Sang Begawan Media

Kompor Politik

PLTU Batang (Proyek PLTU Jawa Tengah 2 x 1000 MW). (FOTO: biroinfrasda.jatengprov.go.id)

COWASJP.COM –  

SAYANG, program pergantian elpiji ke kompor listrik dimulai dari isu yang kurang simpatik: untuk mengatasi kelebihan listrik di Jawa.

Dengan isu itu seolah pergantian ini hanya untuk kepentingan PLN. Agar PLN tidak rugi. Agar PLN tidak dituduh salah dalam membuat perencanaan, sampai terjadi kelebihan.

Atau, jangan-jangan motif utamanya memang itu.

Memang terjadi kelebihan pasok listrik yang sangat besar di Jawa. Pembangkit-pembangkit raksasa, milik swasta, selesai dibangun. Unit yang kapasitasnya 1.000 MW/unit saja ada 4 buah. Di Banten. Di Cilacap. Di Batang ada dua, milik Adaro. Di utara jalan tol Jakarta-Semarang itu.

Empat raksasa itu sekaligus lambang kehebatan Indonesia: mampu memiliki pembangkit raksasa seperti di negara maju. Itulah unit terbesar PLTU yang mampu dibangun manusia. Tidak ada yang lebih besar dari itu. Harus dengan sistem super-super kritikal. 

PLN harus membeli semua listrik itu. Tapi PLN kesulitan menjual sampai habis. Permintaan listrik di Jawa turun. Sejak jauh sebelum Covid –diperparah oleh pandemi.

Kenapa permintaan listrik turun?

Sebenarnya tidak turun. Tapi tidak naik. Sebenarnya naik tapi tidak sebanyak yang diperkirakan.

Ambisi negara ini untuk maju memang sangat besar. Itu terlihat dalam kampanye Pilpres. Angka pertumbuhan ekonominya diinginkan sampai 6 persen. Bahkan ada capres yang menjanjikan sampai 7 persen. 

Ambisi itu tidak mungkin dicapai kalau listriknya tidak disediakan. Harus dalam jumlah yang cukup. Pertumbuhan penyediaan listrik harus 2 persen di atas pertumbuhan ekonomi yang diinginkan.

pltu1.jpgPLTU Cilacap Ekspansi II (1.000 MW). (FOTO: ptpjb.com)

Berdasar perhitungan itulah dibangun pembangkit listrik besar-besaran. Di Jawa. Ternyata pertumbuhan ekonomi tidak sebesar yang diinginkan. Terjadilah kelebihan listrik di Jawa.

Sebenarnya pintar juga membuat program penggantian elpiji ke kompor listrik - -kalau memang dimaksudkan untuk itu. Agar kelebihan listrik tersebut terserap. Tapi kepentingannya menjadi lebih urusan internal PLN. Kurang menyentuh ke soal kepentingan nasional yang lebih besar. 

Padahal, di balik kompor listrik itu, ada misi besar yang mulia yang seharusnya ditonjolkan: mengatasi impor bahan bakar. 

Mobil listrik untuk mengatasi impor bahan bakar minyak. Kompor listrik untuk mengatasi impor elpiji.

Ini menyangkut ketahanan nasional di bidang energi. Juga menyangkut kemandirian energi.

Listrik bisa dihasilkan dari batu bara. Dengan sangat murahnya. Kalau mau. 

Batubara tidak perlu dibuat. Tuhan sudah memberikan itu ke negara ini. Dengan jumlah yang sangat melimpah. Yang sekarang dieksploitasi habis-habisan untuk diekspor.

Impor elpiji, Anda sudah tahu: nomor dua terbesar yang membebani negara ini. Impor BBM juaranya. Dua-duanya bisa diatasi oleh kemampuan kita sendiri. Dua-duanya tergantung keputusan kita sendiri.

Omong kosong bicara ketahanan energi kalau dua hal itu tidak diatasi.

Lebih omong kosong lagi kalau soal itu dibiarkan sampai tibalah saatnya batu bara kita habis.

Tinggal gigit jari. Pun sampai jari putus tidak ada gunanya lagi.

Kompor listrik begitu strategisnya. Sayangnya isu ini terkubur oleh persoalan komunikasi yang bias.

Padahal problem kelebihan listrik akan hilang sendiri mana kala pertumbuhan ekonomi membaik. Maka upaya memperbaiki ekonomi   adalah fokusnya. Sayangnya fokus itu bisa buyar oleh datangnya tahun politik. Apalagi minggu ini. Suhu itu seperti ingin mengalahkan panasnya musim kemarau. (*)

***

Siapa Membunuh Putri (19)

Judi dan Jatah

Oleh: Hasan Aspahani

KASUS pembunuhan Putri ini sebenarnya sederhana. Tapi keluarga Putri membuat persoalan jadi melebar ke sentimen etnis. Ini sangat berbahaya,” kata Pak Rinto. Ia juga menyesalkan serangan pada mobil redaksi Dinamika Kota dan perampasan koran kami di beberapa agen koran.  

“Apa berita kami salah, Pak?” saya minta pendapatnya.

“Memang ada yang tidak beres di tim penyidik Polresta. Sejak awal saya sudah melihat itu.  Kapolresta yang sekarang kurang tegas, terlalu disetir oleh kelompok AKPB Pintor,” katanya.

“Kenapa ya, Pak?”

“Setorannya lebih besar dan lebih rutin. Harus ada yang mengingatkan, bagus sekali kamu dan koranmu berani melakukannya,” kata Pak Pintor. 

“Selain kami harusnya siapa, ya, Pak?”

“Apa yang terjadi di kota ini, informasinya langsung ke mabes di Jakarta.  Memang kadang-kadang seringkali laporan yang sampai ke pusat sudah tak benar juga. Orang di mabes ada yang ikut bermain juga,” kata Pak Pintor.

“Tapi lama-lama saya merasakan tekanan dan terornya makin ngeri, Pak,” kataku.

“Hati-hati saja. Kalau ada yang bisa kubantu pasti aku bantu kamu. Jangan takut, Dur,” kata Pak Rinto. Saya berpikir apa yang bisa dibantu oleh bekas polisi tua ini? Sekadar nasihat arahan seperti yang selalu ia berikan itu tentu penting, tapi sepertinya saya memerlukan lebih daripada itu.  

Apakah saya harus meminta bantuan pada pengacara Restu Suryono? Atau orang-orang Porpal? Apakah itu justru malah membuktikan bahwa tuduhan itu penelepon di radio tadi benar. 

Di dalam mobil, seperti memahami kecemasan saya, Edo Terpedo berkali-kali meyakinkan saya dengan kalimat, “Abang Abdur jangan takut, selama ada saya tak akan ada yang boleh sentuh Abang…” 

“Kamu gimana, Do? Kalau mereka serang kamu gimana?”

“Siapa berani ganggu saya?” katanya. Dengan sepengetahuan saya, Edo membangun hubungan dengan beberapa preman Ambon di Borgam. Kelompok ini tak terlalu besar tapi cukup disegani. Afiliasinya ke tentara. Pilihan itu tentu berisiko, antara lain akan berhadapan dengan kelompok lain yang dilindungi polisi.  

Kelompok Edo itu tadinya tak punya nama. Sekarang, setelah Edo bergabung, mereka malah pakai nama Terpedo. Deklarasi pemakaian nama itu membuat kelompok mereka menjadi besar karena berhubungan dengan kelompok dengan nama yang sama di kota lain. 

Apalagi Terpedo sebenarnya tidak secara khusus menghimpun preman-preman Ambon. Beberapa preman pun tergabung, terutama mereka yang berasal dari timur. Kepentingannya satu: membeking tempat-tempat perjudian dan terutama penyelundupan barang. Dua wilayah yang bukan wilayahnya kepolisian.   

“Kita ke Pelabuhan,” kataku mengarahkan Edo. 

Ada beberapa pelabuhan feri di Borgam. Para pendatang dari negeri seberang bisa masuk lewat Pelabuhan Feri Internasional Sekumpang, ini pelabuhan pertama dan tertua, lalu pelabuhan di Borgam Sentral, dan pelabuhan khusus di Penangsa. Yang terakhir itu khusus untuk turis yang mau main judi di kasino di sana.  

Kegiatan melanggar hukum itu tak pernah diakui, tapi tak sulit untuk membuktikan bahwa kegiatan itu ada. Perjudian tak pernah legal di negeri ini. Tapi di pulau ini yang ilegal itu terselenggara dilindungi oleh aparat. Ada uang besar mengalir dan berputar di situ.  

Kalau mau diusut, gaya hidup mewah oknum perwira-perwira polisi itu dari situ sumber uangnya. Tentang judi ini saya dapat pandangan menarik dari Bang Risman “Ameng” Patron. Dia bilang, bagi mereka suku Tionghoa, judi itu budaya yang tak bisa ditinggalkan. Menunggu mayat sebelum dikremasi atau dimakamkan saja mereka main judi. Dia setuju ketika ada usaha untuk membuka kasino, di kawasan khusus di Penangsa, atau di rangkaian pulau Golong, Rumpat, dan Borgam. Dia bahkan ikut terlibat di persiapan awalnya. 

Ada jembatan panjang yang menghubungkan tiga pulau besar di kepulauan ini. Orang menyebutnya Jembatan Gortam, akronim dari tiga nama pulau yang terhubungkan, meski tiap-tiap jembatan itu punya nama pahlawan Melayu merujuk sejarah lokal.   

Saya ingat penjelasannya. “Judi itu tak akan pernah bisa hilang. Persoalannya mau dilegalkan, atau terus dilarang tapi ya seperti sekarang, diam-diam dibiarkan dan dilindungi,” katanya.

“Bang Ameng main?” tanyaku.

“Pastilah. Mana bisa tak main. Tapi saya main untuk pergaulan saja. Saya tak sampai candu. Kalau main kalah sampai 100 juta, saya stop. Segitu saja batasnya,” katanya.

“100 juta, Pak?” kata saya kaget.

“Itu tak seberapa. Kecil sekali itu. Pemain besar itu mainnya rata-rata 1 miliar, Mas Dur,” kata Bang Ameng. 

Saya bayangkan betapa besar perputaran uang dari perjudian ilegal itu. Dan saya paham kenapa aparat membiarkannya bahkan melindunginya. Bandar di kasino itu sudah atur semua permainan, peluang penjudi menang hanya 30 persen. Hanya 30 persen. Artinya mereka pasti dapat 70 persen. 

“Ambil 40 persen untuk margin itu sudah besar sekali. Bisnis apa yang rutin dan pasti dapat 40 persen? Lalu sisa 30 persen bagian untuk keamanan. Anggap aja itu bagian dari biaya operasional. Kalau pun sampai 50 persen biaya pengamanan, kan masih ada 20 persen. Bisnis ilegal itu biaya terbesarnya memang di pengamanan. Banyak pihak yang harus diberi jatah uang diam, termasuk media,” kata Bang Ameng.

“Wartawan juga, Pak?’

“Iyalah. Tanya saja Eel, dia yang tiap bulan terima dan atur pembagiannya,” kata Bang Ameng. Saya terkejut tapi berusaha untuk tidak tampak terkejut. Sudah lama saya mendengar selentingan itu, sejak kami di Metro Kriminal.  Eel selalu royal. Dari mana uangnya?  Dia selalu katakan ada uang operasional khusus. Saya kira itu dari anggaran khusus kantor.  Sejak mendapatkan informasi dari Bang Ameng, saya meragukannya. Tiba-tiba saya merasa terlalu polos. Terlalu idealis jugakah?  

“Kamu sudah dapat info kalau Putri itu suka main judi? Saya beberapa kali lihat dia main di kasino. Coba diinvestigasi. Itu yang sering bikin dia dan suaminya selalu bertengkar. Mungkin itu ada kaitan dengan pembunuhannya. Padahal kan itu sama saja uang bandar kembali ke kasino,’ kata Bang Ameng.   

Semakin rumit saja rasanya. Tapi semakin menarik. 

Sambil menunggu Suriyana di ruang tunggu kedatangan saya memotret beberapa objek menarik. Dengan kamera di tangan, saat memotret, cara pandang seseorang menjadi berubah. Itulah yang kurasakan dan kudapatkan pembenarannya dalam sebuah esai tentang fotografi. Interior ruang tunggu yang monoton itu tiba-tiba tampak menarik. Street photography bukan persoalan teknis memotret tapi sebuah cara pandang, sebuah pendekatan terhadap objek dan terhadap fotografi itu sendiri. Fakta yang tampak tak bisa diubah atau diatur seperti foto salon, tapi cara pandang atau cara melihat fakta itu bisa bermacam-macam. 

Memotret bagiku bisa jadi terapi yang menenangkan. Paling tidak itu yang kurasakan, sedikit meredakan ketegangan. Saya tegang dengan apa yang hendak kutanyakan pada Suriyana, tentang kepastian hubungan kami. Saya tidak takut, hanya ragu dan cemas.  Tapi ini tak boleh ditunda. Hari ini saya harus membicarakannya.  

Saya mendengar pengumuman kapal dari seberang merapat. Itu kapal yang disebut Suriyana dalam pesannya. Tak lama satu per satu penumpang muncul di gerbang kedatangan setelah melewati loket-loket imigrasi. Aku memotret mereka. Akhir pekan yang ramai. Kapal penuh. Lalu muncul Suriyana dia tak melihatku. Dia berjalan sambil berbincang dengan seorang laki-laki. Mungkin orang yang baru dia kenal di feri. Atau teman sekantor di lembaga filantropinya. 

Aku melambaikan tangan ketika kulihat Suriyana mencari-cari saya. Dia mendekati saya bersama laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata bukan kenal di feri bukan pula teman sekantor. Kami berjabat tangan.

“Ini Azeem. Kawan lama saya. Baru balik dari sekolah master di London,’ kata Suriyana. Saya mengendus ada hubungan khusus di antara mereka. Suriyana tak berusaha menyembunyikannya. Azeem pun saya lihat begitu. Tak susah untuk segera menyimpulkan bahwa mereka bukan sekadar kawan.  

Saya menawarkan apakah mereka mau menumpang mobil saya dan mau diantar ke mana, Suriyana bilang mereka sudah memesan mobil. Mereka mau berkunjung ke pesantren Alhidayah, melihat perkembangan koperasi yang mereka bantu. “Azeem tertarik untuk pelajari model kegiatan filantropis yang saya buat di koperasi Alhidayah,” kata Suriyana. Ia bertanya apakah saya akan ikut ke Watuaji, saya bilang saya akan susul nanti. Dia bilang dia undang saya makan malam itu bersama Azeem.   

Saya membayangkan makan malam terburuk sepanjang hidup saya.  Saya tak bisa menghindar. Sudah lama saya cerita soal kelong, tempat makan terapung di laut, yang banyak terdapat di Pulau Golong dan Pulau Rumpat, juga di beberapa tempat di Borgam. Ikan segar, suasana khas. Aroma laut dan ombak yang menggoyang kelong, bikin hidangan yang tersaji terasa sangat nikmat.  

Ketika tiba agak terlambat. Azeem dan Suriyana sudah lebih dahulu sampai. Satu per satu pesanan datang.  Udang goreng mentega. Kerang masak saos pedas. Kerapu stim.  Kangkung belacan.  Cumi goreng tepung. “Ini juga untuk merayakan Azeem yang baru kembali dari London, merayakan gelar master yang dibawa Azeem,” kata Suriyana. Saya hanya tersenyum, sebaik mungkin menata senyum. 

“Nasinya untuk tiga,” tanya pelayan.

“Empat,” kata Suriyana.

“Satu lagi siapa?” tanyaku.

“Oh ya, Inayah. Tadi petang di pesantren saya ajak dia ke sini,” kata Suriyana.

“Sama siapa dia ke sini? Kenapa tak beri tahu saya, kalau tahu dia ke sini saya akan jemput dia,” kataku kaget.

“Kata Inayah dia yang akan berita tahu kamu. Saya mau beri tahu bahwa kami, saya dan Azeem bertunangan, dan kami mengundang Abdur dan Inayah nanti untuk datang pada hari pernikahan kami,” kata Suriyana.

Tak berselang lama Inayah datang. Diantar mobil pesantren. 

“Maaf, terlambat,” kata Inayah setelah mengucapkan salam. Dia ambil tempat duduk di sebelahku. Mata kami bertatapan. Ada cahaya bahagia di situ. Cahaya dari mata yang menyimpan perasaan menang.    

“Ayo, makan, yuk,” Inayah menyendokkan nasi ke piring saya, lalu ke piringnya, kemudian memberikannya pada Suriyana. Saya seperti ingin keluar dari diriku sendiri dan memotret diriku sendiri, pengin melihat bagaimana persisnya keadaan diriku saat itu.  

Perasaanku hanya kacau, terkejut, bahagia, kosong, malu, macam-macam, bertukar-tukar.  Dua perempuan di samping dan di hadapanku inilah penyebabnya. Mereka terus saja bicara, ramah dan hangat, entah membincangkan apa.  Aku melampiaskan dengan mengunyah lahap-lahap apa saja yang masuk ke mulut saya. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 21 September 2022: Kompor 450

Wong Nganggur

Saya yakin anda pasti orang yg gampang bahagia.seperti cerita gus baha. orang yg bahagia dengan sekedar bisa minum kopi ngrokok makan seadanya ada lah orang yg luar biasa. di banding orang yg baru bahagia setelah punya mobil punya rumah mewah punya jabatan penting

Budi Utomo

Doraeomon membawa saya dengan mesin waktunya ke tahun 2200. Saat itu bumi sudah tak lagi climate change atau global warming. Semua nampak hijau. Hutan hijau dimana-mana. Pengikut Jackson dan pengikut Michael tak lagi bertengkar. Kompak menyanyikan lagu We Are The World dan Heal The World. Demikian pula pengikut Keris dan Batik yang tambah akur karena sama-sama menjadi penggemar Batik Keris. Dong Feng sudah berdamai pula dengan Wild Wild West. Dunia menikmati Artificial Sun. Inti-inti sudah dinonaktifkan. Sehingga tak terjadi perang inti yang mengancam homo sapiens. Energi gratis. Dari Artificial Sun. Bahkan tak ada lagi yang namanya Mani. Itu lho yang bikin orang gelap mata batin. Semua serba listrik. Mulai dari Home Appliance sampai pesawat ulang alik ke Mars yang dirintis Alon Mas dan Jan Bosok. Dan di negara Waka Waka E E, Suparman, Hasan Aspahani, Novak Jokovic dipuja-puja sebagai National Fathers generasi pertama, kedua, ketiga. Tapi ketika saya memasuki Pintu Kemana Saja, saya terlempar ke masa lalu. Dan mendarat kembali ke Jekerdah. Tepatnya di bedroom. Ternyata barusan cuma mimpi. 

Jimmy Marta

Di jaman batu, eh..sekring batu. Jika listrik njeplak cek batunya. Putus, ambil kabel serbuk yg serambut. Pake dua, kata orang2 satu lembar satu amper. Ikut aja. Yg penting nyala..

Budi Utomo

Koh Liam. Watt= Volt x Ampere. Tentu dibulatkan Watt nya supaya gampang dimengerti rakyat jelantah kaya kita. Wkwkwk. 450 W sudah pasti MCB di token 2 Ampere. 450 Watt : 220 V = sekitar 2 A. Listrik 900 W, MCB di token 4 A. 1200 W MCB 6 A. 2200 W MCB 10 A dst. Ini satu phase. 

Liam Then

Indonesia unik metode pentarifan listriknya. Sudah bagus itu, sesuai amanat undang-undang. Kok malah mau diubah mengikuti yang diluar negeri. Dengan pentarifan yang beda dan daya yang di batasi, orang yang kurang mampu di lindungi dari efek konsumerisme. Pemakaian tak perlu. Konsumsi rumah tangga bukankah banyak yang tak perlu? Manfaat lain yang tak disadari, hemat energi, masyarakat yang kurang mampu ,karena daya dibatasi, dipaksa hemat energi. PLN juga tak perlu menyediakan kapasitas daya yang super besar. Bayangkan kalo di lepas dari dulu, tak terbatas. Wong daya di batasi sana listrik masih byar pett ,tak cukup bagi. Masyarakat hemat energi, beban negara dalam hal konsumsi BBM untuk jalankan power plant PLN ,juga secara tak langsung terkendali. Jangan-jangan, ini "blessing in disguise". Salah satu faktor yang secara tak langsung bikin RI bisa jadi anggota G20. Kalau kompor listrik, biarlah orang mampu dulu yang pakai, ndak usah dipaksa orang kurang mampu beli kompor listrik lagi. Orang mampu daya listrik di rumah mereka sudah tinggi, jadi gampang beralih ke kompor listrik. Masalah pipanisasi gas rumah tangga. Bukan hal yang urgent. Ndak usah buru-buru, wong saya yakin, bahkan masih banyak kawasan industri yang belum terjangkau pipanisasi gas. Jika memang dirasa perlu, mungkin dicicil saja dulu, lewat kawasan pemukiman dan pengembangan kota baru, yang dekat lokasinya dengan jalur pipa gas milik BUMN. Tar kita lihat IKN apakah nanti masih pakai tabung gas hehe..

Kenari Daya

VA = Volt x Amper Suplai tegangan listrik 1-phase dari PLN, 220 Volt 440 VA = 220 Volt x 2 Amper 880 VA (sering dibulatkan jd 900 VA) = 220 Volt x 4 Amper Jadi PLN cuma ganti MCB dari 2 Amper jadi 4 Amper utk naikkan daya pelanggan agar surplus PLN terserap..

herlina soeroso

Pura pura miskin atau mental subsidi sangat besar jumlahnya di negeri sambo. MCB yg terpasang di meteran sudah dimodifikasi oleh oknum petugas , sehingga 450 VA & 900VA bisa pakai AC, hebat kan ya? Yg 1200VA bisa pakai 2 unit AC, mantul kan? Elpiji dipakai UMKM begitu banyaknya, contoh warteg, asongan gerobak (mie ayam, soto, martabak dll), rumah tangga mampu pun bermuka tembok menikmati gas melon subsidi, enak toh? Pedagang di pasar tumpah banyak juga bagus² tapi mereka tidak dipungut Pph orang pribadi, karna lokasi jualannya dianggap jelata dan tak permanen. Untunglah data penerima BLT terus diaudit dan diperbarui sehingga tepat sasaran walau masih ada saudara dan kerabat pejabat RT, RW, kadus, kades, masih dapat prioritas BLT walaupun rumah mereka sudah dikategorikan bagus Mental pura² kismin negeri ini sebanding dgn wabah korupsi yang sudah mendarah daging (marah kepada koruptor karna tidak kebagian saja) atau seperti flu kopit yg sudah merata. Yg paling seksi adalah gaji ASN tapi punya sepeda motor 3 unit dan mobill 2 unit. Seperti pepatah abah DI : 10 % orang baik , 10% orang jahat dan 80% itu pengikut seperti gerombolan minions. Jadi kesimpulannya adalah mental pura² jelatah negeri ini ada di angka 80% . Miris kan ya? 

Jimmy Marta

Program pengalihan dari kompor gas ke kompor induksi itu terhenti di soal daya listrik itu. Kompor listrik butuh seribuan watt. Masarakat yg jadi sasaran hanya punya 450 VA. Nyari pintunya. Deadlock. Pending. Beri mereka 2200 VA, tp anggap spt 450 VA. Solusi abah. Pasti ini sudah disampaikan abah ke pembuat kebijakan. Keputusannya?tunggu, mikir dulu.

Tego Yuwono

kalau saya sih sebenere lebih setuju subsidi bbm di hilangkan saja, subsidi listrik kalau perlu juga di hilangkan total. Nanti seiring berjalanya waktu upah juga akan naik kok, mau tidak mau. Dan manusia itu di ciptakan untuk mudah beradaptasi, merasa sumpek dan berat paling lama 2-3bulan setelah itu akan biasa lagi.

Koko Koswara

Saya bikin kontrakan. Listriknya didaftar bisnis. Biar murah harganya. Tiga bulanan blm ada yang ngontrak. Ketika ada yang mau ngontrak, listriknya habis. Otomatis harus ngisi lagi. Pas mau ngisi, gak bisa langsung. Harus ke PLN dulu, katanya ada kode baru. Ketika ke PLN, ternyata kode baru itu mengubah "bisnis" jadi "rumah tangga". Biar lebih mahal harganya. Itu kan artinya, Bah, PLN licik juga. Mengubah tanpa memeberitahu pelanggan. Itulah PLN!

Giyanto Cecep

Strategi waktu program minyak tanah ke gas lpg adalah dengan cara "menghilang" .. minyak tanah hilang di pasaran maka orang terpaksa beli tabung gas log .. beres ketika mau menghilang subsidi BBM, maka cara " menghilang " juga dijalankan yaitu premium hilang di pasaran, maka orang terpaksa beli pertalite . Entah krnapa pertalite kemudian kok di subsidi padahal wsktu itu hampir berhasil. Sekarang masuk ke jurang yang sama subsidi bbm. Coba strategi ganti gas lpg dengan listrik paksi jurus " menghilang " insya Allah mulus

Jimmy Marta

Gk ada meter, pake sekring 0,5A. Teg pln masih 110V. Mungkin begitu yangkung...

Agus Suryono

SEJARAH 450 WATT.. Saya tidak tahu sejarah PLN. Tapi saya sedikit tahu soal DAYA TERENDAH pelanggan PLN masa lalu. Kalau ada yang pengetahuan sejarah nya soal itu, juga tahu, berarti beliau seumuran saya. Bah. Dulu di gang jalan tempat saya tinggal saat saya masih kecil, di awal tahun 60an, datanya adalah sebagai berikut: 1. Jumlah rumah ada 28 rumah. 2. Dari sejumlah 28 rumah itu, yang masih saudara ada 16 rumah. He he.. Data tidak relevan. Tapi hanya untuk menggambarkan kondisi. 3. Jumlah rumah yang ada sambungan listriknya: 7 rumah. Dari 7 rumah ini, hanya 2 rumah yang bukan rumah saudara. 4. Dari 7 rumah itu, semua listriknya hanya 60 watt. 5. Saat saya mulai MERANTAU tahun 1974, rumah orang tua saya belum ber-LISTRIK. Ya, diulang, semua hanya berlangganan, 60 watt. Fixed. Tanpa METER atau PENGUKUR pemakaian. Seingat saya, bola lampu yang digunakan, ya watt nya kecil semua. Sekitar 5 watt. Jadi ya tidak terlalu terang. Dari 7 rumah yang sudah ada sambungan listriknya, saat itu, PERASAAN saya, semya sudah termasuk HORANG KAYA. Peralatan yang menggunakan listrik, di luar lampu, saat itu hanya RADIO. Kondisi BERUBAH, saat PLN menerapkan METER LISTRIK. Tapi saya gak ingat kapan. Begitu Bah..

Otong Sutisna

Rumah saya pengguna 2200, waktu masih pakai meteran biasa, bayar antara 2jt =2,8jt..saya tanya ke PLN jawabannya tdk memuaskan, akhirnya pakai token...alhamdulillah bisa di atur oleh kita sendiri bayar habis antara 900rb an sampai 1,5 jt an per bulan. Maaf bukan curhat ini mah pengalaman....mungkin ada yang mau pindah ke meteran token biar bayar listrik nya lebih menyesuaikan...

EVMF

Two-Phase Electrical Power (Daya Listrik Dua Fase) Two-phase electrical power atau Daya listrik dua fase berupa sistem distribusi tenaga listrik arus bolak-balik polyphase (polifase) dengan menggunakan dua sirkuit fase tegangan yang terpisah sebesar seperempat siklus, 90°. Sirkuit-nya membutuhkan 2 kabel hidup dan satu kabel ground yang bekerja dalam dua fase. Generator di Air Terjun Niagara yang dipasang pada tahun 1895 adalah generator terbesar di dunia pada waktu itu dan merupakan mesin dengan daya listrik dua fase. Di kemudian hari, akhirnya diganti oleh sistem data listrik tiga fase. Sekarang ini, sistem Daya listrik dua fase (Two-phase electrical power) sudah tidak digunakan lagi.

Abi Kusno

Untuk masuk menu komentar sekarang mbulet. Harus bersabar. Mencoba masuk tiga sampai lima kali baru masuk. Kemarin berkali-kali terlempar keluar. Gak jadi, gak bisa komentar akhir e. Apa CHD ketularan pirus, bukan v huruf pertama, bahasan yang mulia anggota dewan di Senayan, mbulet?

Dedi Juliadi

Memerawani itu memang gampang2 susah, pelan2 sulit dipaksa sakit mesti sabar menunggu licin tapi keburu muncrat bah hehehe, tapi percayalah bah rumah tangga yang dibentuk melalui proses memerawani akhirnya akan samawa.

Fenny Wiyono

Pada dasarnya manusia itu mahluk yg sangat hebat beradaptasi terutama mslh kelangsungan hidup. Kl memang kompor listrik lebih efisien dan murah, tidak perlu di "marketingkan" mereka akan otomatis pindah ke kompor listrik. seperti ketika orang berpindah dari taxi ke ojek online, tanpa keruwetan mereka berduyun-duyun download dan memakai jasa Ojek Online. di Ojek Online juga tidak perlu daftar "VA" berapa? mereka punya data yg mampu menjelaskan tanpa bertanya. Sudah sangat tepat kl Mentri Pendidikan di jabat oleh Ex Founder Gojek Pak Nadiem M. sayang para wakil rakyat kita sekolahnya jaman Pak Mentri Fuad Hasan. mungkin wakil2 tsb perlu mengambil tambahan pelajaran dulu ke Pak Nadiem. Siapa yg bayar? ya Rakyat lah... tapi kan membebani Rakyat? demi supaya tidak membebani Rakyat, Wakil2 Rakyat akan mengajukan subsidi dari APBN. 

Rihlatul Ulfa

Pemikiran sederhananya tentang transportasi masal murah adalah. ibukota kan sudah ketahuan yaitu Jakarta. kan harusnya lebih mudah untuk bisa menggarap dengan asumsi 'oh semua sektor besar ekonomi tumpah ruah disini, oh pusat pemerintahan ada disini dll' jadi buatlah sistem transportasi masal murah untuk jabodetabek dulu. karena mobilitas paling tinggi dan pusat ekonomi ada disana, artinya berkali-kali lipat orang yg bekerja menuju Jakarta. bagaimana caranya LRT, MRT, KRL, Transjakarta, bisa menjadi transportasi yang dapat diandalkan untuk wilayah jabodetabek. lihat saja sekarang dijam pulang kerja distasiun, jumlah krl tidak sebanding dengan jumlah penumpang dijam pulang dan berangkat kerja. akhirnya penumpukan penumpang ada disana, akhirnya waktu juga harus lebih lama. bukankah pemerintah dengan BUMNnya itu memang harus menyelesaikan masalah itu. lockdown pandemi saja pemerintah daerah bisa langsungs setuju dengan arahan pemerintah pusat. harusnya masalah ini juga bisa pakai cara itu. sekarang gaji mereka berapa sih? uang mereka akan habis saja buat transport. bagaimana buat anak istri? biaya sekolah, cicilan rumah/kontrakan. betul ujung-ujungnya bisa mengarah ke stunting. akhirnya generasi gak lebih baik, terus generasi kita kalah dengan generasi negara-negara maju.haduh

yea aina

Pak @JM kiranya, seruan kepada rakyat: "berbisnilah! bekerjalah!". Menggantikan jargon: "kerja kerja kerja". Karena, dengan berbisnis dan bekerja, kita mendapatkan uang (penghasilan). Sedangkan jargon: kerja kerja kerja, toh hanya mendapatkan keruwetan pinjaman, eh.... bukan ribet subsidi ya kwkwkw.

Jimmy Marta

Bung@yea. Kita itu dah berlimpah ruah dg jargon2. Di tempat saya ada baliho bertuliskan Kota Sayang Anak. Sy gk tahu spt apa praktisnya. Yg saya tahu, satu satunya yg sayang itu ibunya. Dua dua sayang ayah... wkwk... Bgmn kalau kita pake Saminisme saja. Sedulur Sikep.

fajar rokhman

kompornya dikasih software yang ada layarnya, bisa selfi dan ketik buat update status. trus ketumpahan minyak, ke geret sama pisau dapur. Atau gak sengaja naruh panci panas disitu. kalau di hack gimana? sekarang kan jamannya hacker. kayaknya makin rumit aja.

Rihlatul Ulfa

Saya mau memuji Jepang. karena benar-benar baik sekali dengan Indonesia. walau pernah di khianati di proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. tapi tetap mau membuat mega proyek MRT tahap 1 dan 2. juga pintarnya Soft Bank yang perlahan mundur dari pembiayaan IKN.

Jimmy Marta

Adakah pengamat2 disini mengikuti berita yang buat kita sedih dan prihatin. Tentang pak Gub LE yg ditetapkan sbg tersangka KPK. Disebut PPATK memiliki rekening dan deposit di casino ratusan milyar rupiah. Sedihnya, pembelaan pengacaranya yg mengatakan LE ini kaya raya karena 20 tahun jadi pemimpin. Memimpin daerah yg kaya dg tambang emas terbesar. Prihatinnya, saudara kita disana dapat dana otsus jumbo, bagi hasil besar namun daerahnya gk bangkit bangkit. Masyarakatnya gk meningkat berarti. Hanya pejabatnya yg luar biasa kaya.

daeng romli

Untuk saat ini dihentikan dulu saja Abah. Karena sulitnya "tumpuk undung". mulai dr subsidi kompor, sampai peralatan masaknya. Dan pembaca Disway sudah ada yg menulis bahwa panas yg dihasilkan juga tdk optimal, apalagi maksimal, akhirnya dia balik lagi ke kompos gas. Terus abah kasih solusi VA dinaikkan menjadi 2200 VA tp harga 450 VA (subsidi juga). Terus orang yg sdh pasang 2200 VA apa gak minta subsidi juga. Bener2 ruwet Bah. Ini ada bakul soto kikil keliling saya tanya kenapa kok tdk pakai kompor gas pak? Enak pakai arang atau kayu pak sotonya lebih sedap..... Jadi maksud saya saat ini tdk usah mikir yg ruwet bin mbulet koyok susur, tp mikir yg sedap2 saja.... Mungkin yg ruwet2 ini akan dipikirkan selesai pilpres ae....hehehehhe Salam 

yea aina

Saya bayangkan saminisasi: berkumur dan dilumuri sekujur badan dengan minyak Samin, kemudian dijemur sambil julurkan lidah, kwkwkw. Manfaatnya: lidah kesat tanpa slip/licin dan teruji kesabarannya.

Sutikno tata

Secara angka perubahan itu dapat dihitung pakai kalkulator. Secara teknis banyak pekerjaan selesai dengan palu dan obeng, tapi secara kepentingan kalkulator tidak bisa menghitung, palu obeng bengkok semua. Makanya ruwet - ruwet - ruwet...

ispri yoto

Sudah lama beli kompor listrik induksi. Teknisnya sangat baik.Cepat matang jangan samakan dengan kompor listrik elemen ya. Tapi tantangannya kebiasaan ibu ibu masak harus dirubah! Semua bhn sudah di dekat kompor lalu masak karena panasnya cepat sekali. Kalau biasanya masak lalu kurang bumbu ditinggal beli di lijo sambil rasan rasan ya gosong. Trus peralatan masak listrik yg bentuknya kayak wajan cekung tidak ada

yea aina

Sebetulnya yang pantas disebut manja-banyak mengeluh, rakyat ataukah pembuat kebijakan? Kenaikan harga kebutuhan pokok berulang-ulang, termasuk BBM, elpiji dan listrik toh rakyat hanya ngrundel saja. Meskipun penghasilannya segitu-gitu juga (tidak ikutan naik). Beda kalau blio-blio para pembuat kebijakan. APBN minim pendapatan, kebijakannya: mengurangi pengeluaran. Caranya "pengalihan subsidi". Memang subsidi pos pengeluaran APBN, tapi penghematan bisa dilakukan pada pos non subsidi kan. Manja itu identik malas, malas berpikir, malas berhemat sekalian saja malas hidup kwkwkw.

Agus Suryono

KATA MBAH GOOGLE.. Saya penasaran, sebenarnya kompor listrik itu membutuhkan daya berapa watt. Ternyata, kata mbah Google.. 1). Kalau kompor listrik biasa, antara 800 - 1200 watt. Dan rata- ratanya ya sekitar 1.000 watt. 2). Kalau kompor Induksi, sekitar 100 - 650 watt. Lho kok "range" nya jauh. Ya memang iya, tergantung pemakai nyetel di panas berapa derajad. Kalau yang sekedar hangat, ya cukup sekitar 100 watt. @perlu uji coba pribadi.. daripada MENYESAL nanti..

Juve Zhang

Rakyat kecil masih pusing gas melon, listrik 450 Watt. Malah ada gubernur "cuci baju kotor' di kasino LN. total yg dikirim 560 Ember. Pak Mahfud MD langsung umum kan. Semoga jelas asal usul dan maksudnya.

Alon Masz Eh

Dan yang miskin listriknya 2200VA pakai kompor listrik, sementara yg 900VA sambil tunggu giliran, antri tabung gas di toko2, ga bakal ketauan. Ini seperti yang mampu beli motor untuk mengurangi subsidi pertalite, dikasih program mobnas dengan spek minum BBM pertamax. Yang sudah kaya dan beli mobil, tunggu antrian program pengurangan subsidi, sambil antri pertalite. Mungkin si DIa lagi sibuk, banyak pikiran, banyak urusan bisnis, banyak masalah,nulisnya beda... Atau lagi mancing emosi saja

Kang Sabarikhlas

"Habis gelap, nDladap-ndladap". Tadi saya alami...lha wong nganggur ketiduran diteras sayup-sayup dengar suara adzan, langsung bangkit jalan kepleset minyak, kesandung tabung Lpg 3kg kosong, badan oleng kepala kebentur meteran listrik didinding!.. Alhamdulillah,.nikmat mana lagi yang kau dustakan... jujur saja kepala saya pusing-sing.!.. eh..selagi duduk bertahan tenangkan diri, mata melihat Bentor parkir depan rumah ada tulisannya Pulih lebih cepat, Bangkit lebih kuat.... Semoga....Aamin.

Budi Arianto Tarjak

Karena tahu Abah jualan listrik, sebelum 1/4 baca tulisan hari ini persepsi langsung kebentuk kalau Abah berat sebelah. Nggak dibahas kenapa harga LPG kita itu jadi lebih mahal? Komponen prokduksi LPG yg mana bikin mahal? Kenapa proyek Pipanisasi Gas akan lebih mahal dibandingkan dengan memaksimalkan Listrik? Katanya kita banyak Gas, meskpiun sebagian sudah di export ke Fujian. Di negara maju bukannya energi pembangkit listrik pun Gas? dan meskpiun listrik nya ada, masyarakat tetap boleh pasang instalasi gas untuk rumah. 

EVMF

Milton H. Spencer dan Orley M. Amos, Jr. didalam bukunya "Contemporary Economics" mengatakan bahwa subsidi, baik itu berupa "cash transfer" maupun "in kind subsidy" mestinya untuk "mencapai tujuan tertentu" yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengkonsumsi suatu produk dalam kuantitas yang lebih besar atau pada harga yang lebih murah. Disini sepertinya, jangankan kesepahaman untuk mencapai tujuan tertentu; cara pandang terhadap subsidi-pun, baik itu cara pandang "profit loss" maupun "cost lost" selalu saja menjadi perdebatan yang panjang. Pendekatan "profit loss" : subsidi diartikan sebagai selisih antara harga jual dan harga pokok, yakni berupa laba; laba tersebut yang kemudian ditanggung oleh Pemerintah, sehingga subsidi adalah kebijakan menjual komoditas dengan harga pokok. Bagaimana jika Pemerintah sendiri sebagai produsen komoditas tersebut? Sebagai contoh, Pemerintah (BUMN) sebagai produsen LPG, menjual dengan harga pokok, maka produsen LPG (Pemerintah/BUMN) tidak untung dan juga tidak rugi selama masa subsidi berlangsung; sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemerintah tidak mengeluarkan anggaran untuk subsidi, kecuali menjualnya di bawah harga pokok. 

Ahmad Zuhri

Ga usah banyak mengeluh, nanti dikira kita kurang bersyukur.. Ga usah banyak protes, nanti dikira kita tidak bisa mencari solusi dan kurang adaptif terhadap perubahan.. Ga usah membandingkan dengan yg lain, daripada kita tidak siap dengan kenyataan.. Lha trs gimana.. yo ndak tau, kok tanya saya hehehe..

EVMF

Sedangkan pendekatan "cost lost" : subsidi diartikan sebagai silisih antara harga pasar dan harga jual saat ini. Sebagai contoh, katakanlah harga jual LPG saat ini senilai "satu P (1P)" ; sedangkan harga pasar LPG adalah "satu koma tiga P (1,3P)". Maka selisih antara harga pasar dan harga jual senilsi 0,3P dianggap sebagai biaya atau kerugian. Sepertinya saat ini, transparansi informasi mengenai data-data per-subsidi-an sangat penting untuk diketahui publik.

Pryadi Satriana

KALAU MEMANG BENAR, subsidi listrik - berikut penyediaan kompor listrik - harus segera direalisasikan. Kalau dilihat dari konsumsi daya listrik per kapita, kita ketinggalan bahkan dari Vietnam, padahal 'income per kapita' kita di atas Vietnam. Artinya apa? Kesenjangan ekonomi kita 'lebih besar' (baca: lebih memprihatinkan) drpd Vietnam. Belum lagi kalau dibandingkan negara2 G20: konsumsi daya listrik kita paling rendah, 'mbuncit', di urutan terakhir. Turki 3.300kWh, 3x Indonesia. Korea Selatan 11.000kWh, 10x Indonesia. Indonesia bisa masuk G20, tapi paling 'ndhesit', masih puluhan juta rakyatnya yg 'terpaksa hidup' dg daya listrik 450VA. Sedih saya. Sedih sekali. Dg daya 450VA, kalau masak nasi pakai rice cooker Philips ya langsung 'njeglek'. Jadi anggota G20 itu ternyata seperti 'angin surga', seolah-olah kita ini 'keren', padahal 'kere'. Terbelakang. Belum bisa menikmati perkembangan teknologi. Puluhan juta yg 'njeglek' kalau pakai rice cooker Philips yg kebutuhan daya listriknya lebih dari 600VA. Duuh ... sedihnya. Sudah 77 th merdeka, kesenjangan kaya-miskin masih menganga lebar. Banyak yg masih belum punya rumah. Bahkan tanah sejengkal pun tak punya, sementara punya Boy Thohir 'sak arat2'. Gitu dg entengnya Luhut bilang,"Sudah rejekinya Boy Thohir." Ahh ..., asal 'njeplak', ndhak punya empati sama yg ndhak punya tanah! Apa memang juga 'kebetulan' dan 'rejekinya Boy Thohir' kalau tanahnya yg 'sak arat2' itu dekat dg IKN? Atau krn masih 'sodara' dg Erick Thohir? Salam. 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda