Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (10)

Dulu Benci Polisi, Eh…Malah Diumrohkan Kapolres

AKRAB: Abid (kanan) eks kombatan Ambon-Poso foto dengan polisi usai upacara HUT Kermerdekaan RI ke 73 di Lamongan. (Foto Bahari/CoWasJP).

COWASJP.COMPerasaan benci dan bersahabat ternyata tipis batasnya. Tidak percaya! Itu dialami eks kombatan konflik Ambon dan Poso Abid, alias Ibrahim 37. Saat terlibat konflik di Ambon dan Poso, Abid dkk begitu membeci polisi. Abid dkk tak hanya ‘main’ istilah perang dengan kelompok Kristen tapi, juga polisi. Kaki Abid  tertembak saat ‘main’ di Poso hingga beberapa jari kakinya diamputasi. 

***

TIGA kali penulis  bertemu Saeful alias Abid , 38. Kali pertama bertemu di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian (YLK) di Desa Tenggulun, Solokuro Lamongan Februari 2018. Terakhir ketemu Abid di Alun Alun Lamongan menjelang peringatan detik detik HUT Kemerdekaan RI ke 73 belum lama ini.

Abid orangnya ramah, banyak menebar senyum dan enak diajak bicara. Setiap kali bertemu penulis  tak lupa kami berpelukan layaknya kawan lama.

BACA JUGA: Rela Jualan Kopi agar Dekat Anak, Bisa Sembuhkan Istri

Perawakanya Abid biasa saja. Tidak besar, tidak tinggi. Posturnya sedang-sedang saja untuk ukuran pria. Penampilannya pun bersahaja.  Pas lagi santai cukup mengenakan sarung dan kaos. Nada bicaranya datar datar saja. Tapi, soal ketangguhan jangan ditanya. 

Abid bersama 12 rekannya pernah tidak makan berhari hari di hutan belantara Poso. Selain persediaan makanan habis, mereka lagi diburu personal Brimob dalam jumlah besar. Satu kapal baru datang dari Aceh. Jadi, Abid dkk harus terus bergerak menghindari kejaran pasukan Brimob.

BACA JUGA: Dijebak Intel, Tawari Order Melatih Kelompok Militan

Mereka hanya minum tetesan air dari semacam rotan hutan. Batang rotan dipotong lalu ditunggu tetesan airnya. Lama keluarnya. Antara 30 menit sampai satu jam baru keluar.

Manisnya luar biasa. Batang lalu dipotong potong. Panjangnya sekitar 16 cm. Batang dikupas disisakan tengahnya. Makan satu bantang seukuran jempol sudah kenyang. Cukup menganjal perut seharian. Yang tahu batang rotan hutan bisa dimakan ya.. warga lokal Poso yang bergabung pasukan muslim. ‘’Jadi, kalau persediaan makan habis tinggal cari rotan hutan tadi, ‘’ aku Abid.

Sebelum ke Poso, Abid dengan bendera Kompak pernah terlibat konflik di Ambon. Antara 2000 sampai 2001. Setahun di Ambon, Abid balik ke Lamongan. Tak lama di Jawa, Abid berangkat lagi jihad ke Poso tahun 2001 karena di sana juga ada bentrok umat Islam dan kelompok Nasrani. 

BACA JUGA: Tiga Kali Masuk Bui, Kini Hanya Fokus Dakwah​

Bekal jihad dan pengalaman perang di Ambon sangat membantu selama terlibat konflik di Poso. Abid yang veteran Ambon dipercaya mengkoodinasi pasukan berkuatan kecil sekitar 24 orang. 

Abid dan anggotanya sering ‘’main’’ istilah perang bagi mereka. Baik dengan kelompok Kristen maupun Polisi yang mereka benci karena terus memburu keberadaan mereka. Beberapa kali Abid dan kelompoknya terlibat penyergapan dan penyerangan. Baik kepada kelompok Kristen maupun pos polisi. 

salmanokre.jpgTERTEMBAK: DI POSO. Abid di kantor YLP Tenggulun, Solokuro, Lamomgan (Foto Bahari/CoWasJP).

Ada yang luka, atau mati itu hal biasa. Bahkan anggotanya bukannya mencari selamat. Tapi, berharap ingin mati saat jihad. ‘’Kapan ya.. kita dipanggil. Kok..beberapa teman kita duluan mati. Padahal, posisinya berada di belakang saya saat bentrok,’’ ujar rekan Abid. ‘’Kami ikhlas dipanggil saat Jihad. Mati sahid itu yang kami cari,’’ aku Abid.

Sekitar tahun 2003, Abid dan 24 anggota pasukannya ‘’main’’. Setelah itu balik ke posko atau markas. Dalam perjalanan pulang mereka dibagi dua. 12 pasukan lokal pulang ke kampung halamannya. Sedangkan Abid dan 12 rekannya menuju markas.

BACA JUGA: Menyusup ke Militan Kashmir, Intel Pakistan Ditangkap 

Dalam perjalanan mereka diendus pasukan Brimob dengan jumlah sangat besar. Satu kapal baru datang dari Aceh. Mereka terlibat bentrok berkali kali selama diburu Brimob. Saat menjelang sore atau Magrib mereka tiba di suatu lembah. Abid dkk menggunakan istirahat untuk salat. Sebagaian mendirikan tenda atau bivak. Dua orang pasukan diminta siaga di atas bukit.

Tiba tiba, dua anggota penjaga di atas bukit tadi ikut turun. Mereka beralasan situasi sudah aman karena hari menjelang petang. Eh..tidak lama kemudian saat sedang salat, Abid dkk diberondong pasukan Brimob dari atas bukit.

Tiga tewas di tempat, tiga tewas dalam pengejaran Brimob, empat luka-luka. Termasuk Abid tertembak kaki kanannya. Akhirnya, dua jari kaki Abid diamputasi karena dikhawatirkan membusuk. ‘’Jangankan dipotong dua jari, diamputasi sampai dengkul pun saya ikhlas. Ini resiko jihad,’’ aku Abid.

BACA JUGA: Mandi Seminggu Sekali, Menu Makan Roti Cane​

Dalam persidangan Abid divonis 3, 5 tahun dengan dakwaan melakukan penyerangan terhadap aparat, menyembunyikan buronan teroris Santoso,  penggunanan senjata illegal. Abid menjalani hukuman di LP Palu, Sulteng. Dapat remisi setengah tahun. Tahun 2006 bebas dan balik ke Lamongan.

Sebelum ke Poso, Abid dengan bendera Kompak pernah terlibat konflik di Ambon. Antara 2000 sampai 2001. Setelah terlibat konflik di beberapa wilayah Ambon, Abid bersama sebagaian pasukan muslim ditugaskan ke jasirah Lehitu, sebuah pulau tak jauh dari kota Ambon.

Saat datang kali pertama di Lehitu, hati Abid teriris, nyaris menangis. Warga muslim di sana sebagaian besar belum bisa melaksanakan kewajibanya sebagai seorang muslim. Karena itu Abid  dkk perlu mengajari mereka mengaji, salat, wudlu yang benar sampai soal pentingnya jihad saat diserang musuh.  Tujuan kaum muslimin ke Ambon saat konflik adalah dakwa wal jihad. ‘‘Kalau situasi damai digunakan berdakwah. Sebaliknya,  kalau situasinya memanas ya harus siap  perang alias jihad,’’ aku Abid.

Abid mengaku ikut jihad ke Ambon atas kesadaran sendiri sebagai seorang muslim membela saudara saudaranya sesama muslim yang diserang, didlolimi kelompok lain.
Apalagi, sejak kecil Abid hidup di pesantren sebagai santri sudah akrab menonton berita TVRI kala itu yakni, Dunia Dalam Berita. Isinya didominasi perang  dan penindasan Israel terhadap umat muslim Palestina maupun perlakuan tidak adil diterima kaum muslim dari negara-negara barat.

BACA JUGA: Rampas Tank Rusia, Tak Bisa Kendarai, Diledakkan​

Dari situ muncul pemikiran. Suatu saat nanti kalau ada kesempatan membela umat muslim teraniaya, Abid siap melakukan jihad. Apalagi, sebelum terjun ke wilayah konflik Ambon dan Poso, Abid juga diajari  bagaimana cara penggunaan senjata, membaca peta, teknik perang gerilya, survival di hutan dan meracik bom oleh alumi pelatihan militer kamp Mindanao . Setelah teori, lalu dipraktikan. Catatan dibuang  demi keamanan.  Selain bekal agama mantap. ‘‘Jadi, saya jihad itu atas kesadaran sendiri dan panggilan agama,’’ akunya.

Setelah menjalani hukuman di LP Palu, Sulteng selama 3,6 tahun dikurangi remisi setengah tahun. Tahun 2006 bebas dan balik ke Lamongan.

ali-nyar2.jpg

Kerja serabutan sampai akhirnya bergabung  Ali Fauzi Manzi membentuk Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP). ‘’Saat memutuskan jihad itu pilihan hidup. Saat bergabung YLP karena kesadaran sendiri dan ingin membantu nasib sesama napiter (narapidana teroris) yang kurang beruntung,’’ aku Abid.

Alasan lainya lama kenal Ali Fauzi. Selain sama sama dari Lamongan bahkan sekampung. Abid dan Ali Fauzi sama sama terlibat konflik di Ambon dan Poso. Ali Fauzi juga mengajari Abid dkk berlatih perang, merakit bom, menggunakan senjata dan lainya ‘’Perhatian Pak Ali terhadap anak buah dan teman sesama napiter sangat besar. Karena itu saya tidak ragu bergabung YLP,’’

BACA JUGA: Ikrar Kesetiaan NKRI, Laris Diajak Selfie Pejabat Muspida​ 

Tapi, keputusan bapak empat anak itu bergabung YLP dan memilih jalan damai itu tak luput dicemoh rekan rekannya yang tetap berpendirian keras. Ya dikatakan murtad, kafir tagut, pengkhianat dan tudingan miring lainnya.  Apakah mereka sampai mengancam membunuh? Abid katakan, tidak sejauh itu. Mereka pasti mikir kalau berniat membunuh.

Tapi, Abid memilih tidak menagggapi  cemohan. ‘’Mereka yang mencemooh tidak lebih baik dari kita ini kok,’’ ujar Abid enteng. Akhirnya, tak lama kemudian beberapa mereka yang mengecam malah bergabung YLP. ‘’Kita dengan tangan terbuka menerima mereka.’’

BACA JUGA: Dulu Dendam, Anggap Polisi Togut, Sekarang Bermesraan

Seiring waktu bergabung YLK, kebencian bahkan dendam kesumat Abid pada polisi kian berkurang bahkan akhirnya terkikis. Dulu kata Abid, kalau lihat polisi rasanya hati ini geram. Rasanya Ingin ngajak perang karena polisi terus memerangi kelompok radikal dan teroris para militant.

Tapi, seiring berjalanya waktu kebencian terus berkurang dan akhirnya meredup. Sebab tidak semua polisi jahat. Ada juga polisi yang baik. Itu Abid alami sendiri selama menjadi pengurus YLP. Saat berurusan dengan polisi kadang  malah dibantu. ‘’Akhirnya saya berfikir tidak semua polisi jahat. Ada juga yang baik. Mereka memerangi kelompok radikal karena semata tugas,’’ akunya.

Guna menghidupi YLP dan serta istri dan anak eks kombatan dan napiter yang menjadi tanggungjawab YLP, pengurus melakukan banyak terobosan usaha yang penting halal. Mulai jadi makelar jual beli mobil, rumah, tanah, jualan telur, jual bibit duren sampai burung perkutut. ‘’Pokoknya kerja apa saja yang halal, asal menghasilkan uang akan dilakukan pengurus YLK,’’ ujar Abid yang dipercaya menjadi salah satu bendahara YLP. ‘‘Jualan akik saat booming dulu juga pernah,’ tambah Abid.

BACA JUGA: Akta Notaris Selamatkan Ponpes Al Islam dari Bom Bali

Nah, saat bekerja tambahan di Surabaya  Abid diminta Sumarno pengurus YLP lainnya mengumpulkan KTP, Kartu Susunan Keluarga (KSK) dan surat penting lainnya. Tapi, Sumarno tidak bilang untuk apa. 

Tahu tahu saat pulang ke Lamongan, Abid diajak Direktur YLP Ali Fauzi Manzi menghadap Kapolres Lamongan AKBP Feby DP Hutagalung. Dari pertemuan itu lah Abid baru ngeh kalau akan diberangkatkan umroh oleh Kapolres dengan uang pribadi.

Itu sebagai bentuk apresiasi Polres Lamongan terhadap kinerja YLP yang membantu polisi dalam menggandeng dan menyadarkan eks kombatan dan napiter ke jalan damai.

‘’Jelas ini sangat mengejutkan. Saya juga tidak tahu mengapa pilihannya kok jatuh ke saya. Tapi, ini sangat saya syukuri sebagai bentuk perhatian Kapolres terhadap saya dan YLP,’’ aku Abid girang.

Kapolres wanti wanti minta Ali Fauzi dan rekan YLP untuk tidak mengekspos pemberangkatan salah satu pengurus YLK haji tiga bulan lalu itu. Kapolres Feby takut riya alias pamer. Tapi, karena ini ada unsur syiar Islam untuk menginspirasi orang lain berbuat baik yang sama, maka Ali Fauzi pun minta ijin Kapolres agar kabar positif bisa diwartakan setelah  Abid pulang umroh.

ali.jpgKERAP DIANCAM: Ali Fauzi (kiri) dan penulis Bahari di kantor YLP di Tenggulun, Solokuro, Lamongan (Foto: Bahari/CoWasJP)

Abid kata Ali Fauzi dipilih diberangkatkan umroh selain aktif di YLP, saat  jihad di Ambon dan Poso kerap ‘’main’’ atau perang dengan polisi. Bahkan kakinya tertembak dan beberapa jari kanannya terpaksa diamputasi agar tidak membusuk.’’ Selain itu Abid juga belum umroh,’’ terang Ali Fauzi. 

Sebelumnya kata Ali Fauzi, saat mengunjungi kantor YLP di Tenggulun, Solokuro,  Kapolres Lamongan AKBP Feby DP Hutagalung menawari Ali Fauzi berangkat umroh. Itu sebagai bentuk apresiasi polisi terhadap YLP yang membantu tugas kepolisian dalam men-deradikalisasi eks kombatan dan napiter agar kembali jalan  yang benar.

Tapi, karena sudah pernah umroh Ali menyarankan sebaiknya Kapolres memberangkat anggota YLP yang belum pernah umroh agar lebih bermanfaat. Pak Kapolres setuju. Maka, lalu terpilihlah Abid tadi. ‘’Apresiasi positif Pak Kapoles  terhadap napiter yang sudah sadar patut ditiru pejabat lainya,’’ harap Ali Fauzi. (Bersambung)

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda