Di Balik Pesona Karimunjawa (4-Habis)

Joko Tuwo pun Kirim Batu Pasir ke Pasar

Penulis berpose di atas Bukit Joko Tuwo dengan latar belakang pantai Karimunjawa. (Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Erwan Widyarto

-----------------------------------

KARIMUNJAWA merupakan tempat tujuan wisata yang komplet. Wisata pantai maupun wisata gunung, tersedia dengan mudah. Jarak antara pantai dan bukit tak lebih dari 1 Km. Dari atas bukit bisa melihat keindahan pantai, dan tak berapa jauh turun, bisa menikmati pantainya tanpa memakan waktu di perjalanan.  Benar-benar indah.

Namun keindahan Karimunjawa mulai terancam. Dan itu sudah dirasakan. Jumat (14/10) saat kami datang, hujan turun sangat deras. Hujan reda usai salat Jumat. Saat kami berkeliling, di dekat Pasar Karimunjawa terlihat sejumlah warga mengeruk pasir dan tanah merah yang menumpuk di sepanjang jalan. Menurut informasi warga, pasir tersebut sisa banjir bandang dan longsor pada Kamis sebelumnya.

BACA JUGA: Pelabuhannya Punya Pabrik Es yang Sempat Mau Ditutup

Banjir bandang? Ya. Ada arus air yang deras dari arah atas di jalan depan pasar. Pasir dan tanah merah yang tersisa menampakkan jalur dari mana mereka datang. Di arah atas pasar tersebut adalah bukit. Bukit yang disulap menjadi tujuan wisata. Namanya Bukit Joko Tuwo. Di lokasi ini ada fosil ikan hiu ukuran delapan meter. Dari ketinggian Bukit Joko Tuwo ini, keindahan pelabuhan pantai Karimunjawa terlihat. Tak pelak, tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan.

BACA JUGA: Sampah harus Menjadi Perhatian Serius

Sayangnya, eksplorasi yang sembarangan terhadap lingkungan, membuat kawasan ini rusak. Di atas bukit Joko Tuwo ini sedang dibangun sebuah hotel. Pembukaan lahan pun berlangsung. Pembukaan lahan tentu dengan menebang pohon dan mematikan vegetasi yang ada.

erwan-B6TV4c.jpg

Jalan rusak menuju Bukit Jaka Tuwa. (Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP)

“Padahal, akar-akar pohon dan tanaman di atas tanah inilah yang menjadi pengikat tanahnya. Jika tak ada lagi pohon dan rumput atau tumbuhan penutupnya, tanahnya mudah longsor. Apalagi jika ada hujan,’’ ujar Ketua Kagama Jepara Hery Kusnanta. Hery yang alumni Geodesi UGM paham dengan karakter tanah dan bebatuan.

BACA JUGA: Dinas Kelautan dan Perikanan pun Ngurusi Sampah…​

Hery begitu prihatin dengan kondisi yang terjadi. Saat kami berdua naik ke Bukit Joko Tuwo, pada Hari Minggu dengan berboncengan motor, kewaspadaan ekstra tinggi harus dimiliki. Jalan menuju bukit ini, sejak dari pintu gerbang dekat pasar, penuh dengan bebatuan dan tanah merah bekas longsoran.

Bahkan di sisi jalan, terlihat onggokan batu-batu ukuran besar.

erwan-C9q3O.jpg

Rekahan terlihat di tangga menuju lokasi fosil ikanhiu di Bukit Joko Tuwo. (Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP)

Saya jadi teringat dengan Rektor UGM Prof. Dr. Dwikorita Karnawati yang pakar bencana tanah longsor. Pada satu kesempatan, Dwikorita menyampaikan paparan bahwa terjadinya longsor karena awalnya ada rekahan tanah. Lewat rekahan tanah itulah, air masuk ke dalam. Timbunan air yang berlebih, menyebabkan tanah menjadi jenuh, rentan sehingga mudah ambrol. Jika hal itu terjadi pada tebing bukit, maka longsor pun terjadi.

Menurut Dwikorita, longsor bisa dicegah dengan segera menutup celah-celah atau rekahan tanah seperti itu. Sehingga air tidak dengan mudah masuk ke dalam. Air harus dibuatkan saluran dan diarahkan. Jika tidak dibuatkan “jalan”, air akan mencari jalan sendiri. Jika jumlahnya besar dan intensitasnya tinggi, air tersebut bisa berpotensi sebagai bencana.

erwan-DeJRB.jpg

Pemandangan dari atas Bukit Joko Tuwo. (Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP)

Ketika sampai di atas Bukit Joko Tuwo, pemandangan yang tersaji memang begitu indah. Namun, melihat kondisi yang ada, rasa was-was pun menyelinap. Apalagi di lokasi yang diubah untuk tempat berfoto, juga terlihat bekas longsor. Tanah yang tak tertutup pohon dan rerumputan di atas lokasi berfoto, tampak runtuh ke bawah. Beruntung, hujan tak turun semenjak Jumat itu.

Usai mengabadikan lokasi dan memotret fosil ikan hiu di lokasi itu, kami pun segera turun. Rekahan tanah di Bukit Joko Tuwo itu pun terus menghantui kami.

erwan-GZReCs.jpg

Fosil ikan hiu di atas Bukit Joko Tuwo Karimunjawa.​ (Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP)

Tak hanya di lokasi Bukit Joko Tuwo. Ancaman longsor terlihat di sejumlah titik. Dalam perjalanan ke lokasi wisata Pantai Ujung Gelam, kami juga melihat bekas-bekas longsoran di atas jalan aspal sepanjang perjalanan. Begitu ada tanah merah atau pasir di atas aspal, kami mengarahkan pandangan ke arah bukit atas. Maka terlihatlah “jalur longsoran” tersebut. Batu-batu besar berserakan membentuk jalur tersendiri.

erwan-HE3oWK.jpg

Jumat usai hujan lebat itu, arus air dari atas terlihat begitu deras. Ketika aliran air tersebut melewati sungai atau saluran yang ada, tak ada masalah. Sayangnya, di banyak lokasi, kami melihat aliran deras sungai tersebut “mencari jalan” sendiri. Air deras tersebut membawa tanah dan bebatuan meluncur ke bawah.

Kondisi semacam ini mestinya segera mendapat perhatian. Harus dicegah sebelum terjadi petaka.

erwan-EngUq7.jpg

Pemandangan dari sisi lainnya di atas Bukit Joko Tuwo. (Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP)

Agar keindahan Karimunjawa tetap terjaga. Hery Kusnanto dari Kagama Jepara, tentu juga berusaha melakukan kordinasi dengan pihak-pihak yang berkompeten menangani masalah ini. Sebab bagaimanapun, alam harus diperlakukan dengan adil. Eksplorasi yang serakah dan merusak lingkungan, semestinya tak diberi jalan. (Habis)

 

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda