Sang Begawan Media

Bjorka Shinta

Shinta Witoyo Dhanuwardoyo, founder bubu.com dan Morph ESport. (FOTO: akurat.co)

COWASJP.COMAWALNYA saya mau menulis soal peretasan data. Yang lagi ramai itu. Tapi saya tidak tahu banyak dunia itu. Saya ingin menelepon seseorang. Tidak untuk wawancara. Hanya untuk belajar: apa itu hacking. 

Sering sekali saya belajar dulu kepada seseorang sebelum melakukan wawancara. Itu juga yang saya ajarkan kepada wartawan baru. Sejak dulu. Pun sampai sekarang.

Saya pun ingat nama Shinta. Mungkin dia bisa mengajari saya: apa itu hack, siapa mereka, tujuannya ke mana, harus punya keahlian apa. Shinta saya anggap ahli di bidang IT. Sejak dulu.

Ternyata meleset. 

"Maafkan bapak, saya tidak ahli hack, tidak pernah melakukan dan tidak tahu banyak," ujarnyi. "Sekarang saya bergerak di platform start up. Juga di bidang gaming," tambahnyi.

Saya pun mengurungkan niat menulis soal Bjorka. Toh yang ia bocorkan tidak ada yang sangat menarik. Isinya hanya nama, alamat, nomor telepon, dan status vaksinasi para tokoh. Memang ada sedikit yang gawat: nomor NIK. Bagaimana bisa nomor NIK jadi dagangan bebas seperti itu. 

Bjorka tidak menampilkan info tokoh siapa melakukan apa. Tidak seperti Wikileak yang menghebohkan itu.

Kalau toh ada info nakal dari Bjorka, hanya sedikit. Juga belum tentu benar. Misalnya Luhut Pandjaitan ternyata belum pernah booster. Demikian juga Erick Thohir. Tapi saya meragukan info itu. Apa sih sulitnya booster sampai tokoh sentral seperti Luhut tidak melakukannya. Rasanya mustahil.

"Dari bahasa Inggrisnya terlihat Bjorka itu orang Indonesia," ujar Praginanto, mantan redaktur TEMPO yang aktif di medsos. "Bahasa Inggris orang Barat asli tidak seperti itu," ujar mantan wartawan Nikkei Jepang itu.

"Mungkin juga orang dari Eropa Timur. Atau orang kita yang tinggal di Eropa Timur," ujar Praginanto.

Itu terlihat dari emosi Bjorka. Kelihatan sekali ia seperti punya dendam yang berat kepada negara ini. "Kayaknya kakek atau ayahnya pernah jadi korban kekejaman di zaman awal Orde Baru," katanya.

Bocoran dari Bjorka juga tidak baru. Kan sudah sering ada bocoran seperti itu. Termasuk begitu banyak tawaran di bidang keuangan. Kok bisa tahu identitas yang ditawari.

Jadi, ya sudahlah. Level keamanan IT kita memang masih mudah dibobol. Toh nomor telepon, kita bisa ganti. Seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang langsung tidak mau lagi pakai WA. Ia merasa WA-nya dibobol orang.

Tapi NIK harusnya rahasia abadi. Orang kan tidak bisa mengganti NIK. Dan NIK Anda mungkin sudah bukan rahasia lagi. Juga NIK saya. Lantas apa gunanya NIK.

Maka lebih baik ikut Shinta saja: main game. Dulu Anda mengenal Shinta sebagai Shinta bubu.com. Yakni ketika dia masih bergerak di bidang web design. Kini Shinta lebih aktif sebagai investor di start up. Juga jadi penghubung start up dengan venture capital dunia. Dan yang terbaru Shinta jadi pemilik tim ESport terkemuka: Morph.

Berita terakhir: Shinta mengikutkan tim ESport-nyi ke kejuaraan dunia di Riyadh. Belum juara. Tapi bisa memenuhi syarat ikut kejuaraan dunia saja sudah hebat. Tim milik Shinta berakhir di peringkat delapan dunia. "Peringkat delapan saja hadiahnya Rp 1,2 miliar," ujar Shinta.

e-sport2.jpgFOTO: morph.team.

Memiliki tim ESport itu, katanyi, seperti memiliki klub sepak bola di Eropa. Nama tim Shinta, Morph ESport, asli tim Indonesia. Morph artinya berubah. Menjadi anggota tim ESport harus pandai berubah; pandai menyesuaikan diri. "Tim ESport itu harus selalu kompak. Itu kuncinya," katanyi.

Shinta terjun ke dunia game sejak mengetahui data ini: di Indonesia itu yang main game sebanyak 120 juta orang. Dari angka itu, separonya suka membeli permainan itu.

Betapa besar angka itu. Betapa hebat bisnis game dan yang terkait dengan itu.

Maka Shinta –nama lengkapnyi Shinta Dhanuwardoyo– bikin terobosan. Dia membangun tim ESport wanita. Anggotanyi juga lima orang. Semua dari Indonesia. "Dari 120 juta pemain game itu wanitanya 46 persen," katanyi. "Tapi dalam setiap kompetisi, tim wanita selalu dianaktirikan," katanyi. "Hadiah untuk tim wanita biasanya hanya 10 persen hadiah tim laki-kali," tambahnyi.

Shinta pernah mengadakan turnamen game secara offline. Sebelum pandemi. Yang ikut 7.000 orang. Yang menonton secara streaming 1,5 juta orang.

Membangun tim ESport tidak murah. Shinta pilih membeli tim yang sudah jadi. Mirip di dunia sepak bola beneran. Jual beli tim ESport juga biasa. Tim itu punya value tersendiri. Saya pun melihat company profile tim milik Shinta itu. Mirip sekali dengan profile klub olahraga profesional di dunia  nyata.

Tentu anggota tim Morph juga dibayar bulanan. Lebih tinggi dari pemain sepak bola Liga Indonesia. Sering ada kejuaraan antar tim ESport. Tapi masih belum ada liganya.

e-sport.jpgDESAIN GRAFIS: morph.team.

Shinta hanya lahir di Indonesia. Masa kecilnyi di Manila. Orang tuanyi adalah pejabat di Bank Pembangunan Asia –berpusat di Filipina. Dia kuliah di Oregon University dan melanjutkan S2 di Portland University, Oregon juga.

Tentu Shinta tetap menekuni komitmen sebelumnya: membina start up di Indonesia. Dia mendirikan platform startupindonesia.co. Dengan platform itu Shinta lebih menyederhanakan pekerjaan. "Sebelum itu terlalu banyak yang menyerbu telepon, email dan alamat saya. Sekarang semua saja silakan masuk ke platform itu," kata Shinta.

Kebutuhan utama start up kita adalah modal. Mereka memerlukan venture capital. Lewat platform itu Shinta menghubungkan mereka ke venture capital dunia. "Start up kita itu 1.000 lebih. Yang sudah terhubung ke venture capital baru sekitar 200," katanyi.

Shinta sendiri ikut investasi di banyak start up. Sebagian gagal. Tidak bisa berkembang. Shinta rugi banyak. Tapi ada juga yang berhasil. Misalnya Get Well yang bergerak di bidang kesehatan. Juga Together, aplikasi olahraga. Banyak orang ingin yoga, atau boxing, atau apa saja. Lalu cari teman. Cari tempat. Lewat aplikasi Together.

Begitulah. Saya benar-benar tidak jadi menulis tentang Bjorka. Anda pun pasti lebih senang membaca tentang Shinta. (*)

***

Siapa Membunuh Putri (11)

Tentang Inayah

Oleh: Hasan Aspahani

ADA waktu beberapa jam untuk berkunjung ke pesantren Alhidayah di Watuaji. Saya bisa berangkat sebelum duhur dan nanti sebelum asar kembali ke kantor. Ustad Samsu menelepon memintaku datang. Beberapa anak panti Abulyatama yang ditampung di sana akan dikhitan. Ada acara peresmian koperasi pesantren juga. Bantuan dari lembaga filantropi dari negara seberang. 

Ustad Samsu juga mau mempertemukan saya dengan seorang guru baru. Sudah lama dia ceritakan, sejak gadis asal Sulawesi itu bergabung di Alhidayah.  Saya tak terlalu bersemangat, bukan tak menghargai Ustad Samsu. Urusan persiapan Dinamika Kota benar-benar menyita energiku.    

”Paling tidak kau temui dulu, Dur. Sainganmu banyak. Banyak guru-guru muda di sini.  Soal kamu mau atau nanti berjodoh atau tidak itu urusan belakangan,” kata Ustad Samsu.  

Ada tenda besar di depan bangunan toko pesantren. Kursi-kursi tamu di bagian belakang sebagian diramaikan anak-anak santri. Pejabat kecamatan dan wali kota sudah tiba. 

Ada perwakilan dari lembaga filantropi yang akan memberi sambutan dan secara simbolis menyerahkan bantuan berkelanjutan. Mereka mengelola dana dari umat muslim di negeri seberang tersebut. Ustad Samsu berpidato. Disusul pejabat Kantor Kemenag Provinsi.   

Seremonial seperti itu membosankan bagi seorang jurnalis seperti saya. Saya paling malas kalau dapat tugas meliput acara seperti ini. Untungnya saya tidak sedang meliput. Saya berada di ruang lain di bagian bangunan sementara pesantren yang sedang dibangun. Ruangan yang nyaman dengan pendingin portabel. 

Panitia semua berkumpul di situ. Juga Inayah. Guru yang disebut Ustad Samsu.  Dia penanggung jawab acara peresmian koperasi pesantren Alhidayah. Dia juga yang akan jadi manajer yang bertanggung-jawab mengelolanya. Dia bekerja lincah, rapi, dan cepat. Dia mudah membuat orang-orang mengikuti arahannya.  Ia memberi perintah dengan tegas, jelas, tapi nyaman, menggerakkan tapi nggak memaksa. Jelas kecerdasan tampak dari seluruh sosok dia yang muda dan manis.   

”Bang Abdur mau makan duluan kah? Nanti kan mau pergi duluan kan ya?” tanyanya ramah, penuh perhatian, dan tersentuh juga perasaanku dengan perhatian kecil seperti itu. Pasti itu informasi dari Ustad Samsu. Saya sedang bersama beberapa anak panti dan Rido.  

Saya tak enak juga makan duluan, karena ada anak-anak panti. ”Nanti saja, sama anak-anak, sama yang lain,” kataku menolak seramah mungkin agar tak menyinggung dia. Inayah tetap saja suruh orang letakkan kotak makanan di atas meja di depanku. Aku membiarkannya di situ. 

Sementara itu perwakilan lembaga dari negeri seberang itu kini berada di panggung. Perempuan Melayu dengan pakaian muslimah melayu yang khas. Berdiri dan bergerak luwes. Kacamata hitam membuat dia tampak berkelas dan penuh percaya diri. Tampak amat matang dan dewasa. Pasti karena saya terus memikirkan gadis itu maka saya jadi berandai-andai, kalau saja dia tidak berkerudung, saya kira dia Suriyana, perempuan yang kutemui di Malang dulu, yang kuharapkan dengan datang dan bekerja di kota pulau ini bisa kucari dia suatu hari nanti di negeri seberang itu.

”Terima kasih, saya Suriyana Hameed, mewakili ….” Perempuan itu mengucapkan terima kasih saat gilirannya memberikan sambutan. Saya tak lagi mendengarkan apa isi pidatonya. Saya berdiri dari tempat duduk dengan serta-merta, dan dari tempatku berdiri menatapnya ke arahnya tak percaya. 

Suara itu adalah suara Suriyana yang kudengar di Malang dulu.  Yang menjawab dan bertanya dengan kemanjaan khas Melayu setiap kali kami berbincang sepanjangnya kebersamaan kami di kota dingin itu dulu. Percakapan sepanjang jalan, percakapan di tempat-tempat yang kami singgahi.   

Saya terlambat menyadari bahwa saya menyukai dia, perasaan kehilangan itu justru hadir, menguat setelah dia kembali. Dalam hal cinta saya memang tak cekatan, lamban menyadari.  

Ada beberapa foto ia tinggalkan, tapi saya ceroboh menghilangkannya. Foto itu juga hilang bersama surat yang ia kirim dan tak pernah aku balas. Ia mengirim surat setelah beberapa email yang kubalas ala kadarnya. Email itu kemudian tak kupakai lagi. Password-nya lupa. Bertahun setelah itu aku membodoh-bodohkan diriku. Tahun-tahun setelah meninggalkan Malang adalah fase hidupku yang kacau. Sebelum aku memutuskan berangkat dan bertarung hidup di kota pulau ini. 

Ustad Samsu membiarkan kami makan bertiga di ruangan khusus kantor Pesantren. Ia sibuk dengan para pejabat. Saya dan Suriyana bergantian bercerita kepada Inayah tentang pertemuan kami di Malang. Dia tak bisa menyembunyikan perasaan rindu yang dia rasakan. Seperti saya juga. Dia yang dekat di hadapanku sangat berbeda dengan dia yang formal dan kaku tadi ada di panggung dan memberi kata sambutan tadi. Dia menjelma kembali menjadi seperti Suriyana yang kutemani di Malang dulu. 

Inayah menyimak dengan antusias, bertanya dan tertawa, dengan sikap wajar seperti seorang sahabat baik, sahabatku, dan Suriyana. Dia kulihat turut berbahagia dengan setiap penggal cerita yang membahagiakan saya dan Suriyana.  

Inayah seperti memberikan kesempatan padaku untuk berbahagia, menikmati kegembiraan karena bertemu lagi dengan Suriyana. Dia dengan halus memberi isyarat agar saya abaikan saja keberadaan dia saat itu, anggap saja dia tak ada, atau anggap saja dia sebagai bagian dari kegembiraanku bertemu kembali dengan Suriyana. Dia tak ingin kegembiraanku berkurang karena kehadiran dia.   

Dengan mobil pesantren Inayah mengantar saya dan Suriyana ke pelabuhan. Atau tepatnya saya dan Inayah mengantar Suriyana ke pelabuhan.  Apapun, saya, ya saya saat itu sedang sangat berbahagia. Suriyana tadi seperti menahan tangisan ketika bilang bagaimana dia mencariku dan terus merasa kehilangan karena tak bisa menemukan saya.  

Saya seakan tak ingin habis bercerita tentang surat kabar yang sedang kumulai. Kami bertukar nomor ponsel. Dia berjanji berkemungkinan bisa datang tiap akhir pekan terkait aktivitas filantropi lembaga yang ia kelola.   

Feri membawa Suriyana kembali. Saya membayangkan feri yang sama nanti merapat ke pelabuhan yang sama dan saya menunggu dia keluar di pintu kedatangan.  

”Bang Abdur kembali ke kantor?” bertanya Inayah, setelah di mobil itu hanya tinggal kami berdua dan sopir. Saya mengiyakan. Dia melanjutkan, ”Senang ya, bisa ketemu teman lama. Teman seistimewa itu, bisa ketemu lagi, setelah lama menghilang. Pasti senang banget, ya,” kata Inayah.   

Saya menyelidik apakah ada kandungan cemburu dalam kalimatnya itu? Sepertinya ada. Sedikit. Meskipun saya bisa melihat Inayah telah menyembunyikannya dengan sangat baik.  Saya justru berharap itu tak ada. Tak ada apa-apa di antara kami. Belum ada. Kami baru saja ketemu tadi. Saya berharap memang pernah tak pernah ada hubungan apa-apa.  Hormon di tubuhku terkunci dan sedang kembali bereaksi untuk Suriyani.   

Ada banyak kiriman karangan bunga ucapan di kantor untuk edisi perdana Dinamika Kota.  Penuh sepanjang jalan. Datang dari banyak orang, tokoh, kantor, dan lembaga. Bang Eel sedang memotretnya satu per satu. ”Dari mana aja, Dur? Tadi dicari, Bang Ameng… dia datang ke sini tadi. Itu papan ucapannya yang paling besar itu,” kata Bang Eel menunjuk papan nama yang paling besar, paling mewah, dengan nama Maestrocorps, di antara puluhan yang lain.

Bang Eel ajak rapat dengan pemasaran. Hendra Mangindaan, manajer pemasaran kami sebut angka lima belas ribu untuk cetak besok. ”Itu permintaan agen. Sebagian besar sudah bayar di depan,” katanya. ”Hari ini banyak yang minta tambah tak bisa kita layani.”

”Yakin, itu, Ndra?” kata Bang Eel.

”Yakin asal beritanya kayak hari ini. Lanjutkan soal pembunuhan itu,” katanya. 

”Gimana, Dur?” tanya Bang Eel.

”Besok masih berita itu. Ada bahan berita yang sudah kita siapkan. Tapi pasti ada yang baru, kita tunggu teman-teman dari liputan. Saya masih andalkan  Ferdy…,” kata saya. 

”Katanya tadi humas Polres marah-marah, cari-cari wartawan kita,” kata Bang Eel. ”Ferdy tak meliput tadi?”

”Dia saya suruh bawa anak istrinya tidur di rumah saya, Bang! Harusnya dia meliput… Mau marah gimana, Bang? Kita ada konfirmasi. Kalau fakta kita salah hari ini mereka bantah. Nyatanya tadi Ferdy SMS saya polisi membenarkan bahwa itu mayat Putri, istri AKBP Pintor yang hilang itu,” kataku.

”Aman ya? Yang penting itu, sudah ada disebut nama tersangka?” kata Bang Eel.

”Belum. Pembantunya yang ditemukan di hotel sama anaknya ditahan, tak jelas sebagai apa. Katanya sih saksi,” kataku. 

Tadi sempat juga berbincang dengan Mas Halim tentang penjualan koran-koran lain, koran baru Podium Kota pesaing itu dan koranku sebelumnya Metro Kriminal.  Banyak retur, kata Mas Halim. ”Orang nggak nyangka ”Dinamika” bakal angkat headline itu, tahunya kan koran umum. Kalo gini terus tiap hari bisa cepet naik, bang oplahnya. Percayalah…,” katanya.

Saya agak tak nyaman dengan teman-teman di Metro Kriminal.  Saya dulu memulai kerja sebagai jurnalis di koran itu. Bagaimana pun kami satu grup. Tapi secara profesional kami punya target masing-masing. Saya harus menyingkirkan perasaan tak nyaman itu.  

Sore itu, semua reporter sudah kembali, kecuali yang masih menyelesaikan wawancara atau yang mengambil foto. Kecuali Ferdy. 

Kemana Ferdy?  Perasaanku tak nyaman. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 13 September 2022: Petir Politik

Pryadi Satriana

Menurut saya - komentator Disway yg sesekali atau bbrp kali 'sok jadi pengamat' - itu adalah "balasan" atas didepaknya Suharso oleh 'pengakuan kilat dari Menkumham', bukan oleh Mardiono. Mardiono hanyalah "sepatu". Menkumham hanyalah "kaki". Yg "menggerakkan kaki" itu Anda sudah tahu. Suharso didepak bukan krn "amplop kiai". Itu sekadar alasan. Yg kebetulan "bisa diterima". Pas. Bisa dipakai "nendang." "Sepatu" & "kaki" jg sudah ada. Yg "ditendang" Suharso. Yg "sakit" bukan hanya Suharso. Pernyataan dari MK itu bukan suatu kebetulan. Pasti ada konteksnya. Bukan kebetulan juga muncul ndhak lama setelah Suharso didepak. Paling tidak, Suharso - yg menurut saya 'ndhak prelu kuciwa perkoncoannya gak direwes ambek Menkumham' - masih bisa menebar senyum khasnya. Paling tidak, Suharso diingatkan ini: "A friend in need is a friend indeed" (Teman yg ada saat dibutuhkan, itulah teman sejati). Ini dulu ya, komen berikut liat2 perkembangan. Saya kasih 'bocoran' dikit: onok "konco-kancane Pryadi" bilang, "Onok wacana Prabowo-Jokowi ." Saya timpali,"Ndhak, 'skenario'-nya tetep Prabowo-Puan, ini untuk membuka 'wacana' dihadapkan dengan Airlangga-Jokowi? Bagaimana menurut Anda? Salam. Rahayu.

alasroban

Kayak nya pernah viral. Pak bupati sudah menjabat 2 periode. Untuk melanggengkan kekuasaan periode selanjutnya yg bersaing menhadi calon bupati istri pertama vs istri ke dua. Jadi siapapun yg terpilih pak bupati tetaplah pak bupati.

Jo Neka

Gundala PUTRA petir..komik jaman pak Dahlan masih jadi wartawan muda nan energik.Apakah Gundala akan datang di 2024.Komentator CHDI yang harus memulai perubahan

Er Gham

Istilah-istilah anak muda: "Terus, gue harus bilang wow gitu". "Sutralah". "Emang gue pikirin". "Sosor terus".

Abi Kusno

Alhamdulillah bisa masuk kolom komentar lagi. Edisi kemarin mbulet. Login lewat akun Anda! Beberapa dilakukan. Hasilnya sama. Abah mulai mencari arang kayu asam. Jika sudah nyala, panas merata. Memanggang apa saja. Padahal belum ada jadwal bakar sate, ayam, atau jadah. Sumber asal arang juga belum jelas. Darimana bisa dibeli????

Mirza Mirwan

Tahun 2010, ketika Bambang DH maju sebagai calon wakil walikota itu, di Jawa Tengah juga ada kepala daerah dua periode yang maju sebagai calon wakil bupati. Begug Purnomosidi, namanya, Bupati Wonogiri. Seperti halnya Bambang DH, Begug Purnomosidi juga kader PDI-P. Dan seperti halnya Bambang DH. Begug juga mengaku bahwa ia maju sebagai cawabup "atas perintah partai." Benar tidaknya, entahlah. Yang membedakan Bambang DH dan Begug ialah Cawalkot Surabaya, Rismaharini, bukan kader PDI-P, sedang Cabup Wonogiri juga kader PDIP (anggota DPR RI), Sumaryoto. Bedanya lagi, Bambang DH berhasil menjadi wakil walikota, sedangkan Begug kalah dari pasangan Danar Rahmanto-Yuli Handoko. Ironis, memang. Tiga parpol yang mengusung pasangan Danar Yuli sebenarnya hanya punya 8 kursi di DPRD Wonogiri : PAN (4 kursi), Gerindra (2 kursi), dan PPP (2 kursi) -- hanya 16% dari total kursi DPRD. Sementara pasangan Sumaryoto-Begug diusung PDI-P (19 kursi) dan PKS (6 kursi), 50% dari total kursi DPRD. Pelajaran yang bisa dipetik: pasangan yang diusung partai besar belum tentu bisa memenangi pilkada. Dan itu bisa juga terjadi pada pilpres.

Er Gham

Gunung gunung itu masih menjulang. Tinggi menembus awan. Sayang jika ditinggalkan. Ayo keruk lebih dalam.

Kliwon

Kalau sampai Prabowo nyapres dengan menggandeng Jokowi sebagai wapres, mungkin dari sekarang pun usai sudah pemilunya. Dan kita bisa kembali fokus bekerja ngga terseret pertengkaran para maniak politik. Yang mbecak makin semangat nggenjot. Yang nyangkul tetap khusuk ke sawah. Yang nyopet bisa tenang & khidmat menjalankan aksinya. Yang buzzer bisa lebih fokus mempertajam nyinyirannya. Dan yang piara tuyul tetap telaten mengasuh tuyulnya yang stunting itu. Maka dunia dan alam semesta pun akan berjalan seperti biasa dan sebagaimana kodratnya.

yea aina

Bola panas konstitusi, turun dari atas ke bawah. Kiranya sedang berlangsung, rakyat dihujani bola panas, bertubi-tubi. Pasca bola panas pengalihan subsidi BBM, terbaru: bola panas konstitusi rasa 3 periode, anda sudah tahu. Bawahan yang baik, bukanlah bawahan yang melemparkan bola panas ke atas(an)nya, rowahul Abah Dis. Atasan yang baik, bukanlah atasan yang selalu menghujani bawahan dengan bola panas bertubi-tubi. Patut diduga yang bilang ini pasti gak kebagian bansos, BLT ataupun BSU. Kasihan kwkwkw.....

Kelender Indonesia Lengkap

Saya tahu sebenarnya Abah sudah tahu bahwa "boleh jadi wapres" setelah dua periode ini adalah langkah "testing the water". Kalau timbul keributan sutradaranya tinggal itu isu yang tidak resmi dan tidak bertanggung jawab. Tapi kalau cuma riak riak kecil aja, maka akan maju selangkah lagi ke testing the water level 2, dengan aktor, plot dan setting yang berbeda. Demikian ..

Juve Zhang

Energi pak Jokowi masih banyak dan tak kenal lelah, kenapa? Karena pikiran nya bersih, tak diracuni korupsi, yg mudah loyo itu yg otaknya penuh dengan komisi, apa apa harus "kecipratan" karena merasa dia yg membuat atau membeli produk itu. Akhirnya energi penguasa koruptor ini gak banyak buat rakyat, baru jalan meninjau satu propinsi sudah kelelahan, pak Jokowi sehari bisa 3 propinsi. Dahsyat!!!!!!!

Juve Zhang

Mungkin saja Pak GP - Pak Jokowi. Istilahnya pak Jokowi akan memberikan " ilmu saktinya" pada murid dari Kader tulen PDIP. Pak Jokowi itu bukan kader tulen, cuma ilmu nya sayang kalau dibawa pensiun. Beliau jadi wapresnya pak GP. setelah 5 Tahun pak GP sudah bisa lebih "sakti" . Ini skenario terbaik ramuan Bu Mega dan Pak Jokowi. Orang brilian tidak lahir setiap tahun. Putin , Angela Merkel,Xi JP kebanggaan masing-masing negara nya.kita punya Jokowi.

Juve Zhang

Di Singapura"putra mahkota" sebenarnya Heng sweet Keat ,tapi mundur gak minat jadi PM. Maka Lawrence wong ketiban " durian runtuh". Jadi PM tentu saja gak bisa korupsi atau kaya sekali tapi kerjanya sebaliknya sangat banyak. Lawrence wong sangat muda 49_50 tahun tentu energi masih banyak. 

AnalisAsalAsalan

@RU Sampean ketinggalan informasi berarti. Waktu itu rencana Jokowi-JK lagi, tetapi Pak JK terganjal aturan tidak boleh menjabat wapres 2 periode. Ingat, Pak JK pernah jadi wapres Pak SBY. Pak JK bahkan mengajukan juducial review ke MK agar bisa wapres lebih dari 2 periode, toh tidak berturut-turut, tetapi ditolak MK.

Abd Qohar

Kalau pak Jokowi maju sbg cawapres, saya berharap capresnya pak KH Ma'ruf Amin. Insya Allah pasangan yg bagus, Pak Ma'ruf sbg presiden mengarahkan scr keseluruhan, pak Jokowi sbg pelaksana. Tapi partai apa yg mengusung, PDI jelas tidak mau spt itu, mungkin Nasdem dan koalisinya bisa. Tapi ya wallohu a'lam, semoga Indonesia dapat pemimpin yg baik dan amanah.

yea aina

Nimbrung yang gaknyambung pak @JM. Ada pernyataan populer di kalangan politikus: 1. Tidak ada lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan (kekuasaan/menjabat) abadi. 2. Politik adalah pengetahuan tentang segala KEMUNGKINAN. Tidak mengherankan, sebuah partai atau "kelkompok kepentingan" mengusung bukan kadernya untuk mewakili partai menjabat di kekuasaan. Nah petir politik di siang bolong ini, laiknya celah peluang yang lagi "sengaja" dibuka, muaranya anda sudah tahu.

Fauzan Samsuri

Petir boleh menyambar asal hujannya hujan berkah, bukan hujan yang membuat banjir dan banjirnya menenggelamkan kita semua

siti asiyah

aturan dibuat untuk membatasi keinginan dengan dalih apapun karena watak asli keinginan yang tidak berbatas, manakala kita tunduk pada aturan kita disebut orang yang Taat , bahasa agama Islam yang saya anut disebut Taqwa ( melaksanakan semua aturan dan menjauhi semua larangan ) bila sebaliknya disebut Dzalim ( menganiaya diri sendiri ) ( andai kan ) Saya sudah menjabat presiden 2x ........mengapa mesti menganiaya diri sendir ( kecuali saya khilaf )

Rizky Dwinanto

Posisi etika diatas hukum. Entah siapa filsuf yang mengatakannya dulu. Kalau tidak ada, berarti itu ucapan saya sendiri.

Jimmy Marta

Diatasnya lagi, 'Rasa Malu'. Itu filsufnya jimmymarta.

Arala Ziko

Demokrasi Indonesia sudah bagus, namun sepertinya perlu diupdate seperti posisi posisi menteri, orang yg menjabat minimal punya knowledge yg berkaitan dengan jabatan yg diampunya (jangan seperti meme dora kominfo "hacker jangan menyerang"). penunjukkan orang sebagai pejabat juga jangan hanya berlatar kenal tapi kapabilitasnya juga harus terpenuhi. Contoh kecil saja, sebulan lalu di Kecamatan saya di hulu pedalaman Kalimantan Barat, seorang donatur di desa tersebut mengajak warga untuk kerja bakti membuat saluran pipa air bersih untuk dialiri ke puskesmas (puskesmas sama sekali tidak ada akses air bersih) Kerja bakti tsb tidak merusak jalan aspal sama sekali, tanah yg digali ditutup kembali, dikerjakan bersama sama warga. Dilalah, camat desa tersebut melaporkan donatur tsb ke polsek, karena mengganggu ketertiban umum. Usut punya usut, camat tsb seorang guru sd yg menjadi camat krn ditunjuk langsung oleh Bupati (kerabat sendiri). Berdemokrasi boleh tapi tolong dong orang orang yg mengisi posisi harus punya kapabilitas, jangan cuma krn kerabat/orang partai, main tunjuk aja.

Yuli Triyono

Ada filosofi hukum, formal hukum, etika hukum. Tapi yang ramai dan laris tetap saja dagang hukum.

Legeg Sunda

#58 ... Petir menyambar hujanpun turun, Ditengah jalan sempat aku merenung... 

fajar rokhman

Perjuangan melawan amplop telah kalah, tapi perjuangan tiga periode tidak boleh berhenti.

Nurkholis Marwanto

Alhamdulillah bisa login, setelah 3 x percobaan. Bersyukur rasanya bisa login, setelah beberapa hari gagal login. Entah HP saya yang tidak support. Atau saya yang kurang berusaha. Memang baru 20 klik. Tapi saya keburu menyerah. Mungkin bukan salah tim IT. Sudah banyak yang coba mengoreksi tim IT. Mereka anak muda. Energik. Semangat. Idealis. Ada sedikit kendala langsung bergerak. Masalah selesai. Semoga begitu. Saya menduga penurunan jumlah komentator disway disebabkan oleh banyaknya komentator yang kesulitan login. Dulu komentator sempat 300an, sekarang tinggal 100an. Kadang kurang. Tergantung juga isi beritanya. Sampai ada prasangka apakah admin disway melakukan "banned" akun-akun tertentu. Pasti tidak. Disway adalah koran modern. Pengusung demokrasi, penganut kebebasan berbicara. Masyarakat disway juga sudah dewasa. Apa yang akan dituliskan sudah dipikirkan masak-masak. Akibat negatifnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Rihlatul Ulfa

Padahal saya kemarin-kemarin yg gagal login itu, mau nulis komentar tentang kasus Munir, dan Bjorka. Kasus pembunuhan Munir memang sangat sistematis dan mudah. bagaimana saat seseorang menanyakan kepada istri Munir saat itu 'kapan Munir terbang' di jawab dengan polos sampai ke tipe pesawatnya apa. kadang sebagai orang yg mempunyai pengaruh kuat, kehati-hatian adalah poin utama. mungkin kalau saya ada di posisi itu, saya akan membeli tiket pesawat baru, untuk mengelabui mereka agar saya tidak dapat di racun arsenik. bahkan Munir saat itu di sebuah cafe di bandara Changi Singapura dibelikan kopi oleh pollycarpus. saat anda tahu anda membela yang lemah jangan pernah percaya dengan tingkah laku orang yg punya kuasa. diduga kopi itulah yg mengandung racun arsenik. dan Munir dinyatakan meninggal diatas ketinggian 40.000 kaki diatas tanah Rumania. 

Agung Wiratno

3 hr tdk baca disway, saya rapel semua pagi ini. Terlalu banyak yang ingin saya komentari, tapi karena terlalu banyak itulah jadi batal berkomentar. Justru saya pengin pak Dahlan, menulis tentang timnas sepakbola Indonesia yang besuk akan bertanding di GBT, mksd saya pak Dahlan berperan jadi SHIN T YONG. Menentukan susunan pemain pemain, menentukan skema dan taktiknyi, agar bisa menang vs Timor Leste, Hong Kong, dan Vietnam.Pokoknya intinya p Dahlan jadi STY. GIMANA PAK DAHLAN, ?? WANTUN MBOTEN ???????????

Pryadi Satriana

Etiskah Jokowi nyalon cawapres? Pasti ada yg tanya gitu. Sudah muncul ungkapan: 'ipar di MK' dan 'downgrade' (turun level/tingkat) yg - bagi saya - 'ngeri2 sedap', 'ngeri bagi yg diomongin' dan 'sedap bagi ngomongin.' Memang 'berpendapat' dan 'nggosip' (ghibah) itu beda tipis. Kadang samar. Jadi multitafsir. Kembali ke topik: etiskah? Etis atau ndhak kita ndhak mungkin tahu. Etis atau ndhak tergantung 'yg mendasari' (niat) dan 'yg hendak dicapai' (tujuan). Kalau 'niat', 'tujuan', dan 'cara' mencapai 'tujuan' baik, kita menyebutnya 'etis' (sesuai etika). Lha masalahnya, mulai dari 'niat' aja kita ndhak tahu. 'Isi hati' orang hanya Tuhan yg tahu. Jadi, pertanyaan 'etiskah?' itu ndhak pas. Ndhak relevan. Mestinya: maukah? Maukah Pak Jokowi jadi cawapres? Naluri saya mengatakan "tidak" tapi bisa jadi "ya". "Tidak", JIKA PDIP bergabung ke KIB: Ganjar-Airlangga atau Airlangga-Ganjar 'bisa diatur'. Berkoalisi dulu. Ada niat 'kerja sama' dulu. Baru 'negosiasi' (tawar-menawar). Jangan dibalik. Jangan pula terlalu agresif. Ada contohnya. Belum ada 'pembicaraan resmi' sudah muncul baliho Prabowo-Gus Muhaimin. Lalu muncul 'statement': dukungan akar rumput tak terbendung. Idiiih, malu-maluin. Mengatasnamakan 'akar rumput' secara ngawur! Lha wong 'baliho setan' itu ujug2 muncul, ndhak ada yg tahu 'siapa memasang' & 'kapan dipasang' kok ... . Lanjut. Bisa jadi jawabannya "ya" bila PDIP merapat ke Gerindra: Prabowo-Puan, krn Prabowo & Puan 'sama2 bosan cuma jadi menteri'.Sekian dulu. Salam.

donwori

ceritanya kurang komplit bah. konon katanya Risma seperti kulit lupa sm kacangnya ketika sudah menjadi walkot. bahkan siapapun yg jadi wakilnya harus siap menjadi patung.

dar_smd

kalau membahas perpanjangan masa jabatan tolong ya toloooong.. ojo di banding bandingke karo xi jinping, di sana koruptor di hukum mati pak, di sini malah banjir remisi, yang terbaru konon korupsi bukan lagi termasuk kejahatan luar biasa, yang ngeyel nambah periode jelas sampah masyarakat yang tidak paham arti reformasi dan demokrasi, rakus, tamak plus embuh pak, kesel nulis

Orang jauh

#94 Abah DI salah, saya tidak merasa tersambar, biasa saja. Sepertinya besok akan ada klarifikasi (yg akan lebih "menyambar" Abah DI)

AnalisAsalAsalan

Abah nulis ini karena Abah marah kepada diri sendiri, "Kok bukan wartawan Disway yang bertanya, kenapa wartawan Merdeka.com? Berarti kesenioran saya sebagai wartawan dipertanyakan nih, kok ga kepikir bikin pertanyaan petir seperti itu." Itulah latar belakang Abah menulis kali ini, menurut analisis saya yang asal-asalan. Hahahahaha

Rahma Huda Putranto

Hari ini saya buka Diswe agak kesiangan. Biasanya pagi sebelum berangkat kerja. Eh, ini menjelang istirahat siang baru "kober" buka diswe. Eng ing eng. Saya baca judul "Petir Politik" di laman utama. Tapi sayang, saya tidak langsung membukanya. Saya malah tertarik dengan ilustrasi headline Diswe. Ilustrasi yang dibuat Syaiful Amri benar-benar memuat NIK Gus Muhaimin. Saya cek NIK tersebut di infopemilu.kpu.go.id. Hasilnya, ternyata benar, itu NIK Gus Muhaimin. Kalau sprti ini gimana, bah? Disway jangan sampai dibredel gegara NIK lho... Saya khawatir kehilangan portal berita berkualitas.

Er Gham

Rakyat boleh dong tanya, tuluskah niat Anda?

Ikho Swie

dulu, saya ngikuti berita saat BDH mencalonkan sebagai wawali surabaya... melihat berita ngototnya BDH untuk maju nyalon lagi, melihat tutup saluran air di sepanjang trotoar surabaya diberi inisial BDH (berasal dari hati), melihat usaha impeachment kepada bu Risma, saya (dulu) melihat bahwa pak BDH ini begitu kemaruknya pada jabatan, narsis, dsb yg negatif negatif... baru lewat BDH hari ini, saya baca latar belakang politik dari semua hal yang tampak di panggung kala itu....ternyata kita tidak boleh menilai seorang politikus hanya dari jauh, melihat lakon yang diperankannya...

agus budiyanto

Jaman orde baru gong ditabuh lebih awal, langsung dalangnya. Saya sudah cukup lama memegang amanah sebagai Presiden, saya pengin istirahat dan digantikan oleh yang muda muda. Para penderek yang terdiri dari partai politik maupun ormas ormas memberikan tanggapan, bapak masih diperlukan oleh masyarakat untuk memimpin guna kelangsungan pembangunan negeri ini. Sang dalang : karena masyarakat masih menghendaki, maka saya akan mencoba memimpin negeri ini dan mohon dukungan dari masyarakat semua. Jaman sekarang gong ditabuh lebih awal oleh yoga/penabuh gamelan, atas perintah dari dalang. Apabila ada tanggapan positif dari masyarakat dalam akan siap toto toto untuk langkah selanjutnya. Apabila tanggapan masyarakat negatif, saya akan ikut konstitusi.

Fenny Wiyono

saya rasa petirnya pesanan pawang hujan untuk tes pasar, masih ada yg mengundang pawang hujan atau tidak. yg bijak silahkan di nilai tapi tidak perlu bereaksi, biar bingung sendiri jg lagi tes pasar itu. 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda