Gowes Sunday

"Horor", Lock Down or Open Up

Kawasan Tunjungan sepi. Sedikit sekali pegowes yang meluncur. (FOTO: Abdul Muis/CowasJP)

COWASJP.COM – Happy Sunday. Ini istilah yang ngepop dan ngetop di antara gowesers, penghobi sepedaan di hari Minggu.

Hari yang mereka tunggu-tunggu untuk gowes bersama rekan satu tim atau sekeluarga ini, Minggu (22/03/2020) pagi itu lenyap. Tak sedikit gowesers yang biasa mancal di akhir pekan, hari itu lebih memilih berdiam diri di rumah. 

Lock Down!

Anjuran pemerintah agar masyarakat melakukan Lock Down alias tidak keluar rumah, benar benar ngefek. Apalagi Car Free Day juga ditiadakan.

Tiga titik kumpul (Tikum) yang biasa jadi mangkalnya goweser: Tugu Pahlawan, Taman Bungkul Surabaya dan Alon Alon Sidoarjo sepi. Mrimping. 

Tak seramai sebelum merebak Covid-19. Happy Sunday berubah jadi Sunday "Horror".

Horror? 

Ya. Itu yang penulis rasakan. Gowes minggu pagi itu tak seramai biasanya. Sepi, tapi tidak sunyi.

Suasana semacam ini menjadikan gowes tak nyaman lagi. Ada perasaan gimana gitu lo.

amu1.jpgDi titik nol Jalan Pahlawan Surabaya.

Terlebih saat nyalip pesepeda lain. Mereka yang menutup mulutnya dengan masker, sorot matanya tak seramah biasanya.

Serem!

Weih.. Ya udalah. Toh kita sama-sama berolahraga. Tujuannya agar sama sama sehat. Plus hepi (happy).

Jam digital di Garmin sepeda penulis, pagi itu, sudah menunjuk angka 6.20. Karena itu, pegowes yang melintas bersama- sama di bypass MERR, penulis tinggal.

Penulis tancap pedal!

Speed rata-rata 30-35 Kph. Tujuan utamanya, meluncur ke Tugu Pahlawan. Lewat Pasar Atom.

Sepanjang jalan ini, yang ramai hanya di daerah Makam Umum Rangkah. Yang juga lokasi makam pejuang kemerdekaan: WR Soepratman.

Maklum, kawasan di Rangkah memang padat penduduk. Banyak pula yang beraktivitas ke Pasar. Mereka kayaknya tidak mengenal Lock Down.

Sesampai di sekitar Tugu Pahlawan dan Kantor Gubernur Jawa Timur, penulis sudah mulai merasakan suasana "Sunday Horor" hehe.

Jalan sebesar itu, tak lagi padat oleh olahragawan mingguan. Pesepeda juga tak begitu banyak. Hanya ada beberapa klub memanfaatkan selfie di tetenger TITIK NOL Surabaya.

Letak Titik 0 ini, persis  di sebelah kanan bangunan, tempat dinasnya Ibu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan wakilnya.

amu2.jpgSepinya Jalan Pahlawan Surabaya dekat kantor Bank Indonesia.​

Usai selfie, penulis geser memutar di sebelah utara Tugu Pahlawan. Kawasan Pasar Turi. Dekat Markas Pemadam Kebakaran.

Nah, pedagang kaki lima yang biasa menjubeli jalan menuju Indrapura itu, sudah tidak ada lagi. Kosong melompong.

Ruas jalan jadi lengang. Kayak suasana hari raya. Sepi. Ditinggal penduduk kota mudik.

Begitu pula sepanjang jalan penuh kenangan Jalan Tunjungan. Tak lagi banyak yang berolahraga. Di kawasan ini Car Free Day juga ditiadakan alias terbuka untuk semua kendaraan.

Kendati begitu, suasana Jalan Tunjungan tak lagi seperti hari Happy Sunday. 

Horror! Hehe. 

Di kawasan Patung Bambu runcing malah sepi kemrimping. Lumayan, bisa dipakai penulis tancap speed sampai lampu stopan Pasar Keputran.

Pas, di lampu merah berikutnya, suasana pun sama. Dentuman musik senam yang biasanya menyeruak tak lagi terdengar dari depan hotel di Jalan Raya Darmo itu. 

Maklum Minggu itu, tidak ada Car Free Day juga di kawasan jantung kota ini.

Yang menghidupkan suasana justru peseda seli (sepeda lipat) yang harga puluhan juta itu, lagi ngumpul di depan resto siap saji. Rupanya, mereka masih mengadakan Gowes Bareng.

amu3.jpgAlun-alun Sidoarjo yang biasanya ramai kalau hari Minggu juga sepi. (FOTO: Abdul Muis/CowasJP)

Sepanjang Jalan Darmo dan sekitarnya, juga sepi dari aktivitas pedagang kaki lima. Begitu pula di Taman Bungkul, tak lagi jadi titik kumpul klub-klub sepeda di Surabaya.

Hanya beberapa komunitas yang markir sepedanya. Begitu pula di seberang Taman Bungkul, hanya tampak beberapa pegowes.

Turunnya animo peseda Minggu ini juga terasa ketika penulis meluncur ke Alun Alun Sidoarjo. Sepanjang 20 kilometer lebih dari Titik Nol, tak diwarnai pegowes ria.

Begitu pula sesampai di Kota Sidoarjo. Car Free Day ditiadakan. Masyarakatnya pun banyak yang memilih tinggal di rumah.

Pemberitahuan agar masyarakat Lock Down dan menjaga diri dari serangan Covid 19, tak henti-hentinya dilakukan pemerintah Kabupaten Sidoarjo. 

Mobil Dinas Kesehatan Sidoarjo berkeliling kota sepagi itu. Memberitahukan dampak Covid 19 dan cara pencegahannya. Entah di jam berikutnya.

Beda dengan Surabaya. Setiap lampu merah ada pemberitahuan cara pencegahannya. Yang bicara langsung walikotanya, Bu Risma.

Beh.., suasana di dua kota ini, di akhir pekan ketiga bulan Maret, terasa banget. Sepekan lalu, para pegowes masih bisa berhepi ria. 

Terutama peserta Bromo KOM Challenge 2020, Sabtu (14/03/2020), bisa show of force. Sepedaan bareng 1.448 peserta menyusuri jalan protokol Surabaya-Sidoarjo-Pasuruan-Wonokitri Bromo. Jaraknya 100K. Wow!

Ya, itulah sebuah catatan hidup. Di saat virus melanda dunia, di saat itu pula kita harus memilih. Lock Down atau Open Up.

Lock Down hingga kondisi kota menjadi "horror" atau tetap Open Up asal bisa jaga diri.

Semua ini terpulang dari diri kita masing-masing. Kita harus memulai lagi. Hidup sesempurna mungkin. 

Lock Down bukan berarti mengunci diri dari silaturahmi. Juga menutup kepedulian sesama. 

Lock Down bukan harus mengunci kekayaan yang   sudah terkumpul. Juga menikmati sendiri bersama keluarga.

Dari gowes sepanjang Minggu di hari Lock Down kali ini, penulis merasakan adanya kemandirian hidup yang bisa mengancam perbuatan apatis. Seorang yang gagal memahami arti Lock Down.

Hidup bukan untuk mengunci, me-Lock Down hanya untuk diri sendiri dan keluarganya. Lebih dari itu!

Beruntung bagi yang sudah diuntungkan Tuhan. Beruntung pula bagi yang beruntung untuk berbagi kepada orang yang kurang beruntung, agar sama-sama merasakan keberuntungan pemberian Tuhan.

Lock Down sebenarnya untuk Open Up. Terutama buat sesama ciptaan Tuhan. Terbukalah tangan mu, jangan terkunci.

Keep spirit luurs! (*)

Penulis: Abdul Muis Masduki, goweser dan wartawan senior di Surabaya.

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda