Mahasiswa UM Surabaya Kembangkan Bahan Ajar Berbasis Kearifan Lokal Kurikulum Prototipe

Siswa kelas VII D SMPM 15 Surabaya belajar dengan e-modul dari gawai masing-masing. (FOTO: Sakti)

COWASJP.COM – Lima mahasiswa Prodi (program studi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Muhammadiyah Surabaya berhasil mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. 

Hasil hibah penelitian mandiri itu diketuai Dr. Dra. Sujinah, M.Pd. Adapun dananya bersumber dari LPDP bekerja sama dengan Dirjen Sumber Daya Kemendikbudristek 2021.

Kelima mahasiswa itu adalah Sakti, Maratus Sholiha, Lusi Afitrianita A., Lailatul Irmiah, dan M. Azadien Nuzul Zuhri. Mereka termasuk mahasiswa PBSI angkatan 2018.

Sujinah mengatakan, hibah riset mandiri dosen ini memiliki beberapa luaran. Salah satunya produk bahan ajar yang mengimplementasikan kurikulum prototipe. “Setiap anggota bertugas mengembangkan bahan ajar berbasis kearifan lokal. Penyusunannya mengacu pada kurikulum prototipe," ujarnya. 

Bahan ajar karya mahasiswa itu meliputi e-modul, e-LKS, video pembelajaran, dan poster digital. Materinya berbeda-beda dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Selanjutnya, produk itu diujicobakan di sekolah mitra, di bawah pembinaan Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.

Pelaksanaan uji coba bahan ajar disesuaikan dengan kesiapan waktu setiap sekolah mitra. Lusi, misalnya, melakukannya di kelas VII A dan VII B SMPM 6 Surabaya. Dia mengujicobakan produk bahan ajar berupa poster digital dengan judul Asal Usul Kota Surabaya. 

“Poster digital dapat digunakan baik di masa pandemi maupun endemi. Tujuannya, memudahkan pendidik menyajikan materi yang menarik dan menyenangkan serta berbasis teknologi," kata Lusi.

Sakti mengembangkan e-modul berdasarkan kurikulum prototipe dan berbasis kearifan lokal. Uji coba dilakukan di kelas VII-D SMPM 15 Surabaya. Peserta didik dikelompokkan sesuai dengan hasil uji asesmen diagnostik awal. E-modul berbasis kearifan lokal itu berupa parikan. Peserta didik tampak antusias. 

um-sby2.jpgSiswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 17 Surabaya mempelajari peristiwa 10 November dari media Canva. (FOTO: Lailatul Irmiah)

“Mereka bebas mengerjakan soal dengan memanfaatkan media. Boleh menggunakan Powerpoint, kertas buffalo, video, atau media lain," ujar Sakti. 

"Materi e-modul sangat menarik dan mudah dimengerti, ujar Kansha (14), salah satu peserta didik. Dirinya juga mengaku senang karena bebas memilih media untuk menyelesaikan soal-soal di e-modul.

Uji coba e-LKS diadakan Maratus Sholihah di kelas VII SMPM 4 Surabaya. Unsur kearifan lokalnya adalah kuliner Surabaya. LKS elektronik itu juga disusun menggunakan kurikulum prototipe yang sekarang dikenal dengan nama Kurikulum Merdeka.

Menurut Maratus, uji coba diikuti oleh 30 siswa. LKS kuliner Surabaya teks prosedur ini dapat dibuka pada setiap gawai siswa. 

Tugas harus diselesaikan peserta didik secara berpasangan. Selain itu, mereka secara mandiri mengerjakan tugas uraian dan soal pilihan ganda. "Untuk soal pilihan ganda, jawaban yang dianggap benar tinggal diklik," ujarnya.

E-LKS dikemas dalam bentuk digital. Selain berisi materi tertulis, terdapat gambar dan video kuliner khas Surabaya. Jadi, pembelajaran tidak membosankan. 

Keunggulan lain, peserta didik dapat belajar di mana pun dan kapan pun. “Selain penggunaannya mudah, peserta didik bisa mengenal lebih dekat kearifan lokal Suroboyo, khususnya makanan khasnya," tambah Maratus. 

um-sby.jpg1.jpgSiswa kelas VII D SMPM 15 Surabaya belajar dengan e-modul dari gawai masing-masing. (FOTO: Sakti)

Sementara itu, Lailatul Irmiah mengembangkan video pembelajaran teks eksplanasi peristiwa 10 November melalui media Canva. Materi ini diujicobakan di kelas VII B SMP Muhammadiyah 17 Surabaya. 

"Melalui video ini, peserta didik dapat mengetahui sejarah Kota Surabaya," ujar Lailatul.

Selain itu, video ini mempercepat pencapaian elemen membaca dan pembelajaran fase D kurikulum prototipe. Sekaligus guru termotivasi untuk memanfaatkan media video agar pembelajaran lebih menarik.

Media aplikasi video lain yang digunakan adalah Powtoon. Kegiatan ini dilakukan M. Azadien Nuzul Zuhri di kelas VIID SMP Muhammadiyah 11 Surabaya. Tema kearifan lokal yang diangkat adalah wisata religi di kota Surabaya. 

um-sby2.jpg2.jpg

"Dari video deskripsi ini, siswa diajak untuk mengenali tempat-tempat religius di Surabaya. Apalagi, tempat-tempat itu menjadi salah satu tujuan wisata di Surabaya," ujar Azadien. 

Sujinah menambahkan, pembelajaran bermedia video dan berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Mereka memperoleh informasi awal tentang materi sehingga dapat menyelesaikan tugas proyeknya. 

Muncul respons positif dari murid dan guru. Sajian materi lebih menarik dengan berbagai animasi. Juga pembelajaran menjadi lebih menggembirakan, pungkasnya. (*)

Pewarta : Yarno
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda