Bukan Cuma Orang Gunung, Warga Kota Mataram Mengungsi Keluar Rumah

Warga Selagalas, Mataram mengungsi keluar rumah dan Lapangan Sepak Bola setelah gempa berskala 7.0 SR menggoyang rumahnya , Minggu (5/8/2018) malam. (FOTO Abdul Muis/TIMES Indonesia for)

COWASJP.COM – Tepat seminggu setelah gempa tektonik berskala 6,4 SR menggoyang Lombok Timur, Minggu (5/8/2018) malam gempa baru berskala 7,0 SR kembali terjadi. Kali ini getarannya terasa kuat sampai Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Gempa serupa itu, benar-benar mengagetkan warga kota. Rumah wartawan TIMES Indonesia di perumahan Lombok Post, Selagalas Mataram, Minggu (5/8/2018), pukul 19:46:45 WITA, ikut bergoyang.

Beruntung tidak terjadi apa apa, walau getarannya cukup kuat. Hanya pilar genteng rumah tetangga depan yang runtuh.

Warga di perumahan dekat Lapangan Sepak Bola dan Pasar Hewan terbesar di NTB itu, benar benar ikut merasakan goyangan gempa tersebut.

Ada sekeluarga yang membawa anak, istri dan cucunya menangis sembari melindungi kepalanya keluar rumah yang bergoyang. Begitu pula anak anak tetangganya berteriak histeris.

"Gempa gempaaa..," teriak mereka. Kami pun berhenti sejenak di halaman rumah sembari berpelukan karena goyangannya bikin mual.

Sesaat kemudian lampu langsung padam. Suasana pun kian mencekam karena para tetangga lain dari gang sebelah sudah keluar rumah semua.

amu1.jpg

Mereka kemudian menggelar tikar dan mengeluarkan bekal makan dan minum untuk bermalam di sepanjang gang.

Sementara pengeras suara dari masjid mengumumkan agar warga yang di dalam rumah segera keluar.

Tak sampai setengah jam, lapangan Selagalas banyak pengungsi dari kampung sekitar. 

Di sepanjang jalan pun sudah berjajar mobil parkir seperti orang hendak nonton bola. 

Suasanapun seperti korban gempa di lereng gunung Rinjani, Lombok Timur, Minggu lalu. Orang kota pada mengungsi keluar rumah.

Hingga berita ini ditulis, warga kampung Selagalas enggan beranjak dari tempat pengungsian daruratnya.

Bahkan, mereka terpaksa shalat Isya di luar rumah. "Kami khawatir ada gempa lagi," keluh Ny Diyah yang sempat panik menggendong cucunya keluar rumah.

Alasan mereka enggan kembali masuk rumah, cukup beralasan. Sebab, setelah terjadi getaran yang cukup kuat itu juga masih ada gempa kecil dua kali dalam hitungan persepuluh menit. 

"Ngak papa kami tidur di luar rumah daripada kena gempa," ujar Tony asal Pati Jawa Tengah yang mengajak dua anak dan istrinya bergabung dengan tetangganya menggelar tikar di Jalan Peternakan Gang Kebun Jati. (*)

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda