mBonek di Event Gowes Internasional Bromo KOM Challenge 2020

Berbagai momen saat Bromo Kom Challenge 2020 berlangsung. (Foto-foto: MainSepeda.com)

COWASJP.COM – Gaung Bromo KOM Challenge 2020 masih terus menggema. Hingga hari ini.

Ya, sampai Kamis (19/03/2020). Lima hari jedah helatan gowes internasional itu, para kontestan terus memosting kiprahnya di media sosial (medsos) masing-masing.

Mereka antusias sekali. Event tahunan ini dianggapnya paling akbar di negeri ini. Bergengsi. 

BACA JUGA: Sukses Gelar Bromo KOM, Azrul Kian Moncer​

Malah ada yang mengibaratkan "hajinya" goweser. Event lainnya dianggap umroh. Masya Allah!

Betapa tidak. Dari tahun ke tahun, sejak 2014, pengikutnya selalu meningkat. Tahun ini yang digelari Herbana Bromo KOM Challenge 2020, mencapai 1448 pegowes. 

Warbiasa. Bikin beberapa titik alami kemacetan lalu lintas. Jelang masuk finish juga harus nuntun sepeda karena terhalang mobil penjemput loading.

Tak heran jika jumlah peserta sebanyak itu, bisa pecahkan rekor terbanyak ketimbang event tahunan lain di negeri rupiah ini.

amu.jpg

Grand Fundo New York (GFNY) yang baru dihelat di Bali, bulan lalu, pesertanya tak sebanyak Bromo KOM. Juga event di Jogja dan Jawa Tengah.

Bromo KOM memang menantang. Alamnya menyenangkan. Medannya menanjak dan meliuk liuk yang mengasyikkan.

Siapa pun yang bisa menaklukkan pasti ketagihan. Karena itu, banyak peserta yang sudah berkali kali "naik hajinya gowes" di Bromo KOM.

Proses untuk mengikuti kompetisi bersepeda balap ini, hampir sama dengan event yang lain. Pendaftarannya dibuka tiga bulan sebelum hari H.

Diawali pembukaan pendaftaran dengan harga Early Bird. Bromo KOM mematok harga IDR 900K. 

Batas regristasinya sampai akhir Desember. Setelah itu, kena harga baru. Lebih mahal.

Semua calon peserta paham soal ini. Mereka tidak susah melakukan pendaftaran.

Bisa lewat media portal yang dimiliki manajemen PT DBL Indonesia.  Mainsepeda.com namanya.

Penulis pernah ikut mendaftar, di gelaran Bromo KOM Challenge 2019. Pas harus melunasi pendaftaran Early Bird, dengan harga paling murah itu, pas gak punya duit hehe. 

Maklum pangsiunan! Tapi semangatnya kayak orang berduit hehehe..

Karena itu, dendam saya kian membara. Tahun berikutnya harus ikut. Harus bisa "naik haji."

Maksudnya tahun ini. 2020. Tapi, apes lagi. Dasar Bonek. Ga gablek duwek nekad melok..qkqkqk. Desember 2019, terlewatkan. Tapi, perasaan penulis tetap yakin. Bisa ambil bagian

Penulis tidak putus asa. Haram patah arang. Bromo KOM harus jadi lembaran sejarah hidup.

Harus dinikmati lagi. Tapi tidak loading (naik pick up) seperti kali pertama ketika penulis ikut lounching jersey Juanda Cyclist Community (JCC) 2019.

amu2.jpgPenulis: Abdul Muis Masduki. (FOTO: MainSepeda.com)

"Saya ingin gowes bareng peleton super besar. Rame rame menaklukkan Bromo dan finish tanpa loading," pikir penulis.

Kalau pun tidak terdaftar, penulis akan menyusup. Ternyata,  mBonek (Bondo Nekad) di Bromo KOM ini, tidak mungkin. 

Ada larangan nyusup di antara peserta. Semua harus pakai jersey. Pakai kostum kebanggaan yang harganya mahal. Buatan SUB senilai IDR 400K.

Karena itu, penulis kemudian menghubungi rekan sejawat. Rahmad Kartolo. Dia sahabat saya. Ketika sama sama bekerja di Radar Bandung Grup Jawa Pos. Dan, juga di Bandung Ekspres.

Waktu pendaftaran sudah mepet. Harus mengejar deadline. Takutnya kuota sudah sold out (habis).

Rahmad di PT DBL Indonesia yang sudah naik pangkat. Jadi manajer senior, paham betul keinginan penulis.

Lama dia gak bersua. Karena di usia 48 tahun, penulis pensiun dini. Baru jumpa via handphone saat penulis ditugasi Bos Jawa Pos Group Dahlan Iskan di Lombok Post 2017.

"Mas, aku pingin daftar Bromo KOM," bunyi japri saya di FB-nya alumnus UNAIR ini.

"Monggo Pak. Saestu ta nderek. Isi regristrasi  mawon. (Silakan Pak. Benar2 mau ikut ya. Isi registrasi saja). Gampang," sambungnya.

Rahmad tersenyum saat ditelepon. Dia agak kurang percaya. Masak wartawan yang usianya sudah 57 tahun mau ikut balapan, naik tanjakan Wonokitri Bromo lagi.

Kapan latihannya. Nekad? Dasar mbahe Bonek hehe..

Rahmad kemudian mengirim email dan Whatsapp (WA) tanda regristrasi disetujui. Malah tiket senilai IDR 1,2 juta tertera sudah dilunasinya.

Alhamdulillah! Rejeki pegowes sholeh hehe..

Sejak itu, penulis tak ingin mengecewakan Rahmad. Pengalaman gowes bareng JCC tahun lalu tidak bisa jadi ukuran. Apalagi tidak sampai finish karena 10 kilometer sebelum puncak Wonokitri kaki yang berkali kali kram, tak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya loading (naik mobil pick up) .

amu1.jpg

Kebaikan Rahmad harus dibayar dengan latihan super keras. Setiap Selasa dan Kamis pagi, penulis ikut latihan para sprinter di Grand Island Pakuwon Kenjeran.

Speed rata-rata dalam lima putaran rolling bisa tembus 35-40 Kph. Artinya sudah siap tancap pedal di medan flat Surabaya-Pasuruan. Sejauh 60 km.

Untuk latihan menanjak, penulis hampir setiap Sabtu ke Pandaan. Finish di Masjid Cheng Hoo. Kadang belok ke Gudang Garam atau Hotel Surya Tretes. Sendirian.

Mengapa sendirian? Penulis yakin gowes jarak jauh pasti kewer kewer dan ditinggal peleton yang dihuni pegowes seterong seterong (strong = kuat) itu..hehe.

Selama latihan penulis selalu ingat Rahmad. Jangan sampai dia kecewa. Bromo harus takluk. Tidak pakai loading.

Pas ada tantangan keponakan mengajak latihan gowes bareng (Gobar) ke Bromo, langsung diiyakan. Enam orang berangkat dari Tikum (titik kumpul) Stasiun Waru.

Syaratnya, pergi pulang tidak boleh loading. Weii siap tok wis!

amu3.jpg

Target itu, memang sudah tertanam dalam hati. Penulis ingin saat Bromo KOM Challenge 2020, pulangnya mancal lagi. Ini harus terlaksana.

Lho? 

Tidak mungkin penulis loading seperti peserta lainnya yang siap mental dan materi. Penulis hanya siap mental.

Materi? Dari mana boleh minta sangu istri. Ikut Bromo KOM saja sudah dicurigai. Duit dari mana untuk daftar wkwkwk..

Gak mungkin juga minta tolong Rahmad untuk nunut loading ke Surabaya. Ongkos loadingnya saja IDR 400K per sepeda dan peserta.

Penulis juga malu jika harus numpang peserta yang belum kenal. Apalagi  dua teman satu tim di JCC sudah lockdown pulang bareng kerabatnya. Juga rekan rekan dari Strattos Cycling Club yang pulang naik mobil.

Yowis, jalan satu satunya nekad pulang mancal. Sesuai niat awal. Wong mBahe Bonek haha...

Kuatkah?

Untuk memenuhi karep (keinginan) itu, penulis memang sudah punya modal pengalaman gowes jarak jauh. 

Sebelum ini pernah ikut Rally Bima Mataram 424 K, yang memakan waktu dua hari itu. Etape pertama nginep di Sumbawa setelah Gowes 200K.

Juga sudah pernah ikut Touring Mataram-Bali PP dengan Mataram Senior Cycling Club (MSCC). Dan, Tour de Bali dengan JCC dua hari.

Tahun lalu, penulis juga sempat uji kekuatan Tour de Surabaya-Sampang PP (200 K) di musim kemarau, yang digelar menyambut Anniversary SCC Surabaya. Dapat medali.

Jadi, penulis merasa cukup modal untuk gowes sendiri pulang dari  Bromo KOM. Mental sudah ok punya hehe..

Namun apa yang terjadi? Saat pulang dari Wonokitri jam 4 sore, pas mau masuk Gapura Bank Jatim Tosari,  ban depan meletus. Tos!

Wes ewes ewes...

Untungnya, posisi jalanan tidak terlalu curam turunnya. Agak datar. Penulis bisa mengendalikan kemudi dan singgah di warung nasi.

Untungnya lagi sudah siap bawa ban serep. Seorang peserta dari Semarang yang juga enggan loading turut menemani ngeban.

Tap, dia pamit turun duluan. Takut kemalaman sampai Surabaya. "Saya dari Pasuruan mau naik mobil sewa," pamitnya.

Tak lama dia pergi, datang seorang pria naik motor matic. Dia tulus ikhlas menawarkan diri.

amu4.jpg

"Kinging nopo (kenapa) Pak? Bocor ta. Monggo dinaikkan motor saya. Kita tambal di Pasuruan saja. Gratis," tawar pria yang nama panggilannya Cak Pitu ini

"Alhamdulillah, rejeki pegowes sholeh," ucap penulis. Disambut senyum Cak Pitu sambil bilang," Itung itung pados pahala (hitung-hitung cari pahala) pak..hehehe."

Cak Pitu kemudian menawarkan diri mampir masjid sebelum masuk Pasuruan kota. Kami singgah sembari solat jamak qosor. Di sini ketemu pembalap dari Kodam dan rekan SCC, Cak Kamto yang ditunggu kendaraan setelah salat.

Seusai salat, penulis pingin mancal. Tapi dilarang Cak Pitu. "Tasik tebih (masih jauh) paak," elaknya.

Penulis melanjutkan lagi mbonceng  sampai Pom Bensin Pasuruan kota. Lumayan hemat stamina

Eee.. ndilalah... Belum mancal pedal ada seorang pengendara motor yang empati. Dia simpati dengan jersey Bromo KOM yang penulis pakai dalam kondisi lusuh dan setengah basah.

"Lho, bapak yang tadi pagi ikut rombongan peleton itu ya," bilang pria yang mengaku mantan pembalap Pasuruan, tapi enggan menyebut nama ini.

"Monggo pak saya bonceng sampai Bangil," tawarnya. 

"Niki pun dalu (sekarang sudah malam) . Langite peteng (langitnya gelap). Sampai Bangil bisa magriban," tambahnya dengan raamaah sekaliii ketika penulis menolak tawarannya.

Dia pun memaksa ketika sepeda sudah penulis kayuh 100 meteran. "Monggo Paak.. Suroboyo tasik tebih. Mboten usah mbayar. Saya pingin nulung. Niki sampun dalu loo," rayunya.

Yaa.. yowislah! Lumayan, dapat rejeki pegowes sholeh lagi. Hehe....

amu5.jpg

Syukur alhamdulillah. Di saat badan terasa letih yang luar biasa, ternyata ada bonus gowes pulang ke rumah jadi tinggal 30 K. 

Penulis akhirnya bisa nembel ban serep di Gempol. Lumayan bisa juga untuk salat jamak Magrib dan Isya.

Puas. Lega campur haru menggelayuti tubuh. Apalagi sesampai rumah senyum istri mewarnai kedatangan suami. 

Bagai pulang dari medan perang hehe..

Masya Allah, bisa ikut Bomo KOM kali ini, benar benar not imagine. I am sure, my Allah execellent!

Niat mBonek di Bromo KOM Challenge 2020, ternyata ada Rahmad yang membawa Rahmad. 

Alhamdulillah. Matur nuhun atas kebaikannya Mas! (*) 

Penulis: Abdul Muis, wartawan senior dan peserta Bromo KOM Challenge 2020.

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda