RUPS di Musim Corona

Joko Intarto (paling kiri) ketika menjelaskan webinar sebagai metode mengajar wakaf secara online. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Gara-gara Coronavirus, cara penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dipastikan bakal berubah. Semua RUPS offline. Nanti akan menjadi RUPS online. Seperti apa? 

Periode waspada Coronavirus diperpanjang. Semula hanya dua minggu. Sekarang dua bulan. Ketentuan itu akan berakhir pada 29 Mei 2020. Sepekan setelah Lebaran.

Pada periode itu praktis akan sangat banyak kegiatan kantor yang tidak bisa diselenggarakan secara normal. Sekolah diliburkan. Kegiatan belajar dan mengajar bergeser dari tatap muka menjadi online. 

Begitu pun perkantoran. Sudah banyak yang menerapkan konsep work from home. Sebagian karyawan bekerja dari rumah. Sebagian bekerja secara konvensional. Jadwalnya diatur bergantian.

Nah, akibat konsep work from home itulah, penyelenggaraan RUPS akan berubah. RUPS tidak akan bisa dilaksanakan secara offline lagi. Harus berubah menjadi RUPS online. 

Dulu, RUPS selalau dilaksanakan secara offline. Pemegang saham, dewan komisaris, dewan direksi, dan notaris, bertemu dalam satu ruangan. Forum itu bisa dilaksanakan di kantornya. Bisa di juga di hotel. Yang penting semua pihak hadir. 

RUPS adalah forum tertinggi dalam suatu perusahaan. Karena itu, RUPS wajib dilaksanakan setiap tahun. Waktu pelaksanaan paling lazim adalah antara bulan April – Juni. Tetapi ada pula perusahaan yang sudah bisa menyelenggarakan RUPS pada bulan Februari. Bergantung kecepatan perusahaan itu menyelesaikan laporan keuangannya.

Namun sangat jarang RUPS yang berlangsung setelah bulan Juni. Kalau pun ada, penyebabnya pasti sangat khusus. RUPS tidak normal itu biasa disebut RUPS Luar Biasa. Disingkat RUPSLB.

RUPS membahas hal-hal paling penting saja dalam sebuah perusahaan. Yang paling umum, RUPS memutuskan hal-hal berikut ini: 

1. Menyetujui atau menolak laporan keuangan tahun lalu.
2. Memberhentikan dewan komisaris dan dewan direksi. 
3. Mengangkat dewan komisaris dan dewan direksi.
4. Membagikan atau tidak membagikan deviden.

Karena pentingnya, semua pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi harus hadir. Yang tidak hadir bisa menerbitkan surat kuasa kepada orang lain sebagai wakil.

Nah, pada ‘musim Coronavirus’ ini, pasti banyak peserta RUPS yang tidak bisa hadir dalam forum offline. Padahal masa RUPS tidak boleh ditunda. Batas waktunya disebut dengan jelas di dalam akta perusahaan yang disahkan kantor notaris.

Agar tetap berjalan sebagaimana ketentuan perusahaan, RUPS online bisa menjadi solusi pilihan. Semua undangan hadir secara virtual dalam RUPS itu melalui fasilitas webinar atau video conference.

Sulitkah? Sama sekali tidak sulit. Apalagi, RUPS biasanya tidak melibatkan terlalu banyak orang. Dalam pengelolaan webinar, jumlah peserta di bawah 500 orang tergolong kecil. Apalagi tidak sampai 25 orang. 

Mengantisipasi lonjakan permintaan RUPS online pada bulan April – Juni, Jagaters mulai menyelenggarakan pelatihan crew webinar agar bisa mengelola RUPS dengan baik. Pelatihan dilakukan dengan membuat simulasi pelaksanaan RUPS online.

Saya mendapat pengalaman pertama menyelenggarakan RUPS online tahun 2019 yang lalu. Saat itu, saya harus menyediakan webinar untuk perusahaan-perusahaan eks Jawa Pos Group yang ‘tidak jelas’ nasibnya. Apakah akan tetap berada di bawah bendera ‘Jawa Pos Group’ atau bergabung dengan ‘Dahlan Iskan Group’. 

Koran ‘’Indo Pos’’ yang saya dirikan bersama kawan-kawan atas instruksi Pak Dahlan tahun 2003 bersama Irwan Setyawan termasuk salah satu perusahaan yang tidak jelas nasibnya, sampai terlaksananya RUPS online yang ‘’dihadiri’’ Pak Dahlan Iskan secara virtual dari Amerika Serikat.

Nah, bagaimana rencana RUPS perusahaan Anda tahun ini?(*)

Penulis: Joko Intarto, praktisi bisnis webinar profesional di Jakarta.

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda