Sang Begawan Media

Putusan Otak

The Federal Bureau of Investigation (FBI) menyita 11.000 dokumen dari rumah Donald Trump. (FOTO: northwestcareercollege.edu)

COWASJP.COMDALAM diri saya, mungkin, mengalir juga darah Samin. Saya setuju Azrul Ananda mengundurkan diri sebagai Presiden Persebaya. Sayang saya bukan orang yang berhak menyetujui atau tidak menyetujui.

Dan lagi kita bukan lagi bicara tentang Persebaya dengan Bonek dan Bonitanya. Kita akan bicara tentang kesaminan Presiden Donald Trump.

Ia pernah bilang yang ia angkut ke rumahnya di Mar a Lago di pantai Florida itu bukan dokumen rahasia negara. Itu dokumen pribadi.

Ketika badan penyelidik federal, FBI, menggeledah rumahnya 11.000 dokumen disita. Dibawa ke FBI. Semua dokumen negara. Rahasia. Bahkan, sebagian, rahasia tingkat tertinggi.

Maka secara hukum muncul persoalan. Trump yang memunculkan: apa itu rahasia negara. Siapa yang berhak menetapkan sebuah dokumen termasuk rahasia negara.

Trump memang harus membela diri. Agar tidak terkena perkara kriminal. Katanya: seorang presiden berhak menentukan mana yang rahasia negara dan mana yang bukan.

Apakah Presiden Trump sudah memutuskan bahwa yang ia simpan di ''istana'' pribadinya itu sudah bukan rahasia negara?

"Sudah," katanya. 

Mana surat keputusannya?

"Masih di dalam pikiran. Presiden bisa memutuskan dari pikiran," katanya ketika diwawancarai di FoxNews dua hari lalu.

Ya sudah. Berarti Trump sudah memutuskan semua dokumen itu sudah bukan rahasia negara. 

Maka kalau saja Trump berkunjung ke Blora ia pasti dilempari batu oleh keturunan Samin di sana. Pola pikir Samin tidak begitu. Itu justru menghina Samin.

Grup pesantren kami punya madrasah unggulan di Randublatung, pusat Samin di selatan kota Blora: Pesantren Sabilil Muttaqin, PSM. Saya sering ke sana. Saya izinkan mereka ikut demo kalau Trump berkunjung ke Randublatung besok: ikut acara PSM Bersalawat .

Trump seperti terus saja terpeleset lidah. Atau memang orangnya begitu. Mungkin jalan pikirannya betul: semua keputusan dibuat di pikiran. Jadi, kalau Trump bilang ia sudah memutuskan semua itu bukan dokumen rahasia orang lain harus percaya kepadanya. Termasuk para penyelidik itu.

Tapi para penyelidik tidak percaya. Kecuali Trump melubangi kepalanya, lalu mengambil bagian otaknya yang memutuskan itu, untuk diserahkan ke FBI. Sebagai barang bukti. Cuilan otak itulah barang bukti bahwa ia sudah membuat keputusan.

Tentu Trump tidak mau melubangi kepalanya. Ia hanya berargumen. Sebagai taktik mengulur waktu. Dan lagi Trump memang punya hobi mengabaikan bukti. Tuduhannya bahwa pemilu curang tanpa bukti. Tuduhan bahwa Presiden Biden mencuri suara tanpa bukti. Tuduhan Obama tidak lahir di Amerika tanpa bukti.

Juga pekan lalu. Seminggu sebelum ia mengatakan ''sudah membuat keputusan di dalam pikiran''. Ia melontarkan tuduhan baru pada FBI: penyelidik sengaja membawa dokumen rahasia ke rumahnya, lalu ditaruh di situ, untuk kemudian disita sebagai barang bukti.

Pengikut Trump pun percaya itu. Rupanya mereka percaya FBI sudah meniru praktik polisi di negara pewayangan. Pengikut Trump, Anda sudah tahu: sangat fanatik dan militan. Bahkan Trump, pekan lalu, mengancam: kalau soal dokumen ini ia dijadikan tersangka, pengikutnya tidak akan bisa menerima. Mereka akan menjadi ancaman keamanan. Maksudnya: mereka akan mengamuk di jalan-jalan.

Pekan lalu FBI memang terlihat sudah akan melangkah ke sana. Trump juga tahu. Maka ia mencari jalan memutar. Ia minta ke pengadilan: agar diangkat dulu penilai independen. Penilai independenlah yang akan menentukan apakah dokumen itu rahasia atau bukan. Ia tidak mau polisi yang menentukan. FBI sudah ia anggap bermain politik.

Amerika hebat. Di bidang penegakan hukum. Lihatlah apa kata pengadilan. Permintaan Trump itu dikabulkan. 

Penegakan hukum begitu diutamakan di sana. Pun ketika harus lebih rumit dalam  menghadapi tokoh sekelas mantan Presiden Donald Trump.

Hukum dan demokrasi memang berjalan seiring di sana. Karena itu bisa menjadi negara adil dan maju. Ketidakadilan masih terjadi di sana. Tapi punya cara penyelesaian hukum yang sangat tegak. 

trump.jpgDonald Trump. (FOTO: Evan Vucci/AP - gq.com)

Saya menilai hukum dan demokrasi itu ibarat roda depan dan belakang di sebuah mobil. Kalau pun mesin mobil itu mogok masih bisa didorong. Tapi, tanpa ban ia hanya onggokan besi.

Saya ikut Anda saja: yang roda depankah yang demokrasi atau yang belakangkah yang hukum. Sama saja. Yang penting demokrasi tanpa penegakan hukum, mobil tidak bisa bergerak maju. Tanpa penegakan hukum demokrasi hanya di bibir saja. 

Mobil kita sebenarnya sudah punya roda depan. Sudah 20 tahun. Sudah dicoba dijalankan. Gembos satu. Bisa saja yang gembos itu ditambal. Berarti harus dibawa ke tukang tambal ban. Tidak bisa. Roda belakangnya belum ada. Atau baru ada velg-nya.

Di Amerika roda demokrasi dan roda penegakan hukumnya begitu komplet. Muka-belakangnya sama-sama berfungsi.

Dengan dikabulkannya permintaan Trump, maka FBI menahan diri. Biarkan proses pengadilan berjalan dulu. Ini baru pertama terjadi. Barang bukti sebuah tindak pidana dinilai dulu oleh pihak ketiga.

Pengadilan pun menunjuk ahli hukum senior untuk menjadi penilai independen itu. Umurnya sudah 78 tahun. Namanya: Raymond Dearie. Ia masih aktif sebagai hakim. Di distrik timur New York. Usia tidak masalah. Dari hakim yang diperlukan kejernihan pikiran dan hatinya. 

Trump lega. Sementara. Penetapannya sebagai tersangka tertunda. Apalagi hakim independen itu ia kenal baik. Orang dari Partai Republik. Nama Raymond Daerie diusulkan sendiri oleh Trump. Trump mengajukan dua usulan. Hakim Aileen Cannon menyetujui Daerie. 

Dearie langsung bekerja. Kemarin ia bikin perintah pertama. Yang harus dijalankan oleh departemen kehakiman sebagai atasan FBI. 

Departemen kehakiman harus memberikan semua copy dokumen yang disita ke pengacara Trump. Kecuali yang sangat rahasia.

hakim.jpgHakim/ahli hukum Raymond J. Dearie yang dipilih sebagai penilai independen. (FOTO: archive.nytimes.com)

Ada juga perintah untuk tim pengacara Trump. Mereka harus memasukkan bukti-bukti sebagai dasar tuduhan Trump selama ini: bahwa sebagian dokumen yang disita itu adalah dokumen dari luar yang sengaja ditaruh di rumah Trump oleh FBI.

Perintah itu harus dilaksanakan sebelum akhir bulan ini. Dari perintah ini terlihat Dearie sangat independen. Betapa sulitnya cari bukti tuduhan itu. 

Hakim Dearie memang harus menyelesaikan tugas akhir di bulan depan. Untuk itu ia minta dibantu seorang staf. Ia minta anggaran untuk honor staf itu: satu jam USD 500. Sekitar Rp 7,5 juta satu jam. "Saya sendiri tidak perlu dibayar. Saya masih menerima gaji sebagai hakim," katanya.

Siapa yang harus menanggung biaya itu? Hakim Dearie memutuskan: pihak Trump. Ini karena Trump-lah yang minta penilai independen.

Reputasi hakim independen ini sangat tinggi. Ia juga hakim pada pengadilan yang khusus menangani perkara campur tangannya intelijen asing.

Yang juga bersejarah: Daerie adalah juga hakim di perkara pengeboman gedung federal di Oklahoma City. Pelakunya: kelompok kanan yang tidak puas dengan pemerintahan federal yang dikuasai Partai Demokrat.

Sebenarnya Raymond Daerie sudah bulat di dalam hatinya: akan memensiunkan diri akhir tahun ini. Rasanya sempat. Yang tidak ia sangka: ia akan membuat sejarah besar persis di akhir masa pengabdiannya. (*)

***

Siapa Membunuh Putri (22)

Putusan Sela

Oleh: Hasan Aspahani

DALAM satu lingkungan dengan sistem yang rusak, pasti ada pihak yang kecewa dan nyaman. Dengarkan mereka. Mereka adalah sumber terbaik bagi kerja jurnalisme investigatif. Brigadir Hilmi saya kira adalah polisi yang berada pada posisi itu di jajaran Polresta Borgam.  

Kami menemuinya di King Palace. Johari Bijaksana, alias Pak JB, menyediakan ruang untuk kami. Kami datang satu per satu agar gak terlalu mencolok. Brigadir Hilmi yang meminta begitu.  Saya, Nurikmal, dan Ferdy menunggu sekitar lima belas menitan, sebelum dia muncul.

”Beliau, ini kalau saja polisi boleh pakai seragam cingkrang dan memelihara jenggot, saya yakin dia berjenggot dan pakai celana jingkrang,” kata Nurikmal. 

”Kau kenal dia, Nur?” tanyaku.

”Kenal begitu saja, tak terlalu dekat. Saya sering ketemu dia kalau ada pengajian di masjid raya,” kata Nurikmal.

”Dia penyidik terbaik yang ada di Polresta saat ini. Banyak kasus kriminal besar dia yang tangani,” kata Ferdy. 

Brigadir Hilmi datang dengan pakaian sipil. Dia seperti tidak betah berada di ruang karaoke itu. Orangnya tenang dan awas. Bicara sangat berhati-hati. Dia menyalami dan memeluk kami satu per satu. Seperti ingin mengatakan dengan pelukan itu, tolong rahasiakan pertemuan ini, dan dia percaya sepenuhnya pada kami.  

”Saya tak pernah bicara langsung ke media. Karena memang bukan bagian dari tugas saya. Jadi, teman-teman, cerita saya hari ini tidak untuk diberitakan ya. Semuanya off the record. Tapi, saya harus menyampaikan ini pada teman-teman Dinamika Kota. Saya baca hanya surat kabar kalian yang tak percaya apa yang disampaikan polisi,” Brigadir Hilmi bicara langsung ke pokok persoalan. 

Tak banyak dia berbasa-basi. Sambil bicara dia bergiliran memandangi kami satu per satu, seperti menganalisis apakah kami percaya dengan omongannya. Tentu saja kami percaya. 

Brigadir Hilmi dan dua penyidik lainlah yang pertama memasuki rumah AKBP Pintor, tempat kejadian perkara pembunuhan Putri. Menurut laporan dan berita acara pemeriksaan yang dijadikan dasar persidangan, Putri dibunuh di kamar tidur. Itu fakta yang tak benar. Ia menemukan bekas-bekas dan jejak pembunuhan di ruang tengah. Lalu ada bekas darah dari tubuh yang diseret di lantai mengarah ke kamar.  

Hanya orang yang paham penyidikan yang bisa menghilangkan jejak dengan rapi. Tapi serapi-rapinya upaya menghilangkan jejak pasti ada yang tertinggal. Ada beberapa percikan darah di benda-benda yang ada di ruang tengah itu. Dari arah datangnya percikan bisa diperkirakan di mana posisi korban dan pelaku. Dari jarak posisi korban ke percikan darah  bisa diperkirakan juga alat apa yang dipakai dan mengenai bagian tubuh mana.  

”Itu bisa dipastikan dengan otopsi. Kasus ini menjadi rumit, karena sejak awal direkayasa,” kata Brigadir Hilmi, dia bicara dengan sangat berhati-hati.  

Kami menyimak dengan cermat. Saya seperti mendengarkan konfirmasi atas apa-apa yang telah kami beritakan.   

Laporan penyidikan awal yang dibuat Brigadir Hilmi tak dipakai sama sekali. Dia dan dua penyidik awal itu pun tak disertakan dalam tim penyidik yang dibentuk Kapolresta untuk menangani kasus pembunuhan Putri.  Lebih parah lagi, anggota penyidik dipilih dari satuan reskrimsus, orang-orang AKBP Pintor sendiri, yang harusnya tak menangani kasus kriminal seperti pembunuhan. Urusan satuan itu harusnya menangani perkara korupsi.

”Ketika ditemukan, mayatnya langsung dibawa ke Palembang dan dimakamkan. Tak ada otopsi. Itu sangat menyalahi prosedur.   BAP yang dipakai di persidangan itu bermasalah,” kata Brigadir Hilmi. 

”Bisa diperkirakan jam berapa ya, Pak, pembunuhannya dilakukan,” tanya Nurikmal. Dia memang orang yang paling analitis di antara kami bertiga.

”Pasti dilakukan saat anaknya tak ada di rumah. Pembantunya membawa anaknya ke sekolah, bersama pacarnya itu. Itu hari Jumat. Pacarnya lalu pulang. Saat itu diperkirakan Putri sudah dibunuh. Jadi antara jam itulah. Awang lalu ditawari dengan bayaran Rp50 juta seperti yang dia akui, untuk membuang mayat Putri. Itu gambaran kasar kasusnya,” kata Brigadir Hilmi.

Ia menyambung, ”seperti yang saya bilang tadi, ini bukan kasus yang rumit. Sederhana. Mudah. Menjadi rumit, berbelit karena ada upaya menutupinya. Dibuatlah rekayasa. Sebagai penyidik saya sebenarnya malu. Malu sekali.”

Di akhir pertemuan, sebelum kami berpisah Brigadir Helmi berterima kasih dan berpesan agar kami jangan takut dan jangan berhenti meragukan keterangan polisi dan mengkritisi persidangan. Dia katakan, kami telah membantu dan mendorong polisi  melakukan pembenahan dimulai dari kasus ini. 

Beberapa hari setelah pertemuan kami itu, sehari sebelum sidang putusan sela terjadi mutasi besar di Polresta Borgam. Posisi sejumlah perwira digeser. Tim pengusutan kasus pembunuhan Putri yang lama dibubarkan, di bawah inspeksi tim Mabes Polri dibentuk tim baru. Brigadir Hilmi masuk di tim tersebut. Posisi AKBP Pintor sebagai kepala satreskrimsus pun dicopot. Dia jadi perwira nonjob. 

Bagi kami putusan sela PN Borgam tak terlalu mengejutkan. Apa yang disampaikan Brigadir Hilmi membantu kami memprediksi dengan tepat apa yang hakim putuskan hari itu. Dakwaan bagi kedua tersangka dianggap tak mencukupi untuk dilanjutkan ke tahap pemeriksaan. Hakim meminta dilakukan penyidikan ulang, terutama otopsi atas korban, untuk melengkapi bukti-bukti. Hakim juga memerintahkan agar AKBP Pintor sebagai saksi diperiksa kemungkinan keterlibatannya sebagai tersangka.

Putusan sela hari itu, seperti menjadi bagian dari kemenangan kami. Kemenangan publik. Kemenangan rasa keadilan. Ibunda Putri histeris. Menyebut-nyebut pengadilan sesat, hakim jahat. Berteriak-teriak, ”anakku dibunuh, menantuku difitnah. Kalian jahat semua! Awas hukuman Tuhan nanti akan datang pada kalian!” 

Sementara ayahanda Putri sepanjang sidang hingga putusan sela selesai dibacakan wajahnya merengut seperti tampang Churchill yang kesal karena cerutunya direnggut langsung dari mulutnya oleh fotografer Yousuf Karsh sebelum dijepret.  

Hari-hari itu hingga berminggu-minggu kemudian oplah koran kami naik tinggi. Kadang-kadang saya berpikir apakah kami ini sedang menjual sensasi?  Di saat lain saya berpikir tidak, kami sedang melayani publik, memberi rasa adil, memberi contoh bahwa keadilan bisa ditegakkan. 

Rasa adil itu bisa hadir. Memang tidak mudah, tapi bisa. Ketika sampai pada pemikiran seperti itu saya merasa tak salah memilih pekerjaan sebagai wartawan. Saya merasa berguna menjalani profesi ini. 

Pekerjaan kami mengawal kasus ini akan semakin panjang. Dan pasti akan semakin menarik. Kami ada pada posisi yang kukuh untuk mengikuti dan mengejar ke manapun kasus ini bergerak dengan segala eksesnya. 

Sementara itu, kesibukan di redaksi yang semakin padat, membuat saya bisa melupakan Suriyana. Ah, dusta. Tak mungkin saya bisa lupakan dia.  Mengikhlaskan dia menjadi milik lelaki lain saja rasanya berat. Tapi, bukankah saya sebenarnya tak pernah memiliki dia? Dan dia pun mungkin tak pernah merasa memilikiku? 

Saya masih berharap Suriyana membatalkan pertunangan dan pernikahan dia dengan Azeem. Atau akan terjadi sesuatu sehingga rencana itu batal. Tak tahulah saya, cinta memang tak masuk akal, bikin imajinasi jadi jahat dan kejam. 

Hati dan hari-hariku terisi dan terhibur oleh Inayah. Memenuh. Meneduh.  Dia adalah terjemahan lain dari cinta. Cinta yang membuatnya berimajinasi lain. Dia beberapa kali mengajakku dan anak-anak panti yang tinggal di pesantren bermain ke pantai yang banyak terbentang di pulau-pulau yang tersambung jembatan Gortam. 

Kami seperti ibu dan ayah bagi anak-anak yatim itu. Kami seperti suami istri. Dia sibuk dan cemas dengan anak-anak yang riang berenang. Sesekali menyuruh aku menyusul mereka yang bermain terlalu jauh ke tengah laut.  Aku membayangkan, seperhatian itulah nanti dia mencemaskan anak-anak kami. 

”Apa kabar Suriyana, Mas?” tanya Inayah.

Saya agak terkejut. Terdiam dan sejenak kami bertatapan. 

”Eh, salah ya? Boleh tanya kabar dia, kan?”

”Boleh. Dia kayaknya baik-baik saja tuh...”

”Kok kayaknya?”

”Ya, karena dia tak pernah mengabari apa-apa lagi, setelah malam itu...”

Sejenak kembali kami saling diam. 

”Mas, bulan depan, ayah sama ibu mau datang ke sini.  Mas mau ketemu nggak?”

”Oh, tentu mau. Nanti pastinya kapan beritahu aja ya,” kataku.     

Inayah  lalu bercerita tentang ayahnya yang pernah menjadi wartawan dan kemudian menjadi dosen di Pekanbaru. Inayah anak sulung. Dia yang paling ingat, masa-masa ayahnya masih bekerja sebagai wartawan.  

”Bangga sekali dia menjadi wartawan. Tapi tekanan-tekanan yang dia terima karena pemberitaan medianya membuat dia menyerah. Menjadi dosen bukan pekerjaannya idamannya. Meski dia sangat suka mengajar, seperti ibuku yang juga guru,” kata Inayah.

”Jadi, bakat mengajarmu itu karena ibumu juga guru dan ayahmu dosen,” kataku. 

”Ya, betul. Dan saya melihat ada sosok ayah dalam dirimu, Mas. Ayah yang dulu wartawan,” kata Inayah. 

”Oke, nanti kalau ketemu beliau akan saya lihat apa betul penglihatanmu. Atau kamu salah lihat karena mata hatimu rabun oleh sesuatu...” 

”Sesuatu itu apa?”

”Nggak tahu. Kamu yang ngerasain...”

”Mas Abdur sok tahu ya. Kok bisa tahu apa yang kurasakan? Apa karena Mas Abdur juga sedang rabun oleh sesuatu itu?”

”Mungkin...” Lalu kami tertawa.

Anak-anak yatim itu kelelahan  berenang. Mereka sibuk bermain pasir dan ada yang berbaring dan tertidur setelah menghabiskan bekal makanan. Inayah memasaknya sendiri. 

Kalau dalam film-film itu, setelah percakapan seperti kami tadi, biasanya akan dilanjutkan dengan adegan kejar-kejaran dan siram-siraman air laut.  Saya tersenyum membayangkan hal itu. 

”Jalan, yuk...” kataku.

”Yuk,” kata Inayah, dia bergegas berdiri. Lalu berseru kepada Rodi, ”jaga adik-adikmu ya...” 

Setelah jauh dari anak-anak, Inayah berlari, ”kejar aku, Mas...” Dia berlari ke arah laut. Aku mengejarnya. Dalam jarak yang cukup dekat dia dengan dua tangan menyemburkan air laut ke arahku! Sambil tertawa lepas. Kalau ini pengambilan gambar untuk adegan film, saya tak ingin mendengar sutradaranya lekas-lekas berteriak cut! Ini bukan akting. Inayah sedang memerankan dirinya sendiri dengan sangat baik. Dia makin memenuhi dan meneduhkan hatiku. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 23 September 2022: Mak Edi

Farwadi Barma

Ternyata Mamak Edi dapat gelar "Sir" dari negeri non-Muslim pula. Ternyata beliau berjasa besar di perdamaian Aceh. Ternyata dipercaya sumber ilmiah tentang jaringan ulama Nusantara.

Rofi'udin

Menteri Agama pertamalah, H.M. Rasjidi, sesungguhnya perintis belajar Islam di Barat. Dia beri beasiswa Harun Nasution kuliah di Amerika. Meski akhirnya sang menteri merasa menyesal karena sang penerima beasiswa membawa oleh-oleh pemikiran "sekuler" ke Indonesia. Bisa dilihat di buku "70 Tahun Prof. H.M. Rasjidi"

thamrindahlan

Naik bendi keliling Monas / Wisata bersama sahabat Malaysia / Mak Edi Ulama Minang Lawas / Mengharumkan nama Islam Indonesia /

Mirza Mirwan

Sekadar menambahkan. Order of the British Empire itu ada 5 tingkat. 1) Yang tertinggi adalah GBE (Knight/Dame Grand Cross of the Most Excellent Order of the Nritish Empire -- Kinght untuk pria, Dame untuk wanita). 2) KBE/DBE (Knight/Dame Commander of the Most Excellent Order of the British Empire). 3) CBE (Commander of the Most Excellent Order of the British Empire). 4) OBE (Officer of the Most Excellent Order of the British Empire. 5) MBE (Member of the Most Excellent Order of the British Empire). Yang diterima oleh almarhum Prof. Azra pada tahun 2010 adalah CBE, yang berhak dituliskan di belakang namanya. Tetapi untuk "Sir" di depan namanya, sebenarnya hanya untuk GBE dan KBE. Tentang Columbia University. Univeritas yang didirikan oleh Raja George II tahun 1754 itu nama resminya adalah Columbia University in the City of New York. Waktu berdiri, sampai tahun 1776, namanya King's College. Sejak menjadi Columbia University, biasa disebut Columbia saja, statusnya adalah universitas swasta. Tetapi, waini, telah melahirkan 4 Presiden AS, 33 Presiden/PM di berbagai negara, 10 hakim ahung AS, 99 penerima Nobel, dan 122 penerima Pulitzer. Eh, lupa, pada tahun 2017 Prof. Azra juga penerima The Order of Rising Sun, Gold and Silver Star dari Kekaisaran Jepang. Selamat hari Jumat. Tabik.

Giyanto Cecep

innalillahi wainnailaihi rojiuun .. semoga amal ibadahnya diridhoi dan khilaf dan dosanya diampuni Allah swt. Aamiin Yaa Rabb. saya membaca tulisan Prof Azyumardi Azra sejak masih muda krn pakdhe saya langganan majalah Panji Masyarakat yg diampu oleh Prof Hamka. Mengeja nama beliau memang susah. Namanya cukup apik menurut saya. saya mencoba mencari apa arti dr nama tersebut. Ada yg menyebut bhw nama tsb adl singkatan dr nama ayah dan ibunya yaitu Ra'azni dan Azri'ati. sayang sekali pak DI terlewat atau sengaja tidak membahas asal usul dan arti nama beliau. Ada akun twitter yg menulis bgmn nama beliau ini. Akun @zachumam menulis begini : orangtua pak @Prof_Azyumardi dulu dapat inspirasi dari mana menamai puteranya " alzyumardi alazroq " ditulis dg huruf arab, dg pelepasan ' qof " ala beberapa dialek arab. Pastilah orangtuanya santri dari tradisi surau. Yakni : zamrud biru, aduhai indahnya dan berharganya sebuah nama. Akun @JRofarif mereply status, Al-zumurrud al azraq >> azyumardi azra. Menarik. Lebih menarik artinya. Zumurrud (zamrud) sendiri artinya "batu (mulia) warna hijau" tapi ini kemudian disifati warna biru. Tapi rangkaian kata (dlm huruf arab) " zumardi azraq" artinya " aquamarine". Warna hijau laut. Hijau kebiruan. Akun @amajid13 menambahkan , orang Mesir mengucapkan "qaf" jadi " hamzah " . saya pernah berjumpa Prof Azyumardi Azra di food court Pondok Indah Mall, tidak lupa saya salami dan saya cium tangan beliau, ngalap berkah. Semoga.

Rahma Huda Putranto

Yang mempopulerkan Islam Nusantara ternyata Mak Edi. Jadi tahu kenapa Wakil Menteri Agama berkata seperti ini. "Wamenag: Prof Azyumardi Azra Tokoh Muhammadiyah yang Gigih Membela NU"

Jimmy Marta

Panggilan bapak/pak itu untuk garis ayah. Anak dari saudara lelaki baik kandung maupun segaris ayah. Yg paling besar pak adang atau pak tuo. Yg kecil pak etek. Pak dhe dan pak lik di bila di jawa. 

Budi Utomo

Suku Minang bisa jadi satu-satunya suku di Indonesia yang marganya menganut garis ibu. Di dunia kini hanya orang India masa kini yang marganya memakai garis Ibu. Tiongkok dulu juga menganut marga garis ibu yaitu sebelum era Dinasti Zhou (sebelum sekitar 1000 SM). Ini masih bisa dilacak dari aksara Xing 姓 = marga. Yang terdiri dari dua simbol. Nu 女 (baca nii) = female = wanita dan Sheng 生 (baca sheung, eu ala Sunda) = born/birth = dilahirkan/lahir. Bisa dilihat dari nama-nama raja/kaisar sebelum Dinasti Zhou. Mesir kuno juga memakai garis ibu. Garis ayah biasanya dari suku nomaden. Seperti Mongolia, Turki, Arab, dll. Suku yang menetap biasanya memakai garis ibu dan berubah memakai garis ayah setelah dijajah suku nomaden. Perang Padri salah satunya karena konflik antara kaum adat yang memakai garis ibu dan kaum padri yang memaksakan garis ayah. 

Jimmy Marta

Di Minang, mamak ( biasa juga dipanggil singkat: mak) itu panggilan kemenakan/ponak an ke paman. Kemenakan adalah anak saudara perempuannya. Saudara perempuan kandung dan segaris ibu. Tapi karena begitu lekatnya, panggilan mamak ke sang paman kadang dijadikan nama panggilan yg lumrah sehari2. Semacam nama populer. Oleh orang lain pun yg bukan kemenakan, bukan keluarga. Yg berposisi mamak/paman tentu bisa banyak, tergantung jumlah lelaki dalam keluarga itu. Makanya untuk membedakan para mamak, ada tambahan lagi dibelakangnya. Untuk yg paling tua disebut mak gadang/mak adang. Mamak yg tengah jadi mak angah. Yg kecil mak etek atau mak uncu. Kalau jumlah mamak lebih banyak, ada lagi mak uniang, mak itam, mak aciak. Atau bisa juga dg tambahan nama panggilan kecil si mamak. Mak Udin, mak buyung, mak david, dll... Selamat beristirahat mak Edi.

ALI FAUZI

Narasi Islam Nusantara selama ini memang lebih kepada Islam yang berkembang di Jawa --lebih khusus lagi di kalangan NU. NU memang lebih banyak diterima orang Jawa. Sedangkan narasi Islam Nusantara yang didengungkan Azyumardi Azra adalah Islam yang berkembang di seluruh Indonesia --dari Sabang sampai Merauke. Karena Indonesia bukan cuma Jawa. Saya lebih menerima narasi Islam Nusantaranya Azyumardi Azra. 

Johannes Kitono

Gegara asyik mengikuti Cerbung " Siapa Membunuh Putri " jadi tidak fokus lagi membuat komentar tulisan Juragan Disway. Cerbung AH itu menggambarkan situasi FTZ BATAM, dimana Rambo Rambo abuse the power. Bisa jadi jendral Sambo hanya copy paste saja dan menerapkannya dalam size nasional. Now wartawan idealis seperti Dur tentu semakin langka dan maaf hampir sudah punah. 

didik sudjarwo

Ternyata orang barat tidak percaya kutbah.Apalagi komentar di Disway yg kadang ndakik2.Untung saia bukan orang barat. Ngapunten.

Rihlatul Ulfa

Jujur saja saat beliau meninggal saya tidak begitu mengetahui. pun walaupun banyak media yg memberitakannya. tapi setelah baca tulisan Abah, saya baru merasa kehilangan. disinilah saya baru mengenalnya, dan kenapa kematiannya harus disebarluaskan karena memang beliau sangat istimewa. saya sangat menyukai orang-orang yang berfikiran terbuka, apalagi sampai mau belajar ke negeri barat yg biasanya mereka-mereka itu lebih suka dengan Al-Azhar Kairo. tentu itu suatu bentuk kemajuan yang tinggi sekali, melihat beliau lulusan Columbia University. wow. selamat jalan Prof..

Ferdy Holim

Order of the British Empire terdiri dari 5 kelas, yaitu: Knight Grand Cross (GBE) Knight Commander (KBE) Commander (CBE) Officer (OBE) Member (MBE) Yang berhak menyandang Sir adalah GBE dan KBE.

Mirza Mirwan

Maaf, Bung Munawir, menyesal sekali saya tidak bisa membantu. Kalau misalnya kata "Syadzali" itu tabarruk dengan pendiri tarikat Syadziliyah, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili, tetap saja saya juga tidak tahu arti kata "syadzili". Karena Syaikh Abul Hasan dari Maroko, boleh jadi "syadzili" itu bahasa "Darija" -- bahasa Arab yang bercampur bahasa Perancis. Bahasa Arab memang punya 2 jenis : "Fusha" (bahasa resmi, seperti dipakai al-Quran, komunikasi antar-bangsa-Arab, media massa, bahkan sastra) dan "'Amiyah" (bahasa sehari-hari, pasaran, juga bahasa gaul). Nah, bahasa Arab Darija yang dipakai di Maroko itu termasuk jenis "Amiyah". Mereka yang pernah kuliah di Maroko mungkin tahu "syadzili" itu artinya apa. Lepas dari apapun arti tepatnya, pastilah syadzil/syadzali itu artinya bernuansa baik.

munawir syadzali

Alhmarhum Bapak menamai sy dengan nama Munawir Sandali, itu setidaknya yg tertulis di ijazah TK. Krn suka dibully dg sebutan Sandal, Sy pun mencari jati diri nama saya, dr mana sebenarnya nama itu, apa artinya dan meniru siapa. Usut punya usut, ternyata harapan org tua memberi nama itu supaya bisa menjadi mentri agama. Waktu itu, kelas 3 SD sy bingung, mentri agama yg mana, kuberanikan diri sy bertanya ke guru TPQ sy. Utk nama saya, bagaimana tulisan arabnya. Bu Guru itu pun menuliskan nama sy versi arabnya. Sy catat, sy simpan. Suatu ketika, sy membuka2 halaman depan al Qur'an terbitan kemenag, tertulis di kata pengantarnya, dg huruf arab, yg sama seperti Bu Guru menuliskan utk sy. Oh ini, toh rupanya, tulisan yg sebenarnya. Sy mencoba mentransliterasi sendiri, bagaimana mengubah huruf arab ke indonesia. Jadilah Munawir Syadzali. Harusnya Munawwir, dr nawwara, yunawwiru, fa huwa munawwirun. Tp, krn Pak Mantri Agama menuliskan namanya dg Munawir Sjadzali, sy tuliskan saja spt itu, tanpa tasydid. Waktu ada perubahan penulisan nama kelas 6 SD utk penulisan nama ijazah, sy ajukan ke wali kelas utk perubahan nama, sy patenkan sendiri, tanpa sepengatahuan org tua, pun sampe skrg, maklum, org tua masih buta huruf. Demikian cerita tdk penting dr saya. Semoga, sebagaimana namanya, Munawwir, org yg memberikan cahaya, Sy bisa bermanfaat utk sesama, agama dan negara. Amien

DeniK

Berbahagialah bagi pembaca disway Yang yang bisa isi kolom komentar setiap hari. Kolom komentar sekarang sudah seperti bensin premium,sangat susah di cari.hil yang mustahal. Jadi silent reader itu jadi pilihan. Salam buat' mas Dur' di Borgam.

yea aina

Soal kekhasan muslim di Indonesia, dinarasikan secara ilmiah oleh Prof Azra, hingga menjadi rujukan ilmuan barat. islam Nusantara versi Prof Azra, jangan disamakan dengan Islam Nusantara yang akhir-akhir ini diwacanakan. Sebab sebuah karya ilmiah steril dari muatan kepentingan, entah itu jabatan apalagi uang. Prof Azra hanya menjelaskan BAGAIMANA sejarah dan sikap muslim Indonesia yang dikenal sangat toleran. Mungkin, beliau merasa tidak perlu menjelaskan MENGAPA sikap toleransi begitu kuat mengakar di sini, dalam disertasinya. Umumnya literatur ilmiah hanya membahas suatu hal berdasarkan bukti logis-empiris. Padahal sikap toleransi didasari kesadaran yang bersifat spiritual, keyakinan orang per orang. Perbedaan sisi spiritual (keyakinan) tidak layak diperdebatkan, baik di ranah ilmiah apalagi hanya ranah medsos. Bisa ribut debat kusirnya.

Liam Then

Sikap mental orang maju, yang paling penting itu mau memgakui keunggulan orang lain. Apapun suku dan agamanya. Atau dari mana ia berasal. Kayu bakar tetap kayu bakar darimana pun asalnya. Tetap berguna. Belajar darinya ,ambil yang baik, buang yang buruk. Ini teori usang, gampang di ketik-kan tapi susah di kerjakan. Wkkwkwkw Sikap seperti ini banyak dipraktekan di negara maju. Di sana mereka dalam beberapa hal , mau mengakui keunggulan orang. NASA-nya Amerika contohnya. Itu tempat kumpul entah berapa macam suku ras. Di Tiongkok juga. Kota-kota modern mereka banyak yang di disain oleh orang barat. Apakah orang Tiongkok tak ada yang pandai tata rancang kota? Pasti ada, cuma mereka ngaku, disainnya orang barat yang di upah. Lebih baik lagi. Begitulah sikap yang saya harap berkembang di lingkungan politik negara kesayangan saya. Karena saya sedih, banyak tokoh politik yang saya kagumi, cenderung mendorong dan memberi jalan kepada anak dan saudara. Kalo sudah begitu saya jadi teringat, cerita keruntuhan Partai Butongpai di dunia Kangow, yang runtuh karena calon pengganti yang tidak kapabel. Juga sejarah banyak kerajaan di masa silam. Runtuh. Karena pengganti kaisar dan raja yang kurang oke kualitasnya. Jaman sekarang, model kuno pewarisan kekuasaan. Sangat beresiko. Di RI, nasib beratus juta orang taruhannya. Sungguh, saya tidak mengerti, kenegarawanan itu ada dimana? Apakah susah ketemunya?

Komentator Spesialis

Agama Islam itu sangat simple. Untuk urusan agama, ikuti saja tuntunan yang dibawa Rosulullah Muhammad SAW. Jangan membuat ajaran baru, inovasi baru atau yang lebih dikenal dengan istilah bid'ah. Jangan menggunakal akal, gunakan hati. Tetapi, untuk urusan dunia, masing masing dari kita lebih tahu urusannya. Silahkan berinovasi disini dalam koridor yang diperbolehkan agama. Jangan dibalik, urusan agama berivonasi, sedang urusan dunia melempem.

Liam Then

Para imuwan dan pemikir muslim kualitasnya tidak perlu di ragukan. Cuma yang saya perhatikan, di negara-negara yang penduduknya muslim. Peran para pemikir dan ilmuwan sangat jarang diutamakan. Di dalam sejarah sampai kontemporer. Seperti yang Pak SBY biasa bilang, saya prihatin. Sebab begitu kisah kehancuran dan keruntuhan didalamnya. Sekadar menyebut beberapa. Dinasti Ottoman, Iraq, Suriah, Yaman, Afghanistan, Libia Bayangkan saja betapa sia-sia. Membangun negara tidak seperti menanam singkong, 4-5 bulan tinggal dipanen. Membangun negara perlu proses berkelanjutan. Jika berkonflik kemudian hancur. Bayangkan berapa banyak upaya yang terbuang sia-sia. Karena itulah saya berpendapat, cendikiawan muslim dan pemikir muslim, entah prioritas nomer berapa di beberapa nama yang saya sebut diatas.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda