Sang Begawan Media

Rasialis Fanatis

Gubernur Texas Greg Abbott. (FOTO: Reuters/Lucas Jackson - voaindonesia.com)

COWASJP.COMPEMIKIRAN Samin kini berlaku juga di Amerika Serikat. Entah siapa yang mengekspornya ke sana: dari Bojonegoro-Cepu dan sekitarnya.

Bahkan kini seperti terjadi persaingan siapa yang lebih Samin di Amerika: Gubernur Texas, Greg Abbott atau Gubernur Florida Ron DeSantis. Dua-duanya dari Partai Republik. Dua-duanya pendukung Presiden Donald Trump.

Selama seminggu kemarin Abbot dua kali merealisasikan ajaran Samin. Ia mengirim imigran gelap ke rumah Wakil Presiden Kamala Harris. Masing-masing 50 orang. Mereka berasal dari Amerika Tengah: mereka ditangkap karena nekad melintasi perbatasan Mexico-Texas. Mereka dinaikkan bus atas perintah gubernur Abbott. Tanpa diberitahu ke mana tujuan akhir. 

Perjalanan itu jauh sekali. Hampir 2000 km. Selama lebih 30 jam. Akhirnya bus itu sampai ke ibu kota: Washington DC. Langsung menuju rumah dinas wakil presiden Kamala Harris. Mereka diturunkan di depan rumah jabatan dekat Naval Observatory. Ditinggal di situ. Begitu saja. Bus yang dari Texas kembali ke Texas.

Anda, yang bukan penganut Samin, pun tahu: Abbott lagi protes. Pemerintahan Joe Biden - Kamala Harris ia anggap tidak punya ketegasan seperti Trump dalam hal kebijakan imigrasi.

Gubernur DeSantis tidak mau pakai bus. Ia carter dua pesawat. 100 imigran gelap dari Venezuela ia naikkan montor muluk. Tanpa mereka tahu akan diterbangkan ke mana.
Pesawat itu mendarat di satu pulau kecil. Di pulau itulah Presiden Obama punya rumah peristirahatan. Separo dari rumah di pulau itu hanya dihuni di hari-hari liburan musim panas. Seperti sekarang ini.
Itulah pulau Martha's Vineyard. Nama itu diambil dari golongan awal orang yang tinggal di situ berabad yang lalu. Letaknya 1,5 jam penerbangan dari bagian selatan Florida.

Mereka dilepaskan di pulau itu. Begitu saja. Itulah pulau di negara bagian Massachussets –tolong dibetulkan tulisannya karena saya masih sering salah menuliskan nama negara bagian satu ini. Panjang pulau itu hanya 3 km, lebarnya sekitar 1 km. Penduduknya sekitar 19.000 orang –mendadak naik lebih dua kali lipat di musim liburan.

Seperti Bonek merusak stadion, setiap pagar bisa dirobohkan banyak yang bersorak senang. Emosi sesaat. Di Amerika tindakan ala Samin dua gubernur itu juga mendapat tepukan meriah. Dari pendukung Trump. Dari emosi mereka yang lebih permanen: Republik membenci Demokrat. Kian lama kebencian itu kian dalam. Ada saja pemicunya.

Satu tokoh pengikut Trump memang baru saja ditetapkan sebagai tersangka. Ia dinilai menyalahgunakan uang publik. Dana yang dikumpulkan untuk membangun tembok perbatasan dipakai juga untuk pribadi pemrakarsanya: Stave Bannon. Anda sudah tahu siapa Bannon. Ia ahli strategi politik Trump. Ia termasuk tokoh garis paling keras di belakang Trump. Ia 68 tahun. 

Sebenarnya Bannon sudah mengantongi surat sapujagad: pengampunan dari Presiden Amerika. Ia mendapatkan surat pengampunan itu di hari-hari akhir kepresidenan Trump. Ia aman dari pemeriksaan pidana apa pun selama hidupnya nan lalu.

Karena itu Bannon tidak mau mengaku bersalah. Ia pilih diadili. Dengan resiko hukuman lebih berat. 

Tiga orang teman Bannon pilih mengaku bersalah. Mengaku tahu uang itu dari dana tembok. Ia sadar itu salah. Ia minta pengampunan pengadilan. 

Dengan demikian ia tidak perlu diadili. Hakim akan langsung menjatuhkan hukuman. Jauh lebih ringan dari seharusnya. Bisa jadi hanya 3,5 tahun penjara. Dari seharusnya antara 20 sampai 35 tahun.

Salah satu yang mengaku bersalah itu: Brian Kolfage. Umur 39 tahun. Asli Florida. Ia veteran perang Iraq. Dua kakinya hilang di medan perang.

Ia menerima ratusan ribu dolar dari Bannon. Yang uangnya diambil dari dana tembok perbatasan. Pengakuan salah ini menyulitkan Bannon: orang kaya, banker, tokoh media, produser film di Hollywood, tiga kali cerai, lulusan Harvard dan berteman baik dengan pembangkang Tiongkok, konglomerat yang lagi diburu Xi Jinping: Guo Wen Gui. 

Bannon ditangkap di satu pantai tidak jauh dari pulau wisata tadi. Yakni ketika ia keluar dari kapal pesiar milik Guo. Ia berhasil menghimpun dana lebih Rp 300 miliar. Ribuan pendukung Trump memang semangat untuk ide membangun tembok batas Mexico-Amerika. Mereka memberikan donasi itu. Yang oleh Bannon selalu dikatakan setiap sennya akan dipakai membangun sang tembok.

Bagaimana bisa Bannon jadi tersangka padahal ia penerima pengampunan presiden?

Pertama, karena ia tidak mau mengaku bersalah. Karena itu pengadilan harus memutuskan dulu: ia bersalah atau tidak. Setelah misalnya bersalah barulah diputuskan apakah akan diampuni.

Kedua, pengampunan Presiden itu tidak berlaku untuk kejahatan negara bagian. Dalam hal dana tembok ini Bannon menghadapi jaksa negara bagian New York.
Meski jadi tersangka Bannon tidak ditahan. Ia membayar uang jaminan sampai 5 juta dolar. Pekerjaan utama Bannon saat ini adalah ceramah. Sangat khusus. Hanya untuk topik nasionalisme sempit. Di seluruh dunia.

Yang mengundang Bannon adalah organisasi-organisasi anti imigran di negara mana pun. Khususnya di Eropa. Ia anti imigran sejati. Juga anti Tiongkok sampai ke ulu hatinya.

Akan hal DeSantis sebenarnya keturunan imigran juga: asal Italia. Dari garis ayah, buyutnya masih kelahiran Italia. Sedang dari garis ibu, justru neneknya masih lahir di Italia.

Sedang Abbott keturunan imigran dari Inggris. Istri Abbott juga keturunan imigran. Dari Mexico. Nenek sang istri masih kelahiran Mexico. Istri Abbott adalah keturunan Spanyol pertama yang jadi istri gubernur Texas.

Di Texas sendiri kini lagi memasuki masa pemilihan gubernur. Abbott mencalonkan diri lagi. Untuk periode ketiga.

Maka perang kata-kata kini luar biasa panasnya di sana. Untuk urusan imigran ini. Jaksa Agung yang sekarang, Merrick Garland, tidak hanya melayani dengan kata-kata. Tapi juga tidak dengan cara Samin. Ia sengaja mengadakan acara terbuka untuk penyumpahan sejumlah orang menjadi warga negara baru Amerika.
Acara itu diadakan di pulau kecil Ellis, sepelemparan batu dari Manhattan, New York. Latar belakang acara itu jelas sekali: Patung Liberty.

Tentu itu langkah simbolis. Bahwa Amerika adalah negara imigran. Pulau Ellis adalah tempat pemrosesan imigran dari Eropa. Siapa saja ditampung dulu di situ. Diproses. Disahkan menjadi orang Amerika.
Garland bercerita tentang asal-usulnya sendiri. Yakni dari daerah yang sekarang disebut Belarusia. Neneknya lima bersaudara. Yang dua orang berhasil melarikan diri dengan kapal. Menyeberangi lautan Atlantik. Sampailah di  pulau Ellis itu.

Sedang tiga saudara nenek lainnya mati di kamar pembantaian di Jerman. Mereka memang keluarga Yahudi.

Tapi orang seperti Trump, Abbott, DeSantis dan Bannon tidak akan mau tahu apa pun lagi. Di mata mereka Amerika kini lagi terancam. Terutama dominasi kulit putihnya. Harus diselamatkan. 
Rasialisme bersatu dengan fanatisme. Di sana. Dan di mana-mana. (*)
***

Siapa Membunuh Putri (16)

Dipanggil

Oleh: Hasan Aspahani

FERDY datang dengan surat dari Kapolresta. Orang nomor satu di Polresta Bortam itu ingin bertemu pemimpin redaksi Dinamika Kota.  Tanggal pertemuan disebutkan dalam surat itu, tempat di Maporesta.  Keperluan: silaturahmi, menjalin komunikasi, dan membicarakan kemungkinan kerja sama. Surat ditandatangani Kasi Humas. 

“Kapan, Dur?” tanya Bang Eel.

“Besok. Kita datang, nggak, Bang?”

“Nggak usah. Telepon humasnya aja. Kau kenal dia kan? Ketemu dia aja dulu.” 

Saya kenal Iptu Binsar, Kasi Humas Polresta Borgam. Orang dengan pribadi yang menyenangkan. Suka menyanyi, suaranya bagus sekali. Beberapa kali bertemu di acara formal tapi ia lebih senang menyisih dari keramaian dan berbincang santai dengan sejumlah wartawan. Sosoknya menjadi berbeda apabila menggelar jumpa pers. Ia jadi kaku dan dingin, menjawab dengan amat berhati-hati, sehingga tampak tertutup.

“Kalau bicara di jumpa pers itu kan saya sedang tugas. Setuju atau tak setuju dengan apa isi rilis saya harus sampaikan itu sebagai kebenaran,” kata Iptu Binsar pada kami dalam sebuah percakapan.

“Oh, jadi bisa tidak benar ya, Pak?” kata seorang kawan.

“Itu bukan urusan saya sebagai petugas penyampai informasi,” katanya. “Apalagi terkait kasus hukum yang sedang diproses.” 
  
Saya bertemu dengan Iptu Binsar di sebuah restoran bagus di lantai teratas sebuah hotel baru di Nagata. Kaca keliling, bikin saya bisa lihat 360 derajat arah seluruh kota. Makanan sudah dipesankan oleh stafnya. Sehingga ketika dia datang, sebagian sudah terhidang.  

“Sendiri saja, Mas Dur? Pak Eel mana?” tanyanya. Dia pakai kemeja, tidak dengan pakaian dinas polisi. Mungkin dengan begitu dia ingin bikin suasana pertemuan kami lebih informal.

“Di kantor, Pak,” kata saya. Saya berbasa-basi dengan menceritakan agen kami yang dirampas korannya lalu dibakar. Dia antusias bertanya itu terjadi di kawasan mana, kapan, dan apakah kami sudah melaporkan kejadian tersebut. 

“Menurutmu siapa pelakunya?” tanya Iptu Binsar.

“Kami dapat info ciri-cirinya dari agen kami. Siapa pelakunya kami tak tahu,” kata saya.

“Laporkan, ya. Nanti saya telepon kapolseknya. Jangan sampai isunya jadi ke mana-mana, apalagi dikaitkan dengan kasus yang lagi diberitakan heboh itu,” katanya. Saya menelepon kantor, meminta Hendra menemui agen kami dan membawanya ke polsek untuk bikin laporan.

Iptu Binsar kemudian bicara langsung terkait undangan yang dikirim ke Dinamika Kota. Kata saya tak perlu undangan resmi begitu kalau memang mau bertemu kami. Kami bisa datang kapan saja. Atau bertemu di mana saja. 

“Betul. Ini urusannya sudah sampai ke Mabes Polri,” katanya. “Situasi kamtibmas sedang memanas menjelang pemilu. Itu saja sebenarnya sudah menuntut kerja keras kita bersama. Persaingan antar pendukung caleg, antar pendukung cawako, antarormas, sekarang sudah luar biasa ruwetnya. Ditambah lagi kasus pembunuhan Putri ini, yang sepertinya semua pihak mau menunggangi untuk kepentingan masing-masing...”

Saya berdiam mendengarkan. Menebak-nebak ke mana arah pembicaraannya. Tak sulit sebagaimana juga tak sulit untuk memahami apa maunya.  Yang saya tak paham adalah apa maksudnya “… ini urusannya sudah sampai ke Mabes Polri”?   

“Pak Binsar. Saya mau sampaikan, dan sebenarnya tak penting benar karena sudah jadi sikap kami dan jelas itu kami tunjukkan dalam pemberitaan kami, bahwa kami tak punya kepentingan apa-apa dalam pemberitaan kasus ini. Seperti kasus dan berita lain, bagi kami…” 

“Oke, Mas Dur. Saya paham. Saya tahu posisi Mas Dur sebagai jurnalis dan saya hormati itu.  Saya tidak secara khusus mau bicara soal kasus pembunuhan itu. Begitu juga kalau nanti ketemu sama Pak Kapolresta…” kata Iptu Binsar.

Yang dicemaskan oleh Kapolresta, kata Iptu Binsar, soal potensi pecahnya kerusuhan. Di Kota Bortam ini sudah terjadi beberapa kali kerusuhan besar.  Penyebabnya kadang hanya persoalan sepele. Perkelahian preman, lalu kelompoknya terbawa-bawa. Perkembangan kasus pembunuhan Putri, hingga sidang hari pertama, seakan-akan hendak mengulang terjadi kerusuhan yang jauh lebih besar. 

“Kami benar-benar tak menyangka bakal jadi seperti itu,” kata Iptu Binsar. “Itu yang diresahkan Pak Kaporesta, Mas Dur. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemungkinan pecahnya kerusuhan itu?”

“Saya tak bisa kasih saran polisi harus melakukan apa, Bapak tentu lebih tahu. Tapi kalau terkait pekerjaan kami, pers, yang kami yakini sederhana saja, Pak, publik kita itu kritis, maka tunjukkan pada publik bahwa kasus ini diproses dengan adil. Kami akan sampaikan itu apa adanya. Sejak awal, publik curiga ada yang tidak beres. Putri hilang berhari-hari, baru kemudian dilaporkan, anak dan pembantunya ditemukan di hotel, itu juga tak jelas kenapa, lalu penetapan tersangka yang juga seakan-akan tidak dengan bukti yang cukup dan motifnya pun lemah. Maaf, Pak, bukan mau mengajari Bapak, semua ketidakjelasan itu kami naikkan dalam berita kami,” papar saya.

Saya tak terlalu menyimak lagi apa yang disampaikan Iptu Binsar. Dua hal yang kuingat kubawa sebagai pertanyaan besar: Pertama, urusannya sudah sampai ke Mabes Polri; Kedua, kami benar-benar tak menyangka bakal jadi seperti itu. Dalam hati saya bertanya kritis, lalu apa yang diharapkan polisi akan terjadi dengan semua proses yang mereka lakukan terkait kasus ini? 

Di kantor, saya menyampaikan kepada Bang Eel, apa yang disampaikan Iptu Binsar dan apa yang kami bicarakan di pertemuan itu. “Menurutmu kita harus datang atau tidak?” tanya Bang Eel.
 
“Menurut saya tak usah, Bang. Surat itu sepertinya hanya untuk bukti administrasi bahwa mereka pernah meminta kita datang. Apa yang dibicarakan saya kira tak penting buat kita,” kata saya.

“Gitu? Yakin?”

“Ya, Bang. Kalau memang perlu, bisa ketemu di luar, atau mereka datang ke kantor kita.”
  
Kami menyepakati sikap dan keputusan itu. Tidak perlu datang. Yang saya tidak tahu adalah, diam-diam Bang Eel datang juga menemui Kapolresta. Saya kemudian mengetahui itu dari Bang Jon. Saya kerap singgah di kantornya yang nyaman. 

Kantor majalah ada di lantai khusus, dalam satu gedung satu grup usaha yang mengelola banyak perusahaan. Di lantai bawah showroom mobil. Berbeda jauh dengan suasana kantor kami. Memang, kadang kita tak bisa mengandalkan penilaian sesaat. 

Bang Jon yang dulu pernah tampak seperti monster yang dingin di mataku, kini menjadi sosok yang berbeda. Mungkin karena aku tak lagi seharian ke mana-mana bersama dia. Tapi memang ia berubah. Mungkin karena ia juga sudah menikah. Ia tak bikin pesta, hanya pemberkatan di gereja. Lalu undang beberapa kawan dekat makan-makan di rumahnya. Saya diundang dan saya datang. Rumahnya baru, besar dan nyaman sekali. Rumahku yang sedang dibangun developer tak sebesar itu, rumah yang sebentar lagi akan selesai. 

Hari itu ia minta saya datang bawa foto-foto terkait sidang pembunuhan Putri. 

Majalahnya membayar pada fotografer kami untuk tiap foto yang dimuat.  

“Aku kemarin ketemu Eel di Mapolresta. Saya nunggu ketemu Kapolres, eh, dia keluar. Agak kaget dia saya lihat. Kenapa, ya?  Kok kamu nggak ikut, Dur?” tanya Bang Jon.    

“Ah, Bang Jon tahulah, saya malas ketemu-ketemu pejabat begitu. Bagi-bagi tugaslah,” kata saya.  

Dunia jurnalistik saya adalah ruang pemberitaan. Dunia yang sempit, tapi dinamis. Ruang di mana liputan dirancang, berita diolah, wajah koran didesain, koran dievaluasi, dinilai baik-buruk isinya, ditinjau penjualannya. 

Bertemu orang-orang di luar ruang pemberitaan, asal masih terkait dengan urusan berita saya tentu tak menolak.  Berita bagiku adalah tipping point, pengungkit kecil, yang apabila dilakukan pada hal yang tepat, akan membawa serangkaian perubahan besar. 

Berita memang tidak serta-merta bisa mengubah keadaan. Berita adalah bahan awal bagi publik untuk jadi pertimbangan mengambil keputusan dan tindakan. Bayangkan kalau surat kabar kami memberi bahan yang tak sesuai fakta. Apa jadinya? Dengan keyakinan seperti itu saya percaya pekerjaan saya ada faedahnya bagi publik luas. Itu saja cukup.  

Saya sering menyampaikan hal itu ke wartawan saya. Mungkin mereka bosan. Tapi itu sikap. Sikap untuk bersikap. Sikap yang menjadi dasar ketika ada persoalan yang menuntut kami harus menentukan sikap. 
    
Saya ingat suatu hari saya pernah berbincang dengan Pak Indrayana Idris. Percakapan yang membentuk dan memengaruhi sikap saya. Dia memang bisa muncul tiba-tiba saja di kota-kota di mana ada terbit koran grup kami. Ke Bortam, agak sering. Kota ini termasuk yang istimewa buat dia. Kami duduk di kafe bandara, menunggu pesawat ke Jakarta.  “Menurutmu kebebasan pers itu milik siapa?”

Saya menjawab, “Milik kita, wartawan….”

“Bukan. Salah. Baca lagi UU Pers. Kemerdekaan pers itu milik publik, milik rakyat yang merdeka. Rakyat di negeri yang merdeka. Kita wartawan hanya memakai, menggunakan, memanfaatkan kebebasan pers. Buat apa? Melayani kepentingan publik, si pemilik kebebasan pers itu,” katanya. 

“Memakai kebebasan pers itu dengan sebaik-baiknya adalah cara kita merawat dan mengembangkan kebebasan itu. Itu juga ada di UU Pers, baca ya, nanti kita diskusi lagi,” kata Pak Indrayana Idris. Saya ingin lebih banyak berdiskusi, tapi dia sudah harus masuk pesawat.  

Manajer Hendra datang dengan laporan soal perampasan koran di agen kami. Siapapun pelakunya mereka adalah pihak yang mengganggu kebebasan pers. “Saya curiga pelakunya orang yang disuruh Podium Kota,” katanya.

Penjelasannya begini, ternyata perampasan koran terjadi lagi pada hari berikutnya, di agen-agen lain. Ada pola yang sama: agen-agen itu tak mau menjual Podium Kota. Saya menanyakan hal yang sama pada Pak Halim, agen besar kami itu. “Anak-anak loper malas bawanya. Nambah berat aja. Susah jualnya. Returnya aja lebih dari separo,” katanya.   

Pada hari itu juga, di Podium Kota ada iklan ucapan satu halaman. Iklan yang tak lazim. Foto pernikahan Pintor dan Putri, tentu saja itu foto lama, dengan pakaian pengantin, disertai ucapan selamat hari ulang tahun pernikahan. Iklan itu dipasang oleh ibu dan ayah Putri.  
 
Podium Kota juga memuat tulisan bersambung tentang kisah cinta Pintor dan Putri. Tampaknya indah dan manis. Tapi bagiku itu provokatif dan menyesatkan proses sidang yang berlangsung. Menggiring opini ke arah yang diinginkan oleh mereka yang sejak awal menyusun skenario membelokkan kasus ini.  

“Kalau kita memberitakan dengan berita yang berbeda, kita sebenarnya tidak melawan siapa-siapa, kita sedang meluruskannya, mengembalikan ke proses yang adil,” kata saya di rapat redaksi hari itu. (*)
 
Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 18 September 2022: Grup YANG

mzarifin umarzain

11. 05.30. saya juga dimasukkan ke grup porno. saya ngisi postingan ttg kesehatan, agama. lalu saya dikeluarkan. tak ada kebebasan nulis. saya juga dimasukkan ke grup yg anti islaam. saya nulis ttg islaam, saya dikeluarkan. saya ikut grup fb, ttg islaam tradisionil. saya nulis imam syafi-i dg sebutan: pak syafi-i. lalu saya dikeluarkan. bebas, tapi tak menghina, tak jorok, tak porno.

Koko Koswara

Yang kutunggu setiap subuh : DISWAY Yang pertama kubaca sehabis baca Quran: DISWAY Yang selalu kurindu sekaligus kubenci : DISWAY Yang bikin ngakak sekaligus bikin sedih : DISWAY

Ahmad Zuhri

Gara2 sering meluruskan berita hoax di suatu grup wa, umumnya ya kebencian terhadap pemerintah.. saya malah dimusuhi. Sebenarnya kl mmg fakta ya ga apa2 sih.. ini masalah nya model video editan yg di Youtube itu. Udah akut, tidak bisa menerima kebenaran dari orang lain.. bisanya hanya kebenaran dari kelompoknya sendiri. Saya sebenarnya cuek dan biasa aja, lha kok trs di 'serang' masalah keluarga asli atau tidak.. yo wes lah akhirnya keluar hehehe..

Teguh Wibowo

Kalau saya buat mengurangi rasa pekewuh, saya bikin no wa baru.. tiap ada yg invite no lama saya ke grup wa,, maka no wa yg lama tsb saya rubah mjd no wa baru,, sehingga grup wa di nomor lama nya jg bermigrasi ke no yg baru. Baru kemudian daftar wa lg menggunakan no hp lama.. semua grup wa jadinya ngumpul di nomor wa yg baru tsb. Wa nya jg di hp tersendiri dan saya buka pas lg pengen aja, atau pas lg mau clear chat isi grup..

khoirul anwari

Mumpung bercerita tentang "usul". Saya mau usul jika tulisan pak Dakelan yang berkaitan tentang Agama dan Politik, Komentar pilihan gak usah disertakan dalam tulisan berikutnya. Sangat tidak nyaman bagi yang "puasa" tafsir agama dan politik.

Mirza Mirwan

Tumben CHD hari ini nongol sesuai jam posting. Biasanya hingga saya ke masjid untuk Subuhan belum muncul, tetapi jam postingnya tetap 04.00. Jujur, saya geli sendiri membaca CHD hari ini. Saya juga pernah dimasukkan ke dalam WAG tertentu. Tetapi 2-3-4 hari kemudian pilih keluar. WAG yang tetap saya ikuti hanya WAG keluarga -- karena saya tahu benar siapa dan seperti apa mereka. Tidak semua orang beragama moralitasnya baik, alih-alih yang hanya "kelihatan beragama". Para koruptor yang sekarang masih mendekam di Sukamiskin itu orang beragama, lho. Bahkan ada yang semasih di parlemen akrab dipanggil ustaz. Orang yang beragama tidak sama dengan orang yang menghayati ajaran agamanya sebagaimana harusnya. Sebaliknya, orang yang tidak beragama, bahkan yang atheis sekalipun, boleh jadi moralitasnya lebih baik. Kebetulan saya pernah berkawan dengan orang-orang agnostik dan atheis nun hampir 40 tahun yang lalu. Yang atheis, misalnya, mereka tak percaya adanya Tuhan, surga dan neraka, tetapi menganggap seks bebas adalah perilaku hewan. Dan mereka pantang meniru perilaku hewan. Meskipun saya sering menjadi khatib dan ceramah di majelis taklim, saya berpantang untuk bicara soal ajaran agama di forum yang diikuti banyak orang yang tidak seagama dengan saya, kecuali bila ada yang bertanya. Kalaupun pertanyaannya menyangkut hal-hal yang saya tidak tahu, saya akan jujur mengatakan bahwa saya tidak tahu. Saya berpantang untuk sok tahu dalam hal ajaran agama. Takut menyesatkan.

Al Fazza Artha

Saya ada grup WA, adminnya ada 5 atau lebih . Isinya pendukung gubernur saya pak Annies kebanyakan. Seru kalau ngomong apa yg sedang viral d negeri ini. Masing2 admin dah punya tugas sesuai yg di sepakati. Kalau ada yg sukses, ultah., meninggal, sakit yg mengucapkan yg admin 1 itu. Ada juga admin satpam, kalau ada yg nyleneh ya bagian admin ini yg menegur, jadi yg d tegur ga tersinggung karena yg negur emang admin bagian satpam. Seru dah pokoknya...dan saya betah d grup itu karena setiap Sabtu kita boleh kasih pengumuman d grup, hari ini kita dagang apa (tak boleh posting dagangan), tapi di silahkan lihat di WA story. Pokoknya kalau dah urusan dagang Jilbab dan daster ... hepi saya, Abah. 

yea aina

Dengan enteng aina menjawab: "saya memang mengajak yea belajar bareng di rumah nanti sore, tapi saya juga kirim SMS YANG SAMA, kepada 7 orang teman lainnya". Nah kan.... tulisan memang otonom dari sikap asli penulisnya, sebuah tulisan bisa ditafsirkan berbeda oleh pembacanya.

yea aina

Bila membaca "pertengkaran" di grup WA, pun sering juga ada di CHD ini. Sepakat dengan sikap Abah: ya sudah-sakkarepmu. Di jaman medsos nan kesusu, yang menyeret ke neraka bukan lagi lidah Bah. Jari kitalah penentunya, karena pesan suara kurang populer dikala "pertengkaran" medsos berlangsung kwkwkw. Sebab tulisan otonom dari sikap asli penulisnya. Ada cerita: si yea naksir berat kepada aina. Sepulang sekolah, yea mendapat SMS dari aina: "nanti sore kita belajar bareng di rumahku ya". Lha wong naksir kok dapat ajakan seperti itu, tentu saja si yea merasa senang. "Benar kan si aina naksir juga ke saya", ucap yea kepada teman-temannya. Kabar tersiar hingga si aina dikonfirmasi seorang teman. (bersambung) 

Kliwon
Sama² dek Aina. Kalo dek Aina berkenan kapan² dolan ke Surabaya. Ntar Abank traktir bakso gerobak paling joss di samping Indomaret depan perumahan pak DI situ. Kita bisa cerita² & bahkan mungkin mewujudkan cerita yang kelak juga happy ending.

Budi Utomo
@KS Setuju. Saya pernah suatu kali bertandang ke rumah teman saya yang kebetulan suku Batak dan beragama Kristen. Waktu itu sekitar jam 2 sore. Waktu itu juga lagi seru-serunya kasus Ahok. Corong TOA mesjid di dekat rumah teman saya menjelek-jelekkan agama Kristen. Sing waras ngalah. Itulah yang saya ucapkan kepada teman saya. Dia hanya bisa mengiyakan. 

Komentator Spesialis
"Seng waras ngalah" Itu salah satu contoh kearifan lokal.

A fa
"YANG...hujan turun lagi dibawah payung hitam kita berlindung....", Maaf lagi ngelantur, Nuhun.

Amat Kasela
Yang menguatkan tapi sering mengecewakan : harapan.

Macca Madinah
Abah di atas cerita tentang menjadi anggota WAG. Kalau Abah yang jadi adminnya perlu dibagi juga Bah pengalamannya. Admin WAG buat "tujuan bersama" seperti WAG pemilik unit rusun, gampang-gampang susah. Tujuannya untuk mengumpulkan pemilik unit rusun berjuang sertifikat sarusun (dan untung-untuk juga membentuk SP3SRS pemilik/penghuni unit yang berdaulat, bukan bentukan pengembang). Sekarang ini kondisi agak aman, kondisi politik maksudnya. Pas kemarin masa pilkada, pilpres, waduh, repotnya mendamaikan berbagai pendapat yang bersliweran, karena anggotanya sangat majemuk, mudah tersinggungan, provokator habis, sementara admin harus menjaga keutuhan "perjuangan yang satu" hahaha. Alhasil, sampai di ujung hajatan negara, banyak anggota dari berbagai pihak yg "perlu" ditendang. Menjelang 2024 ini siap-siap lagi deh.

Jimmy Marta
Persis spt dugaan abah. Hanya enam WAG, sy gk aktif posting. Aktif nya itu posting komen di disway...hehe.. Paling sering ketemu di WAG itu diawali kata diteruskan. Sering juga yg dishare itu annyversary... bagi2 voucher, pulsa dsb. Untuk yg begini sy sesekali posting komen 'mencerdaskan' agar jangan mudah percaya. Cek dulu validitasnya sebelum dibagikan. Paling gemes itu jawaban mereka yg menshare. "Dapat dari temen juga". Gk mau nyoba sendiri, nyuruh orang tuk nyoba. Takut ditipu, tapi mendorong orang tertipu.. Gimana coba..!

HANVINCY ADNOV
Kalau boleh sy simpulkan dari tulisan diatas yaitu KESEL. Yaa KESEL.. dg group WA itu, tak kurang tak lebih. Dari KESEL menjadi tulisan yang panjang n sy yg IQ nya rata2 membaca n memahami sekitar 10 menit. Jadi sy bisa membayangkan jika seseorang mempunyai lebih dari 20 group WA n harus membacanya betapa bisa menghabiskan waktu n otak bisa menjadi lelah lama2 bisa meledak he3x

VMF
謝謝你 Abah DI。 今天的帖子標題是我媽媽的姓“楊”。 也是我母親大家庭的 WAG 名字。????????????

Pryadi Satriana
YANG Yang singkat: umur Yang menipu: Iblis Yang dekat: Tuhan, sepelantun 'doa' Yang besar: kasih Tuhan Yang berat: dosa manusia Yang sulit: 'eling' Yang mudah: 'lupa' Yang berharga: jiwa Yang sering lupa: datangnya ajal Yang membakar amal: niat yang salah Yang menentramkan hati: janji Allah Yang mendorong ke neraka: dosa Yang ditunggu ALLAH: datang ke hadiratNya. (Semoga semua umat bahagia. Salam. Rahayu)

Dodik Wiratmojo
Hehehe grup wa yg paling asyik itu grup kuliner sama grup alumni sd/smp/sma, ngomongin makanan enak sm janjian jajan bareng2, kl alumni sekolah isinya nostalgia melulu, lucu seru, rasanya br kemaren lulus sekolah 

Jimmy Marta
Hari ini jubir PLN menyebut tak pernah ada rencana menghapus daya 450 V. Tidak pernah juga ada pembahasan dg DPR. Lantas omongan pak Said Abdullah ketua banggar yg nyebut dpr dan pln sepakat itu bgmn?. Kemaren jg rame, terkait EK, GP yg bilang gk pernah angkat relawan. Apa ini termasuk jangan mudah percaya dg yg dibaca itu, ya..? Tapi saya percaya, kerbau itu yg dipegang itu tali arungnya. Manusia itu yg dipegang omongannya. 

Muin TV
Yang tak bisa kembali : Waktu Yang jarang disyukuri : Sehat Yang suka makan tikus : Kucing Yang suka menipu : Kancil Yang bisa terbang : burung Yang membajak sawah: Kerbau Yang larinya kencang : Kuda

Komentator Spesialis
Bulan bulan begini memang musim angin topan di jepang. Bibit topan biasanya dari Philipina atau samudra pasifik. Yang dihantam biasanya okinawa, lari ke kyushu. Atau langsung nabrak pulau honshu. Di Jepang tempat evakuasi biasanya adalah sekolah. Ya sekolah. Kenapa ? Karena setiap sekolah, dari SD sampai Universitas, bisa dipastikan punya bangunan kokoh berupa gym olah raga yang biasa dipanggil taiikukan 体育館. Bisa untuk main dari senam, volley, badminton dll. Sangat luas. Dan ada lapangan terbuka minimal berupa lapangan tenis atau softball. Itu sudah semacam standar pendidikan di sana harus punya perakat lapangan olah raga tsb. Makanya tak heran olah raga maju. Bukan seperti disini, yang maju gigi para koruptor anggaran negara.

Kang Sabarikhlas
Alhamdulillah, sungguh saya bersyukur Abah ndak ada di WAG kampung saya. Lha wong dibandingke, disaingke yo mesti kalah sama WAG Abah, pasti dianggap gakgenah, grup goblik... Dulu admin WAG kampung ada 10 orang, sering gonta-ganti nama WAG. Saya jengkel ketika dirubah nama WAG jadi 'SUSU PENTIL/Suami-Suami Pecinta Istri Langsing'. ternyata yg buat nama Pak RW alias Abah Gaul PNS KUA yang sering nasehati calon mempelai tentang sex secara jenaka. Walau saya ini paling sabar tapi tinggal sedikit sabarnya, kan sesuai umur sebentar lagi black out. Sebagai founding father grup kampung (suit..suit.) saya adakan rapat, pidato keras kayak Pak Pry dicampur wawasannya Pak Mirza ditambah guyon tapi sakleknya Abah DI. nama WAG jadi 'GUYUB/Paguyuban Bapak², admin Abah Gaul + Wak Modin + saya penasehat. Waktu itu saya juga mau pidato, Yang susah itu : ndak punya uang/ Yang senang itu : Sultan/ Yang miskin itu : saya/ Yang kaya itu : Anu... saya ndak jadi pidato, kelamaan, yah sudah...duh.

Alon Masz Eh
Dulu... Org cuma belajar di bangku kuliah, forum intelektual, forum keagamaan formal. Logis, referensi tepat, arahnya murni, yang bicara sudah terbukti dan tidak butuh pembuktian diri.... Hanya aktualisasi keilmuan. Teknologi datang... Ada kebebasan, ada blog, ada youtube, ada WAG, ada warung kopi. Saya pernah mampir lelah di warung kopi tubruk sederhana yang rame (tanpa latte2), hmmm... Banyak orang piawai sedang adu cerita dan opini. Entah kenapa muncul saran youtube bertema sama, yang begitu selesai saya tonton, isinya sama tema di warung itu, menggelikan kebenarannya. Dan lucunya sama dengan adu posting, perdebatan dan opini di WAG yang malas saya buka. Masih ditambah obrolan keras2 di perempatan jalan yang ingin didengar dan diakui.... Hmmmm... Kesimpulannya... Opini dibangun orang yang tidak kompeten, tidak pas keilmuannya, dibagikan dan diposting oleh teknologi, diterima oleh yang membutuhkan pengakuan/pembuktian diri, mengaktualisasi diri di forum WAG, forum warung kopi dan cangkrukan perempatan. Sak karepmu, ga ngurus...mute group notifications, baca CHD, ga usah dibawa emosi komentar CHD yang mirip WAG, baca buku, nawar duren mati2an, makan duren serumah... Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? 

thamrindahlan
Yang baca disway itu : INTELEKTUAL Yang koment disway itu : NASIONALIS Perihal WA hampir sama keluhan member antara sebel bin mangkel. Pengen keluar tapi takut dibilang bandel binti kesel. Tetapi sebaliknys ada juga oknum member malah kesemsem bin ketagihan bersebab merasa punya media curhat guna menunjukkan dirinya "pinter." hehehe. Mur dan skrup asli pasangan / Besi baja tambang soroaka / Member Grup WA puluhan / Anggap saja hiburan belaka /

Ahmad Fahmi
Sudah ketiga kalinya saya membaca di catatan pak Dahlan ada aroma krisits terhadap agama dalam hubungannya dengan kebebasan berfikir dan intelektualitas. Dua lagi saya dapatkan pada "Demo Gugat" dan "Mikra Gugat" yang membahsa dua Professor hebat kita yaitu Prof Mikra dan Prof Nidom. Perdebatan tentang hal itu bukan hal baru, mungkin sudah 500 tahunan sejak zaman Rennaisance dimulai di Eropa, bahkan lebih tua lagi di masa kejayaan ilmu dinasti Abbasiyah di Baghdad tahun 800an Masehi. Menurut saya agama mulai kalah sejak revolusi industri di pertengahan abad 19, karena yang jadi lawannya yaitu Iptek mulai berjaya. Sudah lazim jika manusia itu cepat sekali silau dengan keberhasilan, sehingga insting menirunya muncul lalu takluk. Sejak saat itu terutama di kalangan ilmuwan dan intelektual mulai populer filsafat empirisme yang awalnya sebenarnya hanya alat kerja dan hipotesa yang kemudian diangkat menjadi teori hingga akhirnya dijadikan ideologi. Sebelum adanya revolusi industri itu para ilmuwan hebat seperti Isaac Newton dan Carl Friedrich Gauss adalah orang-orang alim atau religius. Pak Dahlan, saya titip buku The Crisis of The Modern World yang ditulis oleh Rene Guenon tahun 1942 untuk Prof Mikra dan Prof Nidom : https://archive.org/download/in.ernet.dli.2015.78726/2015.78726.The-Crisis-Of-The-Modern-World.pdf

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda