Menagih Janji Saleh Mukadar: Tinggalkan Persebaya!

Saleh Mukadar saat memberikan motivasi kepada pemain Persebaya Surabaya. (Foto: tribunnews)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Cak Amu

-----------------------

SALEH ISMAIL MUKADAR sosok pria keras kepala. Suaranya lantang. Tegas dan pantang menyerah! Saat dikuyo-kuyo pengurus PSSI dia melawan dan menantang. Targetnya?

Saleh Mukadar ingin mengembalikan Persebaya 1927 ke arena kompetisi sepak bola nasional. Ini misi terakhirnya! 

Jika misinya berhasil,  Komisaris PT Persebaya Indonesia (PI) ini menyatakan mundur. Ia akan memberikan cuma-cuma kepada siapa saja, yang ingin mengelola, dan menyelamatkan Persebaya.

Janji itu pernah disampaikan Saleh secara pribadi kepada saya. Ketika kami bertemu di acara dialog khusus di Stasiun Televisi Surabaya, SBO, Kamis malam 16 April 2015 silam. Yaitu, sehari sebelum ada Kongres PSSI di Hotel JW Marriot Surabaya. 

Sayangnya, dialog yang juga dihadiri wartawan senior Joko Tetuko, mantan pelatih Persebaya Freddy Mulli, Andi Slamet dan Ketua Umum Persebaya Arif Afandi itu, harus berakhir ricuh. Program Jurnalis Club yang berdurasi satu jam ini tak berlanjut. Ini menyusul teror kelompok massa yang “nggruduk” ke studio dan menampar pipi Saleh.

Nah, saat kami berdua melaporkan kejadian tersebut di Kantor Redaksi Jawa Pos, di Lantai 4 Gedung Graha Pena, Saleh sengaja saya todong pertanyaan,”Bang Ente sudah tua, kenapa masih pingin ngurusi Persebaya yang rentan kisruh itu? Kan, lebih baik di usia senja ini, Ente memperbanyak pendekatan pada Allah.”

Saleh langsung menghentikan langkahnya. Kami berhenti sebentar. Di depan pintu detektor ruang redaksi Jawa Pos. Saya memandang Saleh dengan sorot mata yang tajam. Begitu pula Saleh, menatap saya tak kalah tajam. Saya pikir dia naik pitam. Ternyata tidak! 

Taufikdb1oq.jpg

Taufik gelandang lincah yang bertubuh  mungil saat masih mengenakan seragam Persebaya. (Foto: tribunnews)

Pria berbadan subur ini lantas memegang pundak saya,”Cak Amu, kalau Persebaya menang di pengadilan, saya akan tinggalkan Persebaya!” Saya terdiam sejenak. “Serius nih Bang,” timpal saya yang dibenarkan Saleh,”Serius aku, serius ini!”

Dua minggu kemudian, Saleh membuat pernyatan serupa. Diulangi di media massa. Salah satunya dilansir BolaNet. Berita yang di-update pukul  15.37 WIB, tanggal 30-04-2015, itu diberi judul: Saleh Mukadar Akan Mundur dari Persebaya 1927.

Saat itu, Persebaya 1927, memang tengah berjuang untuk diakui kembali oleh PSSI. Perjuangan ini telah mereka lakukan sejak tiga tahun lalu. Tapi belum juga membuahkan hasil. 

Saleh kemudian menempuh jalur hukum. Lewat Pengadilan Negeri Surabaya. Dia yakin sekali peluang untuk kembali berkirah di sepak bola Indonesia teramat besar. 

Jika tugasnya tuntas, Saleh berencana mundur dari Persebaya. "Setelah diakui, saya akan mundur," beber Saleh.

Tidak sekedar gertak sambalkah ucapan Saleh itu? Atau hanya sekadar menghisap jari jempol? 

Mudah-mudahan tidak! Sebagai orang muslim. Saleh pasti paham. Janji adalah hutang. Jika tidak dipenuhi, maka sepeningalnya nanti dia akan dianggap sebagai pencuri oleh Sang Khaliq.

bonek-bersatulah2exBb.jpg

Para pemain Persebaya. (Foto: tribunnews)

Perlu diingat, Psebaya butuh perubahan. Butuh penyegaran. Berubah untuk lebih baik. Lebih profesional. Lebih segar hingga mencapai sukses besar!

30 Juni Hari Bersejarah Persebaya Baru

Ya. Persebaya 1927 memang tim unik. Sejak tahun 2013, mereka sudah tidak memiliki pemain dan pelatih. Namun, mereka didukung oleh mayoritas Bonek. Dan, mereka mengatasnamakan Bonek 1927.

Boikot yang dilakukan Bonek 1927 membuat Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) \ sepi. Mamring! Mereka hanya mau datang ke stadion baru itu jika ada laga Persebaya berlebel 1927.

Namun, kisah ini bakal berakhir. Ini menyusul sukses Bonek memperjuangkan tim yang dikelola Saleh dan Cholid Ghoromah. Kehadiran mereka dalam setiap kali sidang di Pengadilan Negeri Surabaya tak sia-sia. 

Gerak dan aksi mereka tak beda dengan saat mendukung timnya di stadion. Beryel-yel dan beryanyi lagu-lagu mars kebesaran Bonek-Persebaya. 

Tepat pada tanggal 30 Juni 2016, mereka turut melahirkan sejarah “Persebaya Baru”.  Sejarah kemenangan Persebaya di luar stadion.

Betapa tidak! Manajemen Persebaya Surabaya di bawah PT Persebaya Indonesia (PI) telah dimenangkan Majelis hakim Pengadilan Niaga Surabaya. Ini menyusul penolakan gugatan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB), badan hukum Bhayangkara Surabaya United (BSU). 

bonek-nggruduk-jakartaYQnLg.jpg

Bonek saat Gruduk Jakarta beberapa hari yang lalu. (Foto: tribunnews)

Dalam sidang yang digelar hari  Kamis itu, majelis hakim memutuskan menolak gugatan PT MMIB. Majelis hakim menyatakan penggugat, yakni PT MMIB tidak dapat membuktikan gugatannya. 
Fakta persidangan juga mengungkapkan bahwa PT PI lebih dulu mengajukan hak atas logo dan nama Persebaya kepada Direktorat Jenderal (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementrian Hukum dan HAM (KemenkumHAM).

Gugatan PT MMIB terkait logo, merk, dan nama Persebaya terhadap PT PI ditolak hakim. Ketua Majelis Hakim Ari Jiwantara didampingi dua hakim anggota Anne Rusiana dan Harijanto menolak gugatan karena pihak penggugat tidak bisa membuktikan gugatannya.

Keputusan itu langsung disambut gembira oleh Bonek yang “mengepung” PN Surabaya. Manajemen klub berjuluk Green Force inipun turut bersuka ria. Bonek histeris, berteriak gembira dan melakukan sujud syukur. Mereka juga menyalakan kembang api sebagai tanda kemenangan.

Sebelum sidang, massa bonek memang sudah menyatu. Mereka berkumpul di Taman Apsari. Ratusan bonekmania kemudian konvoi menuju PN Surabaya. Mereka menutup Jalan Raya Arjuno yang ada di depan PN Surabaya.

saleh-mukadar-di-beritaV78S.jpg

Saleh Mukadar (berkacamata). (Foto: tribunnews)

Ini kenangan yang tak terlupakan. Koordinator aksi Andi Peci juga bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Terutama kepada rekan sesama Bonek.

Andi Peci juga meminta agar Arek-Arek Bonek tertib membubarkan diri dan tidak melakukan perbuatan anarki. Imbauannya pun direspon bonek dengan membubarkan diri secara tertib. 

Sambil membubarkan diri, massa bonek berjalan ke arah selatan dengan bernyanyi dan meneriakkan yel-yel  'Salam Satu Nyali Wani'. Mereka juga menyalami polisi, TNI, dan Satpol PP yang sebelumnya bertugas mengawal sidang.

Inilah klimaks perjuangan mereka di pengadilan. Sebab, sejak sekitar lima tahun terakhir, ada dua klub yang menggunakan nama Persebaya. Salah satunya bernaung di bawah PT Persebaya Indonesia, yang bernama Persebaya 1927. Sementara yang lain adalah bernaung di PT MMIB (PT Mitra Muda Inti Berlian). 

Sudah berakhirkah perjuangan mereka? Belum. Sebab, pihak PT MMIB masih ingin melakukan banding. Bonek pun langsung merinding. Mereka mendemo markas Surabaya United yang kini menjadi Bhayangkara Surabaya United (BSU), agar tidak melakukan banding.

Gede Widiade selaku owner Surabaya United masih ngotot juga. Tapi ia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada BSU, karena saham terbesar kepemilikan PT MMIB sudah dimiliki Bhayangkara.

Bagi Bonek, proses hukum untuk menuntaskan sengketa penggunaan nama dan logo Persebaya kini sudah berakhir. Andi Peci dan kawan-kawan juga sudah menyampaikan agendanya mengusung status tersebut di Kongres Luar Biasa PSSI (KLB), 3 Agustus 2016 lalu. 

Agenda yang dikawal ribuan Bonek itupun tak sampai menggangu jalannya KLB di Hotel Mecure, Ancol, Jakarta.Andi dan kawan-kawan langsung ditemui salah satu anggota Eksekutif Komite (Exco) PSSI, Tony Apriliani di tempat “penampungannya” Stadion Tugu Koja, Jakarta Utara.

Hasilnya? Tony bersedia menandatangani petisi yang dibawa Bonek itu di hadapan mereka. Begitu pula delapan anggota Exco lainnya, juga sepakat membubuhkan tanda tangan. 

bonekdetikuwgUH.jpg

Tony Apriliani bersedia menandatangani petisi yang dibawa Bonek itu di hadapan mereka. (Foto: detik)

Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi yang hadir di stadion malam harinya,  berjanji akan mengawal keinginan Bonek melegetimasi status Persebaya di PSSI. Tekad ini juga tidak bertepuk sebelah tangan. 

Hinca Panjahitan selaku Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI menggantikan La Nyalla Mattaliti karena berurusan dengan hukum, juga memberi lampu hijau. Masalah Persebaya akan diagendakan dalam Kongres PSSI di Makassar 17 Oktober mendatang.

Gayung sudah bersambut. Nasib Persebaya di PSSI tinggal menunggu ketokan palu di Kongres Makassar. Bukan hanya Persebaya. Klub-klub yang didepak seperti Persema Malang, Persibo Bojonegoro dan klub lainnya juga terkena imbas dari aksi Bonek.

Bonek, dan semua masyarakat bola, kini hanya berharap, agar pengendali Kongres PSSI Makassar tidak mengingkari janjinya. Janji mengembalikan semua klub yang terzalimi.

Menpora juga sudah menyepakati. PSSI harus kembali ke khittah. Khittah sepak bola yang bersih dan memegang tinggi nilai-nilai perjuangan leluhur. Berjiwa nasionalisme! (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda