Sang Begawan Media

Tangis Panggung

Muhammad Al Fatih Hadi, putera Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi. (FOTO: kaltimkece.id)

COWASJP.COM – "KENAPA Anda menangis?"

Tidak dijawab. Tangisnya justru lebih sesenggukan. 

Saya ambil tisu. Beberapa lembar. Saya usap-usapkan di matanya. Lalu saya berikan ke ia. Biar mengusap sisa air matanya sendiri.

Namanya: Muhammad Al Fatih. Ia mahasiswa semester 1 jurusan komunikasi Universitas Mulawarman, Samarinda. 

Saya memang memberi kuliah umum di situ. Mahasiswa yang ingin bertanya saya minta naik panggung. Tiga orang. Lalu tiga orang lagi. Al Fatih naik panggung belakangan.

Ternyata Al Fatih lebih banyak curhat. Baru saja memulai bicara tenggorokannya tersendat. Ternyata menahan tangis. Pertahanannya tidak kuat. Ia mulai terisak.

Ternyata Al Fatih tidak hanya mahasiswa. Ia sudah mulai menjadi wartawan. Baru. Belum genap lima bulan. Tekanan demi tekanan ia derita. Ia sudah pula menerima ancaman. Juga dibuntuti terus oleh orang yang mencurigakan.

"Itu terkait dengan berita yang saya tulis," ujarnya setelah reda dari tangisnya.

"Berita yang mana?"

"Saya tidak bisa menduga. Mungkin salah satu dari tiga berita yang saya tulis," jawabnya.

Sorenya saya hubungi Al Fatih dari Balikpapan. Saya minta didetailkan berita apa saja yang ia tulis.

Pertama soal tambang batu bara ilegal. Yang jumlahnya 21 perusahaan. Ia tulis nama-nama 21 perusahaan itu. Akibatnya memang panjang. DPRD Kaltim memanggil kepala dinas Pertambangan. Kenapa semua itu dibiarkan. 

Berita kedua, soal pedagang kaki lima yang jualan iga bakar. Di Jalan Ahmad Yani. Iga bakar Sunaryo. Pedagang itu digusur. Padahal ada pedagang iga bakar lain yang dibiarkan. Melanggarnya sama. Jaraknya pun hanya sekitar 1 km. Hanya saja yang tidak digusur itu masih milik keluarga penguasa di Samarinda.

Yang ketiga soal wacana pemotongan insentif guru. Awalnya, kata wacana itu, insentif akan diturunkan dari Rp 750.000 ke Rp 250.000. Itu karena anggaran APBD untuk itu tidak cukup lagi. Alokasi anggaran insentif dipotong banyak.

Ketika wacana ini jadi berita terjadi ribut. Lalu muncul wacana lain: lebih baik insentif guru yang sudah lama jangan dipotong. Insentif guru yang masih baru saja yang dihapus.

Ribut lagi.

Sekarang wacana ini masih menunggu peraturan wali kota Samarinda atau peraturan daerah.

Saya biarkan dulu Al Fatih menyelesaikan tangisnya. Lalu saya bercerita bahwa apa yang dialami Al Fatih itulah risiko seorang wartawan. Saya pun mengalami. Tidak hanya sekali. 

Bagi Al Fatih, di usia yang begitu muda, itu sangat bagus untuk menempa diri. Umurnya baru 23 tahun. Sudah punya pengalaman hebat seperti itu.

Saya pun bertanya: apakah ia akan berhenti sebagai wartawan..

Jawabnya: tidak.

Apakah ia akan berhenti berjuang.

Jawabnya: tidak.

Syukurlah.

Saya juga memuji media tempat Al Fatih bekerja: samarindakita.com. Pimpinan media online itu juga ditekan pihak lain. Tapi tetap saja memuat berita yang dibuat Al Fatih. Jarang media online punya idealisme setinggi itu. Al Fatih juga puas bekerja di samarindakita.com. Gajinya memang kecil tapi idealismenya tersalurkan.

Soal biaya hidup ia masih punya sisa tabungan. Termasuk untuk membayar uang kuliah. Ia memang sempat menabung ketika mendapat beasiswa yang bagus di Abu Dhabi. Ia delapan tahun sekolah di sana. Sejak kelas 6 SD. Sampai lulus SMA.

Sebenarnya ia sudah kelas 2 SMP di SMP Cordova di Samarinda. Lalu dapat tawaran beasiswa di Abu Dhabi. Ia berangkat. Harus kursus bahasa Arab dulu satu tahun di sana. Lalu harus masuk dulu kelas 6 SD. Ia mau. Maka ia perlu 8 tahun untuk sampai tamat SMA.

Sebenarnya Al Fatih dapat tawaran beasiswa lanjutan untuk kuliah di sana. "Yang ditawarkan jurusan Usul Fikih. Saya merasa tidak cocok," katanya.

Sejak kecil ia memang sudah suka menulis. Termasuk menulis cerpen. Maka cita-citanya memang jadi wartawan. Keinginan lainnya: jadi dosen.

Al Fatih anak kedua dari empat bersaudara. Sebenarnya ia tidak harus jadi wartawan. Ayahnya pejabat penting di Kaltim: Wakil Gubernur Hadimulyadi. Dari namanya ia seperti orang Jawa. Tapi Hadimulyadi adalah orang Kutai asli. Berdarah biru kesultanan Kutai.

hadi.jpgWakil Gubernur (Wagub) Kaltim, Hadi Mulyadi. (FOTO: kaltimtoday.co)

Sang ayah sarjana matematika lulusan Universitas Hasanuddin. Lalu menjadi dosen. Dan mendirikan lembaga pendidikan Cordova di Samarinda. Ia aktivis Partai Keadilan Sejahtera. Sampai jadi anggota DPR dan kemudian wakil gubernur. Kini ia menjadi ketua partai Gelora Kaltim.

"Apakah Anda berani mengkritik Pemprov Kaltim?" tanya saya.

"Soal batu bara ilegal itu kan kritik untuk Pemprov juga," katanya.

Media kini begitu sulit mencari wartawan. Jarang ada anak muda seperti Al Fatih. (*) 

***

hasan2.jpgHasan Aspahani (penulis). (FOTO: tinemu.com)

Siapa Membunuh Putri (20)

Jangan Mengadu Domba

PULANG dari makan malam di kelong, di Watubesar, Inayah memintaku menemaninya kembali ke pesantren. Edo saya minta pulang sendiri. Di mobil, selama perjalanan ke Watuaji, Inayah bercerita banyak tentang rencana-rencananya mengembangkan pesantren, koperasi, dia bahkan punya ide bikin majalah dakwah.

”Redaksinya siapa?” tanyaku.

”Anak-anak pesantren. Kamu sudah lihat tulisan mereka kan?”

”Sudah, bagus-bagus. Beberapa dari mereka berbakat. Siapa itu? Indra sama Aidil itu yang paling berbakat.”

”Rodi juga. Anak dari panti dulu itu,” kata Inayah.

”Iya dia juga,” kataku. Tapi kuingatkan dia, untuk menerbitkan majalah tak hanya perlu penulis yang bagus. Perlu modal yang cukup untuk biaya cetak di tahun-tahun awal, perlu pengelola bisnis yang paham dunia media. 

”Kan ada kamu, Bang Dur. Kamu terbukti berhasil membesarkan dua koran. Kata Ustad Samsu sih gitu. Iya kan?” 

”Mau merekrut saya nih ceritanya? Bu Ustadzah Inayah investornya? Saya mau digaji berapa nih?” kataku menggoda dia.

”Saya paksa untuk kerja tanpa gaji. Mau?”

”Atau….,” kataku menggodanya dengan kalimat menggantung.

”Atau apa?” suara Inayah berubah manja dan balik menggoda.

”Atau, bayar saya dengan cintamu. Saya mau…,”

“Oh, kalau itu gak cukup dengan kerja gratis di majalah dakwah itu saja. Dan kontraknya harus sampai mati,… Berani?” 

Kami terdiam. Hanya sekilas berpandangan lalu saling lempar mata ke arah lain. Aku menatap ke samping, Inayah menatap lurus ke depan. 

”Sudah ada nama majalahnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.   

”Manzilah. Bagus kan? Artinya… peredaran. Garis edar,” kata Inayah.

”Bagus… Kata itu ada di Surah Yasin ya…” 

Kami kembali terdiam.  Sampai mobil berhenti di pesantren. Malam itu saya tidur di asrama pesantren. Saya tidur dengan sangat nyenyak. Tapi kata anak-anak santri, malam itu saya bermimpi. Saya seperti bernyanyi atau bersenandung. Saya tak pernah bermimpi begitu. Pagi-pagi ada sarapan tersedia untukku di kamar. Kata yang mengantar itu dari Ustadzah Inayah.  

Saya minta Edo menjemput saya di pesantren. Sampai pukul 10 dia belum sampai.  Sampai kemudian dia menelepon ke ponsel saya. Dia menelepon dari Polrestabes. Dia ditahan sejak malam kembali dari Kelong. 

”Di Simpangkapal ada razia. Saya distop, mereka periksa mobil. Terus katanya ada ganja di mobil kita. Saya tak tahu mereka temukan di bagian mana. Saya pastikan itu bukan punya saya. Saya tak pernah pakai ganja, tak pernah berurusan dengan penjual ganja,” kata Edo.

”Oke, tunggu. Saya ke sana,” kata saya

Saya menelepon Bang Eel. Juga Bang Jon. Ferdy menelepon saya juga menanyakan soal itu. Dia juga serta-merta datang ke Polrestabes. Di ruang tamu Kasatnarkoba saya menemani Edo. Dia tak ditahan. Cek urine-nya bersih. Tadi juga dijelaskan tak ada sidik Edo jari di bungkusan plastik ganja yang disita polisi. 

Sepertinya yang diincar malam itu saya, bukan Edo. Kata Edo, yang distop hanya mobil Dinamika Kota. Untung saja tadi malam Inayah mengajak saya ke pesantren. 

”Saya sudah tahu trik polisi. Mereka kalau mau jebak kita pas razia, mereka suruh kita pegang barang yang katanya ditemukan di mobil kita, pura-pura tanya, ’ini apa?’ Ah, saya sudah hafal itu. Di mana-mana sama saja. Kalau kita pegang nah, kena kita, habis kita, ada sidik jari kita di situ,” kata Edo bicara setengah berbisik padaku.

Saya dipanggil masuk ke ruangan khusus menemui Kasatnarkoba Polres Bogram AKP Heru Rusdiyanto. Dia termasuk polisi senior. Karirnya berjalan normal, tak pernah melejit. Orangnya bersih. Ferdy datang, dia temani Edo di ruang tunggu. 

Bang Eel, Bang Jon sudah ada di situ. AKP Heru menjelaskan razia malam itu bukan atas perintahnya. Itu razia liar atas suruhan seorang perwira terkait AKBP Pintor.  Menurutnya, sudah lama ada kubu-kubuan di tubuh Polresta Borgam. Yang sekarang di atas angin adalah kubu yang dikepalai oleh AKPB Pintor. 

”Saya ini netral. Saya tak suka kubu-kubuan. Saya selalu ingatkan Pak Kapolresta agar menghentikan itu. Tapi sepertinya beliau lebih mendengar suara lain,” kata AKP Heru. 

”Kasus Putri ini sejak awal saya tahu penanganannya tak benar. Itu semua kelihatan di sidang kan, berantakan semua. Keluarga AKBP Pintor, terutama ibu mertuanya tambah bikin kacau,” kata AKP Heru.    

”Jadi menurut Bapak kami harus bagaimana? Maksud saya di luar urusan pemberitaan. Kalau soal berita kami akan tetap seperti selama ini karena kami tak melanggar apa-apa,” kata Bang Eel.

”Terus saja memberitakan apa adanya. Akan ada mutasi besar-besaran,” kata AKP Heru.

”Kapolresta kita bertahan?” tanya saya.

”Masih nego kelihatannya. Kalau pun diganti momennya menunggu Hari Bhayangkara. Beberapa bulan lagi.”

”Nego apa ya, Pak Kasat?” tanyaku.

”Ada lah itu. Kita tunggu. Makanya agak kencang ini perlawanannya,” katanya, ”tunggu saja. Yang penting semuanya nanti yang terbaik buat kota Borgam kita ini.   

Bang Jon keluar ruangan lebih dahulu. Kepada saya dan Bang Eel, AKP Heru mau bicara terkait kasus pembunuhan Putri. Ia menjanjikan bisa atur waktu ketemu dengan penyelidik dari Satreskrim yang pertama kali memeriksa TKP, rumah AKBP Pintor.  Hasil penyelidikannya tak ada di BAP.  ”Kalau itu masuk BAP akan jelas semuanya, akan berubah konstruksi kasusnya,” kata AKP Heru. 

Pembicaraan kami hari itu tidak untuk diberitakan. Edo dibebaskan. Kasusnya tidak diberkaskan. Saya mengira itu bagian dari upaya menekan kami saja terkait kasus pembunuhan Putri.  Sidang akan memasuki pembacaan putusan sela. Kuat kemungkinan sidang tak akan berlanjut, ke pembuktian, karena kurangnya bukti-bukti. Tim pembela yang diketuai Restu Suryono bekerja dengan cemerlang. 

”Kenapa kau telpon Jon?” tanya Bang Eel, sesampainya kami di kantor. Edo saya suruh beristirahat. Semalaman dia tak tidur katanya. ”Saya panik, Bang. Saya telepon saja orang-orang yang saya pikir bisa bantu bebaskan Edo,” kataku. Bang Eel tak bicara lagi.  

Saya pun langsung bekerja. Membacai semua koran lokal dan koran nasional yang selalu datang agak siang. Nurikmal datang dengan berita bagus. Ia memotret iring-iringan mobil yang subuh-subuh diangkut ke pelabuhan tikus di Pulau Golong. Menurut info penduduk di sekitar situ, sudah berhari-hari kegiatan itu dilakukan. 

”Mau dibawa ke mana?” tanyaku.

”Itulah yang sedang kita investigasi. Kita bisa pastikan itu bodong. Itu semua mobil dari Malaysia. Tanpa pelat.  Seperti mobil yang banyak beredar di Borgam sini.  Di sini legal, karena FTZ, kalau dibawa keluar harusnya kena pajak, kan, Bang…,” papar Nurikmal.     

Foto-foto yang berhasil dijepret Sapril kuat sekali. Ada trailer yang mengangkut mobil-mobil luar itu, proses memuat ke tongkang dan yang paling menarik adalah ada mobil yang jatuh sebelum termuat di tongkang. 

”Menurutmu siapa ya yang sedang bermain ini?” tanyaku.

Kalau tidak polisi ya tentara, kata Nurikmal. ”Kalau nggak, nggak mungkin Bea Cukai kayak membiarkan saja. Kok tidak tahu? Tak mungkin rasanya. Apalagi menurut info itu sudah berhari-hari, tiap malam, ratusan mobil,” kata Nurikmal.

”Kita konfirmasi ke Bea Cukai. Kalau dapat kita beritakan,” kataku.

”Oke, Bang,” kata Nurikmal.

Dinamika Kota edisi Senin itu berbeda sendiri. Sesekali bagus juga jeda dari berita panas pembunuhan Putri. Hanya kami yang menaikkan berita penyelundupan mobil itu. Eksklusif. Kami jadikanlah mobil yang jatuh di samping tongkang itu sebagai foto utama. 

Sementara koran lain memberitakan rencana putusan sela sidang kasus pembunuhan Putri.  Kami juga memberitakan kelanjutan kasus Putri.  Kami menulis khusus tentang TKP, rumah AKBP Pintor, dan Putri.  

Rumah itu tergolong mewah dan elite di Borgam. Tertutup dengan satu gerbang keluar masuk yang dijaga sekuriti 24 jam. Kami kumpulkan fakta dari beberapa orang, sekuriti, tukang kebun, petugas sampah, tukang sayur yang buka lapak di ujung kompleks. Kami melacak CCTV. Kata petugas sekuriti, rekamannya disita petugas polisi sebelum tersiar kabar Putri menghilang. Mencurigakan. Di mana rekaman itu?   

Beberapa wartawan televisi nasional dan koran Jakarta menghubungiku, beberapa datang ke kantor meminta foto. Saya berikan foto yang belum kami pakai. Saya minta mereka tak usah menyebut sumber fotonya dari kami. Tulis saja nama fotografer mereka sendiri.  Ini cara saya berbagi risiko. 

Naluri saya mengendus ini berita akan jadi isu nasional. Semakin lekas diberitakan media nasional, semakin aman bagi kami. Para wartawan media Jakarta itu juga ramai-ramai mengonfirmasi ke Bea Cukai. Jawabannya sama: mereka tidak tahu dan akan mengusutnya.  Saya mengikutinya di siaran berita televisi siang. Hampir semua televisi nasional menyiarkannya.  

”Bang, Pak Kapolres marah-marah. Ini dia sedang gelar jumpa pers,” kata Ferdy menelepon dari Mapolresta. 

”Kok jumpa pers? Kok marah-marah?” tanyaku.

”Itu ternyata mobil yang dikirim Kapolresta untuk Mabes,” kata Ferdy.

”Buat apa mobil sebanyak itu?”

”Betul, Bang. Ratusan. Tapi tadi tak jelas juga disebut berapa jumlahnya. Katanya itu buat parade di HUT Polri tahun ini. Bukan bodong, katanya. Seperti yang kita tulis itu. Tapi legal dan dapat pembebasan bea masuk.”

”Kok Bea Cukai bilang tak tahu? Kok diangkut malam-malam, mencurigakan gitu?”

”Itu tadi saya tanya, Bang. Langsung dimarahi saya. Hahahaha… Katanya, kamu dari Dinamika Kota ya? Jangan mengadu domba Kepolisian dengan Bea Cukai,” kata Ferdy menirukan kata-kata Kapolresta. Saya menyuruhnya lekas kembali ke kantor. 

Bang Eel datang. Di meja tamu dia empaskan koran. Wajahnya tegang. Pasti ada yang dia cemaskan. Pasti ada yang membuatnya kesal. Tapi apa? Soal headline itu? Dia tahu, semalam ia ikut menentukan.

”Kenapa, Bang?” tanyaku.

”Kapolresta mau ke sini,” katanya. (*-HASAN ASPAHANI)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 21 September 2022: Kompor Politik

Impostor Among Us

Dalam proses perubahan menuju kebiasaan baru biasanya mendapat penolakan. Hanya perlu waktu sebentar. Ambil pelajaran dari fase perubahan dari alam rahim ke alam lahir. Bayi berteriak menangis. Berubah dari netek ke sapih. Nanti ada lagi berubah dari kehidupan jasadiah ke alam ruhiyah. Membayangkan itu jadi deg-degan.Terakhir terkaget kaget saat kembali ke kehidupan jasadiah abadi.

Namu Fayad

Urusan elpiji ini sama dengan pertalite. Disebutnya subsidi, tapi diedarkannya melimpah. Bagi rakyat menengah ke bawah, alhamdulillah. Amanat konstitusi; untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, semoga membawa berkah.

thamrindahlan

Banyak intrik banyak kehendak / Syahwat kekuasaan melanda negri / Kompor politik nyaris meledak / Rakyat terlupakan siapa peduli /

Jokosp Sp

Samarinda, Banjarmasin sekitar yang banyak Tambang Batu Bara, seringnya ada POM Bensin yang dekat Tambang kayak rumah kosong tanpa penghuni. Tapi kalau lihat di dekatnya, di jalan rayanya...........pemandangan keseharian Truck ngantri Solar dah seperti biasa. Para Pelangsir sepertinya sudah jadi bagian dan jadi pekerjaan utama. Pada akhirnya Truck harus beli di luar POM yang lebih mahal 2 - 3 ribu. Itu yang pelangsir, tapi yang punya Tambang tapi mengkonsumsi Solar Subsidi ini jauh lebih besar. Pertanyaan : di mana fungsi pengawasan ? di mana team Auditornya ? Ah sepertinya TST saja.

iwan

Pak MM sudah ada kompor induksi yang cekung, cuman kekurangan kompor induksi, alat masak nya harus yang bisa induksi baru bisa panas, tidak semua alat masak cocok seperti gas elpiji.

Kang Sabarikhlas

Subuh saya mau absen CHD belum buka, nunggu 1 jam, bisa masuk. tapi sudah ada Pak Pry riwa-riwi, saya keluar lagi, takut Pak Pry?.. bukan, takut kompor meleduk. Lha wong Abah 2 hari buat judul kompor-komporan dijelaskan lagi suhu melebihi panasnya musim kemaruk..eh anu kemarau.. Anu,..sungguh, saya selain goblik juga makhluk yang lemah. sewaktu jadi pengusaha di stigma ekonomi lemah. Sekarang pasti di cap 'pengusaha ekonomi lemah tanpa daya'... duh, kapan ada yang 'nyetrom'.... semoga besok judul CHD... 'Kipas'. biar adem kipas-kipasan.

Dian Gambar

2 hari yang lalu bisa login. Kemarin tidak bisa. Hari ini bisa. Apa semacam giliran supaya server ga crodit diserbu komentator? 

Agus Suryono

KOMPOR.. Kompor Elpiji dan Kompor listrik bisa tuk menanak nasi. Kompor POLITIK bisa tuk MEMBAKAR emosi.. @bagi yang hatinya RUWET..

Dian Gambar

Kalau over suplay baiknya jual harga diskon biar ga mubazir. Tambah daya dan ganti meter token gratiskan. Klw pakai token kan ga ada abodemen. Nanti otomatis pemakaian akan meningkat. Jangan lupa turunkan harga per kwh-nya. 

Dedi Juliadi

Pesan Pak Jokowi bah "Kita ini saudara sebangsa dan setanah air, jangan lupakan itu. Ini karena banyak kompor, karena dipanas2i karena dikompor2i jadi panas semuanya". Jadi sebaiknya Abah jangan menulis tentang kompor ingat pesan Pak Jokowi di atas ya bah. Tapi bah saya mau protes sedikit yang tepat kita ini saudara sebangsa kalo saudara setanah air rasanya tidak tepat di negara kita ini sengketa tanah masing sering bahkan antar saudara sendiri.

Anwar Setiaone

Saya pake hibrid biderectional, on grid off grid ekspor nol ga pake Kwh exim

Anwar Setiaone

Awalnya mengikuti grup Renewable Energi di Facebook, coba coba pasang panel Surya awalnya 50 Watt eh keterusan beranak sampe hari ini jadi 2800 Watt, jadinya udah ampir 2 tahun listrik cm bayar abodemen saja, listrik terpasang 1300 va meteran piring jadul, biaya pemakaian minimum 52 kwh sekitar 80 Rb, jadi selama ini sy yang mensubsidi PLN karena PLN cm buat back up kalau mendung lebih dari 3 hari, dan jarang terjadi, kalau panas terik listrik sangat berlebih dan kadang alat listrik yg ga perlu dinyalakan ( dengan adanya kompor listrik terpikir untuk beli kompor ini) 

Juve Zhang

Saya kebetulan di panggil oleh kontraktor bumn Tiongkok buat "berpartisipasi" yg ternyata " sulitnya tingkat suhu" banyak yg ilmu "kungfunya" belum matang berguguran. Konttaktor BUMN gak ada yg "berani" masuk kalah harga. Yg terjun kontraktor Tiongkok langsung di bantu kita yg sudah cukuo ilmu " kungfunya". Disini 100% otak kita muter mwngatasi disain yg " keliru" dari konsultan awal.entah siapa. Dua jempol buat kontraktor Tiongkok .semua hambatan di atasi. Abah pernah "meninjau" dan geleng geleng kepala lihat sulitnya.

mzarifin umarzain

listrik sudah diubah jadi panas. jadi tak nyetrum lagi. seperti penyetrika pakaian, kan panas, tak nyetrum. seperti mejikjer panas, tapi tak nyetrum.

Pryadi Satriana

Kelebihan listrik? Mosok? Masih banyak jalanan dalam kota di Bogor yg "gelap". Pun di sekitar kompleks militer Atang Senjaya. 'Kelebihan listrik di Jawa' tapi masih banyak jalanan dalam kota di Jawa yg "gelap",hi..hi.. . Akhirnya "rakyat miskin jadi proyek" a.n. "subsidi". Ah, sedihnya. Orang miskin kok "dipolitisasi" dan "dijadikan proyek ". Bisa juga kan sebutannya "subsidi" padahal itu "proyek"? Harus ada kejelasan dari PLN tentang hal ini supaya 'ndhak gelap'. Saatnya "terang-terangan." Salam.

Rihlatul Ulfa

Dulu saya lebih memilih untuk kerja di Jakarta, karena saya bisa pakai alternatif lain yaitu Transjakarta yg harganya hanya 3500 saja. mau berapa kali transit pun mau ke Jakarta arah manapun. dibanding saya harus bekerja di kelapa dua, Gading Serpong yg kalau naik angkutan umum harus dua kali atau harus naik ojol. beberapa kali saya harus menggugurkan bekerja karena saya akan ditempatkan di bandara Soekarno-hatta. padahal penyerapan tenaga kerja untuk bandara begitu besar, sayang sekali karena masalah transportasi ini. harusnya juga sudah bisa bertemu Abah dibandara hehe. UMR, UMP di Indonesia jauh dari kata CUKUP. jadi Pemerintah harus buat inisiasi disektor transportasi. biar mereka gak gampang demo, biar uang mereka yg banyak keluar di transportasi bisa dialihkan ke makanan untuk gizi keluarga dan dirinya. 

Azwar Anas

Kelebihan manusia di Jawa boleh (oleh pemerintah) diekspor ke Kalimantan. Skalian bawa listrik (yg kelebihan itu) dong supaya hadir juga lah listrik di masyarakat. Yg sejak Indonesia belum merdeka sampai skrg blm ada listrik.

James Atlee

Batubara tak bisa terbarukan, dan dieksploitasi HABIS-HABISAN utk ekspor. Pertinyiinyi : siapa yg menikmati eksploitasi HABIS-HABISAN itu? Saya? Anda? Pak Dahlan? Adaro? Bumi? Bila saatnya nanti habis dikeruk, biaya energi akan naik tajam, siapa yg terbebani? Saya? Anda? Adaro? Atau siapa? Laaaaaah kok diizinkan dikeruk HABIS-HABISAN ???

Budi Utomo

Pak Agus Suryono dan Bung Juve Zhang, mungkin wireless electricity bisa jadi solusi. Itu lho yang sudah ditemukan Nikola Tesla seabad yang lalu tapi tak direalisasikan JP Morgan sang pemodal yang memodali Tesla. Btw, turbin PLTA juga penemuan Tesla. Juga transmisi dan distribusi dengan teknologi listrik AC. Yang kita pakai sekarang. Yang sempat membuat panik Thomas Edison dengan teknologi listrik DC yang ia punya. Silahkan surfing dengan keywords: How Tesla Electricity Can Create Wireless Power.

WYG S2021

DISTORSI pasar merupakan Bom waktu yang pasti akan meledak kemudian. 1. Distorsi Tarip dasar Listrik, sudah banyak kali tarip dasar listrik dinaikkan tetapi pelanggan 450VA ditahan terus akhirnya perbedaannya menjadi masalah besar yang sulit diatasi tanpa ada terobosan out of the box. 2. Distorsi harga LPG Melon 3 Kg dgn LPG 12kg & 50 Kg juga setali tiga uang akhirnya menjadi masalah yang terlalu besar untuk dicari solusinya makin lama makin sulit ditambah kreatifitas jahat mengoplos LPG Melon 3 Kg ke tabung LPG 12 Kg bahaya meledak dgn resiko mati diabaikan demi selisih uang yang cukup besar.

dabaik kuy

4. benarkah abah selalu pro cina (gak pernah sekalipun beritakan pembantaian xinjiang) krn spy dapat iklan dr para pengusaha cina?

Pryadi Satriana

Satpamnya hanya masak nasi 2 hari sekali. Tanggal ganjil makan nasi hangat, tanggal genap makan nasi 'nget2an'. Nonton TV jg hanya 'liat berita' aja. Itu supaya satpam 'gak nombok' krn 'jatahnya' cuma 100kWh, he..he.. Salam. Rahayu.

Lukman bin Saleh

Menegakkan akal sehat itu trnyata gampang2 susah. Gampang krn begitu sederhana. Susah krn tak terlintas dalam fikiran. Misalnya yg d singgung Abah kemarin. Menghapus kasta kwh meter. Yg tdk ada manfaanya sama sekali. Hanya memperumit hidup. Tinggal lakukan tarif progresif. Seperti umumnya yg d lakukan PDAM. Harga 100 kwh pertama lebih murah dr 100 kwh berikutnya. Dan seterusnya. Otomatis subsidi tdk akan jebol. Dan otomatis yg bayar mahal adalah org kaya. Krn pemakaian listriknya d atas rata2. Bagaimana kalau org kaya irit sedemikian rupa agar pemakain listriknya tdk lebih 100 kwh perbulan? Ya silahkan sj. Itung2 subsidi yg d terima sebagai penghargaan atas upanyanya menghemat energi. Toh subsidinya segitu2 juga. Tdk akan meroket ke mana2. Hanya untuk 100 kwh perbulan...

Komentator Spesialis

Mau 450watt, 900watt, 2300watt bahkan 10.000watt sebenarnya sama kok. Yang berbeda hanya besaran MCB yang dipasang di meteran rumah anda. Itu cara mengontrol dengan teknik hardware. Kalau mau mengontrol secara softwarenya, silahkan baca komentar bung LBS dibawah. Pakai jenjang pentarifan berdasarkan progresif pemakaian listrik. Simple, mudah. Tetapi jangan lupa disitu ada jebakan batman. Maksud saya, sudah menjadi rahasia umum orang akan lebih royal pakainya kalau tidak dibatasi. Tetapi saya heran. Kan sudah banyak yang migrasi ke pasca bayar ya. Kok masih ada puluhan juga pelanggan 450 watt dan 900 watt ? Artinya mereka masih pasca bayar seperti di rumah saya.

Pryadi Satriana

Orang kaya cuma pakai 100kWh/bln? Yang 'nyala' cuma lampu di pos satpam orang kaya, dispenser di pos satpam utk buat kopi, dan kompor listrik di pos satpam utk buat mie goreng & telur goreng dan rice cooker buat satpam masak nasi, juga 'colokan listrik' agar satpam bisa nonton TV spy ndhak ketinggalan berita, dan spy satpam juga bisa 'ngecas' HP spy tetep bisa baca Disway. Orang kayanya ndhak pakai listrik krn rumahnya kosong & dibiarkan gelap gulita spy bunker uangnya ndhak keliatan dan ia bersama keluarganya tinggal di hotel spy ndhak perlu repot2, namanya juga orang kaya, he..he.. Salam. Rahayu.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda