Sang Begawan Media

Ratu Wushu

Lindswell Kwok, lahir 24 September 1991 adalah salah satu atlet wushu taolu paling terkenal sepanjang masa. Pada tahun 2013, ia dinobatkan sebagai Atlet Terbaik oleh Komite Olimpiade Indonesia, dan menerima Satyalancana Dharma. (FOTO: wikipedia.org)

COWASJP.COMIA sudah diterima di jurusan elektronika ITS. Ia sudah jalani kuliah di situ selama satu semester. Ia berhenti. Ia pilih jadi atlet. 

Ia contoh pribadi yang fokus. Hari ini ia akan tampil di Kejuaraan Nasional Wushu, memperebutkan Piala Presiden. Di Surabaya. Di Graha Unesa yang megah itu.

Namanya: Ahmad An'im Zaidan Abu Zaki.

Kecintaannya pada wushu membuat hatinya terbelah: pilih elektro atau pilih wushu. "Saya takut dua-duanya gagal. Kuliah gagal, wushu gagal," katanya kemarin. "Saya pilih wushu," tambahnya.

Tapi Zaidan tetap kuliah. Ia cari jurusan yang bisa memberi peluang untuk tetap disiplin latihan wushu. Tiap hari. Kecuali Minggu. "Kini saya ambil jurusan komunikasi di UPN Surabaya," katanya.

Zaidan tidak sendiri. Ia ajak adik perempuannya latihan wushu. Sang adik juara dunia  junior untuk kategori tangan kosong. Tahun lalu. Penyelenggaranya organisasi wushu dunia: secara online.

Nama Sang adik: Utiqo Romadlona Ummi Auna. Umur 14 tahun. Sekolahnyi di SMP NU Khadijah, Wonokromo, Surabaya. Utiqo istimewa: hafal Quran. Khafidzah.

Sang adik akan mewakili tim wushu Jawa Timur. 

Sang kakak akan mewakili tim wushu Jawa Barat.

Di Jatim Zaidan merasa sulit naik kelas. Di atasnya banyak sekali atlet wushu hebat-hebat. Jatim juara umum dua kali berturut-turut. Kali ini mengirim atlet terbanyak lagi: 107 atlet untuk Kejurnas dan 119 atlet untuk Jatim Open. Itu kontingen terbesar kejurnas yang diikuti 21 provinsi. Pengprov Wushu Jatim memang kuat segala-galanya: ketua umumnya Sudomo Mergonoto, pemilik kopi Kapal Api.

Tapi atlet muda seperti Zaidan ingin sistem yang lebih terbuka. "Harusnya ada sistem promosi dan degradasi," ujarnya. "Kalau tidak, kapan kami yang junior bisa promosi ke jenjang yang lebih tinggi," tambahnya. 

Itulah sebabnya ia ''lari'' ke Jabar. Ia pun ber-KTP Bogor.

Zaidan hidup satu rumah dengan adik. Ia juga punya kakak yang masih kuliah di statistik bisnis di ITS. Ayah mereka pemilik toko kelontong plastik di sebuah ruko di Pasar Kembang Surabaya. Ia meninggal beberapa tahun lalu.

Dari mana Zaidan kenal wushu?

Ternyata itu terkait dengan tangannya yang patah. Yakni saat Zaidan berumur 4 tahun. Ia bergelantungan di rumahnya: jatuh. Siku kanannya patah. Dibawa ke tukang pijat. Tambah parah. Dua tahun kemudian harus dioperasi di Solo.

Dokter Solo minta Zaidan rajin olahraga yang bisa melatih tangannya. Agar kembali lentur. Awalnya ia renang. "Ayah lantas melihat wushu. Saya diminta latihan wushu. Saya suka," katanya.

Wushu adalah olahraga baru: dirumuskan baru di tahun 1949. Sebelum itu, sejak lebih 2000 tahun lalu, sudah ada sejenis wushu. Tapi tiap daerah beda. Namanya. Gerakannya. Ada kungfu. Ada taichi. Ada shaolin. Ratusan jenis. Maka negara Tiongkok membuat standar nasional: semua itu dirangkum dalam satu nama dan gerakan. Jadilah wushu. Kungfu tetap boleh hidup. Taichi silakan. Shaolin jalan terus. Tapi ada satu jenis yang berlaku di seluruh negara: wushu (武术).

Perhatikan huruf pertama itu (æ­¦). Bagian depannya, kalau dipisah, berarti ''berhenti untuk bertahan''. Bagian kanannya berarti ''menombak'' atau ''menyerang''. Maka kalau dua unsur itu digabung artinya berubah total: bela diri, mirip militer.

Sedang huruf kedua (术) berarti seni. Maka wushu berarti seni bela diri.

Tiongkok terus berjuang agar wushu masuk Olimpiade. Masih gagal. Wushu sudah masuk 8 besar calon olahraga Olimpiade, tapi tetap saja baru boleh untuk ekshibisi.

Perjuangan pertama ke Olimpiade dilakukan di tahun 2008. Di Olimpiade Beijing. Akhirnya organisasi Olimpiade internasional mengizinkan kejuaraan wushu  yang waktunya bersamaan dengan Olimpiade Beijing. Maka seolah-olah, saat itu, wushu sudah masuk Olimpiade.

ratu-wushu.jpg1.jpgFOTO: suaramuslim.net

Dunia mungkin kurang tertarik wushu. Unsur seninya lebih menonjol dari olahraganya. Maka  wushu melahirkan kategori baru: sanda (baca: santa). 散打. Huruf pertama berarti ''berantakan'' –saya tidak menemukan arti yang pas. Huruf kedua berarti ''pukul''. Pukulan yang berantakan.

Saya tahu Anda sulit memahami itu. Lebih mudah kalau sanda saya  artikan: perkelahian gaya bebas. Tinju, kungfu, karate, tendang, gulat, dan silat jadi satu.

Orang Barat suka wushu kategori sanda. Mereka tidak suka kategori taolu yang gemulai itu.

Orang Inggris pernah jadi juara dunia kategori sanda. Juara dunia terlama: 10 tahun. Namanya Steve Coleman. Orang Rusia juga pernah juara: Muslim Salikhov. Iran juga pernah juara dunia: Hossein Ojaghi.

Indonesia pernah juara dunia. Kategori taolu. Putri Medan itu: Lindswell Kwok. Anak Binjai. Dia langganan medali emas kejuaraan internasional wushu di mana pun. Medali emasnya bertumpuk-tumpuk. 

Kwok menjadi legenda wushu Indonesia. 

Begitu memenangkan medali emas Asian Games 2018, Kwok menyatakan diri berhenti menjadi atlet wushu. Umurnya saat itu 28 tahun. Ia menikah dengan mantan atlet wushu Indonesia kelahiran Jakarta: Achmad Hulaifi.

Saya ingin mengabadikan nama Kwok dalam sebuah piala di kejuaraan wushu Disway mendatang. Kwok adalah ''Ratu Wushu'' Indonesia. (*)

***

Siapa Membunuh Putri (14)

Edo Terpedo

Oleh: Hasan Aspahani

SAYA baru menyadari di lorong rumah sakit itu seorang pemuda Ambon sejak tadi berdiri, sejak saya datang, masuk menengok Ferdy dan keluar. Ia masih di situ.  Tatapannya awas. Anak dan istri Ferdy belum ada di rumah sakit. Apa mereka sudah tahu? Ada dua orang polisi datang. Saya dengar dari luar, mereka bertanya pada Ferdy soal penganiayaan yang dia alami. Ferdy tak bisa merespons dengan baik. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Keluar dari ruangan dua polisi itu membawa si pemuda Ambon tadi.   

Saya bergegas ke sekuriti di lobi, bertanya siapa yang datang membawa Ferdy ke rumah sakit. Ia memberi gambaran sosok yang persis dengan si pemuda Ambon yang dibawa polisi tadi. Saya ke bagian pendaftaran pasien. Ferdy masuk atas jaminan Edo Terpedo. Mungkin nama itu si pemuda. Saya lekas-lekas menyusul ke Polresta. 

Edo Terpedo? Nama aslikah? Rasanya bukan. Juga bukan nama yang pernah saya dengar.  Kalau ia preman lama rasanya saya pasti pernah mendengar.  Saya menelepon Bang Jon. Ia juga bilang tak kenal.  Saya menceritakan kejadian yang dialami Ferdy.  

Bang Jon bilang mau ketemu saya, dan segera menyusul ke Polresta. Majalahnya tampaknya lumayan diterima pembaca. Beberapa kali saya kirim cerita pendek. Ia minta saya menulis untuk majalahnya itu. Lumayan juga buat berlatih menulis fiksi.  

Saya dan Bang Jon tiba di Polresta nyaris bersamaan. Ia malah sampai lebih dahulu. Kami lalu sama-sama masuk menemui petugas yang sedang memeriksa Edo. Ya, benar namanya Edo. Ia menatap kami seperti mohon pertolongan.  Petugas yang tampaknya sudah selesai memeriksanya. Petugas itu pergi. Edo masih duduk di hadapan meja si petugas. Bang Jon minta saya menunggu. Ia masuk ke ruang Kabareskrim. 

Dengan suara berhati-hati, Edo bicara pada saya, ”Abang Abdur?” Saya mendekat. ”Saya Edo, Bang. Ferdy sebelum tak sadar di rumah sakit bilang ke saya temui Abang…” kata Edo.

”Sebelum pingsan karena kau hajar?”

“Bukan, Bang… Bukan saya yang pukul Ferdy…” kata Edo.

”Jadi?”

Belum sempat Edo menjawab, Bang Jon keluar bersama petugas pemeriksa dan pemberkasan pemeriksaan tadi. Ia bicara pada Edo.  ”Sudah, kamu boleh pulang. Kamu tidak ditahan, aku jaminannya,” kata Bang Jon. 

”Banyak sekali wartawan di luar…?” tanya Edo tak jelas kepada siapa, tapi ia menatapku.  

”Tak usah dilayani. Nanti suruh mereka tanya humas saja,” kata Bang Jon.

Saya mengajak Edo keluar dari ruang pemeriksaan. Kami bergegas ke tempat parkir. Hanya untuk menghindari wartawan.  Beberapa sempat juga bertanya padaku soal penganiayaan Ferdy. Saya menjawab bahwa memang benar itu terjadi. Beberapa wartawan bertanya pada Edo. Saya melihat ia seperti ketakutan. ”Ini saudara Ferdy, tak ada kaitannya dengan penganiayaan,” saya menjawab sembarangan saja. Beberapa orang tanpa izin memotret kami.

Di tempat parkir saya bertanya pada Edo. ”Kau mau pulang ke mana?”  Edo tampak kebingungan. Karena saya tertarik untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya mengajaknya ke kantor Dinamika Kota.

Edo baru saja tiba dari Ambon lewat laut. Singgah di beberapa kota, Surabaya, Jakarta, sebelum kapal Pelni sandar di Pelabuhan Sekumpang. Dia kerabat istri Ferdy. Ia diutus keluarganya untuk menemukan Ferdy dan istrinya. Menyuruhnya bercerai dan membawa istri Ferdy pulang. Ferdy menemui Edo di rumah kerabat istrinya tempat dia semula menumpang sebelum tinggal di rumah kontrakanku. 

”Kami bertengkar dan sempat tak bisa kendalikan emosi. Saya lebih dahulu pukul dia,” kata Edo. Lalu, tiba-tiba saja datang beberapa orang preman, mungkin ada empat motor, kata Edo. Mereka langsung menyerang Ferdy.        

”Saya tak tahu siapa mereka. Saya tak tahu kenapa mereka serang Ferdy. Saya yang bawa Ferdy ke rumah sakit. Saya tanya paman-paman saya semua juga diam saja, sepertinya mereka tahu,” kata Edo. 

Kini jelas bagiku, Edo tak terlibat dengan pemukulan Ferdy. Edo katakan ia sudah sampaikan itu semua pada polisi. Saya menduga penyerangan itu ada kaitannya dengan berita-berita Ferdy tentang pembunuhan Putri. Saya ingat satu percakapan dengan Pak Rinto tentang bagaimana para penegak hukum itu menutupi kasus.  

Polisi, kejaksaan, dan/atau – ya bahasanya seperti bahasa hukum pakai dua kata sambung dan/atau -  pengadilan bisa bermain bersama, yang penting media bisa dipastikan bungkam. Kalau media masih memberitakan, maka kesepakatan bubar.  

”Itulah pentingnya pers sebagai kontrol. Itulah pentingnya wartawan yang idealis dan berani. Pekerjaan kalian itu tak ringan, Dur. Penuh risiko. Hati-hati, tapi jangan pernah takut,” kata Pak Rinto kala itu. 

Ada orang yang menemui saya belum lama berselang. Tak jelas siapa. Mengakunya orang utusan asosiasi importer mobil. Kalau urusannya pasang iklan jual mobil, saya katakan temui saja manajer iklan kami. 

“Oh, ini justru kami diminta oleh Kang Uus menemui Bang Abdur langsung,” kata si utusan. Kang Uus adalah nama manajer iklan Dinamika Kota. Seorang marketer andal. Jejaringnya luas sekali di kota ini. Ia yang bikin omzet iklan kami tumbuh terus tiap bulan.   

”Kenapa harus ketemu saya? Kalau urusan pemberitaan nanti saya kirim wartawan saya saja,” kataku. 

Si utusan dengan gaya yang makin lama makin memuakkan menyampaikan undangan pada saya untuk datang ke showroom-nya. Pilih satu mobil yang mana saja yang saya mau. Ada orang yang sudah membayarnya untuk saya. 

”Siapa orang itu?”

”Nah, itu, Bang Abdur, silakan datang saja ke showroom kami, nanti bos saya yang jelaskan,” katanya. Saya katakan terima kasih dan saya tak akan datang.  Sehabis pertemuan itu saya menemui Kang Uus dan bicara keras padanya. Kang Uus jelaskan itu yang suruh kabag humas Polresta.  “Saya nggak enak, saya dekat sama beliau. Satu kampung,” kata Kang Uus.  

”Buat apa? Bilang aja terima kasih dan jangan lakukan itu lagi. Kita nggak bisa diatur-atur, dibeli, disuap dengan cara begitu. Kalau koran kita tak dipercaya pembaca, pemasang iklan juga tak percaya sama kita, Kang,” kata saya.  

Saya makin curiga bahwa upaya pendekatan yang disampaikan lewat Kang Uus dan serangan pada Ferdy terkait dengan pemberitaan kami yang berbeda dalam kasus pembunuhan Putri.  

Polisi menangkap Awang dan bersama Runi, pacarnya itu. Mereka ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana. Semua media memberitakan persis seperti apa yang disiarkan humas Polresta. Kecuali Dinamika Kota, koran kami.  

Kami mempertanyakan motif pembunuhan itu. Menurut polisi, Awang membunuh Putri karena kesal. Runi pacarnya, kerap dimarahi oleh Putri, majikannya itu. Menurut pengacara di kantor Restu Suryono, narasumber yang kerap kami mintai pendapat, motif itu lemah.    

Awang dan Runi, sepenelusuran kami, belum lama berpacaran.  Mencari pekerjaan bagi Runi bukanlah sulit.  Kota ini sedang perlu banyak pekerja. Bagi Runi mendapatkan pekerjaan sebagai operator di pabrik perakitan semudah membeli bakso di depan pintu keluar pabrik. Kalau dia tak betah bekerja menjadi pembantu di rumah Putri, berhenti saja. Hari itu berhenti, besok dia bisa dapat pekerjaan.  

Investigasi kecil-kecilan kami, Runi betah bekerja di rumah Putri. Dia majikan yang royal.  Memang Putri berperangai kasar. Tapi sekasar apa sih sampai Awang harus membela pacarnya itu dengan membunuh Putri? 

Sebuah motif yang sangat meragukan. Itu berita yang ditulis Ferdy sebelum penyerangan terhadap dirinya.

Saya tiba-tiba mencemaskannya. Apa dia aman di rumah sakit? Kami tadi sudah sepakati, Bang Eel gantikan saya di redaksi sementara saya mengurus dan gantikan Ferdy liputan. Malam itu saya selesaikan mengecek beberapa halaman, sebelum tersisa hanya halaman pertama yang dipegang langsung Bang Eel.  

“Yon, sudah beres kan? Ke rumah sakit, yuk..,” saya mengajak Yon yang sedang asyik mendengarkan kaset baru untuk diresensi. Ada beberapa kaset di mejanya, saya lihat ada album kedua Shiela on 7, juga Dewa 19 dengan vokalis baru. Beda sekali karakter vokalnya dengan Ari Lasso, tapi enak juga. Cocok dengan lagu-lagu baru Dewa 19. 

Di parkiran kantor, Edo duduk di kursi di depan warung makan, seperti menunggu kami.  “Abang Abdur, maaf kalau saya mengganggu. Saya tak tahu jalan mau kembali ke rumah sakit,” katanya. Dia tampak lapar dan capek sekali. Saya ajak dia makan. Saya tanya apa rencana dia? Apa dia mau kembali ke Ambon? 

“Saya tak boleh kembali kalau tak bersama istri Ferdy. Sementara saya lihat mereka tak mungkin dipisahkan. Apalagi sekarang istrinya hamil. Tak mungkin Ferdy kasih lepas istrinya. Ferdy cerita dia banyak dibantu Abang Abdur. Saya malu, Abang bukan keluarga kami, mau bantu saudara kami. Kalau abang izinkan saya mau balas bantu Abang,” kata Edo.

”Bilang aja kamu minta kerjaan,” kata Yon.

”Siap, kalau ada kerjaan boleh kasih ke saya, Abang,” kata Edo.

”Kamu bisa apa? Jadi wartawan?” tanyaku.

”Saya bodoh kalau disuruh menulis. Saya tak bisa,” kata Edo.

“Jadi sopir mau?” tanyaku, saya ingat Bang Eel suruh saya cari sopir redaksi. 

”Mau, tapi saya belajar dulu, bikin SIM dulu,” kata Edo. 

Edo tak tamat SMA. Dia banyak habiskan waktu di jalanan. Jadi preman. Tak ada kejahatan yang tak dia lakoni. Dari mencopet, memalak, sampai mengedar ganja. Terpedo itu nama jalanannya. Nama gengnya. Ada tato di lengannya: TERPEDO. Kata Edo, itu singkatan dari Terowongan Penuh Dosa. Malam itu Ferdy mulai pulih kesadarannya. Anak dan istrinya sudah bersamanya di rumah sakit. Saya minta Edo menjaganya. 

Malam itu saya menumpang di kos Yon. Kami masih simpan informasi tentang penyitaan CCTV di King Palace. Saat mengumumkan Awang dan Runi sebagai tersangka, polisi menyebut penyitaan barang bukti, antara lain CCTV.  

Tak ada wartawan yang bertanya soal itu. ”Yon besok kita konfirmasi soal CCTV, tak perlu kita katakan bahwa kita tahu dan pernah melihatnya. Asal ada pernyataan dari polisi bahwa CCTV itu disita dari tempat hiburan kita bisa masuk dari situ. Kita cukup sebut sosok mirip Putri dan Pintor,” kataku. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 16 September 2022: Ning Tenar

Kliwon

Jejak digital menimbulkan masalah.. Jejak genital memunculkan bocah.. -- Eko Kuntadhi --

Arek Nom

Sedikit koreksi Bah, a) "Ning Imaz dikatakan tolol, kadal dan hanya berorientasi pada selangkangan." -> ucapan ini ada pada video. Video itu bukan buatan Eko. Ia hanya reupload di Twitter. b) Yg asli ucapan eko di Twitter adalah "lelaki dapat bidadari, perempuan dapat tupperware". Akan tetapi bisa dimaklumi banyak santri lirboyo tidak tahu itu dan menganggap eko pengupload pertama dari video tsb dg kalimat2 yg kurang ajar itu. sehingga banyak dari mereka jadi marah besar yg sempat membuat saya khawatir karena kaum "sana" sudah mulai mengipas-ngipas supaya apinya tambah besar dan membara. Di sini, "komentator spesialis" termasuk dari "kaum sana" itu bisa dilihat betapa dia sangat kecewa. Penyelesaian kekeluargaan yg diprakarsai kyai Ahmad Kafabihi sudah sangat tepat. NU dan santri adalah komunitas terbesar Indonesia. Kebesarannya harus ditunjukkan dg kebesaran sikapnya dg tidak mudah diadudomba oleh "orang sana".

Mirza Mirwan

Kalau menurut Imam al-Ghazali, Eko Kuntadi itu termasuk jenis "rojulun laa yadri walaa yadri annahu laa yadri" -- orang yang tidak tahu tetapi ia tidak menyadari bahwa sebenarnya ia tidak tahu. Orang semacam itu memang njengkelin. Juga berbahaya, kalau follower-nya menganggap apa yang ditulisnya benar semata. Jadinya menyesatkan. Jenis orang seperti itu susah diingatkan, selalu merasa benar, merasa serba tahu, merasa punya otoritas untuk menjawab semua persoalan, padahal sebenarnya ia tidak tahu apa-apa. Apa yang disampaikan Ning Imaz terkait tafsir Surah Ali 'Imran ayat 14 sebenarnya bukan penafsiran Ning Imaz sendiri. Dan Eko Kuntadi, saya yakin 100%, belum pernah membaca apa yang disampaikan Ning Imaz itu dalam Tafsir Ibnu Katsir. Bahkan nama mufasir sohor itu saja mungkin Eko Kuntadi belum pernah mendengarnya. Selamat pagi semuanya. Tabik.

Hari Triatmojo

Hinaan pada si mulia, menambah kemuliaannya. Hinaan pada si hina, mengurangi kehinaannya. Adapun si Penghina, ia akan tetap menjadi rendah. Diskursus perbedaan tafsir sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun… Para ahli ilmu saling menghargai perbedaan pandangan, dan beradu argumen dengan cara yang cerdas dan berintegritas. Teko hanya mengeluarkan isi yang ada di dalam teko tsb. Hal ini menunjukkan bahwa isi kepala si penghujat isi nya memang hanya hal-hal rendah

Pryadi Satriana

"Kok bisa ya 'pemikiran pagan ttg bidadari surga' masuk ke Al-Qur'an," katanyi, seorang Ibu yg lama tinggal di Singapura, anaknya pun lahir & lulus kuliah di Singapura. Th '80-an ia murid saya di Smanti Malang. Th '90-an saya 'kebetulan' mengajarnyi lagi. TOEFL. Saat ia jadi dosen Planologi di Malang, sebelum bermukim di Singapura. Saya jawab, "Dalam literatur agama2 samawi pra-Islam, ndhak ada pandangan kayak gitu." Yesus (Isa) pernah ditanya, "Perempuan ini pernah menikah dg tujuh orang laki2. Semuanya telah meninggal. Siapa yg akan menjadi suaminya di surga?" Jawab Yesus, "Di surga tidak ada yg 'kawin' & 'dikawinkan' (spt di dunia)." Disimpulkan: istilah 'suami-isteri', 'anak-cucu' hanya ada di dunia yg 'terikat dg waktu'. Di surga, yang 'timeless' ('tidak ada waktu', kekal), semua itu ndhak ada. Juga istilah 'pria-wanita'. Dalam Taurat disebutkan,"God created man in his own image, in the image of God he created him; male and female he created them" (Genesis 1: 27). Perhatikan: Allah menciptakan Adam, laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka. Perhatikan bahwa 'Adam' disebut 'mereka'. Yang diciptakan hanyalah Adam, namun kemudian ada 'laki2' & 'perempuan'. Disebut 'perempuan' (woman) karena 'diambil dari' (taken out from) 'laki2' (man). Taurat mengajarkan bahwa manusia 'berasal dari debu tanah dan kembali menjadi debu tanah', yg abadi adalah 'jiwa'. Jiwa disebut 'binasa' saat 'tidak bisa kembali ke hadirat Allah'. Di 'surga' berarti 'ada di hadirat Allah'. (bersambung)

Rihlatul Ulfa

Saat saya takut dengan kematian, saya berharap setelah nafas tidak ada, pun begitu kesadaran. berharap ya sudah mudah-mudahan benar-benar mati. saat saya merasa lagi banyak beramal dan rajin beribadah, saya berharap saat meninggal bisa masuk surga yg katanya sangat indah itu. bahkan saat saya melihat Swiss, saya berfikir apakah itu memang jelmaan surga? apakah orang-orang yang tinggal disana orang-orang yg meninggal dan dihidupkan lagi untuk menjadi penghuni di Swiss. tentu pemaparan saya ini tidak elok jika saya bertanya langsung dengan Ning Imas. bisa-bisa saya dicap dodol wkwk

Mirza Mirwan

Mbak Rihlatul Ulfa, tahu nggak arti nama anda. Nama anda jelas diambil dari Bahasa Arab: "rihlat al-ulfah". Rihlat (rihlah) artinya perjalanan. Ulfah (ulfa) artinya persahabatan, cinta, atau harmoni. Yang disampaikan Ning Imaz bukan perkataan suaminya, bukan pula karena Ning Imaz sangat menyukai perhiasan ketimbang suaminya. Yang disampaikannya adalah penafsiran ahli tafsir yang menjadi rujukan ulama sejagat, Ibnu Katsir.

Rihlatul Ulfa

@pakMM. tahun 2010 saat saya pesantren di ponorogo, dengan nama pesantren 'rahmatan lil alamin/assakinah village' yg sekarang jadi bangunan kosong. sepelemparan batu dari terminal Seloaji. seorang ustazah tiba-tiba menjelaskan apa arti nama saya. jadi tentu saya tahu arti nama saya, tepat pada tahun 2010. apa yg saya tulis itu merujuk lelucon saja, bagus pak Mirza menjelaskan ternyata itu penafsiran ahli tafsir Ibnu Katsir. saya tidak akan tersinggung, karena saya memang belum mengetahui itu. terimakasih atas penjelasannya pak Mirza :)

Rihlatul Ulfa

jika otak yg begitu berharga ini tidak digunakan sebaik-baiknya. bisa jadi kita akan terus menyalahkan setan. waspadalah

Ahmad Zuhri

Jika setan tidak bisa membuatmu jahat.. maka setan akan membuatmu merasa paling pintar dan paling benar.. Waspadalah..

Fenny Wiyono

Saya heran dgn org yg suka mengomentari "keagamaan" seseorg apalagi di depan umum. Agama itu urusan sangat pribadi manusia dgn Tuhannya kenapa harus di campuri, di komentari apalagi di hakimi. bukankah itu seperti anda mengomentari rumah tangga tetangga hanya dari lihat baju dalam yg sedang di jemur di tali jemuran?? 

Dodik Wiratmojo

Sepertinya bukan keyakinan yang menghambat majunya suatu bangsa, tapi kepemimpinannya, jika personal tergantung kemauan kerja keras ikhtiar seseorang.. Sesuai ajaran nabi dan islam, muslim di anjurkan memaafkan seseorang jika berbuat salah, inilah yang dimanfaatkan kaum liberal/penghina/pembenci islam dll supaya lolos dari hukum, cukup minta maaf, beda dengan mereka jika dihina, mereka pasti mempidanakan, dan pasti akan mengulang2 lagi krn merasa aman . ganjar harus memilih orang2 yang bersih kl mau menang, bukan mulutnya yang kotor dan pembenci seperti ekok, krn mayoritas indonesia adalah muslimin

fajar rokhman

dua sisi kebenaran siapa yang bicara dan apa yang dibicarakan. Minta maaf bukan karena apa yang dibicarakan, tapi karena yang bicara siapa. Jadi minta maafnya ke orangnya, bukan ke apanya. padahal yang dihina adalah apanya.

Graha Souvenir

Tolol ma dungu sering kita dengarkan... secara normal klo kita mengatakan itu kita hrs dlm kondisi marah, klo dlm suasana damai berarti org itu punya penyakit

Komentator Spesialis

Kalau soal maaf memaafkan itu silahkan. Karena selama yang dihina itu bukan Allah dan Rosul Nya, bukan Islam, dianjurkan untuk memaafkan. Tetapi yang membuat saya heran adalah kemana kelompok atau orang orang yang spesialis pelapor itu gerangan ? Dulu kita malah hafal, selalu muncul "pahlawan" sosok spesialis pelapor yang anda tahu sendiri siapa dia. Atau ormas yang sangat gercep melapor ketika kelompoknya dihina. Lha ini pada kemana kok hening. Tapi hening dan aman bagus sih. Cuman saya ikut berbela sungkawa kepada ustadz Maher yang dipenjara sampai meninggal. Ataupun ketabahan ahmad dani dan gus nur.

yea aina

Pak @JM. Sepulang menjalankan paragraf IV, eh.... gak ada sih. Sempat baca komentar bapak. Se7 dengan ide imajinatif, paragraf III. Lebih parahnya, pemikiran-pemikiran: pemahaman agama yang sempit (distigma fanatik) sebagai penghambat kemajuan. Digelorakan oleh orang-orang yang kiranya hanya pas-pasan saja pengetahuan tentang agama, bahkan mungkin agama yang diyakininya sendiri juga. Bagaimana mungkin diagnosa bisa tepat, kalau perumusan masalah saja tidak dipahami? Beda kalau motifnya "persuasif politik", asal dianggap kompetitornya, hampir pasti distigma negatif. Agama bagi masing-masing pemeluknya, otomatis menjadi identitas pribadinya. Kiranya sedikit aneh, ada ajakan "menanggalkan" identitas disaat kita wajib menunjukkan keberpihakan di saat pencoblosan pemilu. Kecuali, bila konstitusi telah menghapus kolom "agama" di KTP kita.

Jimmy Marta

Daripada berupaya mengerahkan tenaga untuk melawan yg disebut penghambat kemajuan itu, sebaiknya tinggalkan saja mereka. Pikiran dan sumberdaya fokus saja dipakai untuk mencapai tujuan. Tujuan yg menjadi tugas pemegang amanat. Mencerdaskan mensejahterakan, melindungi dan menegakkan keadilan. Jika ada yg mengkritik, itu resiko jadi pemimpin. Keniscayaan demokrasi. Tinggal tegakkan hukum bagi yg melanggar. Kita khawatirnya, sebutan sempit pemahaman agama sbg penghambat kemajuan itu salah diagnosa. Kemudian salah obat. Padahal yg salah itu pegadaian. Yang benar itu penjual obat. Kalau sakit berlanjut hubungi dokter. Mari kita jalankan perintah agama. Sholat jumat berjamaah.. Catatan : Paragraf I serius alternatif. Paragraf II itu solutif Paragraf III itu imajinatif.

yea aina

Mengutip yang kemarin ditulis Pak Liang @EVMF: fenomena yang dialami Pak Anang AS, ditulisan kemarin: Brain Fog. Kalau tulisan Abah hari ini, mungkin lebih sesuai dengan komentar Pak @Muin TV: fenomena Brain Frog, meskipun saya yakin hanya salah ketik. Silahkan diterjemahkan masing-masing.

Al Fazza Artha

Bagi NU memaafkan buzzer itu bagian dari rahmatan lil alamin, tapi tidak bagi sesama muslim yg d anggap menghinanya. Toh si Ning ini ga d hina hanya d bercandain sama si Eko. Percaya aja saya mah ... NU kagak bakalan bawa kasus ini ke ranah hukum kec yg melakukan orang mantan FPI (mungkin). Terlalu sering Eko ini menghina Islam, dan terlalu sering pula orang NU bilang "Islam rahmatan lil alamin". *pengen ngunyah sirih saya rasanya. 

didik sudjarwo

Kok saiya ga yakin kalau abah DI ga tertarik dgn surga. Lha wong dgn jabatan (Pres atau Menteri) aja tertarik. Ngapunten.

Kang Sabarikhlas

Hah, is it true?...saya pilih aura Kasih!... Lho anu maksudnya, bisa punya Aura di.Kasihani orang biar saya dapat pinjaman uang tanpa bunga... duh, komen disini sulit dihapus saya jadi kayak orang goblik! anu, mulai besok saya komen lewat grup WA aja... saya kan ndak goblik amat, kan cuma sangat...

ispri yoto

Kata pak agus mustofa. Kenikmatan surga itu hanya perumpamaan. Karena tidak ada seorang pun yg dari sana. Dan tidak ada kata yg bisa duiskripsikan. Macam menjelaskan musik yg indah pada orang tuna rungu. Atau indahnya pelangi kepada tuna netra sejak lahir. Memang fitrah pria normal pasti tertarik pada "itu".Seumpama penghuni disini disuruh memilih apapun yg diinginkan. Anggap saja sudah tidak ada norma atau halal haram. Apapun boleh. Hayo sampeyan milih opo????

Alon Masz Eh

Alkisah ada org jago ngomong, jago nongkrong, jago ngopi, jago arisan, wawasan youtube nya seabrek, semua2 dibawa logika dan selalu "jangan bawa2 agama, paling benci kalo ngomong agama". Lelaki itu nongkrong di warung kopi, di saku tersimpan uang untuk spp anaknya dan uang buat beli gincu istrinya, rencana bayar besok pagi... Datanglah gadis molek bak bidadari poles make up yg upgrade bekas panunya, merayu beli dagangan krn dia sales. Sejuta rayu, sejuta jurus, sejuta rupiah lepas buat beli rokok elektrik itu. Eh, ternyata benar puncak kenikmatan lelaki di wanita. Di lain tempat, wanita yg pulang arisan tiba2 mendapati suaminya terpeleset duit recehan di teras rumah, suaminya harus periksa IGD. Semua uang suami sudah terlanjur untuk bayar gelang dan kalung emas, baru, untuk istri yang bling2. Diagnosa dokter harus opname, DP kamar harus dibayar. Suami bilang "sayang aku kan? Jual gelang emasmu saja untuk bayar DP". Istri marah2, minta pulang paksa, diputuskan pijet ke dukun beranak saja. Benarlah puncak kenikmatan istri di perhiasan. Memang tidak semua seperti itu atau se ekstrim itu, namun filosofinya... Kecenderungannya...sekecil dan selemah apapun kecenderungannya, Sama seperti apa yg dipelajari di ilmu agama. Bagi yang tak alergi dan tak mengingkari logika dengan logika... 

ulul azmi

Pada zaman salah satu kekhaliffan Islam, tersebutlah seseorang yang pandai memainkan pisau. Mungkin, kalau sekarang, orang ini berada dalam sebuah group sirkus, namun waktu itu kegiatan orang ini bersifat privat. Sebuah pisau dilemparkannya ke sebuah tonggak atau pohon, tertancap kuat. Pisau berikutnya dilemparkan ke gagang pisau yang tertancap ditonggak tadi, bidikannya sangat tepat dan pisau kedua tertancap lagi dengan kuat. Begitulah seterusnya sampai puluhan pisau tersusun dalam sebuah permainan ketangkasannya. Orang ini sangat dikagumi dan ditonton oleh publik. Rasa bangga bersarang di dada pemain ketangkasan pisau ini sehingga dia mengutus seseorang ke sultan utk memperlihatkan kecakapannya. Pada hari yang ditentukan, Sultan berkenan menontonnya bersama publik. Mulailah orang ini memainkan pisaunya sampai pisau terakhir, sempurna! Lalu Sultan berkata, "inikah kegiatan yang menghabiskan hari-harimu? Sungguh, kamu telah menyia-nyiakan hidupmu dan merusak masyarakat untuk meniru perbuatanmu. Sipir dipanggil sultan untuk memenjarakan orang ini. Sekarang ini sebaliknya, seseorang dengan ketangkasan ujarannya dipelihara raja. Saat ujarannya disadari publik sebagai sebuah hujatan, raja lalu keliling negara minta masyarakat memaafkannya. Raja mengajarkan sebuah kesia-siaan. Mudah-mudahan dijauhkan Tuhan kehidupan destruktif ini dari Indonesia, sehingga negara sejahtera dengan GNP $ 20.000 bisa kita capai dalam 10 tahun. 

Pryadi Satriana

Akan lebih baik dan sangat saya hargai jika Anda secara deskriptif menunjukkan bahwa saya "membahayakan persatuan bangsa". Sebagai seorang guru yg tahu adab dan sopan santun mestinya Anda tidak asal tuduh seperti itu. Yg saya tulis di Disway saya dukung dg data dan referensi, Anda cukup terpelajar kan utk memberikan argumen dan referensi jika tidak sependapat dg yg saya kemukakan? Melalui 'forum' Disway ini saya berusaha membudayakan utk berpikir kritis dan bertanggung jawab, tidak sekadar ikut-ikutan. Saya jg memulai dg diri saya sendiri. Saya mempertanggungjawabkan semua yg saya sampaikan. Kalau Anda tidak paham atau tidak mengerti dan membuat Anda merasa kurang nyaman, silakan minta klarifikasi dari saya. Demikian & terima kasih atas perhatiannya. Salam. Rahayu.

ari widodo

paragraf pertama, kedua ketiga bagus, rasional dan pakai akal sehat, dua paragraf terakhir bersifat tendensius bahkan berperilaku seperti orang yang dia judge (eko kuntadhi) serta baper dengan men judge orang lain (pak Pry) yang memakai cara yang tidak dilakukan oleh eko kuntadi yaitu tabayyun terlebih dahulu, sungguh disayangkan bung LBS mengeluarkan statement yang ekstrim yang bagaikan seorang ekstrimis yang anti liberal, salam rahayu dan sehat selalu.

Lukman bin Saleh

Beragama itu. Mau jd liberal silahkan. Mau jd sekuler silahkan. Mau jadi salafi ayo. Mau jd tradisional monggo. Itu adalah pilihan. Sesuai dg karakter masing2. Tdk ada masalah. Tp pilihan2 itu akan jadi masalah bila sudah terlalu ekstrim. Menganggap diri paling benar. Kemudian menyalah2kan orang lain. Memojokkan orang lain. Menyerang orang lain. Dan inilah salah satu contoh ekstrimis itu. Ekstrimis liberal yg membahayakan persatuan bangsa: Eko Khuntadi. Ada lagi yg lain. Yg anda sudah tau: Pak Pry...

thamrindahlan

masinis kereta memberi sinyal / berhenti di Tegalega sudah biasa / Selalu ada jalan terkenal / tidak diduga atau rekayasa /

Jejen Jaenudin

Aneh juga memang. Al-Quran tidak menjelaskan dgn rinci apa yg akan didapatkan perempuan di surga. Betul2 terkesan seperti tidak relevan membicarakan balasan bagi wanita di surga. Pun di dalam hadits. Ada beberapa tapi tidak spesfik. Tidak detail. Sedangkan buat laki2 begitu gamlang, begitu rinci. Penuh pilihan. Glamor pokoknya. Dalam konteks ini, kalau ada yg bertanya: kok wahyu ini begitu Arab? Arab pun Arab jadul. Bukan Arab pangeran MBS yg progresif. Sepertinya pertanyaan seperti itu masuk akal. Akal orang2 seperti MBS.

Sasti Ramedeni

Beberapa hari ini di berita ada beberapa orang terpleset dan akhirnya meminta maaf. Apa ndak lebih baik berhati-hati agar tak perlu meminta maaf. Sudah segini saja, takut ikut terpeleset.

Liam Then

Gegara baca dan berbalas komentar kemaren. Saya sampai di buat menggogle surga. Apa-apa yang menarik rasa ingin tau saya , semuanya saya google. Memang enak sekali jaman sekarang. Dibanding jaman dulu pra internet. Mau tau apa-apa harus mencari buku,pinjam teman belum tentu ada, beli juga belum tentu bisa. Yang buat saya menggoogle adalah rasa ingin tau saya, kepikiran soalnya, apakah disurga ada buang air kecil atau besar. Ah ketemu, ada 7 hal yang rupanya ngga ada di surga. Tapi penemuan paling berkesan dari kegiatan menggoogle semalam ada di artikel sebuah harian, R namanya. Terbaca di pintasan artikel yang di munculkan oleh Google. Tuhan tertawa. Wah...langsung saya klik. Saya baca. Isi artikel tentang ucapan hamba Tuhan, yang dalam upayanya keluar dari neraka. Membuat banyak permintaan kepada Tuhan. Yang akhirnya ada ucapannya yang membuat Tuhan tertawa. Ah ,saya senang. Tuhan tertawa. Saya artikan Tuhan punya rasa humor. Gus Dur disana tentu akan baik-baik saja. Amin.

Robban Batang

Ruh tak mengenal gender. Penggambaran kenikmatan bidadari karena yang menerima Wahyu langsung adalah nabi yang seorang pria. Kenikmatan surga pada dasarnya tak terjangkau oleh akal.Tak pernah terbersit oleh perasaan. Dan kenikmatan tertingginya adalah melihat wajah Sang Pencipta yang Maha Cantik(Jamaliyah) sekaligus Maha Gagah (Jalaliyah) .

Liam Then

Dulu saya pernah komen , tentang pengalaman surgawi. Ini rasanya masih relevan untuk diulangi. Apalagi setelah baca Bang Robban menyentil tentang organsme. Di Surga seperti apa rasanya? Pasti semua orang pernah bertanya-tanya tentang hal ini. Begitupun saya. Dulu saya sempat membaca di sebuah buku. Seorang murid bertanya kepada seorang Lama. Lama itu panggilan pendeta aliran Buddha di Tibet. Pertanyaannya tentang enlightment , yang berhubungan dengan Nirvana. Yang juga di asosiasikan dengan surga. Rasanya englightmen, nirvana, seperti apa? Sang Lama menjawab. "Bayangkan sekejap situasi sesaat setelah anda bersin, atau sekejap situasi dimana anda mengalami organsme. Seperti itulah rasanya. Tapi tidak hanya sekejap. Melainkan selamanya. Permanen. Wah..wah...wah....... Mantabnya....langsung begitu reaksi dibenak saya.

Robban Batang

Kenikmatan fisik orgasme pada saat ejakulasi masih bisa terlampaui oleh kenikmatan Ruhani. Misal kenikmatan yang dialami oleh seorang ilmuwan ketika menemukan teori baru. Atau kenikmatan seorang sufi ketika trance karena tenggelam dalam suluk. Penggambaran kenikmatan surga menyesuaikan tingkat kecerdasan dan kecondongan orientasi syahwatnya.

Liam Then

Sekitaran 20-an tahun lalu, saya pernah bermimpi, sampai sekarang masih saya ingat. Saya berada di tepi danau,berdiri,sendiri. Langit,udara, seperti bercahaya lembut keemasan. Riak tenang permukaan danau pun ikut memantulkan pendar lembut cahaya keemasan. Langit,udara,riak permukaan danau, seperti lukisan hidup. Bergerak lembut. Saya terpaku, kemudian tiba-tiba ada ikan besar melompat keluar dari permukaan danau. Sisiknya pun berpendar cahaya emas. Butiran kecil air danau yang terbawa ke udara ,seperti melengkapi keindahan yang saya lihat. Kemudian saya terbangun. Sejenak saya termangu, apakah Surga seperti itu? 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway.id

Komentar Anda