Sang Begawan Media

Tanpa Sakit

Dokter Agus Fahrudin Farid. (FOTO: RSU Anwar Medika)

COWASJP.COMIA DOKTER. Ia tidak mau jadi spesialis. Kakak adiknya, 4 orang, sudah menjadi dokter spesialis semua. Mereka pun mendesaknya  agar ia sekolah lagi: untuk menjadi spesialis. 

Dokter Agus Fahrudin Farid bergeming. "Untung saya tidak mau sekolah lagi," ujarnya bercanda.

"Kalau saya jadi spesialis, saya tidak bisa bisnis seperti sekarang," tambahnya. 

Agus memilih tetap jadi dokter umum saja. Tapi bisa berbisnis. Yang penting akhirnya tidak kalah sukses dengan saudara-saudaranya. 

Kini dr Agus memiliki 5 rumah sakit. Bulan lalu ia membeli rumah sakit yang ke-5 itu. Terkenal sekali. Di Sidoarjo: RS Delta Surya. Dekat pintu tol.

Langkahnya di Delta Surya itu sekaligus sebagai pertanda sejarah. 

Yakni berakhirnya sejarah perkongsian bisnis antar dokter. Khususnya di bisnis rumah sakit.

Di zaman masih menjadi wartawan di lapangan dulu, saya sering mendengar ini: sejumlah dokter bergabung mendirikan rumah sakit. 

Saya mengikuti pembicaraan mereka ketika itu. Yakni pembicaraan kegelisahan: mengapa dokter selalu hanya diperalat oleh pemodal. 

Mereka pun ''berontak''. Ingin mandiri. 

Maka mereka mencari jalan agar dokter tidak hanya jadi ''buruh''.

Rumah sakit tanpa dokter bukanlah rumah sakit. 

Kenapa bukan dokter sendiri yang jadi pemilik rumah sakit. Kesadaran itu begitu tinggi. 

Tapi mendirikan rumah sakit perlu modal besar. Tidak ada dokter yang mampu. Sendirian. Kala itu. Dicarilah jalan keluar: perkongsian. Antar dokter sendiri. 

Dalam hal Delta Surya ada 18 dokter yang bergabung sebagai pemegang saham. Ditambah 4 pejabat tinggi setempat. Rupanya, hanya untuk menambah kelancaran perizinan. 

Di zaman itu. 

Model kerja sama seperti itu tidak hanya di Sidoarjo. Bahkan bisa jadi Sidoarjo bukan yang pertama. Sudah banyak di kota-kota lain. Di Bogor. Di Tuban. Dan mungkin juga di kota Anda. 

Zaman itu adalah musim semi dokter berkongsi untuk menjadi juragan di dunianya sendiri.

Musim semi pindah ke musim panas. 

Di negara-negara 4 musim, perpindahan musim semi ke musim panas terjadi dalam empat bulan. Musim semi perkongsian antar dokter lebih panjang. Lebih lima tahun. 

Tapi perubahan musim di perkongsian itu tidak hanya di udara, juga di cuaca. Cuaca di dalam hati. Hati mereka menjadi panas. Terutama karena bisnis ternyata punya hukumnya sendiri.

Mendiagnosis sakitnya rumah sakit ternyata tidak bisa dengan stetoskop. Kerukunan di masa bulan madu pun berubah menjadi cekcok. Di mana-mana. Ada yang sampai ke polisi. Ke jaksa. Ke pengadilan.

Perlu ''dokter spesialis'' yang sangat spesial untuk bisa menyehatkan RS Delta Surya. Yang sudah parah. Saling gugat. 

Di sinilah spesialisasi dokter umum seperti dr Agus diperlukan. Ia turun tangan. Ia membeli rumah sakit itu. Lebih dari Rp 300 miliar. 

Semua pemegang saham pun senang. Dapat harga baik. Dan yang penting tidak bertengkar lagi. Tidak makan hati lagi. 

Untungnya, dr Agus masih dokter. Lulusan Unair, 1990. Satu almamater dengan semua saudara kandungnya. 

Di Bogor lain lagi. 

''Dokter spesialis'' yang  menyelamatkan RS milik para dokter di Bogor adalah Mayapada. Jadilah RS Bogor Medical Center, yang terkenal itu, milik konglomerat Datuk Tahir –menantu konglomerat Mochtar Riyadi.

Dokter-Agus.jpg1.jpgBuku tentang dr Agus Fahrudin Farid: Regenerasi Sel. Oleh Heru Hendratmoko. (FOTO: ebooks.gramedia.com)

Dalam hal membeli rumah sakit dr Agus ternyata telah benar-benar menjadi spesialis. Sebelum membeli Delta Surya (110 bed) ia sudah membeli dua rumah sakit lebih kecil. Yang satu juga dimiliki para dokter. Di kota Krian. RS Krian Husada. Satunya lagi dimiliki pengusaha di sisi barat  Sidoarjo: RS Arofah Medika Sukodono –kini jadi RS Arofah Anwar Medika.

Anwar adalah nama kakek dr Agus. Sang kakek adalah kiai kampung di situ. Juga petani dengan sawah yang luas. Sedang ayah dr Agus seorang guru SD. Juga pemilik toko mracangan di rumahnya yang juga rumah sang kakek. Yakni rumah tepi sawah di desa Balongbendo, dekat Krian. 

Belakangan sawah itu dilewati jalan baru. Lebar sekali: by pass Krian. Posisi sawah itu berubah drastis. Menjadi sangat strategis. 

Kini lebih hebat lagi. Tidak jauh dari ujung by pass itu ada mulut jalan tol baru: Mojokerto-Gresik/Lamongan. Yang di tengahnya lagi dibuat akses tambahan. Agar bisa terhubung dengan tol Surabaya-Jakarta yang melintas di bawahnya.

Kiai Anwar punya sawah 5 hektare di desanya itu. Sawah itulah yang  berubah menjadi aset berharga: di pinggir by pass. Di situlah dr Agus membangun tempat praktik. Di dekat rumah kakeknya. 

Pasiennya luar biasa banyak. Ia disenangi masyarakat. Sejak lahir, SD sampai SMP ia memang sekolah di desa itu. SMA-nya pun di Krian. Bahkan ketika kuliah di Unair Surabaya, ia tetap tinggal di Krian –pulang pergi ikut kereta komuter. Itu lebih murah daripada kos di Surabaya. Dan lagi ia memang sudah menyatu dengan desa itu.

Istrinya pun dari desa itu.

Sang istri juga kuliah di Unair: ekonomi. Juga naik kendaraan umum seperti dr Agus.

rsu-anwar-medika.jpgRSU Anwar Medika. (FOTO: gameasia.com)

Hubungan dr Agus dengan masyarakat desa itu sudah seperti keluarga besar. Ia tahu siapa yang harus digratiskan ketika ke tempat praktiknya. 

Suatu saat ia melirik salah satu pasiennya membuka laci mejanya. Si pasien mengambil uang dari laci itu. Dokter Agus pura-pura tidak melihat. Pasti orang itu sangat perlu uang. "Toh yang diambil uang kecil," ujarnya. "Kalau diambil semua, ya, saya ngamuk," tambahnya lantas tertawa. 

Dari sekadar tempat praktik, dr Agus bikin klinik kecil. Berkembang ke klinik besar. Akhirnya berdiri rumah sakit: 120 bed. Type C.

Awalnya dr Agus ingin mencantumkan nama ayahnya sebagai nama rumah sakit: Adzim Medika. Abdul Adzim. Tapi ayahnya itu, ketika itu, masih hidup. Nama RS, aturan saat itu, tidak boleh diambil dari orang yang masih hidup.

Kebetulan Sang Kakek sangat memuji cucu yang bernama Agus itu. Diam diam. Dokter Agus pernah mencuri dengar omongan kakeknya kepada neneknya. Tentang pujian sang kakek itu. 

Kelak, di awal tahun 2000-an, ketika dr Agus membangun masjid di kompleks rumah sakit itu, nama sang ayah jadi nama masjid itu: Al Adzim.

Sebagai rumah sakit di pinggir jalan by pass, Anwar Medika sering menerima korban kecelakaan. Itu merangsang dr Agus untuk melengkapi rumah sakitnya dengan fasilitas forensik. Jadilah korban kecelakaan di seluruh kawasan Sidoarjo, Krian, Mojokerto diforensik di Anwar Medika. 

Kelebihannya: hasil forensik di situ bisa keluar dalam 1 atau 2 jam. Tidak lagi 24 jam seperti ketika terpusat di Surabaya.

Musim semi dan musim panas sudah lewat. Masuklah musim gugur. Rumah-rumah sakit hasil kerja sama para dokter berguguran. Orang seperti dr Agus tinggal menadahi guguran-guguran itu. Demikian juga konglomerat seperti grup Mayapada.

Dokter Agus memang mengajak 4 dokter lain menjadi pemegang saham di Anwar Medika. Tapi 4 orang itu kakak-adiknya sendiri. Dan lagi saham di situ tidak dibagi rata. Dokter Agus memegang 52 persen. Dengan demikian tidak akan ruwet. Ada pemegang veto di rumah sakit itu: dr Agus sendiri.

Setelah membeli 3 rumah sakit dr Agus mendirikan universitas. Di tanah sawah lima hektare itu: Universitas Anwar Medika. Ia merintisnya sejak beberapa tahun lalu. Wujud awalnya sekolah tinggi. Semua jurusannya di bidang kesehatan: keperawatan, farmasi, laboratorium, dan kebidanan. Dengan menjadi universitas ia menambahkan jurusan bisnis, informatika, manajemen dan segera membuka fakultas kedokteran. "Izinnya lagi diurus," katanya.

Ke depan, dr Agus akan mengembangkan program "Sehat Tanpa Sakit". Ia masih merahasiakan sistem baru yang akan dikembangkan itu. 

Tapi ia sudah mulai mencoba  metode pengobatan untuk rambut, kulit dan peremajaan sel tanpa stem cell.

"Tidak takut jadi masalah seperti dokter Terawan?" tanya saya.

"Saya tidak menemukan obat baru kok. Saya hanya menemukan cara mengatasi semua itu," katanya.

Tentu saya ingin menjelaskan semua itu. Suatu saat nanti. Terutama kalau saya sudah  menjalaninya sendiri.

Kapan-kapan. (*)

Penulis: DAHLAN ISKAN, Sang Begawan Media 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Dalam Tulisan Pikachiu Demokrasi

Budi Utomo

Kisah nyata Cheung Tze Keung (dialek Canton/Kuangtung/Guangdong) alias Zhang Ziqiang 张子强 (baca Chang Ce Chiang, e nya eu ala Sunda) alias Zhang Anak/Child 子 Kuat/Strong 强 yang menculik Li Tzar Kwoi (dialek Canton) alias Li Zeju 李泽钜 (baca: Li Ce Chii) atau Li 李 Kolam/Pool æ³½ Besi/Iron é’œ, putra tertua dari konglomerat properti terkaya di Hongkong Li Ka Shing (dialek Canton/Kuangtung) alias Li Jiacheng 李嘉诚 alias Li 李 yang Hebat/Excellent 嘉 dan Jujur Tulus / Honest Sincere 诚 adalah sebuah kisah nyata bagaimana triad Hongkong (semacam Yakuza di Jepang) sangat ditakuti sebelum akhirnya semua triad itu dilibas habis oleh Presiden Jiang Zemin 江泽民 (baca: Chiang Ce Min) alias Jiang / Sungai / River 江 sang Kolam / Pool æ³½ Rakyat/People æ°‘. Terus terang saya belajar Mandarin justru dengan meneliti arti nama-nama Mandarin yang menurut saya unik. Seperti nama suku-suku asli Amerika yang artinya unik-unik. Maklum saya juga suka film cowboy seperti the Last Mohican. 

Pryadi Satriana

Ingat "petuah" Dahlan Iskan? Jangan melawan penguasa. Jangan melawan orang kaya. Jangan melawan orang gila. ITULAH "warisan" Soeharto kepada Dahlan Iskan ... . Seorang Soeharto berhasil "membentuk" seorang Dahlan Iskan yang LOYAL. Pernahkan Dahlan Iskan mengkritik Soeharto & SBY? Anda sudah tahu! Jangan melupakan sejarah! Sehat selalu. Salam. Rahayu.

edi hartono

Jackie Chan adalah semacam artis yg bisa diterima di barat dan di timur. Filmnya pukul2an tp yg nonton malah tertawa senang. Menarik banyak perhatian, simpati dan bisa diterima dimana saja. Kenapa bukan jet li yg juga bintang terkenal. Karena jet li kesannya serius, keras dan tdk lucu. Malah bikin kesan yg mau dihindari oleh bos besar. Mungkin seperti maudy ayundya yg diangkat jadi juru bicara G20. Atau bayangkan jika Amerika mengangkat Tom Cruise sebagai sesuatu. Atau Jepang mengangkat Maria ozawa jadi sesuatu. Tentu orang yg mau keras2 ke Jepang malah mundur, karena bagian tubuhnya sudah megeras duluan ketika teringat aksinya Maria ozawa, wkwkwk. 

LiangYangAn 梁楊安

"Suara yang tidak lulus SD sama dengan seorang profesor doktor." disway. Seorang Guru Besar Emeritus pernah mengatakan : " Ya benar, jenjang gelar ke-strata-an pendidikan sudah saya capai sampai puncaknya, bahkan tidak sedikit pula gelar kehormatan (doctor honoris causa) yang sudah saya terima, tetapi ini semua sungguh tidak adil ; karena tidak ada gelar yang sepadan untuk orang yang berperan besar menjadikan saya seperti ini, ya Orang Tua saya, Ayah dan Ibu saya. Bukankah yang menjadikan lebih hebat daripada yang dijadikan, walaupun formalitas pendidikannya SD pun tidak lulus. "

Budi Utomo

Tahun 1978, ketika Deng Xiaoping mengambilalih kekuasaan, ekonomi Tiongkok sedang berada di titik terendah. Berbeda dengan Hongkong yang sangat makmur. Deng kemudian mengunjungi Lee Kuan Yew ingin tahu rahasia Singapura menjadi makmur seperti Hongkong kala itu. Mereka berdua bertukar pikiran. Singapura setuju untuk mulai investasi di Tiongkok dan meminta diberikan daerah Zona Ekonomi Khusus. Shenzhen 深圳 (baca: Shenchen, dua e nya dibaca eu ala Sunda) alias Deep 深 Drainage 圳, sebuah kampung nelayan di provinsi Guangdong / Kuangtung mendadak disulap menjadi kota metropolitan yang kini GDP nya lebih besar dari Hongkong (475 Milyar USD vs 369 Milyar USD). Lee Kuan Yew trauma dengan komunisme di Singapura dan Malaysia sebelum dimerdekakan Inggris, meminta Deng Xiaoping menghentikan ekspor ideologi komunisme ke Asia Tenggara, yang langsung disetujui Deng Xiaoping yang juga trauma dengan komunisme semasa Revolusi Kebudayaan / Wenhua Geming 文化革命 / Cultural 文化 Revolution 革命 (1966-1976) yang membuat Tiongkok terpuruk hingga ke titik terendah secara ekonomi. Deng berkata bahwa secara ekonomi dia menganut free market yang diusung kapitalisme Barat namun secara politik dia tetap mempertahankan sistem satu partai untuk kestabilan politik Tiongkok dan berjanji tak akan ekspor ideologi komunisme ke manapun di seluruh bumi ini. Lee Kuan Yew merasa senang dengan pandangan Deng Xiaoping. Dalam kesempatan itu pula Lee Kuan Yew meminta Deng Xiaoping mengirimkan guru bahasa Mandarin ke Singapura.

Agus Suryono

JANGAN DIKETAWAIN YA.. Saya tuh lagi membayangkan.. Membayangkan Jacky Chan.. Kalau suatu hari, beliau dspat 3 undangan. Pertama, dari John Lee, meeting di Hongkong. Kedua, undangan shooting film, di Hollywood. Ketiga, undangan shooting iklan produk dari Indonesia. Maka yang mana, yang akan dipenuhi mas Jack..?

Tom Hardy

Katanya Elon Musk susah ditemui, ternyata kmrn dia berkunjung ke Brasil, mau investasi lagi. Duh enaknya jadi presiden Brazil, gk susah payah nemui Elon tp si Elon yg mengunjungi. Dah gitu pakaian formal lagi dr pertemuan dgn pimpinan negara sebelumnya. Duh, ternyata diatas langit masih ada langit.

Mirza Mirwan

Ada yang pernah membaca buku "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi"? Ya, buku tentang biografi perwira tinggi TNI Angkatan Laut keturunan Tionghoa, Laksamana Muda John Lie. Namanya mirip dengan Kepala Eksekutif Hong Kong ke-5. Tetapi tokoh kita ini lebih heroik ketimbang seorang John Lee. Mantan pelaut maskapai pelayaran Belanda itu belasan kali bisa lolos dari kepungan Angkatan Laut Belanda, ketika dengan kapalnya, The Outlaw, menyelundupkan senjata dan logistik untuk TNI di awal kemerdekaan. Saya membeli buku biografi tokoh yang meninggal tahun 1988 itu beberapa hari setelah diluncurkan pada Februari 2009. Sayangnya, buku itu dipinjam entah oleh siapa, dan tak pernah kembali. Untunglah saya sudah selesai membacanya. Anggota TNI keturunan Tionghoa memang banyak. Tetapi yang mencapai pangkat perwira tinggi bintang dua saat pensiun, setahu saya ya baru Pak John Lie itu. Oh iya, sembilan bulan setelah buku biografi itu terbit, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana.

Pryadi Satriana

QUOTE OF THE DAY: "Ada bahaya kalau kita mengatakan bahwa Alquran itu adalah kalamullah (ucapan Tuhan), karena itu artinya tidak boleh berubah. Yang kita temukan dalam kenyataan sejarah fikih adalah perubahan yang substansial. Lihat saja fikih, itu adalah inkonsistensi kita dalam memahami kalamullah." (Taufik Adnan Kamal, "Rekonstruksi Sejarah Alquran", dalam Assyaukanie [ed.] 2002: 193). Taufik Adnan Kamal adalah dosen mata kuliah Ulum al-Qur'an pada Fakultas Syariah IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makasar, penulis buku 'Rekonstruksi Sejarah Al-Quran', dg. Kata Pengantar oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Buku ini menjelaskan sejarah panjang bagaimana proses politik dan campur tangan manusia lewat kekuasaan menghasilkan mushaf Usmani, yang "dibakukan" dengan penutupan pintu ijtihad pada abad ke-10. Selamat membaca bagi yg tertarik, bukunya lumayan tebal, 468 halaman teks, tidak termasuk judul, Kata Pengantar dan Daftar Isi. Salam.

dabaik kuy

baca buku2 lain yang lebih tebal maka anda akan tahu pintu ijtihad tdk ditutup... dan baca buku2 lain yg lebih tebal dr banyak ulama yg berbeda2 pandangan maka anda akan lebih faham sejarah pembukuan Al-Quran dan pemahaman2 / tafsir Al Quran... maka anda akan sampai kesimpulan bajwa Al-Quran adalah kalamullah.. Al Quran adalah kalamullah... buka. doktrin tp keyakinan yg datang dr ilmu yg dalam dan luas...

Mirza Mirwan

Bung Johanes mungkin belum pernah melihat film yang judulnya plesetan dari lembaga pemberantasan korupsi HK, ICAC -- Independent Commission Against Corruption -- diplesetkan menjadi "I Corrupt All Cops". Saya lupa siapa saja bintangnya. Itu film produksi 2009 atau 2010. Tapi ya tentang betapa korupnya kepolisian Hong Kong dan usaha ICAC untuk membersihkannya. Judul film itu hanyalah salah satu plesetan ICAC. Plesetan lainnya "I Can Accept Cash".

Akagami Shanks

Meskipun itu teknologi kuno bisnis umumnya akan selalu melihat faktor keberuntungan dari hasil kedisiplinan, dan kreatifitas. Ada orang yang dapat jatah bagus padahalnya bisnis standar saja. Ada juga orang yang dapat jatah tidak bagus padahal bisnisnya bisa di bilang luar biasa. Koin itu masih bisa di explorasi secara massive. Tinggal tentukan modal, dan tentukan lapangan. Target kepercayaannya berapa?. Masalahnya kalau cuma bertahan 1 tahun. Ada lagi, yaitu regulasi. Saya pribadi tidak mau gelut dengan regulasi. Karena di belakang regulasi, anda sudah tau, ada Bank Indonesia, ada Menkue, ada perusahaan besar. Itu risiko hukum. 2 risiko tinggkat tinggi. Risiko hukum, dan risiko diperbudak, risiko di peralat, di manfaatkan, atau risiko di tipu (wkwk).

Jimmy Marta

Satu orang satu suara adalah cara paling logis. Ini konsekuensi dari pemilihan langgsung. Coba bayangkan jika suara dibuat bertingkat atau dibuat volumenya beda(hehe.. iseperti usul yg dibawah). Tidak terbayangkan ruwetnya urusan data pembuatan pelevelannya. Urusan mendasar data kependudukan dikita selalu masalah. jika mendekati pemilu selalu datanya kisruh. Pakai pereakilan memang tdk ruwet. Di kita dulu utusan golongan itu yg rawan. Hanya kawan segolongan, saudara seketurunan dan sealiran aja yg dipilih. Jadinya itu lagi itu lagi yg terpilih. Kalau saya melihat bukan sistem yg keliru. Tapi para pelakunya yg harus diperbaiki tingkah lakunya. #Revolusimental

Mister Xi

Kalo komentator Disway ada perwakilan di parlemen,,, maka inyong pilih Boss Pry,,, tegas,,, jujur,,, lantang,,,, menjunjung toleransi beragama,,,

Liam Then

Ibu saya penjahit. Banyak ibu-ibu pegawai yang antri jahit ,walaupun harus tunggu lama satu bulan karena antrean panjang. Padahal kalau beli jadi itu lebih murah. Tapi ternyata lebih pilih beli bahan + bayar ongkos jahit yang bisa dua kali lipat lebih mahal. Di banding beli jadi. Alasan nya semua karena baju yang di jahit khusus itu lebih enak di pakai , karena mengikuti lekuk badan. Begitu lah yang saya harapkan terjadi di RI. Harmoni, ambik yang baik, buang yang buruk. One man one vote itu konsep alami, pemecah kebuntuan. Munculnya Pak SBY, Pak Jokowi ,itu akibat konsep one man one vote. Jika tidak ada konsep itu. RI akan terperangkap dalam konsep elitis yang sudah membudaya. Bayangkan saja , dengan demokrasi one man one vote saja masih lolos beberapa dinasti keluarga. Mau pakai konsep keterwakilan di RI? Sangat tidak realistis. Ingat koor 1000 orang di tahun itu? Pra reformasi? Yang gagang palu sampai patah karena di hantamkan dengan percepatan, yang hanya bisa di jelaskan dengan rumus fisika?. Ungkapan bobot suara seorang tukang becak atau pemulung tidak bisa di samakan dengan suara seorang professor atau dokter. Bagi saya itu adalah "fallacy", saya tau arti kata ini ,karena di kasih tau teman saya yang guru debat. Saya ini bukan sarjana atau apa ,bisa tahu dikit karena hasil membaca. Sebagai penganut konsep kebenaran universal, keadilan universal. Setiap manusia bagi saya bobot nya sama kepentingannya karena sama tujuan hidupnya ; kehidupan yang lebih baik. 

Liam Then

Kebijakan seorang tukang becak hampir sama disetiap tukang becak ; kamu bayar 10rb ,saya antar kamu sejauh 10rb. Bahkan kadang kalo lagi hari baik saya bantu carikan alamat. Wisdom seorang profesor tidaklah sama diantara para professor : ada doyan kertas yang di beri angka dan gambar. Sampai-sampai harus di antar dengan kantong kresek dan kardus. Ada yang doyan mengunci diri di ruangan kerja. Bergulat dengan ketertarikan pribadi atas hal tertentu. Ada yang rajin membuat pernyataan , menyerang semua yang tak sejalan dengan pemikiran beliau, sambil mengelus-ngelus kepala keturunan beliau. Bagi saya ,biarlah one man one vote untuk Indonesia, negara lain biar saja. Kualitas personal tak boleh di ekslusifkan ke dalam kurungan yang menjomplangkan bobot hak seorang tukang becak dengan hak seorang professor. Bahaya. Kata hati saya.

No Name

Pengusaha sebenarnya tidak terlalu memusingkan kualitas demokrasi sebuah negara. Yg mereka butuhkan adalah stabilitas & kepastian hukum. Coba tengok Singapura, kualitas demokrasi nya ya begitu2 saja, namun stabilitas negara mereka terjaga dengan baik, kepastian hukum nya cukup jelas & tegas, makanya para pebisnis merasa aman & tenang investasi di Singapura. Terimakasih 

Kang Sabarikhlas

tertulis : "kelemahan pemilu langsung bobot suara seorang pengangguran sama dengan bobot seorang direktur utama bank".. mungkin sepintas ada benarnya tapi coba ditelaah lebih dalam, Anda sudah tahu. kalau bobot tubuh saya dengan bobot Abah, ya jelas kalah. Abah sering menikmati durian musang king-kong, lha saya mau beli durian harga 30rb di jl.Arjuna selalu urung beli, mesti ingat beras, lha wong status saya pengangguran tua miskin, Alhamdulillah sehat bukan pelupa. 

*) Diambil dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway

Komentar Anda