Gibol Bareng, Final Liga Champions 2017:

Jejak Mussolini vs Jenderal Franco

Foto-foto: istimewa/desaign CoWasJP

COWASJP.COMAPA beda suporter sepakbola Italia dan Inggris? Suporter Italia pergi ke gereja di Minggu pagi, lalu sore menonton pertandingan sepakbola, malam hari pulang ke rumah. 

Suporter Inggris? Minggu pagi ke bar minum bir setengah liter, sore menonton sepakbola, malam hari balik ke bar menenggak setengah liter bir lagi.

Itulah anekdot mengenai perbedaan budaya suporter Italia vs suporter Inggris. Dua-duanya fanatik, tapi suporter Inggris lebih gila. Mereka yang gila bola (gibol) ekstrem, dikenal sebagai hooligan, selalu membuat ulah yang sering berakhir rusuh. Itu terjadi karena mereka mabuk dulu sebelum masuk stadion.

Suporter Italia garis keras juga ada. Mereka disebut sebagai Ultras. Tapi mereka tidak segalak hooligan meskipun juga pernah membuah ulah di beberapa pertandingan Eropa.

Bagaimana dengan suporter Spanyol? Sampai sejauh ini belum terdengar ulah ekstrem mereka. Spanyol memang mempunyai budaya yang relatif beda dengan Eropa daratan.

Spanyol yang terletak di wilayah Mediterania bersama Portugal lebih tenang dan warganya konservatif. Tapi, mereka mempunyai sejarah yang hebat karena melahirkan para pelaut hebat di abad pertengahan yang menjelajah dunia dan memulai globalisasi.

Spanyol mempunyai seorang ratu terkenal bernama Isabella yang memerintahkan Columbus untuk berlayar mengelilingi dunia yang akhirnya menemukan Amerika. Spanyol adalah negara kerajaan tapi juga pernah diperintah oleh diktator yaitu Jenderal Franco yang berkuasa sampai 1975. Pada masa diktator Franco inilah kebijakan untuk meyatukan seluruh Spanyol dilakukan dengan paksa. Spanyol yang multi-etnik dipaksa untuk tunduk kepada kehendak pusat di Madrid untuk menjadi negara yang seragam.

Pada masa kekuasaan Franco inilah klub-klub ibukota seperti Real memperoleh kejayaannya. Tetapi, paksaan untuk menjadi seragam itu menimbulkan perlawanan yang keras dalam bentuk separatis dari etnik Basque dan juga etik Catalan. Di sinilah sabab-musababnya mengapa perseteruan Real Madrid vs FC Barcelona sangat keras karena persaingan itu bukan sekadar persaingan sepakbola tapi sudah menjadi persaingan politik. Barcelona yang didominasi etnik Catalan tidak pernah mau mengakui dominasi Real yang dianggap sebagai bagian dari penguasa yang represif.

Italia mempunyai budaya yang berbeda dengan Eropa daratan. Anekdot di pembuka tulisan ini menunjukkan bahwa manusia Italia sangat religius. Di negeri itulah pusat agama Katolik berada. Vatikan adalah negara kecil di dalam negeri Italia tempat pemimpin tertinggi umat Katolik berada. Meski religius, Italia juga dikenal sebagai pengimpor preman top ke seluruh dunia. Mafia-mafia Italia tetap dikenal sebagai preman top yang paling jago di dunia. Sebagaimana Spanyol, Italia juga pernah diperintah seorang diktator fasis, Mussolini yang juga memanfaatkan sepakbola untuk kepentingan politiknya. Italia bisa menjadi juara dunia pada 1934 karena campur tangan Mussolini yang terkenal dengan ultimatumnya ‘’Juara atau Mati’’.

Di kancah Eropa, persaingan sepakbola Spanyol versus Italia selalu seru. Pada era 1990-an klub-klub Italia mendominasi Eropa dan liga Italia Serie A menjadi liga yang paling glamor di seluruh dunia. Tim-tim Italia seperti AC Milan, Inter, AS Roma, Juventus, Sampdoria, Napoli, dan beberapa lainnya menjadi yang terhebat di dunia dan menjadi jujukan semua pemain top dunia Italia menajdi juara dunia empat kali pada 1934, 1938, 1982, dan 2006. Italia memperkenalkan sistem pertahanan grendel (catanaccio) yang sangat sulit dibongkar dan sampai sekarang tetap menjadi ciri tim-tim Italia dan ditiru di seluruh dunia dan dengan agak negatif disebut sebagai pertahanan ‘’parkir bus’’.

Sepakbola memunculkan revolusi dunia dengan munculnya konsep corto e stretto (pendek merapat) yang diperkenalkan oleh Arrigo Sacchi yang melatih AC Milan. Dengan konsep itu, lapangan diperas menjadi sepertiga dan semua unit dalam permainan menyatu menjadi satu kesatuan dalam menyerang dan bertahan. Dengan konsep ini AC Milan menguasai Eropa dan menjadi juara Champions tujuh kali.

Corto e streto kemudian menjadi terkenal di seluruh dunia dan banyak ditiru oleh tim lain. Di Italia konsep ini diterapkan dengan berbagai modifikasi oleh tim-tim terbaik di Serie A. Corto e stretto tercatat sebagai salah satu konsep sepakbola yang merevolusi dunia sebagaimana Rinus Michel menemukan total football yang revolusioner dan menerapkannya di Ajax Amsterdam pada 1969 sampai 1973 dan menjadikan Ajax sebagai penguasa Eropa.

Pada masa kejayaan total football dan corto e stretto, Spanyol relatif tidak terdengar kiprahnya. Corto e stretto yang mengandalkan kekuatan fisik yang prima dengan semua unit terhubung seperti rantai yang tidak boleh putus, tidak cocok dengan gaya sepkbola Spanyol dan pemain-pemainnya yang tidak bertubuh besar. Tipe total football tidak sepenuhnya bisa diserap oleh Spanyol karena juga membutuhkan fisik dan kecepatan serta skill dan intelijensia tinggi seperti Johan Cruyff.

Baru belakangan ketika Cruyff bermain untuk Barcelona pada 1973 ia menularkan virus total football dan menjadikan Barcelona raja Eropa. Ketika kemudian Cruyff melatih Barcelona pada 1988, revolusi sepakbola lahir lagi dengan munculnya perpaduan total football dengan permainan bola pendek dan cepat disertai skill yang tinggi.

Gaya inilah yang kemudian diwarisi Pep Guardiola yang menjadi murid Cruyff dan kemudian menerapkannya menjadi konsep tiki-taka di Barcelona ketika Pep menjadi pelatih mulai 2008 sampai 2012 dan menjadikan Barca sebagai raja Eropa.

Gaya tiki-taka menginspirasi Spanyol dan seluruh dunia. Tim-tim Spanyol ditakuti dan disegani di seluruh dunia baik di level klub maupun level tim nasional. Sepeninggalan Pep ke Jerman dan sekarang ke Inggris, Barcelona masih tetap menunjukkan keperkasaannya dengan tiki-taka plus beberapa modifikasi. Sekarang Pep berusaha menerapkannya di Inggris dan masih harus ditunggu hasil kiprahnya.

Juve vs Madrid

Tak pelak, Juve adalah tim tersukses di Italia sekarang ini setelah enam kali berturut-turut menjadi jawara Serie A. Era AC Milan telah berlalu dan Juve sekarang menjadi barometer sepakbola Italia. Tentu saja ciri khas sepakbola Italia yang rapi dalam bertahan sangat terlihat pada Juve. Unsur-unsur corto e stretto juga terlihat pada permainan Juve.

Pelatih Massimo Allegri telah mentransformasi Juve menjadi tim yang seimbang dalam bertahan dan menyerang. Tak pelak, kehebatan Juve dalam bertahan telah menjadi yang terbaik di Eropa dan menjadi tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Champions tahun ini. Pada babak delapan besar penyerang Barcelona dibikin mandul tak berdaya. Hanya striker Monaco, Kylian Mbappe yang bisa sekali membobol gawang Buffon.

Madrid kembali menunjukkan keperkasaannya. Tentu saja, tidak ada unsur tiki-taka yang diterapkan Real karena rivalitas abadinya dengan Barca. Tapi ingat, di timnas Spanyol semasa ditukangi Vicente del Bosque maupun semasa Luis Aragones, citarasa tiki taka sangat terasa. Dan, kita tahu isi timnas Spanyol adalah pemain Barcelona dan Real Madrid. Jadi, pengaruh tiki taka mau tak mau merembes ke pemain Real ketika bermain di timnas Spanyol.

Real punya gaya sendiri. Sepakbola Spanyol beda dengan Italia dan Inggris. Gaya Spanyol tidak terlalu mengandalkan fisik maupun kecepatan. Skill tinggi dan penguasaan bola sempuran adalah modal khas tim-tim Spanyol. Real punya pemain-pemain dengan skill tinggi dan  kecepatan mematikan.

Keampuhan trio penyerang Real BBC (Benzema, Bale, dan Cristiano Ronaldo) akan dihadang oleh trio jagal Juve BBC (Bonuchi, Barzagli, dan Chiellini yang telah sukses memandulkan trio maut Barcelona MSN (Messi, Suarez, Neymar). 

Menarik untuk menyaksikan pertandingan final Champions League 3 Juni ini. Dua klub dengan sejarah besar. Juve tidak ingin mengulangi kegagalan final 2015, dan Real ingin mematahkan kutukan juara dua kali berurutan (back to back) untuk meraih juara Liga Champions selama 12 kali. Dua klub dari dua negara yang sama-sama melahirkan revolusi sepakbola dunia akan memperebutkan supremasi sepakbola Eropa.

Tidak ada yang berani sesumbar bakal unggul. Zinedine Zidane pelatih Real Madrid--yang menjadi legenda hidup di Juventus ketika bermain disana--menyadari sepenuhnhya potensi Juve untuk membunuh ambisi Real. Di sisi lain Massimo Allegri sudah pernah merasakan pahitnya final melawan tim Spanyol ketika dikalahkan Barca dua gol tanpa balasa pada final 2015. Kali ini Allegri lebih waspada. Tapi, diam-diam ia punya keyakinan bahwa level Juve kali ini lebih tinggi dari 2015. Apakah itu berarti Juve siap menjegal Real? Mungkin saja. (*) 

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda