Ngalab Berkah Berbau Esek-Esek di Sragen

Gunung Kemukus, Ninggal Janji pada Mentil

Sendang Ontrowulan yang kini juga sudah didirikan bangunan. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COMBanyak tulisan tentang Gunung Kemukus. Banyak pula versi cerita  tentang wisata spiritual  di daerah Sragen yang berbau esek-esek  ini.  Berikut tulisan  Santoso, wartawan senior di Madiun yang pernah punya pengalaman menarik saat investigasi di gunung itu.

***

Anda pasti mengenal Gunung Kemukus. Baik pernah ke sana, atau hanya sekadar membaca ceritanya dari berbagai media. Namanya juga cerita, apalagi dari mulut ke mulut, pasti sulit dipegang kebenarannya. Tentu banyak versi, banyak ragam. Sesuai kehendak yang berkisah.

Tapi setidaknya ada satu versi yang sangat dikenal masyarakat setempat. Yakni ‘’cinta terlarang’’ antara Pangeran Samudra dengan Nyai Ontrowulan, ibu tirinya.

Pangeran Samodra diyakini sebagai salah satu putra Raja Majapahit yang meninggal dalam perjalanan dan dimakamkan di Gunung Kemukus. Pun demikian Nyai Ontrowulan.

Selain makam Pangeran Samodra, terdapat juga sumber mata air bernama sendang Ontrowulan. Dua tempat inilah yang menjadi jujugan para pelaku ritual, serta menumbuhkan keberadaan mitos ritual hubungan intim di Gunung Kemukus.

Terjadinya kepercayaan masyarakat jika melakukan hubungan intim tujuh kali saat ritual di Gunung Kemukus akan cepat menjadi kaya atau apa yang diinginkan tercapai. 

Namun, sayang, banyak yang menyalahgunakan ritual itu. Karena lambat laun akhirnya melahirkan prostitusi di kawasan Gunung Kemukus.

Pemkab Sragen pun  pernah menutup dan melarang Kemukus sebagai ajang prostitusi di tahun 2014. Namun praktek prostitusi rupanya sulit dilepaskan mewarnai keberadaan  gunung itu. 

Para pramunikmat itu menyaru (menyamar) juga sebagai peziarah yang ngalab berkah. Namun yang ini termasuk paket berbayar. Tidak seperti mereka yang murni ngalab berkah.

ANNO 1980

Sebagai wartawan muda, saya juga penasaran, bagaimana  sebenarnya. Kebetulan beberapa wartawan di Madiun punya keinginan yang sama, berburu berita dan cerita di gunung kecil kurang lebih 300 dpl itu. Yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

santoso-Sendang-Ontrowulan-2.jpgGunung Kemukus yang sekarang dikepung Waduk Kedungombo (FOTO: istimewa)

Seperti biasa, kalau lagi hunting bareng keluar kota, urunan untuk menyewa mobil Colt yang bisa membawa 7 orang. Kami berangkat dari Madiun sore hari tepat hari Jumat Pon, di penghujung 1980. Jumat Pon merupakan hari  rame-ramenya peziarah yang ngalab berkah.

Waktu itu belum  dibangun Waduk Kedungombo. Sehingga mobil bisa diparkir di  lokasi. Situasi sudah mulai rame. Berderet-deret mobil —termasuk mobil mewah—dengan berbagai plat nomor.

Tahun itu yang datang rata-rata mereka yang berkepentingan ngalab berkah. Atau mereka yang merasa permohonannya dikabulkan. Jadi belum terkontaminasi dengan prostitusi. Dari berita yang saya ikuti , prostitusi mulai marak tahun 1990-an..

Kami berpencar. Saya kebetulan berdua bersama Mas Y, wartawan media di Jawa Tengah. Kami pun menuju warung kopi, tak jauh dari tempat parkir untuk sedikit mengenali medan. 

Tak lama kemudian ada 2 wanita masuk. Kelihatannya ia baru datang dari luar kota.

Kamipun ngobrol. Naluri jurnalistik pun muncul. Menelisik tentang wanita itu. Keduanya mengaku datang dari Jepara untuk ngalab berkah. Sebagai pedagang pasar, mereka pengin dagangannya laris. 

Kulihat sepintas, yang muda berkulit sawo matang sebut saja Mentil, berusia kisaran 25 tahun. Wajah imut-imut, bodinya amit-amit. Pinggulnya yang dibalut dengan celana jeans, benar-benar nawon kemit. Cantik khas ndesa. Sedang yang lebih tua berusia 40 tahunan, sebut saja Mentul. Saya gak perhatikan karena tak masuk hitunganku hehehehe.

‘’Mas juga sedang ziarah,’’ tanya Mentil. 

Dengan sekenanya saya menjawah singkat: ‘’Iya’’. 

"Kalau gitu kita bisa bareng ya mas," lanjut Mentil. 

Kebetulan pikir saya. Karena saya agak tertarik dengan mereka. Apalagi si Mentil masih muda kok ya blakrakan di tempat macam itu. 

‘'Gak takut suami, kan tempatnya beginian,’’ tanyaku.

‘’Ngomongnya ya gak ke sini lah. Aku bilang aja cari dagangan ke Pasar Klewer, Solo. Apalagi sama mbak, jadi amanlah’’ katanya sambil cekikikan. 

Kebetulan lagi, ia langsung nempel ke aku. Wouuw. Sedang yang dibilang kakaknya tadi, nempel ke mas Y. Sepertinya, mereka sudah hapal bagaimana ritual di situ, hingga perlu cari pasangan.

RITUAL ITU

Sesaat kemudian kami sudah menapaki jalan menuju Sendang Ontrowulan. Yang dikatakan sendang, menurut saya hanyalah berupa belik (kolam air kecil) ada pancurannya. Mereka mandi, saya hanya cuci muka saja. Konon, sebelum ziarah ke makam Pangeran Samodra, wajib mandi di sendang itu.

Kayaknya mereka memang sudah memersiapkan diri. Habis mandi, sudah ganti gaun panjang berupa rok. Setelah itu, kami pun menuju makan Pangeran Samodra. Mentil membeli bunga tabur untuk nyekar dan memberi salam tempel kepada juru kunci. 

santoso-Sendang-Ontrowulan-3.jpgPapan larangan prostitusi di Gunung Kemukus dari Pemkab Sragen. (FOTO: istimewa)

Saya hanya ngikut saja. Tut wuri hanempeli, ngetut mburi ora mbayari,...hehehehe.

Saya agak ngeri mengikuti prosesi itu. Melihat banyak orang antri masuk makam Pangeran Samodra. Entah apa yang dilafalkan mereka. Doa atau justru permintaan yang ingin dikabulkan. Karena saya lihat, semuanya komat-kamit.

Demikian pula si Mentil yang lengket di samping saya. Bibir mungilnya komat-kamit, tak jelas apa yang diucapkan. 

Mungkin, hanya saya yang tidak komat-kamit. Karena memang tidak ada tujuan lain, kecuali investigasi untuk bahan tulisan.

Begitu keluar dari areal makam, ia pun menggandeng tangan saya keluar menuju ke bawah rindangnya pepohonan. Suasana gelap gulita, saya bagai kerbau dicook hidungnya. Ngikut saja. Apalagi saya menggunakan kacamata minus, sehingga sulit melihat di kegelapan malam.

Beberapa kali kakiku tersandung. Tapi bukan terantuk batu. Melainkan tersandung kaki orang yang tiduran di bawah pepohonan itu. Entah mengapa dan sedang apa mereka, tak jelas benar. Yah untung gak sampai menginjak kepala orang hehehehe.

Di tempat yang dirasa leluasa, Mentil berhenti. Ia mengeluarkan plastik tipis dari dalam tasnya. 

‘’Buat apa,’' tanya saya pura-pura tidak tahu. 

‘’Untuk duduk di sini, agar tidak digigit semut,’’ jawabnya.

Malam semakin larut, hanya kerlip bintang di atas sana. Juga daun-daun yang bergoyang dihembus angin, menjadi saksi bisu polah tingkah manusia mengejar sesuatu. Hmmm. 

Dengan ritual yang keluar jalur norma kehidupan.

Jam terus merangkak, akhirnya kami sepakat untuk pulang. Di tempat parkir kami berpisah. 

‘’Mas, Jumat Pon bulan depan kita ketemu lagi di warung tadi ya,’’ katanya. Setengah berbisik.

Aku hanya bisa mengangguk.

Dan di Gunung Kemukus kami meninggalkan janji. Janji untuk bertemu lagi, tapi  yang tak pernah saya tepati, sampai kini. 

Pejuangan seorang jurnalis, bukan hanya menulis tentang apa yang didengar dan  apa yang dilihat. Tapi juga apa yang dirasakan. (*)

Pewarta : Santoso
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda