Reuni IX CowasJP di Jogja (8)

Bermalam di Homestay Pentingsari

Anggota CowasJP menikmati senam pagi yang diadakan panitia HUT III dan Reuni ke IX CoWasJP di Lapangan Camping Ground Desa Wisata Pentingsari.. (Foto-Foto: Rudy/CoWasJP)

COWASJP.COM – Reuni IX CowasJP tahun ini diadakan di Desa Wisata Pentingsari, Umbulharjo, Sleman, DI Jogjakarta. Acara yang berlangsung 11 – 12 Agustus 2018 ini dikemas cukup menarik.  Aqua Dwipayana selaku pendukung  acara reuni dibantu Erwan Widyarto sebagai ketua penyelenggara, Mas Adib Lazwar Irkhami, Iwa Ikhwanudin  dan beberapa rekan anggota Cowas di Jogjakarta.

Acara Reuni IX tersebut sekaligus HUT Cowas JP  ke-3 yang dihadiri sekitar 130 orang. Suasana reuni kali ini dikemas sangat menarik. Puncak acara pertemuan anggota berlangsung  di pendopo desa wisata. Makan malam juga di situ, sambil  lesehan. Makanan diatur rapi berjajar bagaikan makan Jamba (makan bersama) adat Minangkabau di Padang, Sumatera Barat.

Menu masakan yang disajikan pun sederhana: nasi, sayur urap, tempe  dan tahu becem, sepotong daging ayam,  dan rempeyek. Minumnya teh hangat. Sajian makan hari itu  sangat nikmat karena suasana di lerang Gunung Merapi tersebut udaranya cukup dingin. 

Dalam acara reuni kali ini semua peserta bermalam di homestay Desa Pentingsari. Semula sebagian  peserta beranggapan bahwa homestay yang disediakan panitia layaknya seperti  homestay yang ada di kota maupun di tempat-tempat wisata. Ini lain daripada yang lain. Homestay di Pentingsari menempati rumah-rumah warga yang ada di sekitar tempat wisata tersebut.

Rumah penduduk yang berfungsi sebagai homestay bentuk bangunannya sederhana. Begitu pula kamar yang tesedia tidak terlalu mewah. Setiap kamar hanya ada satu tempat tidur/dipan yang cukup besar. Di kamar tersebut bisa ditempati tiga sampai empat orang. Sedang kamar yang kecil bisa ditempati dua orang.

joget1.jpg

Setiap homestay dilengkapi dua sampai tiga kamar mandi. Sedangkan sebagai ruang lobinya cukup menggunakan ruang tamu, yang biasanya ada di bagian depan. Sedangkan kursi dan meja tidak terlalu luks. Meja kursi bentuknya sederhana. Yang jelas bahannya dari kayu jati. 

Acara pokok reuni selesai sekitar pukul 23.15 WIB. Karena udara dingin cukup menyengat di kulit, maka sebagian peserta langsung masuk ke homestay yang telah disediakan panitia. Saya bersama rekan Kung H Rudi Setyo Widodo, Mas H. Munash Fauzi (Malang), H. Fathony, Purnawan Hadi, disusul Mas Purwadi (dari Jakarta) langsung masuk ke homestay Pak Surip. 

Rumah Pak Surip tak jauh dari pendopo tempat pertemuan anggota Cowas. Jaraknya sekitar 100 meter. Rumah Pak Surip bangunannya sederhana. Luas rumah sekitar 85 meter persegi. Pintu bercat biru. Ada ruang tamu yang cukup luas. Di dalam rumah terdapat tiga kamar besar. Di belakang rumah ada dua kamar mandi, ditambah satu kamar mandi pribadi untuk keluarga Pak Surip. Dua kamar mandi yang disediakan untuk tamu sudah full keramik. Kedua kamar mandi tersebut cukup bersih. 

Monggo istirahat rumiyin, yen ngersakaken kopi kalian teh mundut piyambak sampun sungkan. Panjenengan anggep griyo piyambak (Silakan istirahat dulu, kalau ingin minum kopi dan teh bikin sendiri. Jangan sungkan. Anggap seperti rumah sendiri),” ujar Pak Surip dengan bahasa Jawa medok.

Apa yang dikatakan Pak Surip bukan sekadar basa-basi. Sejak saya memasuki homestay Pak Surip di meja tamu sudah tersedia camilan. Misalnya krupuk udang, pisang raja, kue kering, kripik pulih. Sementara di meja ruang tengah tersedia termos panas, air mineral, kopi saset (kopiko, kopi kapal api, white coffee), gula dan teh yang siap diberi gula pasir.

Pak Surip memang ramah kepada tamunya. Saya bersama Pak Surip sempat ngobrol ringan. Dia menceritakan bahwa sejak desa ini dikunjungi wisatawan ada sedikit tambahan penghasilan. Lumayan kalau ada tamu yang menginap di sini. “Semua tamu yang menginap di rumah ini saya ibaratkan seperti keluarga sendiri. Karena itulah, panjenengan jangan sungkan-sungkan”, katanya.

joget2.jpg

Rumah Pak Surip nampaknya masih baru direnovasi. Bangunan dinding di dalam rumah menggunakan  batu batako, dan bagian atasnya menggunakan batu kali. Tembok bagian depan juga dari batu kali yang tidak dicat, sehingga kelihatan antik. Bila dilihat rumah Pak Surip memang kelihatan sederhana.  

Pelayanan Pak Surip terhadap tamu yang bermalam di rumahnya tidak diragukan lagi. Ini terbukti ketika malam hari Kung H Rudi tidur di bawah hanya beralaskan karpet. Malam itu memang cukup dingin, Kung Rudi tanpa menggunakan selimut. Pak Surip, malam itu membawa selimut dan ditutupkan ke tubuh Kung Rudi. 

Minggu pagi di lapangan Dewi Peri yang tak jauh dari homestay Pak Surip digelar senam pagi. Semua anggota Cowas JP wajib ikut senam sambil menggunakan kaos Cowas yang disediakan panitia. Semua yang hadir mengikuti hingga berakhir sekitar pukul 07.00. Usai kegiatan senam panitia membagikan puluhan door prize dari pendukung acara yang merupakan relasi dari Aqua Dwipayana.

Seusai senam, semua peserta kembali ke homestay masing-masing. Saya bersama rekan-rekan langsung kembali ke homestay Pak Surip. Di ruang makan sudah tersedia menu masakan yang menggiurkan. Di meja makan tersedia lele ukuran besar yang dimasak bumbu pedas, tempe/tahu bacem, oseng-oseng cecek, telur mata sapi, tak ketinggalan gudeg masakan khas Jogjakarta lengkap dengan kerupuk pulih.

“Pagi ini kita sarapan nikmat sekali,” kata Purnawan.

Sak estu mbok bilih wonten ingkang kirang, kawulo nyuwun ngapunten (Apabila ada layanan kami yang kurang  mohon maaf),” kata Pak Surip usai diajak foto bersama. (*)

Pewarta : K. Sudirman
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda