Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (8)

Akta Notaris Selamatkan Ponpes Al Islam dari Bom Bali

DITUAKAN. Ustad Mohamad Chozin pengurus Ponpes Al Islam jadi penasehat YLP (Foto: Bahari/CoWasJP)

COWASJP.COMPenangkapan Trio A Tenggulun (Amrozi-Ali Gufron-Ali Imron)  terkait peledakan bom super dahsyat di Paddy’s Pub dan Sari’s Café Legian, Bali ikut menyeret Ponpes Al-Islam. Itu karena pengelola Ponpes Al-Islam Ustad Mohamad Chozin masih kakak kandung Trio A. Ponpes Al-Islam pun dituding sarang teroris lah, ponpes radikal lah dan tudingan miring lainnya hanya karena pengurusnya ada hubungan darah dengan Trio A. Benarkah? 

***

BEGITU Densus Polri 88 berhasil  menangkap Amrozi pada  5 Nopember 2002,  atau 23 hari pasca peledakan bom sangat dahsyat 12 Oktober 2002 di Paddy’s Pub dan Sari’s Café Legian, Bali, semua mata dunia tertuju ke Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan, kampung halaman Amrozi.

BACA JUGA: Tiga Kali Masuk Bui, Kini Hanya Fokus Dakwah​

Apalagi, kemudian diketahui kakak beradik Amrozi juga terlibat pengeboman yakni, Ali Gufron alias Mukhlas dan Ali Imron. Bom menewaskan 202 orang umumnya turis Australia yang berlibur ke Pulau Bali. 

BACA JUGA: Dijebak Intel, Tawari Order Melatih Kelompok Militan

Tak hanya Indonesia, dunia pun gempar akibat besarnya jumlah korban dan luasnya daya rusak akibat bom. Tak ayal semua aparat tumplek blek ke Tenggulun kampung halaman Amrozi. Mulai polisi, TNI, pejabat, muspida maupun penyidik negara asing bersliweran ke Tenggulun. Tujuannya, mencari tahu latar belakang trio bom Bali asal Solokuro.

Imbasnya juga dirasakan pengurus Ponpes Al-Islam. Sebab, Ponpes itu didirikan Ustad Mohamad  Chozin yang tak lain kakak kandung trio Tenggulun; Amrozi, Ali Gufron, dan Ali Imron yang terlibat pengeboman Paddys’s  Pub dan Sari’s Café yang kemudian dikenal Bom Bali I. Tak ayal Ponpes Al-Islam dituding sarang teroris dan tudingan miring lainnya.

BACA JUGA: Menyusup ke Militan Kashmir, Intel Pakistan Ditangkap 

‘’Macam macam tuduhannya. Ya.. sarang teroris ya ponpes radikal. Pokoknya yang miring miring meski akhirnya semua tidak terbukti,’’ kata Ustad Mohamad Chozin pendiri dan pengurus Ponpes Al- Islam kepada penulis  baru baru ini di Lamongan.

ustad.jpgPENASEHAT YLK. Ustad Mohamad Chozin pengurus Ponpes Al Islam, Tenggulu, Solokuro, Lamongan. (Foto Bahari/CoWasJP)

Malam itu, Ustad Chozin ikut mengawasi gladi resik para eks kombatan dan napiter saat latihan pamungkas sebelum mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan. Ustad Chozin adalah penasehat Yasasan Lingkar Perdamaian (YLP) wadah eks kombatan dan napiter. Ustad Chozin begitu disegani di kalangan anggota YLP. Bahkan polisi yang melatih anggota YLP minta ijin seraya mencium tangan sang Ustad.

‘‘Maaf Ustad nanti kelompok barisan lewat sini,’’ ujar polisi tadi. Ustad Chozin dan penulis  yang ngobrol serius pun sedikit bergeser dari tempat itu. Karena obrolan cukup lama sembari mengawasi baris berbaris eks kombatan dan napiter, Ustad Chozin pun pilih duduk jongkok. ‘’Pegel (capek),’’ akunya.

Kembali soal keberadaan Ponpes Al-Islam. Bahkan Muspida Lamongan yang saat itu dipimpin langsung Bupati Masfuk mendatangi Ponpes Al-Islam  untuk melakukan klarifikasi. Yakni, terkait benar tidaknya Ponpes Al-Islam sebagai sarang teroris. Termasuk hubunganya dengan ketiga adik kandungnya Ali Gufron, Amrozi dan Ali Imron yang terlibat Bom Bali I.

BACA JUGA: Mandi Seminggu Sekali, Menu Makan Roti Cane​

‘’Bagaimana Ponpes Al-Islam, apa ada hubunganya dengan Amrozi dkk?’’ tanya   salah satu pejabat Muspida Lamongan saat itu serius.

 Ustad Mohamad Chozin menjelaskan, pendirian Ponpes Al Islam tidak ada kaitannya dengan saudara saudaranya yang terlibat Bom Bali I yakni, Amrozi, Ali Gufron maupun Ali Imron. Baik keterlibatan secara operasional sehari hari maupun secara administrasi.

Saat Ponpes didirikan sekitar tahun1993, adik adiknya sudah tidak berada di Solokuro, Lamongan. Sebab, Ali Gufron maupun Ali Imron terdekteksi ikut jihad melawan Uni Sovyet di Afghanistan.

BACA JUGA: Rampas Tank Rusia, Tak Bisa Kendarai, Diledakkan​

Sedangkan Ali Fauzi Manzi setelah dari Malaysia terdeteksi menjadi instruktur kamp militer di Mindanano, Philipina Selatan. ‘‘Jadi, mereka tidak terkait Ponpes Al-Islam,’’ ujar Ustad Chozin.

Secara struktural kepengurusan Ponpes Al-Islam pun yang terlibat pengemboman di Bali tidak masuk jajaran pengurus. Termasuk Ali Fauzi Manzi. Yang masuk kepengurusan dari keluarga Tenggulun adalah Ustad Mohamad Chozin dan salah satu adiknya Ustad Ja’far Sodik. Itu pun Ja’far Sodik tidak aktif terus menerus karena sempat ke Malaysia menjadi TKI.

alinyar.jpgSERIUS. Ali Fauzi di kantornya YLP Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. (Foto Bahari/CoWasJP)

Itu dibuktikan dengan akta notaris pendirian Ponpes Al-Islam yang diteliti Muspida yang dipimpin Bupati Lamongan Masfuk saat itu. Pada akhirnya dalam keterangan pers di kemudian hari Muspida Lamongan menerangkan keberadaan Ponpes Al-Islam tidak ada sangkut pautnya dengan pelaku Bom Bali I asal Tenggulun, Sokoluro, Lamongan yakni, Amrozi, Ali Gufroin dan Ali Imron.

Meski demikian image Ponpes Al-Islam sudah telanjur lekat dengan para pelaku Bom Bali I yang memang masih berhubungan darah dengan Ustad Mohamad Chozin sebagai pendiri Ponpes Al-Islam.

BACA JUGA: Ikrar Kesetiaan NKRI, Laris Diajak Selfie Pejabat Muspida​

‘’Kalau yang soal begituan kami pasrahkan Gusti Allah. Dia yang Maha tahu,’’ aku alumnus Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) jurusan Tarbiyah itu.

Selain itu lanjut Ustad Chozin, tidak mungkin pendiri Ponpes Al-Islam terkait terorisme apalagi pengemboman. Sebab, Ustad Chozin sendiri seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Agama (Depag) Lamongan. ‘’Mana mungkin seorang PNS mendirikan Ponpes untuk begituan (terorisme),’’ akunya.

Ditambahkan Ustad Chozin, dirinya  mengaku tidak tahu aktivitas adik adiknya saat pulang ke Lamongan. Sebab, mereka sangat tertutup. ‘’Kami keluarga Tenggulun tahunya mereka dikaitkan Bom Bali  ya.. dari media,’’ akunya.

Sebagai kakak tertua apa tidak bisa mencegah aksi adik adik sampeyan yang menimbulkan korban sangat besar? Ustad Chozin katakan, bagaimana mencegah wong aktivitas mereka saja  dirinya tidak tahu.

ali1.jpgMUSYAWARAH. Ali Fauzi memmimpin  rapat dengan anggota Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Pendopo kantor YLP. (foto Bahari/CoWasJP) 

Ustad Chozin sendiri berbeda pandangan dengan adik adiknya yang memilih jihad, mengebom dengan sasaran bule asing sebagai peringatan kepada Amerika dan antek anteknya yang mendzalimi umat Islam seperti Palestina dan lain-lain. 

BACA JUGA: Dulu Dendam, Anggap Polisi Togut, Sekarang Bermesraan

Menurut Ustad Chozin dalam menegakan syariat Islam harus bertahap. Tidak ujug ujug jihad.  Tahap pertama tarbiyah atau pendidikan, kedua dakwa dan ketiga adalah jihad. Jihad pun bisa dalam bentuk lisan maupun fisik. ‘’Tahap yang kami lakukan baru sampai tarbiyah atau pendidikan. Belum sampai jihad,’’ aku Ustad Chozin.

Soal jihad yang dilakukan adik adiknya dengan mengebom di Bali kata Ustad Chozin itu penafsiran mereka sendiri. Meski dirinya selaku kakak sulungnya tidak bisa melakukan intervensi. Itu karena menyangkut pemahaman dan keyakinan mereka. ‘’Saya tidak bisa campur tangan kalau menyangkut urusan keyakinan,’’  ujar Ustad Chozin.

Tapi, akibat tindakan ketiga adik sampeyen yang meledakan bom di Bali, keluarga Tenggulun bahkan Ponpes Al-Islam dicap sarang teroris, di cap radikal? Kata Ustad Chozin, itu hak mereka melebeli seperti itu. Pandangan seperti itu oleh Ustad Chozin dianggap wajar wajar saja. ‘’Wong Nabi  Muhamad SAW saja saat dakwa dibilang majnun atau gila oleh warga Makkah. Kami dibilang radikal, dibilang sarang teroris ya tidak masalah,’’ akunya. 

Ditambahkan Ustad Chozin, keluarga Tenggulun akan menerima dengan lapang dada apa pun penilaian masyarakat terhadap adik adik mereka yang terlibat pengeboman Bom Bali I. Tentunya ada yang pro kontra, pihak keluarga menyikapinya dengan arif. ‘’Bahkan saat adik adik kami (Amrozi dan Ali Gufron) diekskekusi mati kami legawa,  menerima dengan  ikhlas. Ini sudah digariskan Yang di Atas. Takdir,’’ ungkap Ustad Chozin.

ustad.jpgPENASEHAT YLK. Ustad Mohamad Chozin pengurus Ponpes Al Islam, Tenggulu, Solokuro, Lamongan. (Foto Bahari/CoWasJP)

Sejarah Ponpes Al-Islam sendiri bermula ketika Ali Gufron alias Mukhlas dipondokkan di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukohardjo Jateng,  pada 1978 silam. Pesantren Al-Mukmin yang sempat dipimpin pentholan Jamaah Islamiyah (JI) Ustad  Abu Bakar Baasyir mengilhami pendirian Ponpes Al Islam.

Bahkan salah satu adik Ali Gufron  Amin Sabir juga dipondokkan di Ngruki. Namun, dia meninggal saat mendaki Gunung Lawu pada 1985. Bahkan Ali Fauzi Manzi adik Ustad Chozin lain ibu juga sempat mondok di Ngruki meksi hanya kerasan setahun. Di tahun yang sama, Ali Gufron menghilang tanpa jejak.

Terinspirasi pondok pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jateng yang didirikan Ustad Abu Bakar Ba'asyir,  Ustad Mohamad Chozin mendirikan pesantren yang lebih menekankan pada pendidikan agama. ‘’Bahkan saat awal awal pendidikan para guru Ponpes kami impor dari Ponpes Al Mukmin Ngruki. Tapi, kurikulumnya tetap selektif dan disesuaikan kondisi di Lamongan,’’ aku Ustad Chozin.

Seiring kelulusan Ponpes yang kini dihuni sekitar 300 santri dan santriwati yang dipisah dalam pengajaran dan pemondokannya itu, kini banyak alumnus Ponpes Al Islam yang menjadi pengajar. 

Santrinya kata Ustadz Chozin, tak hanya datang dari Lamongan sekitarnya. Tapi, hampir seluruh Pulau Jawa ada, Kalimantan, Sumatra sampai Nusa Tenggara Barat (NTB). Jenjang pendidikannya mulai madarash ibtidaiyah, Tsanawiyah sampai Aliyah setingkat SMA. Setelah lulus mereka dikirim ke berbagai daerah untuk berdakwa dan mengajar. ‘’Itu yang dilakukan Ponpes Al- Islam,’’ jelasnya.

Soal paham radikal yang dianut adik adik sampeyan (Ali Gufrin, Ali Imron, Amrozi dan Ali Fauzi Manzi) apakah hasil pendidikan keluarga atau pengaruh pihak luar? Ustad Chozin mengaku,  kalau paham radikal ditanamkan keluarga apalagi orangtua rasanya tidak. 

ali.jpgPenulis (kanan) bersama Ali Fauzi Manzi (kanan)

Tapi, diakui Ustad Chozin bapaknya almarhum Nurhasyim pemahaman agamanya sedikit  berbeda dengan waga sekitarnya. Kalau umumnya masyarakat sekitar Solokuro warga nahdliyyin, bapaknya Nurhasyim saat itu sudah bergabung dengan pasukan Hizbulah. Setelah  ikut aktif di organisasi Masyumi. ‘’Kalau ada yang bilang aliran keras nggak juga. Hanya saja pemahaman yang dianut bapak sedikit berbeda dengan lingkungan masyarakat sekitarnya,’’ terangnya.

Kabarnya meski keluarga Anda terlibat Bom Bali I, tapi warga Tenggulun sedikit pun tidak antipati. Tapi tetap hormat karena keluarga khususnya almarhum Bapak sampeyan Nurhasyim cukup terpandang di desa, kaya, punya sawah luas?  Kata Ustad Chozin, kalau kaya kaya amat mungkin tidak. Tapi, bapaknya memang ulet. Di saat warga lainya hanya bertani almarhum bapaknya Nurhasyim sudah melakukan bisnis palawija dan bisnis hasil pertanian lainnya. ‘‘Jadi kehidupan keluarga kami lebih sejahtera disbanding warga desa lainnya,’’ paparnya. 

Soal latihan ekstrakurikuler sapala atau pecinta alam atau ‘’semi latihan militer’’  bagi para santri kata Ustad Chozin, tetap dilakukan sebagai bekal hidup mandiri para santri. Dulu latihan sapala pernah dihentikan setelah Bom Bali I meledak guna menghindari kesalahpahaman. Setelah reda latihan sapala dilanjutkan.  

Kini selain sebagai pengurus dan pengajar Ponpes Al Islam, Ustad Chozin juga menjadi penasehat Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP). Itu sebagai wujud kepedulian Ustad Chozin terhadap keluarga eks kombatan dan napiter untuk memulai hidup baru yang damai.  Pihaknya mendukung sepenuhnya program deradikalisasi eks kombatan dan napiter. Sebab, eks kombatan dan napiter juga susah mencari pekerjaan begitu keluar bui akibat status yang disandangnya. Begitu juga anak istri mereka ikut susah.

isteri-napiter.jpgTABAH ILMU. Para Istri mantan napi terorisme mengajar ngaji di Masjid Baitul Mutaqien, komplek kantor YLP Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. (Foto Bahari/CoWasJP).

Sementara  hubunganya Ponpes Al Islam dengan  aparat atau polisi setempat lanjut Ustad Chozin, juga baik. Misalnya, jika ada penyimpangan di daerah yang melibatkan oknum petugas yang membekingi perjudian atau tempat maksiat lainnya Ustad Chozin selalu melaporkanke ke aparat setempat. Dan, mereka senang dapat masukan lalu menertibkan bersama sama. 

Kata polisi mereka senang dilapori ustad kalau ada ketidakberesan oknum aparat di lapangan. Justru itu yang diharapkan polisi dari para ustad. Kalau tahu ada oknum polisi menyimpang didiamkan justru malah keliru. Tanggapan pimpinan polisi seperti itu yang diharapkan. ‘’Makanya, kami selalu ada di belakang aparat untuk memberantas kemaksiatan. Ini konkrit  kita lakukan bersama polisi dalam memberantas tempat kemaksiatan di sekitar Solokuro,’’ akunya. (Bersambung)

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda