The Power Of Silaturahim

Semliyut Menanjaki Kelok 44 Malam Hari

Ngarai Sianok yang melegenda. (Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP))

COWASJP.COM – Kondisi fisik prima sangat dibutuhkan untuk mengikuti Aqua Dwipayana keliling Polres se-Sumatera Barat (sumbar). Hampir tiap hari selalu bangun pagi sekali, check-out, dan baru masuk hotel di kota lain pada tengah malam atau dini hari.

Dalam sehari Aqua melakukan sharing motivasi di dua-tiga tempat. Acara biasanya dimulai sekitar pukul 08.00--pukul 09.00, baru rampung pada sore atau petang hari. Check-in hotel untuk menaruh koper, kemudian keluar lagi untuk sekadar jalan, makan, atau silaturahim.

BACA JUGA: Kawa Daun di Pojok Baca Bukit Pariangan​

Ketika di Batusangkar jalan-jalan ke Istana Basa Pagaruyung dan Pariangan, Kala di Bukittinggi, selain melongok Lobang Jepang, Ngarai Sianok, juga ke Nagari Koto Gadang.

Desa dengan luas 6,4 km ini sebetulnya masuk wilayah Kabupaten Agam, tapi sangat dekat dengan Bukittinggi. Hanya dipisahkan Ngarai Sianok, jurang yang membentang sekitar 15 km, dengan kedalaman 100 meter, dan lebar sekitar 200 meter.

BACA JUGA: Mutasi Jabatan Kapolres Kelakar Jadi Kenyataan

Koto Gadang dikenal dengan kerajinan kain sulamnya yang mewah. Selain itu, desa tersebut banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa. Antara lain, H Agus Salim, Sutan Syahrir, Khairil Anwar, dan masih banyak lagi. 

aqua.jpgAqua menerima cinderamata dari Ibu Kapolres Lima Puluh Kota.

Pada hari kedua —minggu kedua— keliling Sumbar, Aqua sharing ke Polres Payakumbuh, Lima Puluh Kota, dan Bukittinggi. Bermalam di Bukittinggi. Esok paginya harus menempuh jalanan dengan banyak tikungan ke Pasaman. Hari ketiga itu Aqua dijadwalkan sharing di dua tempat, Pasaman (Barat) dan Pasaman Timur.

Dari kabupaten yang berbatasan dengan Sumatera Utara (Sumut) itu, tim --Aqua, dua Polisi Polda Sumut Brigadir Rodini dan Brigadir Febri Mulyadi, serta saya—langsung kembali ke Padang Panjang. Menempuh jarak sekitar 104 km.

Hujan turun cukup lebat sejak tim berangkat dari Polres Pasaman Timur. Makin lama, hujan makin lebat, berangin, dan jarak pandang sangat terbatas. Jalan pulang itu tidak melewati rute sebelumnya —Pasaman Barat. Tapi, lewat Kabupaten Agam—Bukittinggi—Padang Panjang.

Memasuki desa Maninjau, Kabupaten Agam, hujan mulai reda. Tinggal gerimis. Tapi, hari makin gelap. Sayup terdengar azan maghrib. Mobil tetap melaju. Semua sepakat salat maghrib dijamak dengan isyak.

Di desa Maninjau itu terdapat danau Maninjau yang dikenal anak-anak sejak belajar Ilmu Bumi (geografi) di SD atau Madrasah. Mobil menyusuri jalan di tepi danau itu. Tapi, yang tampak hanya kegelapan. Padahal, konon pemandangan di Danau Maninjau sangat indah.

Tiba-tiba mobil berbelok tajam ke kiri. Menghadap jalanan menjulang. ''Inilah kelok 44,'' ujar Uda Mulyadi.

Kelok 44 —orang Minang menyebut Kelok Ampek Puluh Ampek— merupakan jalan menanjak sepanjang delapan kilometer. Tikungan patah —beberapa tikungan berbentuk S— berjumlah 44. 

aqua1.jpgAqua dan Kapolres Payakumbuh AKBP Endrasetiawan.

Pengemudi harus benar-benar mahir melewati kawasan ini. Sebab, tak jarang mobil berpapasan di tengah tikungan. Atau berhenti di tengah tanjakan karena mobil di depan berjalan nggremet (pelan). Untunglah Uda Mulyadi —salah satu pengemudi terbaik di Polda Sumbar— sangat cekatan memegang setir. Bahkan, dia berani menyalip mobil di tanjakan.

Sayang, tim menanjaki Kelok 44 pada hari gelap. Terpaksa hanya bisa melihat sorot lampu mobil dan kepala semliyut ketika mobil menikung 180 derajat menanjak. ''Kalau siang hari kita bisa melihat keindahan Danau Maninjau dari ujung ke ujung,'' kata Uda Rodi. ''Kita juga bisa istirahat sejenak di Kelok 33 ditemani monyet-monyet jinak,'' kelakarnya.

Kelok 44 merupakan salah satu medan ekstrem yang dikenal dunia. Tanjakan dengan ketinggian 840 meter dari permukaan laut itu menjadi rute menantang dalam balap sepeda Tour de Singkarak yang diikuti banyak pembalap luar negeri.

Mobil memasuki Padang Panjang sekitar pukul 21.00. Capek, lapar, dan ngantuk. Jangan bayangkan langsung bisa mandi air hangat lalu tidur. Sebab, Uda Mul mengarahkan mobilnya ke deretan warung tenda. Berhenti di salah satu kedai, makan cubadak, minum teh talua, plus dua biji telor setengah matang.

Seusai makan, dengan kawalan Aipda Watriadi —anggota Polres Padang Panjang yang mengendarai mobil offroad—mobil menuju rumah dinas Wali Kota Padang Fadly Amran. 

aqua2.jpgSalah satu sudut Nagari Koto Gadang.

Cukup lama berdiskusi dengan wali kota berusia 30 tahun itu. Diskusi menyangkut banyak hal. Mulai kondisi daerah, pemerintahan, sampai keluarga. 

Dari rumah dinas wali kota silaturahim dilanjutkan ke rumah Kapolres Padang Panjang AKBP Cepi Noval. Perbincangan yang mengasyikkan itu berlangsung sampai larut.

Walhasil, tim baru check-in di cottages Minang Fantasi (Mifan) sekitar pk 01.00 dini hari. 

Rasa capek dan lapar relatif lebih gampang diatasi dibanding menahan kantuk. Tak sadar kala duduk berbincang bersama Fadly Amran maupun dengan Cepi Noval, saya sering ketliyer… seerrr…tertidur beberapa detik. Hehe…

Di cottages, maksud hati ingin mandi air hangat lalu tidur. Sayang, air tidak mengucur di tiga cottages yang disiapkan tersebut. Uda Rodi mengontak petugas cottages. Namun, air tak segera keluar. Yah…kali ini tidurlah tanpa mandi.

Meski begitu, tak perlu waktu lama untuk tidur. Nyenyak sekali. Untunglah sebelum subuh air sudah mengucur deras. Sebab, pagi-pagi sekali harus sudah keluar untuk memenuhi janji dengan AKBP Cepi Noval, sarapan Cubadak di rumah makan Gumarang. Kemudian balik kembali ke Padang. Perjalanan keliling empat hari itu menempuh jarak kurang lebih 496 km. 

Atasi si Nyinyir di Tempat Kerja

 Berkunjung ke Polres-Polres di Sumbar sungguh mengesankan. Sambutan Kapolres, anggota, maupun Bhayangkari selalu menyenangkan. Sharing juga berlangsung gayeng.

Respons dari peserta cukup bagus.

Pertanyaan yang diajukan rata-rata sama. Tentang mendidik anak, hubungan kerja antarrekan, juga kiat-kiat sukses dalam rumah tangga.

Salah seorang anggota Polres Lima Puluh Kota bertanya. ''Menurut Pak Aqua uang bukan nomor satu dalam sukses berumah tangga. Tapi, tidak ada uang susah juga Pak,'' katanya. Pertanyaan tersebut disambut gelak tawa yang hadir.

aqua3.jpgMasjid yang cantik di Koto Gadang.

Aqua menjelaskan, Allah SWT pasti memberikan rezeki pada hambanya. Rezeki itu tidak selalu berupa uang.  Rezeki nomor satu berupa kesehatan. '"Meski uang banyak kalau tidak sehat tidak bisa menikmati,'' katanya.

Kedua, rezeki banyak teman, ketiga rezeki amanah, yang keempat baru rezeki berupa materi yang nilainya relatif. "Intinya, syukurilah apapun kondisi Bapak saat ini. Utamanya kesehatan. Syukuri amanah yang Bapak emban saat ini sebagai Polisi, teman yang banyak, dan seterusnya,'' jelas Aqua. ''Tingkatkan silaturahim, insya Allah tidak kekurangan rezeki,'' tambahnya. 

Pertanyaan Pak Polisi tersebut kontradiktif dengan pertanyaan ibu Bhayangkari yang diajukan sebelumnya. Dia menceritakan, ada satu pasangan suami-istri yang diberkahi kekayaan materi. Tapi, anaknya tak terurus. ''Apa sebetulnya bukti sukses berumah tangga. Materi yang banyak atau anak yang sukses,'' tanya dia.

Sukses berumah tanga, jelas Aqua, harus dilihat secara komperehensif. Menyeluruh. Komunikasi antara suami, istri, dan anak berlangsung harmonis. Anak-anaknya terdidik dengan baik dan sukses. Kehidupan sosial ekonominya juga terjaga. ''Semua anggota keluarga bisa mengkomunikasikan persoalannya kepada anggota keluarga yang lain dengan terbuka. Sehingga jika muncul persoalan keluarga bisa diatasi bersama,'' katanya.

Pertanyaan lain datang dari bagian SDM tentang cara menciptakan suasana nyaman dalam bekerja. ''Kadang ada rekan kerja yang suka nyinyir. Bagaimana mengatasinya?'"

Sedikit filosofis Aqua menjawab bahwa hidup itu tidak ada yang ideal. Menghadapi rekan seperti itu memang perlu rasa toleransi tinggi. Kesabaran tinggi. Selain itu, pelajari potensi si Nyinyir itu untuk men-drive dia agar bekerja optimal dan tidak nyinyir lagi. ''Kuncinya, jika memuji lakukan di depan banyak orang. Jika menegur jangan sekali-kali di depan banyak orang. Sampaikan dengan hati dan hati-hati,'' papar Aqua.

aqua5.jpg Aqua dan Cak Fu di Koto Gadang.

Dalam kesempatan itu, Kapolres Lima Puluh Kota AKBP Haris Hadis S.Ik.MM tak dapat menyertai sharing karena mendampingi Ustad Abdullah Somad (UAS) yang berada di kota itu. Sharing dipimpin Wakapolres Kompol Eridal SH. Seusai acara, bu Kapolres memberi kenang-kenangan empat potong kain khas Minang kepada Aqua. Kain tersebut dibagikan pada tim.

Sebelumnya, sharing dilakukan di Polres Payakumbuh. Kapolres Payakumbuh AKBP Endrasetiawan baru sebulan menduduki jabatannya. Endras —panggilan akrabnya—ternyata asal Salatiga, Jawa Tengah. Sekota dengan istri Aqua, Retno Setiasih.

Bahkan, Endras teman akrab sejak kecil dari  ipar sepupu Aqua. Dengan handphone Aqua, Endras pun berbincang dengan teman lamanya yang lama tak bertemu itu. Gayeng  sekali. Silaturahim keduanya pun terajut kembali.

Kapolres Bukittinggi juga tak bisa menyertai sharing karena berkepentingan ke Jakarta. Sharing dipimpin Wakapolres Kompol Albert Zai.  Dalam pengantarnya, Kompol Albert berharap jajaran Polsek Bukittinggi bisa seperti tim sepak bola. 

 ''Meski ketinggalan gol, hanya dengan kata-kata motivasi dari pelatih, mereka bisa mengubah keadaan, membalas gol dan berbalik memenangi pertandingan,'' ujarnya. 'Itu yang kami harapkan dari motivasi ini,'" tambahnya. Dalam pandangannya, Polres Bukittinggi baru mencurahkan potensinya 500 persen. Dia berharap bisa dipacu 1.000 persen. (* )

Salam, cakfu

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda