Pedagang di Kantor Kominfo Dibantu Wali Kota Madiun Rombong Minimalis

Wali Kota Madiun H Maidi menyerahkan rombong minimalis yang cantik ke pedagang Perintis Kemerdekaan. (FOTO: Santoso)

COWASJP.COMSebenarnya jenis dagangannya sih biasa saja. Sate jamur dan sate tahu. Rombongnya pun dibeli bekas pakai. Namun jangan ditanya. Pelanggannya pegawai Pemkot Madiun. Wakil Wali Kota Madiun  Bu Inda Raya Miko Saputri pun termasuk penikmat sate non kolesterolnya itu. Berikut tulisan Santoso, wartawan senior di Madiun.

***

Sore itu, hujan masih rintik-rintik. Tiba-tiba saja ada tamu yang datang langsung nyelonong ke studio mini saya. Studio mini saya yang terletak di teras rumah memang tak pernah tertutup.

‘’Saya dapat rombong bantuan pak Wali Kota, Kung,’’ katanya dengan tergopoh-gopoh.

Saya sendiri sebenarnya belum kenal. Namun dia ternyata sudah lama mengenal saya lewat akun Facebook. Ia yang kemudian mengaku bernama Anggraini Riski itu, berkisah, bahwa setiap hari ia membuka postingan saya. ‘’Dari situ saya tahu akung sering menulis kuliner,’’ katanya.

Wali Kota Madiun H. Maidi, saat ini sedang getol-getolnya menata para bakuler embongan.  Anggraini pun dapat rombong mnimalis yang cantik. Mereka yang berjualan di sebelah kantor Kominfo itu ditempatkan di area parkir Jalan Perintis Kemerdekaan. Ada lima pedagang yang biasa mangkal di situ selain Sate jamur. 

Sayang sudah seminggu terakhir belum dibuatkan SPJ yang dijanjikan. Hingga mereka menunggu. Bagi Riski, seminggu tidak berjualan jelas akan memengaruhi periuk nasinya. Apalagi suaminya, mantan murid pak Maidi saat jadi guru di SMAN 1 Madiun,  hanya pekerja serabutan yang pada masa pandemi ini banyak nganggurnya. Padahal 3 anak harus disuapi tiap hari. Yang buncit masih 5 tahun dan ada yang masih SD.

MENUNGGU SURAT WALIKOTA

Tapi Riski tak patah semangat. Untuk mengisi kekosongan ia manfaatkan HP Androidnya untuk menawarkan dagangannya secara COD. Dengan sepeda onthelnya ia pun mengantar pesanan tanpa kenal lelah.

gerobak2.jpgRombong lama Riski. (FOTO: Santoso)

Bahkan setelah ditunggu belum ada kabar turunnya surat pak wali, ia bersama tiga temannya pun mau menghadap langsung Pak Wali. Sampai di Kantor Pemkot, ternyata pak wali hari itu tak ke kantornya. Ia pun menuju Rumah Dinas dengan jalan kaki. Eh gak ketemu juga. Masih nekad,  bertiga nyewa mobil online secara patungan. ‘’Haduh, ternyata pak Maidi ke Surabaya,’’ katanya. Maka pulang pun harus jalan kaki karena dompet  nipis.

*

Sate Jamur dan sate tahu besutan Anggraini Riski memang  maknyus. Dua kali saya dibawakan ke rumah. Sate jamurnya gurih  brasa daging. Demikian pula sate tahunya, gede-gede dan empuk. Bumbunya....nah ini dia.....saya pun berpikir, seandainya dia meningkatkan usaha buka sate kelinci atau sate ayam pasti laris manis. Selain enak, juga dilengkapi irisan brambang goreng dan daun jeruk. Hingga menambah aroma dan cita rasanya.

‘’Bu Wawali Inda Raya juga sering beli,’’ katanya.

Awalnya melalui instagram ia menawarkan ke Bu Inda. Bu Inda pun merespon. Saat pulang kantor sempat mampir beli satenmya. ‘’Padahall bu Inda sudah lewat. Kemudian berputar lewat Jalan Jayengan mampir di lapak saya,’’ katanya. Ia sempat kaget, begitu cepatnya respon bu Inda terhadap bakul kecil seperti dirinya.

Yang tak terlupakan sampai saat ini. Bulan puasa tahun lalu, bu Inda juga pesan untuk berbuka puasa. Yang membuat ia terheran-heran, waktu berbuka masih agak lama, tiba-tiba Bu Inda datang ke lapaknya dengan naik  sepeda pancal. Sendirian lagi. Tanpa pengawal juga.

gerobak1.jpgAnggraini Riski. (FOTO: Santoso)

 Karena belum dibakar maka Riski pun berjanji akan mengantar sebelum buka. ‘’Langsung ke rumah dinas ya,’’ kata Bu Inda kala itu.

Karena bersepeda sendirian, ajudannya mencari sampai lapaknya. ‘’Iya pak tadi beliau ke sini, barusan saja kok meninggalkan sini,’’ katanya.

‘’Lha ya pejabat Madiun kok baik-baik ya. Wali Kotanya membantu rombong,  Wakilnya tak segan-segan membeli,’’ katanya. Termasuk juga karyawan Pemkot tentunya.

MODAL UTANGAN

Ia nekad berjualan di dekat kantor Kominfo,  Jalan Perintis Kemerdekaan sejak awal pandemi. Gara-gara pengurangan jam kerja di Londre di mana semula ia kerja. Saat itu ia dapat pinjaman Rp 300 ribu, digunakan sebagai modal jualan. ‘’Semula ya kayak pasaran kung. Hanya pakai meja kecil,’’  kisahnya.

Kemudian ia dapat Bansos Rp 2,4 juta. Dana itu dibelikan rombong bekas. Dagangannya makin laris, hingga ia bisa menyambung ekonomi keluarganya.

Tentu dia senang mendapat bantuan rombong dan diberi tempat jualan di Parkiran Kominfo. Sekarang tinggal menunggu suratnya dengan harap-harap cemas. ‘’Meski sudah diserahkan langsung oleh Pak Wali, tapi kami kan belum berani jualan. Masih nunggu suratnya,’’ ungkapnya.(*)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda