Sang Begawan Media

Babi Bebek

Drh Indro Cahyono. (FOTO: Screenshot YouTube Luna Maya urbanasia.com)

COWASJP.COM – KELIHATANNYA ini memuji, tapi menyakitkan. Terutama bagi yang dituju. "Nah, ini dia. Baru pas. drh Indro bicara soal virus PMK sapi. Bukan virus Covid-19," tulis seorang yang Anda sudah tahu.

Maksudnya: dokter hewan itu harus bicara tentang sakitnya hewan. Bukan tentang penyakit  yang menyerang manusia seperti virus Covid. 

Memang, ketika drh Indro Cahyono mengungkapkan penelitiannya tentang PMK, tidak ada yang sewot. Umumnya memuji. Kecuali mungkin, para penanggungjawabnya saja. 

drh Indro lah yang pertama meneliti bahwa PMK sudah masuk Indonesia. Itu berarti Indonesia sudah bukan negara bebas PMK lagi. Di Jatim misalnya, sudah merata. Semua kabupaten sudah terjangkiti.

Itu berbeda ketika drh Indro banyak bicara soal virus Covid dulu. Ia digebuki. Diejek. Dihina. Dilecehkan. Terutama: diremehkan.

Tapi reaksi Indro cuek bebek goreng. "Itu sudah makanan saya sehari-hari. Puluhan tahun. Kalau saya pedulikan itu saya tidak bisa jadi peneliti," ujarnya.

Indro sangat memaklumi sikap umum masyarakat seperti itu. Ia tidak marah. Ia tidak gelisah. "Mereka kan tidak tahu bahwa prinsip virus itu sama. Yang menyerang manusia kek, yang menyerang hewan kek, prinsipnya sama. Bahkan pun virus  yang menyerang tanaman," katanya.

Maka Indro pilih menulis buku. Tentang virus. Khususnya Covid-19. Baru saja terbit. Pekan lalu.

Buku itu menarik sekali. Bukan buku ilmiah, dalam pengertian jurnal. Tapi ilmiah merakyat.

Semua aspek virus ia bahas. Tiap aspek ia tulis dalam satu bab. Tiap bab, rata-rata, tidak sampai 1 halaman. Membacanya enak. Bahasanya merakyat. Banyak info grafik. 

Membaca buku ini seperti makan bebek goreng satu suap, satu suap, satu suap, tiba-tiba tamat. Tidak sampai kabangkulanan, apalagi tersedak.

Misalnya ada satu bab yang membahas pertanyaan ini: virus itu benda hidup atau benda mati? Sebenarnya saya ingin pembaca Disway menebak jawabannya. Lalu dapat hadiah buku tersebut. Tapi saya khawatir: semua tebakan pembaca salah. Saya sendiri pernah mencoba menebaknya: saya salah. 

Maka saya bocorkan saja jawabannya di sini: virus itu bukan benda hidup, juga bukan benda mati. "Definisi yang paling mendekati adalah virus itu parasit sejati," tulis Indro (halaman 3). Bahasa sono-nya: parasit obligat. Yakni parasit yang menumpang dan tergantung sepenuhnya pada sel makhluk hidup yang dimasukinya.

indro1.jpg2.jpgPeneliti virus dan praktisi penanganan wabah penyakit, Drh. Moh. Indro Cahyono . (FOTO: Wartakotalive.com/Vini Rizki Amelia)

Ditulis juga di bab itu: lantas apa tujuan hidup virus? Tujuan virus hanya satu: mereplikasi diri. Ia tidak punya tujuan membunuh manusia. Hewan pun tidak. Juga  tumbuhan. Kematian itu hanya akibat saja.

Bahkan, dalam aksinya, virus itu tidak ngawur. Ia tidak bisa masuk ke sembarang sel. Kalau pun bisa masuk ke beberapa jenis sel ia tidak mau membuat infeksi sel itu. Tidak bisa. Setiap jenis virus punya darling sel tertentu. Istilah sono-nya: sel target. Kalau pun bisa masuk ke sel yang bukan darling-nya, virus itu hanya diam saja di situ. 

Sebagai peneliti virus yang serius Indro punya koleksi berbagai macam virus. Orang seperti ia tidak sama dengan kita-kita pada umumnya. Kita takut virus. Bahkan ada yang sampai paranoid. Ia tidak. 

Kalau sudah menggeluti virus Indro tidak ingat lagi kalau ia itu dokter hewan. Ini ilmu virus. Bukan ilmu hewan. 

Dokter hewan itu kuliahnya di S1. Ia pindah ke ilmu virus. Berarti tidak melulu lagi mendalami ilmu hewan. Apalagi, apa sih bedanya manusia dengan hewan dan tanaman –dalam hal ilmu susunan selnya.

Bab terpendek di buku itu tidak sampai setengah halaman. Dua menit selesai membacanya. Yakni bab ''apakah antibiotik bisa membunuh virus''. Saya bocorkan saja jawabnya: tidak. Antibiotik hanya bisa membunuh bakteri.

Sejak kapan Indro menemukan solusi nyata untuk kehidupan yang lebih baik? “Sejak saya masih jadi peneliti junior. Itu tahun 2005," katanya. 

Saat itu ada penyakit AI pada ayam. Membahayakan. Bisa jadi wabah. Temuannya kala itu, katanya, juga ditertawakan orang. 

"Jadi kalau sekarang masih ditertawakan itu sudah biasa," katanya.

"Jika pak Dahlan pernah dengar tentang bayclin untuk membunuh virus AI di kandang, itu hasil penelitian saya," ujar Indro. 

Saya minta maaf. Saya tidak pernah mendengar itu. Saya tidak punya ternak ayam. Saya hanya suka sop ayam. Terutama yang bikinan Si Galuh Banjar itu.

Kalau di masa Covid Indro melahirkan ''Protokol Rakyat'' di wabah PMK, sekarang ini Indro membuat ''Protokol sehat ternak'' khusus untuk mengatasi wabah PMK.

Indro sudah meneliti berbagai macam virus kecuali virus ASF yang menyerang babi. Virus ASF itu, katanya, ganas sekali. "Tingkat kematiannya sampai 80 persen. Bisa 100 persen. Dalam 14 hari," ujar Indro.

Itulah yang menyebabkan Tiongkok pernah mengalami krisis babi. Penyakit itu juga sampai ke Indonesia. Ternyata sampai sekarang belum ada penelitian soal itu. Di negara kita. 

Mengapa Mohamnad Indro Cahyono tidak tertarik menelitinya ASF? "Bukan tidak tertarik. Biarlah ada ahli lain yang meneliti," katanya. Indro sekaligus menantang mereka yang mendapat fasilitas negara di bidang penelitian untuk menghasilkan karya bagi rakyat. "Sampai sekarang pun belum ada hasil penelitian soal ASF di Indonesia," katanya.

Waktu itu Indro justru diminta membantu mengatasi ASF di Vietnam. Hasilnya, dari 1.000 babi yang terjangkit ASF di sana, hanya 3 persen yang mati.

Indro memilih memperkuat posisi peternak. Yakni dengan solusi mandiri. Itulah sebabnya ia melahirkan banyak 'protokol rakyat'. Termasuk protokol ayam dan protokol bebek. Ia pernah menemukan virus DVH di bebek. Juga virus IBJ di anak ayam. 

"Sepertinya sudah takdir saya harus hidup bersama virus," ujar Indro. Ia pun masih terus menjalin hubungan dengan Australia tempatnya belajar ilmu virus.

Tentu ia tidak kirim bukunya ini ke sana: buku ini berbahasa Indonesia. 

Saya memberanikan diri minta buku virus karyanya itu 15 buah. Saya ingin memberikan kepada pembaca, khususnya komentator Disway. Siapa tahu itu bisa meredakan kerusuhan demo di kolom komentar Disway.

Pak Pry-lah yang kita minta menentukan siapa 14 orang yang berhak mendapat buku itu –satu untuk dirinya sendiri. Keputusan beliau tidak bisa diganggu gugat. Pun oleh saya. 

Saya tahu akan banyak yang minta Pak Mirza sebagai penentu, tapi sudah lebih dua minggu beliau konsentrasi entah di mana. Jangan-jangan ia justru sedang membaca buku karya drh Indro ini.

Menurut pendapat saya inilah buku yang sangat praktis dan mudah dimengerti. Misalnya ketika Indro menulis Bab 2: apa itu antibodi. Dijelaskan, ukuran antibodi itu jauh lebih kecil dari virus Covid. Antibodi itu kecilnya 10 nanometer. Tidak bisa dilihat, pun oleh mikroskop biasa. Padahal yang akan dibunuh oleh antibodi itu besarnya sepuluh kali lipat. Ada yang sampai 50 kali lipat. Anda sudah tahu: ukuran virus Covid itu 100 nanometer (paling kecil) sampai 500 nanometer.

Bagaimana si kecil antibodi bisa membunuh raksasa Covid? "Ratusan antibodi mengepung dan mengeroyok virus. Seperti semut mengerubungi seputih cokelat. Sampai cokelatnya tak terlihat lagi. Lalu virus itu pun mati.

Bacalah sendiri hasil pemikiran, penelitian dan penulisan Indro ini. Saya tidak bisa membocorkan semuanya. 

Berpikir itu penting. Berbuat juga penting. Indro melakukan keduanya. (*)

Komentar Pilihan Disway

Edisi 24 Juni 2022: Ketua Umum

thamrindahlan

Meriam Rusia ganas mendentum / Presiden Ukraina geram beruntum / Sekarepmu bergaya wahai ketum / Presiden Indonesia malah tersenyum / Salamsalaman 

rid kc

Kawanku tidak mau menyebut politik tapi solitik. Entah mengapa politik disebut solitik. Politik itu tidak perlu serius. Politik itu tawar menawar kayak penjual dan pembeli di pasar. Kalau deal ya jalan kalau tidak ya sudah. Politik tidak usah dibuat serius. Rakyat yang gontok-gontokan sementara elitenya bancakan uang. Rakyat harus cerdas jangan mau lagi dibuat obyek cari uang. Yang penting bagi rakyat seperti saya negara aman, damai, harga terjangkau, bisa makan minum dan berkumpul dengan sanak keluarga, teman tanpa ada rasa ketakutan. 

Mas Dino

Awalnya sya melihat seperti siswa dipanggil guru BP. tpi entahlah, tergantung pda perasaan masing2 orang 

Yea A-ina

Bagi seorang tukang mebel, rekasane buat "kursi" tak seberapa dirasa. Kalau 1 kursi hilang direbut, tinggal bikin kursi lainnya, yang lebih bagus dan kokoh wkwkwk. Salam dari (mantan) tukang mebel @Mbah Mars

Lena Wati

Tukang Las berarti jg gak pusing kursinya hilang ya, tinggal bikin lg kursi yg bisa ber goyang lg.

Sutikno tata

Anda sedang emosi? emosi anda tidak menggambarkan kebenaran. Tapi bisa jadi menggambarkan keadaan anda dimasa depan. hati - hati dengan tekanan darah anda.

Amat Kasela

Ada lagi yang lebih hebat dari presiden, pun ketua partai : tukang cukur. Setinggi apapun jabatan, kalo disuruh kang cukur tunduk, pasti nunduk. Hidup Kang cukur rambut

Lena Wati

Tukang pijet nundhuk sm istrinya, lha jadi nundhuk nundhuk an.

Mbah Mars

Tukang cukur juga tunduk kepada tukang pijet 

ALI FAUZI

Melihat gesture foto di atas, saya teringat seorang karyawan dipanggil bosnya. Si karyawan duduk merunduk, diam, saat si bos "ngandani". Sementara anak si bos, bocil (bocah cilik), bebas bermain. Berlari lari mengejar pesawat mainan dari kertas yang diterbangkannya. Pesawat kertas itu menabrak kepala si karyawan. Lantas jatuh ke lantai. Si karyawan dengan senyum mengambilkan pesawat itu. Dan menyerahkannya kepada si bocil dengan segenap "keterpaksaannya." menggelinding ke bawah kaki si karyawan, dengan suka hati si karyawan ambil bola itu. 

edi hartono

Kelebihan Megawati adalah dia perempuan, ibu2, senior. Kelebihan kedua adalah namanya berakhiran soekarno putri, yg artinya putri nya Bung Karno, proklamator Indonesia. Sebagai anak Bung Karno, legitimasi untuk meramaikan kontestasi politik langsung dimiliki. Yg kedua, sebagai ibu2, inilah kelebihan yg sangat unik di dunia politik kita. Budaya Jawa mengajarkan betapa pentingnya adab untuk hormat ke orang tua terutama ibu. Pun begitu juga agama kita mengajarkan pentingnya hal ini. Saya yakin jokowi dan ganjar memiliki adab ini. Berkali2 keduanya bilang hubungan dg mega seperti anak dengan ibunya. Dijewer ibu ya biasa, atau anak kadang2 nakal ya biasa. Dari sini bisa dipahami unik nya konstelasi hubungan mereka. Namun, bagi yg melepaskan urusan adab ini, dan hanya membahas semata urusan politik maka pembicaraan jadi diarahkan kemana2. Terserah yg menginterpretasikan kejadian tersebut. Namun, saya yakin, faktor adab dan budaya unggah-ungguh ke ibu ini yg membuat jokowi hormat dan nrimo dg posisinya di hadapan Megawati. Bahkan jikalau pun saya dipanggil menghadap Megawati, saya rela duduk di kursi yg dipakai duduk jokowi seperti di foto tersebut. Namun, masalahnya, saya ini siapa kok berandai2 di panggil Megawati. Kenal aja tidak, pernah ketemu aja juga tdk, wkwkwk. 

Sugin Widodo

Lebih afdol menurut sya dgn meja bundar,,dgn jamuan makan,,,biar terlihat akrab dan humble...sya kok jg kasihan pk jokowi

Gianto Kwee

Mbak Mega memang cantik, saya melihat dari dekat saat Bung Karno wafat di rumah ibu Wardojo, jalan Sultan Agung, Blitar. Usia mbak Mega saat itu 23 tahun, saat inipun tetap Cantik di usianya yang 75 tahun dan akan tetap Cantik di usia berapapun karena dia seorang Wanita, Salam

Macca Madinah

Yang jelas, saya takjub mendengar kabar Pak Jokowi mau ke Ukraina! Saya kira becanda. Sebagai bandingan, banyak yang urung jalan-jalan ke Erops karena masih 'dekat' wilayah panas. Kalau memang kejadian, sah di hati dan pikiran saya, Pak Jokowi memang pemberani. Semoga aman dan misi tercapai.

Atra kosmetik

Wajar. Bu Mega lebih tua dan Pak Jokowi sudah menganggap Bu Mega seperti Ibu sendiri. Hanya netizen yg suka baper. Padahal Pak Jokowi biasa2 aja. Beda kasus kalau Puan yg duduk di kursi Bu Mega. Kepak sayap Lalapan Lamongan. Hihihi 

Pryadi Satriana

Saya ulang komen saya: itu foto biasa. Foto seorang "tamu/undangan" menemui "tuan rumah/yg mengundang" di Lenteng Agung. Urusan tempat duduk ya terserah yg mengundang. Foto itu menguntungkan Jokowi. Beliau muncul sebagai orang yg bisa "menyesuaikan diri dg sikon." Itu sangat penting dalam perpolitikan. Realistis. Saya bersimpati. Simpati beneran. Simpati seorang pendukung Jokowi. Bukan simpati seorang pendukung Anies seperti Dahlan Iskan. Simpati yg keluar dari tulisan tangan, bukan dari hati. Tangan wartawan bisa nulis apa saja. Cuma ada dua kategori wartawan: menyuarakan kebenaran dan menyuarakan kepentingannya atau kelompoknya. Yg kedua saya sebut "wartawan sialan", yg pakai "bahasa" Sujiwo Tejo disebut "wartawan jancuk-an". Dahlan di antara keduanya, kadang "nggenah", kadang "miring". Itu sebabnya saya sebut Dahlan Iskan "jurnalis setengah-setengah." Anda sudah tahu. Salam. Salaam. Shalom. Rahayu.

D Darko

Kalau melihat foto Pak JKW diatas itu berarti, seperti pepatah nenek moyang kita dahulu yaitu bahwa diatas langit masih ada langit .

Purnomo Inzaghi

Saya ingat Disway yg isinya soal Elon Musk...yg pake oblong saat ketemu Jokowi. Tuan rumah bebas bebas aja mau seperti apa...wong namanya tuan rumah. Dalam situasi di foto itu, tuan rumahnya ya pasti Bu Mega. Tapi memang foto seperti itu mudah di tafsirkan macam macam...menurut saya disitu Pak Jokowi datang sebagai kader partai sih, kalaupun Puan menyebut Presiden ya ngga ada salahnya juga, lha jabatan presiden kan emang melekat kapanpun dimanapun. Nanti saat konstelasi pilpres dimulai, foto ini pasti akan kembali banyak di upload dengan macam macam caption.

Sutikno tata

Teringat ketika SMA dipanggil Guru Bimbingan konseling gara - gara lewat jalan pintas pas jalan sehat.., tapi bedalah inikan semacam ngobrol saat transit, yang kebetulan diruang kerja umum. Unggah - Ungguhnya yang muda mendekat ke yang lebih tua agar yang tua tidak perlu mengeraskan suara dan yang muda seakan tidak meneriaki yang lebih tua. Marwah tidak akan hilang karena adab yang baik seperti itu, pun jika judul artikelnya tidak lurus seperti " Ketua Presiden" atau "Ketua Kursi".

didik sudjarwo

Saat membaca tulisan ini,ditemani secangkir kopi,rokok 432 (baca dibalik),jajan pasar dari my bojo.Nikmat.Sehingga tulisan ini tak begitu penting.Tak perlu diperdebatkan.

Yea A-ina

Di saat resesi ekonomi dunia menggeliat, gejala ancaman krisis energi dan pangan mulai nampak. Senyata tokoh politik yang mulai berakting. Bermacam akting "mengalihkan" topik perbincangan medsos dan warung kopi. Emosi para pemirsa politik, sedang dimainkan oleh para tokoh politik. Pesan yang ingin mereka sampaikan: lupakan inflasi dan isi tabungan anda. Drama berseri mulai ditayangkan, silahkan anda memilih, terlibat riuh rendahnya emosi atau nonton sekilas saja. Toh disaat ending, drama (politik) berseri cuma sebatas narasi,lalu resesi? pikir keri......

Jimmy Marta

Semalam bc running text di salah satu tv, tentang negara srilanka yg disebut bangkrut. Pagi ini banyak sekali beritanya. PM srilanka menyatakan ini situasi yg lebih serius. Bukan hanya sekedar krisis bahan pangan dan energi. Krisis keuangan yg sangat parah. PNS disuruh wfh. Beban utang tak terbayar. Seluruh anggota kabinet mengundurkan diri. Ribuan warganya pd meninggalkan negeri Sy baca nya jd sangat sedih, prihatin...Hanya doa untuk srilanka. Semoga ada jalan keluarnya.....

Er Gham

Cantik. Kharismatis. Sabar. Tabah. Nrimo. Hangat. Akrab. Cair.

Pryadi Satriana

Ada yang menarik di tulisan Dahlan Iskan: ungkapan 'power full'. He..he.. , sdh les bhs Inggris sampai ke Amrik bhs Inggrisnya kayak gini, mungkin gara2 "nyolong kertas selembar itu." He..he.. itu bhs Inggris anak SMP! SMP yg murahan, hi..hi.. . Culun banget!!!

Lena Wati

Ngomong2 soal Power Full Bah, yg kami butuhkan itu Power Full ttg : Ketahanan Pangan, Sandang ,Papan. Plus Energi,Kepastian Hukum,Layanan kesehatan,Pendidikan yg terjangkau,berkwalitas bukan "abal abal"). Power Full Prestasi mendunia, disegani,dihormati thdp intervensi asing. Nach itu baru Power Full. Bersyukur warga +62, sbgian besar sudah Power Full terhadap : Nrimo Ing Pandum , bahasa Abah dan Perasaan kami : Tidak berebut menang tp kalah . Lha buat apa menang tp kenyataanya kalah. Tetapi tetap "Andhap Asor", Mgkn inilah Pesan yg ingin disampaikan Abah ke : Penguasa, Pengusaha d Rakyat Jelata. kt butuh : "Gemah ripah loh jinawi, Ayem Tentrem Kerto Rahardjo" kearifan lokal yg patut di "uri uri" / pelihara. Lha kl kami yg nyampai in Pesan : Opo di gugu ( didengar),org kami bukan siapa2, beda kl Abah yg nyampai in pesan , "Anda sudah tau."

Antonio Samaran

Orang besar (dan berjiwa besar) tidak memperdulikan duduk di mana dan diperlakukan bagaimana. Jokowi sendiri mengajak anggota kabinet foto bareng duduk di tangga depan istana tanpa ada yg merasa direndahkan. Sebaliknya orang kebanyakan hampir pasti mempermasalahkan bagaimana dirinya diperlakukan. 

omami clan

Andai Abah buat partai baru, mungkin namanya P D I (Partai Dahlan Iskan) Terus karena beliau sudah sepuh maka beliau berikrar jadi ketua dewan pembina saja, tapi karena kebelet pengen nyapres mau gak mau beliau jadi ketum juga akhirnya Saking keenakan jadi ketum beliau lupa sudah berapa periode jadi ketum Suatu hari beliau berpikir mungkin sudah terlalu lama jadi ketum, sudah saatnya regenarasi Tiba-tiba Isna iskan yang belum pernah berkecimpung di partai itu beliau orbitkan jadi ketum, Azrul ananda yang sudah ikut mengelola partai dari awal jadikan wakil saja Atau Abah tetap jadi ketum, kemudian Isna iskan akan beliau jagokan sebagai capres, mengingat agak susah kalau maju sendiri Mumpung nama Isna iskan lg populer karena dia jadi ketua sosialita, Ngelantiur..... Guyon Maaf

Agus Suryono

POWEL PUL DAN SUPEL POWEL.. Di dunia ini ada negala yang dianggap supel powel. Dulu yang dianggap supel powel adalah Amelika dan Uni Sovyet. Konon sekalang ditambah China. Negala supel powel pastilah powel pul. Kalau tidak ya tak kan dianggap supel powel. Olganisasi yang demoklatis juga begitu. Yang powel pul akan telpilih jadi Ketua. Meski belum tua. Dan Ketua pastilah powel pul. Anggota dan semua punggawa paltai, pasti halus nulut Ketua. Meski kalau tidak sleg, ya boleh aja usul kepada Ketua.. Pengambilan keputusan atas usul, mungkin ada di AD/ALT.. @maybe.. maybe yes.. maybe no.. 

 

*) Diambil dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway.id

Komentar Anda