The Power of Silaturahim

Ikut Merasakan Dahsyatnya Energi Silaturahim

Di Resto UC ketemu kawan lama, aktivis mahasiswa 1990an Nirwan Ahmad Arsuka (dua dari kanan).

COWASJP.COM – Salah satu pertanyaan yang sering diajukan ke Aqua Dwipayana adalah apa resep sehatnya? Minum vitamin apa? Atau punya ramuan khusus apa? Pertanyaan tersebut juga dilontarkan oleh dulur-dulur Konco Lawas Jawa Pos (CowasJP). 

Pertanyaan tersebut dilontarkan karena teman-teman melihat Aqua Dwipayana selalu tampak fit. Stamina prima. Hal tersebut tampak dari aktivitasnya yang padat, terbang, pindah dari satu kota ke kota lain, baik lewat udara maupun jalan darat. Pagi berada di Banyuwangi, siang di Banjarmasin, malamnya di Surabaya, esok harinya sudah di Jogja. 

Dan doktor komunikasi lulusan Universitas Padjajaran ini terus tersenyum, menyapa sahabat-sahabatnya dari berbagai kalangan, seperti tanpa jeda. Tidak ada rasa capek. Selalu hangat, tidak ada sekat. Selalu terbuka tidak pandang temannya siapa. Selalu punya waktu tak pandang bulu.

AQUA4.jpgManager Concordia Lounge Pak Iwan (berdiri) saat menemui kami di ruang tunggu VIP tersebut.

Seperti yang terjadi pekan kedua September ini. Senin memberi motivasi di BRI Samarinda, Selasa di Bogor, Rabu di Banyuwangi, Kamis siang Aqua Dwipayana berada di Padang. Tiba-tiba pesan WA masuk ke HP saya dari Aqua yang mengabarkan Kamis malam mendarat di Jogja pukul 21.45. Disusul WA seperti ini: 

"Mohon dicek malam ini sekitar jam 22.00 Gus AMUS di mana? Apakah berkenan kita temui? Makasih banyak Mas ERWAN utk semua infonya."

Bayangkan, muter-muter keliling kota, mendarat pukul 21.45, langsung membuat agenda silaturahim pukul 22.00 karena tahu ada sahabatnya di tempat ia berada. Pertanyaannya, apa tidak capek? 

Saya pun kemudian berkomunikasi dengan Gus AMUS alias Agus Mustofa, Cowaser yang sedang berada di Jogja. Gus AMUS diundang almamaternya, Teknik Nuklir UGM. Gus AMUS menginap di UC UGM. Tanpa menyebut akan saya temui bersama Mas AQUA. Rupanya malam itu belum rezeki kami untuk bisa silaturahim dengan Gus AMUS. 

aqua6.jpg

Maka, "skenario berikutnya", ngajak sarapan di Jumat pagi sebelum Gus Amus terbang ke Surabaya. Ajakan saya disambut baik. "Wah, trm kasih. Bisakah kita sarapan sambil mendekati Bandara? Pswtku take off jam 9 pagi. Semula aku mau brgkat dari UC pk. 7:30. Biar nyampe bandara sktr pk. 8. Jadi masih ada waktu cek in 1 jam," jawab Gus AMUS dalam WA-nya.

Jumat pagi itu, Presiden Jokowi dijadwalkan mendarat di Bandara Adisucipto, Jogja pukul 09.00. Gus AMUS khawatir jalanan ke arah bandara macet. Maka Gus Amus memilih berangkat lebih pagi. Namun, informasi updatenya, Jokowi mendarat siang jam 14.00. Maka agenda sarapan pagi pun waktunya lebih leluasa.

Update informasi tersebut kami terima dari Cowaser Agung Pamujo yang malam itu juga mendarat di Adisucipto Jogja. Kawan yang biasa disapa Pam ini hadir di acara yang dihadiri Jokowi di hotel Grand Inna Malioboro. Pam, kini menjadi Corporate Secretary (corsec) Perum Perikanan Indonesia (Perindo). BUMN yang mengurusi "sumberdaya ikan".

Skenario lanjutan, sarapan pagi mempertemukan para Cowaser yang ada di Jogja. Gus AMUS, PAM dan Cowaser Jogja. "Pokoknya setiap ada teman ke Jogja, kita harus sambut dengan baik. Sebisa mungkin kita muliakan tamu kita," pesan Mas AQUA. 

"Saya juga sangat lama nggak ketemu Mas Pam. Terakhir saat beliau ke Rumah di Bogor bersama istrinya. Alhamdulillah kalau bisa ketemu di sini. Ajak sarapan sekalian," kata Mas AQUA saat tahu Pam juga ada di Jogja.

Kontak intens dengan Pam juga saya lakukan. Deal. Esoknya siap saya samperin ke Hotel Jambuluwuk tempat dia menginap. Dari Jambuluwuk, menuju Sawitsari baru ke UC UGM. Pam dan Gus Amus tidak tahu kalau saya akan bersama Mas Aqua.

Namun, manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Pagi-pagi, Pam mengirim pesan WA. Mengabarkan kalau ia harus berkordinasi di Hotel Grand Inna jam 08.00. Ia menawarkan sarapan di sekitar Malioboro saja. Tentu, tawaran ini bisa membuat Gus Amus khawatir ketinggalan pesawat. Maka, saya putuskan tetep sarapan di arah Bandara sekalian mengantar Gus Amus. Baru dari Bandara ketemu dengan Pam. 

Jumat pagi, saya berangkat mengantar anak masuk sekolah, langsung ke Sawitsari. Lalu kontak Gus AMUS mengabarkan otw ke UC UGM. "Saya di resto. Langsung ke resto saja. Nanti bilang dari kamar 230," pesan Gus Amus. 

Saat saya tiba di UC Hotel, rupanya Gus Amus sudah sarapan. Saya pun langsung menuju ke resto. Mas Aqua agak jauh di belakang saya. Baru setelah saya ketemu, Gus Amus melihat ada Mas AQUA. "Kejutan" yang kami skenariokan lumayan berhasil. "Lho sama Mas AQUA juga to? Ayo ke resto saja," kata Gus Amus setelah cipika-cipiki di depan pintu resto UC.

Kami pun ngobrol gayeng. Hangat. Menanyakan kabar masing-masing dan keluarga. Hingga tak terasa waktu hampir jam 08.00. Gus AMUS pamit untuk siap-siap ke Bandara. "Silakan Gus Amus ambil barang-barang di kamar. Kami tunggu di sini. Nanti kita antar ke bandara," ujar Mas AQUA. 

Saat di resto UC itu, Akhmad Ikhwanudin alias Iwa menyusul. Dan di resto itu juga saya ketemu kawan lama. Aktivis mahasiswa tahun 1990-an, Nirwan Ahmad Arsuka. Rupanya Nirwan juga hadir di acara Gus Amus. Nirwan memang alumni Teknik Nuklir UGM juga. Maka kesempatan menunggu Gus Amus berkemas itu saya gunakan untuk ngobrol dengan Nirwan. Mantan pengelola halaman Bentara di Harian Kompas itu kini aktif menggerakkan "Pustaka Bergerak" di Papua.

Tanpa Kode Booking, Dapat Seat Pilihan

Tak lama kemudian Gus Amus sudah kembali ke resto dengan kopernya. Kami pun pamit ke Nirwan dan bergegas ke bandara. Saat menuju mobil, Mas AQUA berpesan ke saya yang menjadi driver, untuk mampir ke toko oleh-oleh dekat Bandara. 

Di tengah perjalanan Mas Aqua tanya Gus Amus ke Surabaya naik pesawat apa. Dijawab Wing Air. Aqua pun segera mengontak kawan baiknya di LionAir Jogja, Pak Ripaduka. Dia sampaikan saudaranya bernama Agus Mustofa akan kembali ke Surabaya dengan WingAir pagi ini. Mohon bisa dibantu dengan tempat duduk yang paling enak.

"Kalau pesawatnya ATR seperti yang dipakai WingAir jurusan Jogja-Surabaya ini, tempat duduk yang enak di belakang. Nomor 19 dan 20. Gus Amus lebih suka di deket jendela apa deket lorong? Dekat lorong ya biar mudah kalau ke toilet," kata Mas Aqua.

Informasi itulah yang juga disampaikan ke Ripaduka. Dan di ujung telepon, Pak Ripaduka menjawab siap untuk membantu. Tanpa ba bi bu atau ina ini itu, urusan tiket dengan seat terbaik ini beres. Tanpa kode booking. Tanpa beaya. Padahal sebelumnya, tiket Gus Amus sudah di-check-in-kan oleh panitia dari Teknik Nuklir di seat nomor lain. Di sinilah energi silaturahim terasakan.

Di jalan hampir memasuki bandara urusan check in tiket selesai. Mas Aqua pun memberi kode berhenti di depan toko. Pusat Oleh-oleh Bandara Jaya. "Langganan saya. Tinggal ambil kok. Titip oleh-oleh untuk keluarga di rumah ya Gus Amus. Sebentar saya ambilnya," ujar Mas Aqua segera turun dari mobil dan masuk ke toko.

AQUA3.jpgAgung Pamujo alias PAM (kanan) saat berada di rumah Mas AQUA di Sawitsari.

Mas Aqua melambaikan tangan ke seorang pelayan toko oleh-oleh tersebut. Langsung satu dos besar paket oleh-oleh telah siap dan dimasukkan ke mobil. Kami bertiga --saya, Gus Amus dan Iwa-- tak sempat turun mobil. Urusan oleh-oleh selesai. Lanjut ke bandara yang pintu masuknya tinggal berjarak 300an meter. 

Sampai di Bandara, saya diminta mas Aqua parkir di tempat parkir VIP. Di depan Lounge VIP Concordia milik Angkasa Pura. Begitu turun dari mobil, petugas sudah menyambut. Tas koper dan dus oleh-oleh segera diurus oleh Mas Nopian, dari Angkasa Pura. Kami menunggu di ruang tunggu VIP Concordia Lounge. 

Ditemui langsung oleh Manager Concordia Lounge Pak Iwan. Dicarikan tempat duduk yang kosong dan pas untuk kami berempat. Setelah dapat tempat, kami pun menikmati hidangan di ruang tunggu VIP tersebut. Tak berapa lama, Mas Nopian datang menyerahkan boarding pass Gus Amus. 

'Orang Besar' maupun 'Wong Cilik' Menyapa Mas Aqua

Rupanya jadwal terbang Gus Amus sedikit mundur. Banyak antrean pesawat yang akan mendarat. Karena pagi itu banyak rombongan Dirut BUMN maupun pejabat dari Jakarta yang ke Jogja hadir di acara Jokowi. 

aqua7.jpgMenunggu boarding Gus Amus di Concordia VIP lounge Bandara Adisucipto Jogja.

Di saat menunggu itulah, Mas Aqua bertemu teman-teman akrabnya. Di antaranya Pemimpin Wilayah BRI Yogyakarta Hendro Padmono. Hendro sedang menunggu Dirut BRI Suprajarto yang datang dari Jakarta. Suprajarto, yang beristrikan Yenny Rahman, juga teman akrab Mas Aqua.

Waktu kedatangan Suprajarto bersamaan dengan boarding Gus AMUS. Maka begitu Gus AMUS pamit boarding dan masuk ke pesawat, Mas AQUA tidak langsung pulang. Ia pun menunggu Dirut BRI Suprajarto. Begitu ketemu keduanya bersalaman dan cipika-cipiki. Kemudian ngobrol sebentar lalu sama-sama keluar dari VIP lounge tersebut. Suprajarto dan Hendro pamit duluan. Kami agak di belakang.

Saat mau keluar Concordia lounge ini saya amati ternyata semua karyawan menyapa Mas Aqua. Tidak hanya yang di bagian resepsionis. Tapi juga mereka yang biasa membantu barang bawaan tamu VIP. "Terima kasih Pak Aqua. Selamat jalan," kata mereka. 

Saya membatin, "Luar biasa Mas Aqua ini. Tidak hanya "orang besar", "Wong Cilik" pun menyapanya! Pasti ini hasil dari kekuatan silaturahim. 

Keluar Concordia kami menuju mobil. Kembali ke Sawitsari. Oh iya, saat di VIP lounge tadi, kami berkordinasi dengan Cowaser Adib Lazwar Irkhami yang menunggu di rumah Sawitsari. Adib "kepancal" tidak bisa bareng kami mengantar Gus Amus. 

Alhamdulillah, Adib di rumah Sawitsari dengan driver dari PLN Jogja. Maka sebelum kami menuju Sawitsari, Adib pun kami minta untuk menjemput Mas Pam (Agung Pamujo) di Hotel Garuda (Grand Inna Malioboro). Sehingga waktu tiba di rumah bisa bersamaan.

AQUA2.jpgMas Aqua (paling kiri) bertemu sahabatnya Suprajarto (Dirut BRI, kedua dari kiri) dan Hendro Padmono (Pemimpin Wilayah BRI Yogyakarta, kanan) di Concordia VIP lounge Bandara Adisucipto Jogja.

Semua berjalan lancar. Begitu kami tiba di rumah Sawitsari, tak berapa lama kemudian Adib dan Mas Pam tiba. Dan saat kami datang, Mas Aqua ternyata sudah janjian ada teman yang mau silaturahim ke rumah. Tibanya pun bersamaan. Rupanya yang janjian datang adalah Mas Ary Nur Prabowo. Mas Ary ini sahabat saya di ICMI Orwil DIY. Mas Ary juga punya banyak teman yang juga sahabatnya Mas Aqua. Jadi klop.

Maka, silaturahim Jumat pagi yang InsyaAllah penuh berkah itu, berlangsung gayeng. Ngobrol dengan Mas Pam dan Mas Ary dilanjut di meja makan. Sarapan. Sarapan terlezat di dunia --kata Kung Dirman --yakni sarapan dengan masakan olahan Mak Ti. Mak Ti merupakan juru masak handal di rumah Sawitsari. 

Mas Pam pun pamit menjelang pukul 10.30. Harus kembali ke hotel. Diantar Adib dan Iwa. Iwa hanya sampai UC Hotel UGM untuk mengambil mobilnya. Mobil Iwa ditinggal di UC karena saat mengantar Gus Amus ke bandara, ia bergabung ke mobil saya. 

Saat Pak Adib mengantar Mas Pam, kami lanjut berbincang dengan Mas Ary. Kami pun salat Jumat di masjid dekat rumah Sawitsari. Bertiga kami berjalan ke masjid. 

Saya pulang dari rumah Mas Aqua, sehabis Jumatan. Bareng Pak Adib pulang dari mengantar Mas Pam. Begitu pula Mas Ary. 

Sehabis kami pulang, Mas AQUA ternyata tidak beristirahat. Dia meneruskan silaturahim. Ke mana? Mas AQUA mengunjungi para sahabatnya di Tribun Jogja. Benar-benar tidak ada capeknya! Subhanallah.

aqua.jpgAqua Dwipayan (kanan) saat bersilaturahmi di kantor harian Tribun Jogja, Jumat (14/09/2018).

Lalu apa jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini? Apa resep sehat dan stamina fit Mas Aqua?  Jawabannya ada di tulisan besok ya! (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda