Anies Baswedan, Pemimpin Masa Depan?

Ilsutrasi Foto: Detik.com

COWASJP.COM – Hari-hari ini, intensitas hujan mulai berkurang. Karenanya genangan air di sejumlah tempat di Jakarta pun berangsur surut. Meski demikian, aksi pembulian terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seperti tak pernah berhenti. 

Aneh bin ajaib memang. Saking anehnya, ada yang melontarkan tuduhan bahwa Anies sengaja menenggelamkan Jakarta dengan menciptakan banjir. Demi menaikkan elektabilitasnya, katanya. Seperti pernah dilontarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Lho, karuan saja sebagian warganet tidak terima. Di antara mereka ada yang memprotes tudingan itu: “Kalau begitu, Anies lebih kuasa dari pada Tuhan, dong.” Karena yang dipahami orang waras alias yang memiliki akal sehat selama ini, menurut pemrotes ini, hanya Tuhan yang mampu mencurahkan hujan. Yang menyebabkan banjir dan menimbulkan bencana. 

Tak bisa dipungkiri, fenomena di atas tidak lain adalah sisa-sisa perseteruan yang tampaknya masih belum usai. Baik yang berasal dari perseteruan pada masa Pilkada DKI Jakarta yang dimenangkan Anies-Sandi maupun Pilpres yang mendudukkan kembali Joko Widodo “Jokowi” sebagai presiden untuk periode kedua. 

Seyogyanya kita mulai melihat ke depan. Memperhitungkan apa yang mungkin terjadi dalam percaturan politik anak bangsa beberapa waktu ke depan. Saya tidak sebut tahun 2024 sebagai tahun penting. Karena seperti diperkirakan sejumlah pengamat, gonjang-ganjing politik di negeri ini mungkin akan semakin meruyak sebelum itu. Dr. Syahganda Nainggolan bahkan meramalkan Jokowi bisa jatuh enam bulan lagi. Dikarenakan wabah virus corona, bisa jadi. Disebabkan persoalan ekonomi yang semakin runyam. Yang akan berdampak pada semakin banyaknya PHK. Yang akan menyebabkan munculnya aksi protes massa, karena harga barang-barang kebutuhan pokok yang semakin tidak terjangkau. Dan berbagai persoalan lain yang ditimbulkannya. 

Semestinya kita awas terhadap sejumlah perkembangan yang terjadi. Dengan memperhatikan sejumlah pertanda. Yang menggambarkan ke mana arah bangsa ini akan dibawa. Untuk itu barangkali tidak ada salahnya kita memperhatikan beberapa catatan berikut:

Pertama, sejak terpilih sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta, Anies tak pernah berhenti “diganggu”. Saya gunakan tanda petik. Karena bisa jadi dia dihina, dilecehkan, dibuatkan gambar-gambar meme yang mempermalukan. Bahkan juga diminta mundur. Yang oleh Anies hanya ditanggapi dengan senyum dan kerja keras.

Seperti ikut terjun langsung membantu warga yang terdampak banjir. 

cowas1.jpgAnies Baswedan, Gubernur DKI Jaya. (FOTO: kompasiana.com)

Kedua,  di tengah hujatan yang bertubi-tubi terhadap Anies, tiba-tiba pengusaha nasional yang tercatat sebagai salah satu orang terkaya Indonesia, Datok Sri Tahir, menyambangi Gubernur DKI Jakarta itu di kantornya, Jakarta Pusat, Jum’at (21/02/2020).

Kedatangan bos Mayapada Group yang juga menjabat anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)  itu hanya untuk menyumbangkan gerobak UMKM kepada Pemprov DKI Jakarta. Gerobak sebanyak 210 buah plus 20 booth UMKM itu dimaksudkan untuk mendukung program “JakPreneur” milik Anies.

Ketiga, diumumkanya hasil survey Indо Bаrоmеtеr bеrtаjuk ‘Mencari Pеmіmріn: Rоаd To Capres dаn Pаrроl 2024’, di Hоtеl Century Park Sеnауаn, Mіnggu (23/2/2020). Dalam survey itu, Anіеѕ disebut mеnеmраtі urutan nоmоr tеrаtаѕ kераlа daerah yang bеrроtеnѕі menjadi Prеѕіdеn.

Keempat, beredarnya sebuah tulisan menarik dari Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono. Mantan Sekjen Wantanas dan Komandan Kodiklat TNI AD ini bicara tentang istilah proxy politik. Menurut dia, keinginannya menggunakan istilah itu adalah untuk mengartikulasi pikiran terkait fenomena kebijakan publik yang dikehendaki oleh sekelompok masyarakat berpengaruh, untuk memperoleh keuntungan melalui lembaga negara.

Dalam tulisannya dia menyinggung apa yang diungkapkan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), dalam suatu forum Focus Group Discussion (FGD) baru-baru ini.

Bamsoet mengatakan, untuk meng-goal-kan sebuah Rancangan Undang Undang (UU) di Indonesia, yang perlu dikuasai adalah Partai Politik. 

Menurut Bamsoet yang juga mantan Ketua DPR RI itu, untuk menguasai partai politik seorang pemodal cukup merogoh kantong tak lebih dari Rp. 1 T. Begitu pula kalau mau mendorong amandemen UUD 1945, andai partai politik yang berada di DPR dikuasai, dipastikan amandemen akan berjalan. 

cowas2.jpgJames Riyadi, CEO Lippo Group. (FOTO: kontan.co.id)

Menurut hitung-hitungan, demikian Bambang Darmono, tidak ada salahnya ucapan Bamsoet. Sebab, dengan kekayaan para pengusaha, angka Rp 9 T untuk menguasai Partai Politik yang berada di DPR merupakan angka yang terhitung peanut. Kita baca: sangat kecil. Tidak ada artinya buat mereka. 

Indonesia di Tangan Proxy Politik

Memperhatikan beberapa catatan di atas, semestinya kita menyadari bahwa yang menguasai negeri ini kini dan bukan mustahil juga di masa depan adalah para pengusaha kaya raya yang ingin tetap “bebas bermain”. Yang berhasil melambungkan kekuatan ekonominya karena memang diberi peluang besar oleh pemerintah sejak era Orde Baru Soeharto. Dan Soeharto tentunya tidak menyangka, dengan menjadikan mereka sebagai orang kaya, mereka tidak akan memiliki pengaruh secara politik. Suatu perkiraan yang bertolak belakang dengan kenyataan. 

Kalau melihat kelakuan anak bangsa yang masih saling caci, seperti yang dilakukan PSI terhadap Anies, para konglomerat itu tentu bisa dipastikan tertawa terpingkal-pingkal. Karena merekalah yang telah merancang “roadmap” yang mesti kita tempuh dalam perjalanan sejarah bangsa ini ke depan.

Dengan menggunakan kekuatan uang mereka, tentu saja. 

Bagi mereka, sebagaimana dijelaskan Bambang Darmono, yang dijadikan prinsip: “tidak perlu duduk di kursi kekuasaan, yang diperlukan adalah membeli kekuasaan”. Dan: “Nggak penting siapa yang menguasai sapi. Yang penting kita bisa memerah susunya”. Dan bicara tentang hal ini, orang langsung membayangkan beberapa kelompok pengusaha kaya raya. Seperti kelompok “9 Naga”, kelompok Jimbaran yang dikenal juga dengan kelompok “Prasetya Mulia” (Prasmul) dan lain-lain. Apa pun namanya.

Kaitan dengan ini, bukan rahasia lagi, para pengusaha besar memainkan peran penting dalam mendudukkan Jokowi sebagai Presiden RI. Begitu juga dalam membuat kekuasaan Jokowi tetap bisa bertahan. Bahkan sekaligus mengarahkan kebijakan pemerintah. Ketika Bamsoet bicara tentang partai yang bisa dibeli, banyak yang menertawakannya. Menganggap Bamsoet baru siuman dari pingsannya. 

Karena itu, sangat menggelikan ketika PSI terus saja meributkan Anies. Yang dengan cara itu terus saja melambung namanya. Meningkat terus elektabilitasnya. Kalau kemudian dalam survey Indo Barometer Anies mendapatkan peringkat tertinggi sebagai calon presiden, bukan sesuatu yang aneh semestinya. 

Dan harus diingat, ternyata para pengusaha raksasa itu selalu punya cara untuk mempersiapkan masa depan bisnisnya.

Menurut beberapa sumber yang layak dipercaya, mereka tidak peduli lagi terhadap Jokowi. Apalagi Jokowi sudah pada periode terakhir pemerintahannya. Dan pilihan mereka selanjutnya adalah Anies Baswedan. 

Group Lippo di bawah James Riyadi, misalnya, sudah lama sekali menjalin hubungan baik dengan Anies. Bahkan sejak Anies masih menjadi Rektor Universitas Paramadina. Medianya di bawah grup Berita Satu sudah sejak awal begitu perhatian dan seringkali mewawancarai rektor termuda kala itu. 

Terakhir, bantuan gerobak yang diberikan Bos Mayapada Group Datok Sri Tahir untuk mendukung program “JakPreneur” milik Anies. Apakah itu suatu kebetulan belaka? Datok Sri Tahir adalah saudara ipar James Riyadi. Dan James tidak ingin hubungannya dengan Anies terlalu kelihatan, sehingga Datok Sri Tahir yang jadi utusan untuk mendukung Anies.

Karenanya, umat Islam yang semangat luar biasa mendukung Anies dan mengelu-elukannya mesti juga sadar diri. Walaupun Anies memiliki karakter yang kuat sebagai pemimpin masa depan, namun dengan tidak mendahului Tuhan, umat Islam juga harus ingat bahwa Anies bukan malaikat. Mereka harus mengawalnya sampai ke pintu gerbang istana negara. Jangan sampai kecewa dan kecewa lagi.(*)

Oleh: Nasmay L. Anas, wartawan senior di Bandung.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda