Reuni IX CowasJP di Jogja (7)

Sarapan dengan Mak Ti Muka Terasa Ditampar

COWASJP.COM – Waktu subuh bergulir pelan. Murrotal Quran yang didengugkan Cak Amu (Abdul Muis) seusai salat terasa menenangkan dan menyejukkan kalbu. Aroma kopi panas sayup-sayup menyeruak masuk ke kamar tempat kami —saya dan Cak Amu— bermalam di komplek perumahan dosen UGM, Sawit Sari, Condong Catur, Sleman, Jogjakarta.

 Kami berdua --plus Mas Yarno-- merupakan Cowaser Surabaya terakhir yang meninggalkan Jogjakarta, seusai Reuni IX CoWasJP 11-12 Agustus. Saya dan Cak Amu bermalam di rumah bro Aqua Dwipayana itu, sementara Mas Yarno bermalam di rumah mertuanya.

Aroma kopi itu seakan memanggil saya untuk keluar kamar. ''Monggo sarapan dulu,'' kata Mak Ti sambil menata piring di seberang meja.

Sepagi itu, di meja makan telah terhidang sepanci nasi putih, ayam panggang, telor dadar, bandeng presto, sayur kacang panjang plus tahu berkuah santan, kering kentang kombinasi kacang, serta dua toples kerupuk. Tentu ada kopi panas, teh panas, dan air putih.

Siapa pun yang pernah menginap di rumah bro Aqua itu, hampir pasti tahu Mak Ti —begitu dia biasa dipanggil. Pembantu rumah tangga yang sudah dianggap keluarga dalam oleh keluarga Aqua.

Perempuan bernama lengkap Sumarti itu memang cekatan, tanggap, dan sangat perhatian terhadap tamu-tamu bro Aqua. Hampir semua kepentingan tamu tak lepas dari perhatiannya. Termasuk, mengatur sepatu tamu yang biasa digeletakkan di teras rumah. Atau menyimpan rokok tamu yang tertinggal, mencarikan korek api bagi perokok yang biasa tak bawa korek, dan masih banyak lagi.

Perempuan 51 tahun itu sudah menjalani takdirnya sebagai pembatu rumah tangga selama 14 tahun. Tapi, baru empat tahun belakangan dia mengurus rumah tangga Aqua di Jogja. Statusnya tidak lagi sebagai pembantu rumah tangga (PRT), tapi kepala rumah tangga.

Tugasnya mulai mengurus kebutuhan tamu-tamu motivator top itu sampai mencari tukang untuk perbaikan rumah. ''Alhamdulillah, disini (keluarga Aqua) derajat saya diangkat. Saya ini cuma PRT, tapi tidak pernah diperlakukan seperti pembantu. Bahkan diajak umroh,'' kata Mak Ti. Dua dari tiga anak Mak Ti juga tinggal di rumah itu, Aqua membiayai sekolah mereka. Sedangkan satu anak yang lain tinggal di Magelang bersama ayahnya. 

Alira dan Savero, anak Aqua juga sangat hormat pada Mak Ti. ''Mereka tak segan-segan cium tangan saya seperti pada orang tua sendiri,'' katanya.  ''Kalau ibu (Retno, istri Aqua) disini, saya tidak boleh makan sendirian di dapur. Harus makan bersama di meja makan,'' lanjutnya. 

makan.jpg

Alira putri Aqua mendapat beasiswa penuh di Korsel, sedangkan Savero kuliah di Unpad, Jatinangor. Sementara mbak Retno tinggal di Bogor.

Karena rumah seringkali kosong, maka Mak Ti juga mewakili keluarga Aqua jika ada pertemuan warga. Kali pertama menghadiri temu warga, Mak Ti dengan jujur mengaku sebagai PRT. ''Saya tahu, banyak ibu-ibu yang mencibir,'' katanya. Tapi, dengan rendah hati dia  menawarkan jasanya membantu ibu-ibu dalam menyiapkan acara. Kerendahan hati Mak Ti itu mampu menghapus kesinisan ibu-ibu tersebut, bahkan berubah kagum.

Mereka tahu bahwa Mak Ti bukanlah PRT biasa. Apalagi,  ketika mereka melihat Mak Ti diajak Aqua berkunjung ke rumah RT-RW untuk sekadar minta izin mengadakan acara di rumah. 

Meski tak ada acara khusus, di rumah besar dua lantai itu seringkali kedatangan tamu rombongan.

Mulai direktur BUMN, pejabat militer, wartawan, dan teman-teman lain. Termasuk, teman-teman putra-putri Aqua. ''Saya senang mereka umumnya suka masakan saya,'' kata Mak Ti.

Jika tamunya hanya  sekitar 30—40 orang, konsumsi cukup ditangani Mak Ti sendiri. Namun, jika tamu lebih dari 50 orang, sebagian konsumsi dipesan dari perusahaan catering.

Dia tak bisa menghitung berapa karung beras per bulan dihabiskan untuk menjamu tamu-tamu tersebut. Yang jelas, berapa pun tamunya Mak Ti mengaku siap melayani. Sebab, uang belanja dari Aqua tidak pernah terlambat. 

Melayani beragam tamu tentu membutuhkan kesabaran, juga fisik yang tahan banting. Dia harus kuat tidur larut malam dan bangun pagi-pagi sekali. Sebab, seringkali tamu-tamu begadang sampai malam dan pergi lagi kala hari masih pagi sekali. 

 ''Saya bekerja dengan ikhlas Pak. Saya lihat Bapak (Aqua) banyak berbagi pada orang lain. Saya juga ingin berbagi dengan orang lain meski pendapatan saya tidak banyak,'' katanya. ''Kalau saya dapat Rp 10 ribu misalnya, Rp 3 ribu saya sisipkan untuk orang lain. Kalau tidak bisa dengan uang, saya bisa menyumbang tenaga,'' sambungnya. 

Kata-kata Mak Ti itu terasa menampar muka saya dan Cak Amu yang sedang sarapan. Selama ini apa yang saya lakukan untuk orang lain? Rasanya tidak ada. 

Salam
Cakfu.

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda