Sang Begawan Media

Anang Famred

Anang Akhmad Saifuddin, Ketua DPRD Lumajang. (FOTO: FaktualNews.co/Efendi Murdiono)

COWASJP.COM – "JADI mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPRD?" tanya saya.

"Jadi, Abah," jawabnya.

"Kan Pak Bupati Lumajang ingin sampeyan tetap ketua DPRD..."

"Saya tetap minta mundur."

"Semua fraksi kan juga tidak setuju sampeyan mundur...."

"Saya tetap mundur. Ini memalukan. Ketua DPRD kok tidak hafal Pancasila," jawabnya.

Itulah Anang Akhmad Saifuddin, ketua DPRD Kabupaten Lumajang. Dari PKB. Umur 43 tahun. Anaknya tiga orang. Yang tertua baru kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah. "Saya kawin telat sekali. Umur 34 baru kawin," katanya.

Tidak hafal Pancasila?

Sebenarnya ia hafal. Keadaan sesaat itu yang membuat ia blank, kehilangan memori.

Anang orang yang apa adanya. Tidak pernah menutup diri. Sikapnya terbuka. Tidak ada rombongan demo yang ia tolak. Pun hari itu. DPRD Lumajang  didatangi pendemo kenaikan harga BBM. 

Rombongan pendemo pertama dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Berlangsung sampai tengah hari. Pukul 11.30 baru bubar. 

Anang lantas salat duhur. Lalu istirahat di kursi. Tertidur. Masih ada waktu. Demo berikutnya baru jam 14.00. Dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ketika tidurnya belum lelap, Anang dibangunkan. Rombongan HMI sudah tiba. Mereka datang 1,5 jam lebih cepat dari rencana. Anang langsung bangkit dari kursi. Ia menemui pendemo. Belum sempat makan siang.

Rombongan HMI ini sekitar 25 orang. Juga demo soal kenaikan harga BBM. Anang minta mereka masuk ruang sidang pleno DPRD. Pimpinan demo ia minta duduk di kursi pimpinan. Bersebelahan dengan Anang dan para wakil ketua.

Saat itulah pendemo mulai berteriak-teriak. Kenaikan harga BBM ini tidak sesuai dengan Pancasila. Mereka lantas meminta para pimpinan DPRD mengucapkan teks Pancasila. "Paling-paling para pimpinan ini tidak hafal," teriak mereka.

Anang pun berdiri. Mengucapkan teks Pancasila. Urutan pertama benar. Pun sampai butir ketiga. Benar semua. Ketika masuk butir keempat teks yang diucapkan Anang tidak tepat. Pendemo teriak-teriak: salah, salah, salah.

Gaduh.

Itu di luar perkiraan Anang. 

"Waktu diminta mengucapkan Pancasila saya pede saja. Saya langsung berdiri. Gak masalah. Masak Pancasila tidak hafal," ujar Anang kepada saya kemarin. "Ternyata tiba-tiba saya tidak hafal bunyi butir keempat. Imun saya lagi turun," katanya. 

"Ya sudah. Saya harus mundur. Saya ini kan sering ceramah tentang Pancasila, NKRI, UUD 45, dan kebangsaan. Kan memalukan. Tidak hafal Pancasila," katanya.

anang-nyar1.jpgDESAIN: pedomanindonesia.com.

Sebenarnya saya sendiri tidak setuju Anang mengundurkan diri. Tapi karena Anang ingin konsisten dengan sikapnya itu saya pun berubah jadi bangga padanya. "Saya ini kader NU, kader PKB, Ketua DPRD. Saya harus menjaga nama baik semua itu. Tidak hafal Pancasila adalah memalukan," katanya.

Sebenarnya tidak hanya Anang yang tidak hafal. Pengucapan para wakil ketua juga salah. "Hanya wakil ketua yang dari PDI-Perjuangan yang hafal sempurna," ujar Anang.

PKB mendapat jatah ketua karena memiliki kursi terbanyak: 10 kursi. Dari 50 kursi DPRD Lumajang. PDI-Perjuangan, juara dua, punya 9 kursi.

Anang baru sekali ini menjadi anggota DPRD. Apakah ia mendapat suara terbanyak sehingga bisa menjadi ketua DPRD? 

"Tidak. Perolehan suara saya hanya lumayan. Saya jadi ketua karena saya ini Ketua PKB Lumajang," katanya.

Anang bukan baru kali ini menerima pendemo. "Semua demo saya terima. Saya dengarkan aspirasi mereka. Saya ajak masuk ruang sidang. Biar mereka juga tahu dalaman DPRD itu seperti apa," katanya.

Apakah Anda mencurigai pendemo HMI itu sengaja ingin menjatuhkan Anda karena Anda PKB?

"Sama sekali tidak. Meski NU saya itu dekat dengan HMI dan Muhammadiyah," katanya. "Saya sering diundang HMI. Dan saya selalu datang," tambahnya.

Lantas apa motif mereka?

“Biasa saja. Demo ya begitu. Mereka kan tahu pejabat publik biasanya tidak hafal Pancasila," ujar Anang. “Kali ini saya yang kena," ujarnya enteng.

Anang tahu itu karena ia sendiri tukang demo. Di masa mudanya. Ia adalah aktivis Famred. Itulah kelompok demo yang terkenal di masa reformasi 1998. Di Jakarta. Famred singkatan dari Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi. 

Famred adalah kelompok penting yang melahirkan reformasi, jatuhnya Pak Harto dan berakhirnya Orde Baru.

Waktu itu Anang berstatus mahasiswa universitas swasta di Jalan Kramat Raya. Setelah reformasi ia pindah ke Yogyakarta. Ingin melanjutkan kuliah. Tidak berhasil. Ayahnya, pegawai rendahan di KUA di Senduro, Lumajang, meninggal. Anang harus bisa hidup sendiri. Ia memutuskan untuk menjadi tukang cukur. Di pinggir jalan. Ia memang pandai mencukur. Dulu. Ketika menjadi santri di pondok pesantren Nurul Jadid, Kraksaan, Probolinggo. 

Di kehidupan pondok cukur mandiri itu biasa. Santri saling mencukur rambut temannya. Anang termasuk yang pandai mencukur. Disenangi banyak santri. Cukurannya baik. Dan cepat. 

Di Yogyakarta Anang juga pernah menjadi buruh bangunan. Tukang cukur merangkap buruh bangunan. Yang penting ia bisa makan dan halal.

Dari Yogyakarta ia pindah ke Surabaya. Tinggal bersama teman di belakang kampus IAIN Sunan Ampel. Ia jadi cleaning service. Kerja serabutan. Sesekali menulis artikel untuk media. Zaman itu menulis di media mendapat honorarium. 

Anang akhirnya pulang ke Lumajang. Ke desa Senduro. Ibunya mulai tua. Ketika umur Anang sudah 34 tahun ia  menyerah kepada sang ibu: minta dicarikan istri. Siapa saja. Asal pilihan ibu. 

Saat kawin Anang belum punya pekerjaan tetap. Sambil menemani sang ibu ia mengurus PKB tingkat kecamatan. Lalu jadi pengurus tingkat kabupaten. Akhirnya jadi ketua cabang. Ikut nyaleg. Berhasil.

Meski perjuangannya dari bawah Anang sama sekali tidak merasa kehilangan ketika minta berhenti sebagai ketua DPRD.

Demikian juga ibunda dan istrinya. "Ibu dan istri setuju saya berhenti dari jabatan ketua DPRD," katanya.

Berarti Anang tidak akan punya kendaraan dinas lagi. Itu juga tidak apa-apa. Selama ini ia punya mobil. Sederhana. Suzuki Ertiga. 

Siapa yang mengharuskan hafal Pancasila itu? Bukankah cukup mengerti isinya —ketuhanan, kebangsaan, persatuan, musyawarah, keadilan? 

Bukankah Bung Karno, si penggali Pancasila mengatakan Pancasila itu bisa diringkas menjadi Trisila? Lalu diringkas lagi menjadi Ekasila, yakni Gotong Royong? 

Penting mana hafal Pancasila di mulut tapi bertolak belakang di perbuatannya? Dibanding sebaliknya? Bukankah yang lebih penting menjalankannya? Untuk apa hafal ndakik-ndakik tapi hanya di lahirnya saja?

Bagi Anang dua-duanya penting. Kelihatannya.

Bambang Sulistomo bisa mewakili semua perasaan itu. Anak Bung Tomo ini kirim tanggapan ke Disway.

"Kita terharu sekaligus bangga dengan wakil rakyat satu ini. Jujur. Tidak munafik," kata Bambang. "Bandingkan dengan para pemimpin yang lebih hafal dan lebih keras teriak Pancasila tapi penuh dengan kemunafikan dalam kebijakan dan tindakan mereka".

Tapi Anang tidak mau dibanding-bandingkan. Juga tidak mau ditahan-tahan. Ia tetap minta berhenti. Ia aktivis demo 98. Ia mau misi reformasi dijalankan sepenuhnya.

Anang tidak hanya telat kawin. Ia juga telat dalam ikut menikmati hasil perjuangan reformasinya. Nikmatnya pun hanya sesaat. Kenikmatan itu ia lepaskan begitu saja. (*)

***

Siapa Membunuh Putri (12)

Kenapa Disekap

Oleh: Hasan Aspahani

FERDY datang terlambat ke kantor, hampir dua jam. Saya paling tak bisa menoleransi ketakdisiplinan. Apalagi ini dilakukan Ferdy, wartawan baru yang sangat kuharapkan menjadi tulang punggung liputan Dinamika Kota. Ferdy bilang berita sudah dia cicil ketikannya di ponsel. Saya tak percaya orang bisa mengetik dengan baik di gawai sekecil itu. Nyatanya ia bisa. Hanya terlambat belasan menit dari deadline menyerahkan berita, dia sudah setor berita. Satu berita utama dan dua sisi lain yang menarik. Tentang kondisi hotel tempat pembantu korban. Ia juga menulis sedikit profil pembantu itu.  

Namanya Runi. Orang Bima. Ferdy wawancara kawan Runi yang menengoknya di tahanan polisi. Orang satu kampung. Runi berpacaran dengan Awang. Lelaki Melayu yang kerja serabutan, sesekali kerja sebagai sekuriti atau bawa taksi gelap. Sekuriti di komplek perumahan yang jadi TKP kenal dengan Awang.  

Awang sering datang menemui Runi. Awang menghilang sejak Putri menghilang. Saya mengendus perkembangan cerita yang menarik dari dua sosok ini. Profil Awang dan kondisi perumahan yang jadi TKP bisa untuk jadi bahan liputan berikutnya. Saya mencatatnya di buku catatan saya, bahan buat rapat redaksi. 

Selesai mengetik berita Ferdy pamit pergi buru-buru. Ia bilang akan kembali lagi selepas Isya, masih ada berita yang mau dia ketik, tapi sementara itu ada urusan yang ingin ia bereskan katanya. Ada yang mau dia bicarakan dengan saya. Ada apa? Kecemasan saya belum boleh hilang rupanya. Ingin saya menahan Ferdy dan bicara saat itu juga, tapi kerja menyiapkan koran sedang tak bisa diinterupsi oleh apapun.  Cetak lima belas ribu besok adalah pertaruhan besar! 

Kerja pracetak malam itu akhirnya beres juga. Kami bekerja dengan bersemangat. Capek yang tak terasa selama berjam-jam kerja itu baru terasa ketika tak ada siapa-siapa lagi di kantor. Aku menunggu Ferdy. Headline kami hari itu Kenapa Anak Putri Disekap di Hotel, dengan subjudul tetap Siapa Membunuh Putri.   

Ferdy datang dengan cemas. Dia tergagap dan gugup ketika hendak mulai bicara. Lelah dan pucat.  ”Udah makan belum?” tanyaku bercanda sebenanrya. Tapi tampaknya dia memang lapar. Ada satu bungkus nasi goreng tadi kubeli, sudah dingin. Aku bagi dua dengannya, kami makan dengan lahap. 

”Maaf, Bang. Saya merepotkan sekali,” kata Ferdy setelah agak tenang. 

Dia bercerita tentang istrinya yang nyaris keguguran. Pendarahan parah tadi pagi. Untung lekas pergi sendiri ke klinik. Ferdy menyusulnya. ”Istriku stres, Bang. Kami kan numpang di rumah keluarga istri saya. Mereka keluarga muslim. Kayaknya mereka tak nyaman dengan saya. Saya ini kan Kristen. Makanya saya terima kasih sekali abang kasih saya tumpangan sementara di rumah abang,” kata Ferdy. 

Aku terdiam sebentar. Membiarkan Ferdy menghabiskan kesedihannya dengan sedikit kegembiraan itu.  ”Istrimu harus dirawat?” akhirnya aku menemukan pertanyaan itu. 

”Harusnya, Bang. Tapi tadi saya tak ada biaya.” 

”Wah, jangan, dong. Opnamelah. Nanti dirawat ya, sampai sembuh. Selamatkan istrimu, selamatkan janin anakmu. Jangan pikirkan biayanya. Nanti kita cari,” kataku. 

Malam itu kepada Ferdy saya juga memberi rumah. Mungkin itu bisa menghiburnya, membantu beban pikirannya yang sedang berat. Bukan rumahku sebenarnya. Bang Ameng tadi pagi singgah ke kantor, ternyata meninggalkan map berisi dokumen pembelian rumah yang dia tawarkan padaku.  Rumah yang dibangun developer teman bisnisnya itu. Meskipun saya sudah menolak. Saya sudah juga beres dengan urusan pembelian rumah di kompleks yang sama dengan skema kredit. Meski harus dengan sedikit akal-akalan orang keuangan. Gaji saya tiga bulan terakhir dibesarkan supaya lolos dalam penilaian bank. Tiga puluh persen dari besaran gaji minimal sama dengan cicilan kredit. Kenapa harus berbohong begitu, tanyaku? ”Karena standar gaji kita memang kecil,” kata manajer keuangan kami.  

Saya hampir membatalkan pengajuan kredit itu. Manajer keuangan kami meyakinkan yang penting saya bisa mencicil tiap bulan.  ”Mas Dur kan dapat tambahan penghasilan dari komisi iklan tiap bulan,” katanya. Saya mulai mencicil uang mukanya.   

Mata Ferdy berair. Ia bercerita tentang rumahnya yang dibakar massa saat kerusuhan panjang Ambon. Satu kompleks perumahan. Rumah yang belum lama ia tempati. Rumah yang juga ia beli dengan kredit.   

”Sementara tinggal di rumahku saja, tak apa, sampai rumah kita selesai,” kataku.   

Dengan headline yang berbeda koran kami hari itu unggul lagi. Laris manis. Jadi rebutan agen dan pengecer. Belum jam 12, koran kami sudah habis. Di mana-mana orang membahas berita kami. Juga di siaran pagi radio lokal.  

Mayat Putri segera diterbangkan ke Palembang, kota kelahirannya. Orang tuanya, terutama ibunya rupanya kemarin bikin jumpa pers di Polda.  Nyaris semua koran selain koran kami memberitakan jumpa pers itu. Kami tak dapat berita itu, karena Ferdy tak datang ke Polresta siang kemarin, saat jumpa pers tersebut. Di depan wartawan ibunya Putri menangis dan membuat pernyataan agar polisi segera menemukan pelakunya.  Suaminya, ayah Putri, yang pernah jadi Kapolda di Palembang itu hanya diam. AKBP Pintor juga muncul di hadapan wartawan. Aku memperhatikan wajah-wajah itu.  

Serangkaian pertanyaan muncul di kepalaku. Kenapa harus ada jumpa pers itu? Apa urgensinya? Tanpa itu pun siapapun pelaku pembunuhan harus ditemukan. Polisi harus menangkap pelakunya dan publik harus merasakan bahwa keadilan ditegakkan, siapapun korban dan pelakunya, apapun motif kejahatan itu. Peti mati jenazah Putri diletakkan di ruang jumpa pers bersama fotonya yang sedang bersanding dengan Pintor. Setelah jumpa pers itu mayat Putri segera dibawa ke Palembang.     

Tak ada yang bertanya soal autopsi. Paling tidak saya tak membaca ada koran yang memuat perihal itu. Polisi umumkan tim khusus di luar bareskrim dibentuk untuk mengusut kasus ini. Kenapa tim khusus? Alasannya agak tak logis. Polisi bilang ini kasus khusus, korbannya istri perwira, direktur kriminal khusus.  ”Kalau diusut oleh tim biasa takut nanti ada kerikuhan,” kata pejabat Humas Polresta.  

Di koran yang mengutip kalimat itu menyebut nama baru. Sepertinya pejabat baru. Saya belum pernah membaca namanya sebelumnya. Polisi, katanya, juga sedang fokus memburu Awang, pacar Runi. Polisi belum menyebut Putri sebagai korban pembunuhan, hanya disebut korban kekerasan.  

Banyak pertanyaan berseliweran di kepalaku terkait perkembangan pembunuhan Putri dan perkembangan terakhir pemberitaan. Hari itu koran kami bisa dikatakan kecolongan bahan dari jumpa pers tapi tetap unggul di pasar karena pemilihan sudut pemberitaan yang berbeda. Banyak hal belum kupahami lagi. Kalau harus mengikuti arah berita kepolisian rasanya tak akan menarik. Polisi ingin publik mengikuti logika mereka. Tapi kenapa. Saya merasa harus menemui seseorang. Saya harus ketemu si sopir presiden, Pak Rinto Sirait.

Ketika aku tiba di rumahnya, bersama Ferdy, Pak Rinto sedang sibuk dengan Jeep CJ 7-nya. Kendaraan produksi lama yang terawat rapi.  Mesinnya masih hebat. ”Sudah mau dibeli sama orang Jakarta, mau dibawa ke Jakarta, nggak saya lepas. Nggak akan saya lepas,” kata Pak Rinto. 

Saya memperkenalkan Ferdy. ”Yang kode beritanya FDY, ya? Kamu rupanya…,” kata Pak Rinto. Dia selalu begitu. Pembaca berita yang jeli, sampai kode berita wartawan dia ingat.

”Coba perhatikan siapa direskrimum sekarang,” kata Pak Rinto. ”Harusnya dia yang tangani kasus Putri. Kenapa harus dibentuk tim khusus? Ini soal persaingan. Juga ada yang mau ditutupi, dan ada skenario yang mau dijalankan,” kata Pak Rinto. Kami duduk di teras rumahnya yang teduh. Dia menyuguhi kami dengan – apalagi kalau bukan – sukun goreng. “Kamu orang Ambon makan sukun goreng nggak?” tanya Pak Rinto pada Ferdy. 

Pak Rinto kemudian bercerita tentang banyak hal. Selalu ada persaingan di dalam organisasi Polri dari mabes sampai polsek. Persaingan antarangkatan di pendidikan, asal kota, antarsuku, sampai persaingan karena kepentingan kelompok.  ”Juga persaingan menguasai atasan,” kata Pak Rinto.

”Maksudnya gimana, Pak?”

”Ya, berebut pegang atasan. Biasa itu, selalu terjadi,” kata Pak Rinto.  Di kepolisian itu mutase tinggi. Tour of duty istilahnya. Kapolres yang baru tergantung pada para perwira lama yang sudah tahu situasi daerah. Ada kepentingan-kepentingan membeking pengusaha atau kepentingan lain, politik misalnya.

”Di sini yang kayak gitu luar biasa persaingannya. Uang remang-remang di sini luar biasa perputarannya. Terutama judi. Juga penyeludupan. Ini Kawasan FTZ katanya, kan? Semua barang boleh masuk kecuali yang dilarang. Nah, siapa yang mengawasi barang yang dilarang itu tidak masuk?” kata Pak Rinto.

”Biaya operasional kepolisian itu tinggi. Apalagi di kota pulau kita ini.  Biaya dari negara tak pernah cukup. Kapolresta harus pandai-pandai mencari dana tambahan. Di situ persaingan muncul. Siapa yang bisa menyetor rutin, dia yang dapat prioritas lebih besar, promosi. Kadang-kadang uang yang tak jelas sumbernya itu malah lebih besar dari biaya resmi. Itu yang bikin saya mundur dari dinas. Kau pahamlah, aku sudah sering cerita sama kau, Dur…” kata Pak Rinto.

”Jadi kira-kira apa hubungannya dengan pembunuhan Putri, Pak?” tanyaku.

”Ah, mancing-mancing kau. Jangan kau tanya aku. Itu tugasmu menjawabnya,” kata Pak Rinto. Kami tertawa.

“Kita ikuti saja ke mana arahnya. Koranmu beda cara membaca arahnya. Aku suka. Menarik. Nanti datang ke sini lagi, kita diskusi lagi. Aku langganan dong, koranmu. Ini saya beli eceran, kehabisan terus. Dapat di loper dimahalin sampai dua kali lipat,” kata Pak Rinto tertawa. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 15 September 2022: Bjorka Shinta

Jhelang Annovasho

Secara sederhana, hacker itu maling. Tapi hacker tidak bisa melakukan kekerasan kepada tuan rumahnya. Yang bisa dilakukan selain mengambil barang, justru adalah merenovasi rumah atau menghancurkannya sampai rata dengan tanah. Sekali lagi tanpa melukai tuan rumahnya. Bjorka adalah tipe hacker yang mencuri isi rumah, adalah data di rumah itu. Data itu aman, mestinya. Ada pagar berlapis, mestinya. Di pagar itu ada terowongan besar tempat orang2 masuk, membaca, mengambil, dan menaruh barang. Orang2 yang punya izin untuk itu. Terowongannya harus ada: koneksi lalu lintas data. Tanpa itu rumah hanya sekedar bangunan tak berguna. Si hacker bukan orang yang punya izin masuk terowongan itu. Tapi dia masuk, membaca, dan mengambil data di sana, dengan berbagai teknik. Atau jangan2 dia orang yg juga punya izin. Atau jangan2 dia orang yang punya pengaruh bagi orang yg punya izin?

Ibnu Shonnan

Semua penasaran dengan Bjorka. Siapa dan apa motifnya? Ternyata sulit melacaknya. Hingga Abahpun hari ini hanya mampu menjadikan judul tulisannya. Yang isinya menceritakan sosok Shinta.

omami clan

Hari ini adalah seri ke sebelas cerbungnya Abah dari Hasan Aspahani. Entah mengapa cerbung ini selalu terasa lebih menarik buat saya, ketimbang tulisan Abah yang di muat bersamaan. Saya tidak sedang membanding-membandingke atau mempolarisasi hal ini. Mungkin saya pribadi terlalu bosan dengan kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini yang rasanya hampir semua peristiwa atau kejadiannya mengulang peristiwa masa lalu, seperti kata seseorang bahwa mungkin sejarah belum tentu berulang, tapi peristiwa yang terjadi sekarang ini mirip bahkan identik dengan peristiwa dimasa lalu. Saya tidak bermaksud membuat kubu atau tim penyuka akut cerbung versus tulisan Abah, hanya sekedar menyatakan hak prerogatif saya yang masih bisa saya miliki sepenuhnya, setidaknya hak menyatakan pendapat dalam komentar disway yang belum di pangkas Abah.

Tejo 'jojok' Prabowo

kita sama-sama ndak tau, data² yg dimiliki dan sudah diretas si BEJO BJORKA data apa saja, bisa jadi baru sak 'incrit' yang dikeluarkannya, kalau tujuannya si BEJO memancing respon ?, dah dapet banget dia... pak Mahfud MD bukan tipe orang yang mudah terpancing respon-nya, dia menyebut bocornya NIK bukan hal penting, ngomong² polisi siber Indonesia yang biasanya hebat itu pada kemana ya ?, ada yg bilang pula si BEJO BJORKA dimunculkan krn untuk mengalihkan perhatian kasus SAMBO, jangan² si BEJO BJORKA anak buah SAMBO ?, wkwkwkwk,

Jimmy Marta

Main game, masuk olahraga?. Ada yg terasa gk cocok dg kata 'raga' itu. Olahragawan itu identik pisik terlatih, bugar, hidup disiplin, dst. Yg main game? Bgmn kalau dibuat kategori olah otak, olah tangkas atau olah minat atau olah virtual saja..

am dki9

dalam dunia esport, indonesia sepertinya bisa berbuat banyak, karena ga perlu badan tinggi, otot kuat, tulang baja, napas panjang. esport masuk cabang olahraga karena punya 3 unsur "ketangkasan, kompetitif, sportifitas". cuma ya masih ga sreg saja dengan efek negatif nya seperti kecanduan, kurang sosialisasi. ada baiknya cabang yang masuk kategori olahraga bisa berhadapan langsung secara fisik. yang virtual cukup diistilahkan E-games.

Jo Neka

Start up,itu mirip dengkul saya kelihatan kuat tetapi kompong.Selamat datang mas Kliwon.Kemana wae ceunah.

Impostor Among Us

Generaai Z ini bisa dibilang anak game online. Media ngobrol mereka bukan di grup WA, tapi Discord. Download game gratis, tapi item tambahan berbayar, maka uang jajan dipake buat beli item karakter. Besarnya angka pengguna game anak negeri sampai 120 juta itu, tidak sebanding dengan yang menjadi game developernya. Lagi-lagi kebiasaan di sini dominan konsumen, bukan produsen. Tips bidang usaha, selama dunia masih ada umurnya maka usaha game tidak ada matinya.

fajar rokhman

Sebagai seorang hacker. Bjorka terlalu panasan. Buru2. Kurang elite dan elegan. Hacker itu dikenal, tapi tidak mengenalkan diri. Hacker itu mengundang tapi tak bisa diundang. Hacker itu bicara tapi tidak menjawab pertanyaan.

EVMF

Berdasarkan data "The World's Hacking Traffic" 7 negara ini sangat mendominasi : China, USA, Russia, Turkey, Taiwan, Brazil, Romania. Bahkan China memiliki beberapa satuan pasukan khusus yang terdiri dari para hackers : 1. 軍隊專業網絡戰力量 Pasukan perang jaringan militer khusus - Unit militer yang berspesialisasi dalam serangan dan pertahanan jaringan. 2. 授權力量 PLA - pasukan resmi - spesialis perang jaringan di Kementerian Keamanan Negara (MSS) dan Kementerian Keamanan Publik (MPS). 3. 民間力量 Pasukan non-pemerintah - kelompok sipil dan semi-sipil yang secara spontan terlibat dalam serangan dan pertahanan jaringan. Juga, Israel memilki satuan pasukan elit : Israeli Elite Force (iEF), didirikan 5 April 2013, terdiri dari 17 hackers (pasukan elit) : mitziyahu ; Buddhax ; amenefus ; bl4z3 ; r3str1ct3d ; Mute ; Cyb3rS74r ; Oshrio ; Aph3x ; xxtr ; Kavim ; md5c ; Cpt|Sparrow ; gal- ; gr1sha ; nyxman ; TheGodOfHell.

 

Rihlatul Ulfa

Walaupun menurut Abah, apa yg Bjorka bocorkan itu sesuatu hal yg biasa. rasa-rasanya beda dengan pak Presiden Jokowi yang sampai buat tim khusus. apa Abah lupa Bjorka juga sebelumnya membobol rangkaian surat rahasia untuk Presiden Jokowi termasuk dari badan intelijen negara (BIN). terdiri dari 679.180 dengan kapasitas 40 MB (compressed) dan 189 MB (uncompressed). walaupun juru bicara BIN mengatakan itu hoax, rasa-rasanya apa yg Presiden lakukan sekarang akibat Bjorka dinilai serius.

Kang Sabarikhlas

Hacking?..lho ndak sombong, jaman hp saya nokiem, symbian saya oprek² biar jadi hacker, saya root sampai ke akar²nya hasilnya hp mati pletes alias rusak!. Kemudian ada anak smp. Putera Aji di Tanggerang belajar internet otodidak bisa mbobol NASA, saya ndak mau kalah pingin mbobol gudang uang. Langsung saja cari gudang uang di Jepang, saya utak-atik lalu klik..eh muncul gambar Miyabi banyak...kaget sebab istri bertanya saya sedang mengapa, hp saya matikan dan jawab "anu Dik, sedang cari utangan buat modal kerja, doakan berhasil ya"... Lalu pindah sasaran dinegara melayu, langsung klik, muncul foto ariel ndak pake baju sama ceweknya trus ada tulisan "seronok nih, 3x eksen"... Ganti yang lokal saja, dekat, cuma selemparan batu diangkut drone. Saya ketik abahdotaididotcom...lho kok? muncul gambar aura kasih? ini pasti gegara saya sering baca 5i dan 7i.. Terinpirasi aura kasih mencari jodoh, saya jadi 'move on'.. anu, artinya saya pingin belajar dulu ke Pak Mirza juga Pak Pryadi sebab mau belajar ke Abah tapi IT.nya sering eror, lihatlah judul Bjorka ceritanya Shinta. Abah mungkin wong jadul tapi tabungannya banyak... duh,...jadi ingat pokok masalah, kapan punya celengan.

Tunk BM

dengan data yg dimiliki, nggak susah bikin KTP dan KK palsu dg foto palsu, pa lg punya no hp nama ibu (keyword dasar Bank). dg ktp kk tsb bisa ke operator ngaku nomer simcard hilang. nomer pengganti bisa untuk menelusuri imel, akun mbanking, nampung sms OTP email dan m-bank. seperti kasus korban pembobolan bank wartawan Ilham Bintang, berawal dari kebocoran data pribadi

Kliwon

Shinta Witoyo Dhanuwardoyo. Pak DI mungkin kelupaan ngasih foto tokoh yg lagi di bahas. Begitu browsing, ternyata bliyau emang cantiq nan enerjik. Begitu elegan menggoyang iman. Ga nyangka usia udah 52 tahun. Kirain masih seumuran sama mantan pacarku yang usia 27 thn itu. Udah gitu, banyak foto² bliyau dengan para tokoh petinggi negeri. Mulai foto sama pak Jokowi sampe foto sama Cak MarkJuki si pendiri pesbuk. Ternyata foto²nya ga kalah hebat dengan koleksi foto² pribadiku. Mulai fotoku sama mbah Urip juru kunci gunung Kawi, sampe fotoku bareng Cak Pur, cantriknya Gus Samsudin.

Xabre Red

Bjorka : awalnya dipuja puja, akhirnya dinyinyir suruhan Rambo Cor0na : awalnya menakut2i, begitu diseriusi dinyinyir bisnis semata

Er Gham

Kalo industri perbankan, mereka rutin harus melakukan pen test atau penetration test. Jadi sistem atau aplikasi macam2x di suatu bank, sengaja diserang, sengaja dilakukan penetrasi. Apakah aman atau ada kekurangan dalam sistem keamanannya. Kalo gak salah 3 bulan sekali. Termasuk aplikasi baru, harus diserang habis habisan. Bank bisa sewa hacker dari luar, semacam perusahaan jasa keamanan IT. Atau dia punya pegawai sendiri yang tugasnya memang membobol sistem keamanan. Saya tidak tahu apakah industri atau instansi pemerintah punya kebijakan pen test ini. 

yea aina

NIK Abah Dis, demikian halnya NIK kita semua, sudah bukan menjadi rahasia prbadi dan negara. NIK di sini sudah menjadi data yang diperjual belikan. Apa gunanya NIK? Eh... jangan salah Bah, kedepan NIK menjadi NPWP (Nomer Pokok WAJIB PAJAK). Dari situ, anak buah Bu Menkeu akan tahu, berapa besarnya tabungan orang tua yang kabarnya memang banyak tabungannya itu, meskipun dirahasiakan kwkwkw

suhartono suhartono

Kalo ndak mau berubah Mas Lukman yang masuk botol aja !

Mirza Mirwan

Perkiraan saya salah besar. Pagi tadi saya kira CHD hari ini akan booming komentar. Tapi ternyata saya makan siang baru 60 komentar. Saya sendiri termasuk orang yang tidak menganggap Bjorka -- saya yakin WNI -- hebat. Data-data yang 'dicuri' Bjorka tak bisa dikatakan 'wow'. Seperti halnya Pak DI saya juga meragukannya. Data tentang Erick Thohir, misalnya. Bjorka bilang hanya lulusan SMA. Itu jelas ngawur. Saya tahu riwayat pendidikan Erick Thohir sejauh jauh sebelum menjadi Menteri BUMN. Ia memperoleh "bachelor" (setara S-1) dari GUCL (Glendale University College of Law) dan "master" (S-2) dari National University, San Diego. Kedua universitas itu berada di California, AS. Tetapi, memang, harus kita akui bahwa ada berkahnya dari kasus Bjorka ini. Pemerintah harus menyiapkan langkah antisipasi, jangan sampai rahasia negara dibobol hacker yang bekerja untuk negara tertentu. 

Pryadi Satriana

Mengkritisi yang kita baca ... Pembaca yg kritis & banyak baca tahu bahwa penulis bisa saja: 1. Uninformed, tidak tahu informasi (yang benar), biasanya krn baca 'itu2 aja', tidak baca 'lintas bidang', tidak dg pendekatan multidisiplin dg memperhatikan konteks sejarah; 2. Misinformed, menerima penjelasan yg salah/keliru, bisa krn kurangnya wawasan, kurang baca, dan kurang memahami sejarah. Yg 'ngeyel' menggunakan cadar itu menjalankan syariat Islam ndhak tahu, cadar sudah dipakai lebih dari 3800 th yang lalu. Yakub wafat th 1859SM. Waktu masih hidup, Yakub bekerja selama 7 th pada pamannya - Laban - utk bisa memperisteri anaknya yg bernama Rachel, tapi kemudian Yakub dinikahkan dg Leah. Yakub ndhak tahu krn Leah memakai cadar! Yg mengharamkan musik jg ndhak tahu bahwa Daud memuji Tuhan dg menggunakan alat musik. Kumpulan puji-pujian itu disebut Mazmur (Zabur). Yg ndhak tahu mengatakan Kitab Zabur 'diturunkan' pada (Nabi) Daud; 3. Inconsistent, ndhak konsisten. Ustaz Somad bilang bahwa Daud disebut Nabi dalam Al-Qur'an, tapi tidak dalam Taurat, padahal Al-Qur'an mengajarkan untuk mengimani Kitab Taurat; 4. Illogical, ndhak logis. Dibilang Ustadz Somad Taurat telah diselewengkan oleh Yahudi. Ini jelas ndhak logis, asal tuduh. Bilang bahwa Taurat sudah tidak asli, padahal Taurat tetap terjaga & jadi pedoman hidup umat Yahudi sampai sekarang. Dalam hukum berlaku: yg mendalilkan wajib membuktikan. Bisakah Somad menunjukkan Taurat yg asli jika yg sekarang itu palsu? Salam. Rahayu.

Muin TV

Awalnya saya merasa "wow" gitu sama Bjorka. Ketika dja meretas data indihome. Tapi, ketika dia mengancam mau membocorkan data presiden RI, saya jadi sedikit berpikir. Lah, memang rahasia apa yang ada pada presiden kita? Jokowi bukanlah Putin. Mantan pimpinan intelejen yg hidupnya penuh rahasia. Dan ditangan Putin, ada ribuan rudal berhulu ledak nuklir. Sedangkan di tangan presiden kita gak rahasia yg harus ditutup-tutupi. Rahasia terbesar Jokowi adalah ini: siapa kira-kira yanv akan mendapat hadiah sepeda berikutnya. Kalau Bjorka bisa membocorkan itu, berarti dia lebih hebat dari pesulap merah.

Agus Suryono

TEKNIS MENULIS ABAH.. Diberi judul Bjorka, tetapi isinya Shinta. Dan juga Shanti. Di komentar ini, saya juga tidak mau membahas Bjorka. Karena saya tidak kenal Bjorka. Meskipun nama Bjorka disebut jutaan kali oleh netizen Indonesia. Memang sebaiknya kita tidak usah menyebut nama Bjorka. Karena nanti dia bisa besar kepala. Sekali lagi, lupakan Bjorka. Gak ada manfaatnya membicarakan Bjorka. @he he.. (Semoga Bjorka tidak baca komen ini). (Jangan bilang-bilang Bjorka, kalau saya mengomentari namanya).

EVMF

Cyber attack oleh hackers sudah lebih jauh dari sekedar membobol/mencuri data rahasia suatu negara, misalnya saja : 1. Hacker Israel pernah melakukan sabotase terhadap program nuklir Iran pada instalasi nuklir di kota Karaj, sekitar 40 km barat ibukota Teheran ; namun berhasil digagalkan oleh Iran. 2. Korea Utara sudah terkenal dengan "virus komputer - ransomware" untuk mendapatkan uang tunai sebagai uang tebusan. Pada umumnya yang diserang adalah perusahaan-perusahaan multinasional di Korea Selatan. Melalui ransomware, mereka mengambil data-data penting perusahaan kemudian diacak (encrypted) sehingga tidak dapat dibaca. Pada tahun 2020 saja jumlah yang berhasil diperoleh dari ransomware tersebut mencapai 2 triliun won atau sebesar 1,8 miliar dolar AS. Upaya Korea Utara dengan ransomware-nya ini tidak terlepas dari sanksi ekonomi dunia. Kim Jong Un pernah mengatakan "with the brave cyberwarriors, we can penetrate any sanction" (dengan pahlawan siber kita akan mampu melawan sangsi ekonomi). Pada tahun 2012, Kim Jong Un telah mendeklarasikan Reconnaissance General Bureau (RGB) Intelligence mesti meningkatkan dan melakukan pelatihan para calon hackers dengan membuat sekolah khusus. 

Jejen Jaenudin

Hukuman untuk hacker, tidak boleh memegang keyboard jenis apapun selama 15 tahun atau lebih. Pernah lihat di film kayak gitu. Hehe. Pernah ada anak Surabaya di Singapore usia SMP. Dia ngehack NUS (National University of Singapore). Langsung dideportasi. Oleh ayanya yang kaya, dia dipindahin sekolahnya ke Australia. Rupanya bakat hacking nya terus meluncur deras di darahnya. Dia hacking lagi, kali ini yang dihacknya Australian National Security. Konon akhirnya anak itu dihukum. Yang saya takutkan, justru Byorka ini adalah anak kecil yang sedang mainin HP ibunya. Tapi karena ibunya terlalu sibuk masak buat nyiapin hajatan tetangganya, akhirnya anak ini main HP nya kebablasan sampai nembus situs-situs punya kemeninfokom. Jadi codingnya dilakukan oleh anak ini dari sebuah HP butut, di kursi kumal di pintu masuk dapur tetangga emaknya. he he

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda