa naik ojek online karena Jalan Thamrin macet (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Prof Dr Moh. Quraish Shihab Jumat 14 Juni lalu diundang  oleh Menteri Agama RI untuk ceramah di acara Halal Bihalal di Kantor Kementerian Agama. Karena kondisi Jalan Thamrin macet, maka bapak dari Najwa Shihab itu harus naik ojek online dari Masjid Istiqlal. Inilah laporan selengkapnya:               

Mengawali sambutan setelah kata muqodimah, Prof Quraish Shihab mengatakan, "Saya hari ini bersyukur bisa hadir di tengah Bapak dan Ibu sekalian. Saya sudah lama tidak berdiri dan ceramah di hadapan orang banyak. Tapi karena yang menelepon saya Menteri Agama, saya masih patuh dan mengiyakan." 

(Spontan hadirin tertawa). 

"Saya juga hari ini memiliki kesan istimewa. Saya naik ojek dari Masjid Istiqlal ke sini, Jalan Mohamamad Thamrin. Saya dibantu dan dipapah oleh polisi sampai duduk di motor. Subhanallah,” tuturnya. Hadirin kembali tertawa.

Di hadapan ratusan undangan, Prof Quraish Shihab menyampaikan bahwa Idul Fitri itu erat kaitannya dengan asal kejadian manusia. Yakni kembali ke asal kejadian, ke fitrah.

Ada beberapa kalimat yang dapat disandarkan pada kalimat “fitrah.” Misalnya kesadaran tentang adanya Tuhan. Karena manusia memiliki rasa cemas berlebihan, makanya ia perlu shalat dan berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan. Agama itu adalah fitrah yang memiliki beberapa ciri-ciri. Misalnya, Rabbaniyah (agama itu bersumber dari Tuhan) bukan dari Muhammad, (Muhammadanism) pembawanya.

Insaniyah (kemanusiaan), secara fitrah, kemanusiaan selalu didahulukan dibanding keberagamaan. Misalnya ketika Anda mau wudhu, air terbatas, tapi ada orang lain yang haus dan kelaparan, Anda pasti pilih memberikan air itu kepada orang yang memerlukannya. Anda bisa tayamum. Orang yang selalu mengutamakan kemanusiaan akan memandang sesamanya sebagai saudara seagama. Jika tidak seagama, mereka dipandang sebagai saudara sebangsa atau setanah air. Mengutamakan kemanusiaan adalah fitrah.

Ciri lain beragama adalah washatiyah, wasathan, posisi tengah. Kita mengenal istilah “moderator atau wasit.” Orang yang selalu diposisikan di tengah dan berlaku adil. Al Qur’an berkata, engkau adalah ummatan washatan, kuntum khaira ummatin, kamu adalah umat di tengah, umat yang terbaik. Aristoteles berkata, baik itu berada di antara dua yang buruk, atau tengah.   

Keberagamaan berada di antara rasa takut dan ceroboh. Kedermawanan itu berada di antara dua sifat, kikir dan boros. Agama adalah legalitas pertemuan dan hubungan baik laki dan perempuan. Keadilan itu cenderung kepada keseimbangan. Agama itu adalah keseimbangan dunia dan akhirat.

sihab1.jpg

Tiga hal yang selalu disepakati oleh semua penganut agama atau kepercayaan: menghormati orang tua, ibu dan bapak, memelihara amanat atau kepercayaan (yang diberikan), dan berlaku adil.

Pak Quraish menyebut ada  tiga syarat utama untuk mewujudkan moderasi beragama. Pertama, harus mengetahui kadar pengetahuan Anda. Tanpa pengetahuan yang memadai, Anda tidak bisa melaksanakan moderasi. 

Kedua, mengendalikan emosi, jangan melampaui batas, hindari emosi keagamaan yang meluap-luap. 

Ketiga, Anda harus berhati-hati, jangan gegabah.

Agama dan Budaya

Agama itu bersumber dari Tuhan. Budaya adalah hasil karya, karsa, dan cipta manusia. Untuk memahami agama dengan baik, diperlukan pemahaman ilmu pengetahuan dan budaya yang baik. Islam itu tidak anti budaya, Islam akomodatif dan dapat menerima budaya baru. Islam di Mekkah dan Madinah itu tidak persis sama, karena ada perbedaan budaya orang Mekkah dan Madinah. Begitu pula Islam di Mesir atau di Irak, termasuk di Indonesia. Tapi prinsip dan nilai-nilainya sama, misalnya mengakui Tuhan itu esa, Muhammad itu adalah nabi dan rasul terakhir. 

Jangan tinggalkan budaya yang baik. Islam tidak dapat dipisahkan dengan budaya.

Prof Quraish juga menjelaskan secara detail cara mengendalikan sifat amarah. 

"Ketika Anda marah atau tersinggung karena dihina atau diejek oleh orang lain, sebaiknya Anda tidak langsung membalasnya dengan amarah pula. Cobalah tahan amarah itu, berpikir sejenak, yakinlah bahwa ejekan dari orang lain dapat saja Anda balas, melebihi ejekannya, jika Anda mau, tapi karena Anda berpikir positif, Anda tidak merasa perlu membalasnya. Anda menahan amarah dan itu lebih baik," katanya.

Jika pun harus marah, lanjut dia, kadarnya harus  terkontrol. Jangan tampakkan amarah itu di wajah Anda. Jika pun harus ditampakkan, jangan sampai lidah ikut aktif bicara dalam kondisi marah. Jika pun lidah mulai bicara, jangan pernah gerakkan tangan, atau memukul. Tidak ada gunanya itu amarah. Melampaui yang pantas dan batas wajar itu adalah ekstrim, termasuk dalam beragama. 

Sikap moderat dalam beragama itu adalah selalu menilai orang lain dengan baik atau hikmah. Tuhan itu menciptakan manusia karena cinta pada kebaikan dan keadilan. Agama mengajarkan sekian banyak kebaikan dan cinta damai, harmoni. Isi kandungan Al-Qur’an itu dapat ditafsirkan oleh ahlinya dan dibutuhkan pemahaman ilmu pengetahuan yang memadai, sesuai tuntutan perkembangan zaman. (*)

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda