Cuma Diejek, Pacar Dibunuh

David Lesmana (kiri) dan Nindi Putri Ma'rifah. (FOTO: Kolase TribunnewsWiki/IST)

COWASJP.COMPria bunuh pacar terus saja terjadi. Gegara pernah diejek di depan teman, David Lesmana, 19, membunuh pacar, Nindi Putri Ma’rifah, 19, dengan bacokan bertubi di Apartemen Bogor Icon, Kamis (7/12/2023). Mayatnya ditemukan Senin (11/12/2023).

***

PEMBUNUHAN sudah direncanakan. Kapolresta Bogor Kota, Kombes Bismo Teguh Prakoso kepada wartawan, Selasa (12/12) mengatakan: “Pelaku membawa pisau dari rumah. Lalu mengajak korban check-in di apartemen itu. Saat korban mandi, dibunuh.”

Mayatnya ditemukan tanpa busana. Sudah sangat membusuk. Oleh petugas house keeping apartemen itu. Yang awalnya ia melihat tangan menyembul dari kolong ranjang. Lalu ia ketakutan, dan lapor polisi.

Tim polisi segera melakukan olah TKP. Membawa jenazah Nindi ke RS untuk diotopsi. Tim polisi memeriksa saksi-saksi dan rekaman kamera CCTV. Akhirnya diketahui terduga pelaku pembunuhan. 

Di saat polisi masih memburu tersangka David, keluarga Nindi sudah menangkap David dan membawanya ke kantor polisi.

Salah satu saksi adalah Kepala Desa Pamijahan, Abie Kusnadi. Ia bukan saksi langsung saat pembunuhan. Tapi ia mengetahui sejarah hubungan pacaran Nindi dengan David. Juga, Abie masih kerabat orang tua Nindi. Ia menjelaskan kepada wartawan latar belakang profil Nindi dan David.

Abie: “Nindi cucu ulama terkemuka di desa kami. Namanya Kiai Sohibuddin, sudah almarhum. Masih kerabat saya. Jadi, Nindi dididik dari keluarga yang agamis." 

Nindi dan David sama-sama sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Leuwisadeng, Bogor. Ketika mereka kelas tiga pada 2021 mereka pacaran. Setelah lulus mereka putus, karena Nindi cerita kepada keluarga bahwa pacarnya David berperangai pemarah. Kalau marah meledak-ledak.

Nindi tinggal di Kampung Cilengkong, Desa/Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor; sedangkan David warga Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.

Abie: “Pacaran mereka putus-nyambung beberapa kali. Karena ya itu tadi, kata Nindi, pacarnya bersikap pemarah. Malah sebelum pembunuhan si pelaku utang Rp 700 ribu ke Nindi.”

Nindi terakhir berstatus mahasiswi semester empat Sekolah Tinggi Kesehatan Wijaya Husada, Bogor, Jurusan Keperawatan.  Sedangkan pelaku tidak melanjutkan kuliah.

Abie: “Meskipun mereka pacaran, tapi pelaku belum pernah datang ke rumah Nindi untuk kenalan dengan keluarga. Sepertinya pelaku tidak berani ketemu keluarga Nindi, padahal ia pacaran dengan Nindi. Sikap ini tidak ksatria.”

Terbaru, Abie mendengar dari cerita teman Nindi bernama Erika, bahwa Nindi pernah ditampar pelaku. Itu sebabnya, kondisi terakhir pacaran mereka sudah putus. Entah mengapa, Nindi mau bertemu lagi dengan David di apartemen itu.

Abie: “Berdasar cerita orang tua Nindi, pada Kamis, 7 Desember 2023 siang Nindi berangkat kuliah. Terus, sorenya menelepon ibunda bahwa ia akan menginap di rumah teman perempuan, disebutkan namanya.”

Sejak itu Nindi menghilang. Jumat, 8 Desember 2023 pagi ibunda Nindi mengirim pesan WA ke HP Nindi. Pesan masuk, tapi tidak dibalas. Ibunda menelepon, tidak diangkat. Ibunda mulai curiga. Apalagi, sampai Jumat siang tidak bisa kontak Nindi.

Lantas, keluarga bertanya ke teman yang kata Nindi tempat menginap. Ternyata Nindi tidak menginap di sana. 

Dari situ keluarga mencari tahu alamat David. Ketemu di Desa Sadeng. Ketemu David juga. Dijawab David, seperti ditirukan Abie, begini:

“Iya… hari Jumat Nindi sempat sama saya (David) bonceng motor. Terus, Nindi minta turun di dekat flyover Jalan Soleh Iskandar (Bogor).”

Akhirnya mayat Nindi ditemukan di apartemen itu. Kombes Bismo menyatakan, berdasarkan penyidikan polisi, apartemen itu disewa David. Check-in atas nama David. Kemudian David masuk apartemen sekitar pukul 23.00 WIB bersama Nindi.

Forensik tidak menyimpulkan, apakah mereka berhubungan seks dulu sebelum pembunuhan di kamar mandi saat Nindi mandi. Sebab jenazah sudah membusuk.

Tersangka David dijerat Pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman hukuman mati. Setidaknya penjara 20 tahun.

Sangat disayangkan, David masih muda. Belum lama melewati masa kanak-kanak. Berdasar World Health Organization (WHO), batas usia remaja 12 sampai 24 tahun. Dari kronologi itu tergambar perangai tersangka. Rata-rata pembunuh berperangai begitu. 

Mengapa, cuma gegara diejek di depan teman David membunuh Nindi? Banyak remaja ejek-mengejek tapi tidak membunuh?

Douglas Sargent dalam bukunya berjudul: Children Who Kill, A Family Conspiracy? (Oxford University Press, 2017) menyebutkan, pria pembunuh punya karakter khas yang melekat sejak kanak-kanak. Bisa karena faktor genetik (keturunan). Misal, salah satu ortu atau keduanya punya gangguan psikotik. Bisa juga  akibat faktor sosial (pergaulan).  

Sargent melakukan riset di Amerika Serikat di tahun penerbitan buku. Ia mendokumentasikan karakteristik neuropsikiatri masa kanak-kanak dan keluarga dari sembilan subjek remaja laki-laki pembunuh, sudah dihukum penjara., sebagian di penjara anak. Dibandingkan dengan 24 remaja laki-laki yang juga dihukum penjara akibat kenakalan yang bukan pembunuhan. Yakni, pencurian, perampokan, pemerkosaan dan kejahatan lain.

Riset menyangkut masa lalu ketika subyek masih kanak-kanak, untuk mengetahui, bagaimana mereka dibesarkan, dulu? Siapa ortu mereka? Bagaimana ortu mendidik mereka, dulu?

Hasilnya, ada kemiripan antara kelompok satu (pembunuh) dengan kelompok dua (penjahat bukan pembunuh). Kemiripan: Mereka semua sama-sama terabaikan ketika masih kanak-kanak. Ada yang ortu bercerai atau meninggal dunia, kemudian anak diasuh kerabat atau panti asuhan.

Semua penjahat itu mengalami masa kanak-kanak yang suram. Kurang perhatian, kurang kasih sayang, berganti-ganti pengasuh (akibat ortu cerai atau meninggal). Sehingga mereka tidak terdidik dengan baik dan benar.

Pembunuh punya sedikit perbedaan dengan penjahat selain pembunuh. Yakni, sering dianiaya ketika masih kanak-kanak. Atau sering melihat KDRT ortu. Sering direndahkan dan dilecehkan. Harga diri mereka hancur ketika masih bocah.

Akibatnya, setelah mereka remaja dan dewasa muda, mereka seperti balas dendam. Sebab, tubuhnya sudah besar dan bisa melawan ketika dilecehkan dan direndahkan. Bahkan perlawanannya jadi berlebihan. Sebab, empati mereka sudah mati sejak mereka masih bocah. Mereka, minim bahkan tidak punya empati.

Sargent: “Pembunuh punya konstelasi karakteristik biopsikososial yang mencakup gejala psikotik, gangguan neurologis berat, bisa juga ada kerabat tingkat pertama yang psikotik, juga akibat tindakan kekerasan selama masa kanak-kanak, dan kekerasan fisik yang parah.”

Intinya, calon pembunuh punya masa lalu yang sangat tidak sepantasnya diterima anak-anak. 

Sargent: “Semua kasus menunjukkan bahwa salah satu, atau kedua orang tua, telah membina dan membiarkan penyerangan yang mematikan. Walaupun orang tua tidak sengaja mencetak calon pembunuh.” 

Pembunuhan adalah kejahatan paling serius. Ini sangat perlu dipelajari untuk mencegah produksi pembunuh. 

Sargent: “Temuan itu dapat diidentifikasi, merupakan karakteristik anak-anak yang melakukan kekerasan, sebelum mereka melakukan pembunuhan. Maka, harus dicegah agar mereka tidak membunuh. Mereka beda dengan anak nakal biasa. Mereka anak yang cacat secara psikologis.”

Umumnya remaja dan dewasa muda, tidak membunuh ketika ia diejek, bahkan dihina orang lain. Marah, adalah reaksi wajar. Tapi tidak sampai membunuh.

Tapi remaja atau dewasa muda dengan karakteristik seperti disebutkan Sargent itu, jika diejek, membuat kesuraman masa kanak-kanak yang sangat pahit itu mendadak muncul. Menekan ego. Serasa menghancurkan harga diri yang sudah remuk di masa lalu. Mengakibatkan balas dendam yang brutal.

Salah satu keunikan, remaja laki model ini tidak ksatria. Ia tidak berani pada lawan yang kira-kira sepadan. Sebab, ketika ia masih bocah dulu ditekan dan dihancurkan dalam pelecehan oleh orang yang lebih kuat (orang dewasa). Akibatnya, ia mirip hewan buas yang cuma menyerang orang lemah. Tanpa sikap ksatria.

Dalam kasus David membunuh Nindi, media massa tidak mengungkap masa lalu David. Polisi pun tidak, karena bukan tugas mereka. Bahkan, kriminolog Indonesia pun belum menghasilkan riset semacam dilakukan Sargent.

Kronologi yang yang diceritakan Abie dan Kombes Bismo di atas, terlalu singkat untuk menyimpulkan, siapa dan bagaimana tersangka. Apalagi menarik kesimpulan. Itu cuma memberi sedikit indikasi yang beririsan dengan teori Sargent. Punya kesamaan tipis-tipis. (*)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda