Turbulensi?

Tubagus Adhi (kiri) dan sedulur lawas Irawan Nugroho. (FOTO: Facebook)

COWASJP.COM – Akhirnya, kembali ke dunia kangouw. Setelah sejak Jumat sore lalu terperangkap di rumkit Sari Asih Ciputat, Selasa siang 18 Februari 2020 sudah bisa kutinggalkan kamar 5022 yang kutempati di sana untuk perawatan normalisasi pembengkakan jantung itu.

Masih untung sekadar pembengkakan. Kalau sudah di kategori penyumbatan, tak bisa tidak mesti pasang ring. Ih, serem. Tadi pun, saat pulang, dibekali hampir satu plastik besar obat normalisasi jantung dan infeksi paru-paru. Juga, surat kontrol ke desk jantung pada Jumat siang nanti dan kontrol ke sesi paru Seninnya..

Ada pesan yang sama dari dokter Fadhil yang spesialis jantung, dan dokter Corry dari spesialis paru-paru. Say goodbye to cigarette. Alias, stop smoking. "Sudah puluhan tahun merokok memang masih belum puas juga," kata keduanya. Suaranya rendah, tetapi nadanya nyelekit.

Akhir pekan lalu itu tak tertahankan lagi untuk memaksakan diri mendatangi IGD Sari Asih karena rasa sesak yang mengkhawatirkan, diwarnai kegelisahan dan keringat dingin terus menerus. Dari proses EKG, Radiologi, Rontgen, diketahui pembengkakan di jantung dan infeksi di paru-paru.

"Santai, bro. Dunia belum kiamat. Tak mesti juga harus berhenti merokok keles. Aku masih setia merokok, dari 80-an akhir dulu. Toh nggak kena jantung atau infeksi paru-paru. Yang penting, mood harus terus stabil. Mencoba berpikir positif saja. Everything its okaylah," kata Irawan Nugroho, sahabat lawas sejak dari era Jawa Pos di akhir 1980-an.

Irawan Nugroho lama menjadi koresponden Jawa Pos di Amrik. Dia bahkan tak kembali lagi ke Jakarta saat pensiun. Memilih menjadi warga negeri Paman Sam itu. Dia mengaku bisa hidup nyaman dengan menjadi semacam konsultan apa saja.

Masa kerja tak terikat, dengan bayaran yang didapat lumayan besar. Dalam sepekan bisa lima hari kerja. Pekan berikutnya bisa saja jobless. Tetapi, biaya hidup bisa tertutupi. Hebatnya, dalam setahun dia bisa dua kali 'pulkam' ke Indonesia. Kalau tidak bernostagia ke tanah kelahirannya di Papua, dia bisa beranjangsana ke Sukabumi, melihat tanah yang dibelinya di sana.

tb-adhi1.jpgObat-obat untuk normalisasi jantung bengkak dan infeksi paru-paru.

"Pokoknya jangan berhenti merokok dululah," katanya. "Bisa turbulensi kalau langsung stop. Kepala pusing terus pasti." Dia tertawa lebar. 

Irawan Nugroho bertamu hingga lewat tengah malam. Aku pikir dia menjadi tamu terakhir. Ternyata tidak. Saat meninggalkan kamar, di lift, aku bersirobok dengan Sadono Priyo. 

"Saya kira masih belum pulang," kata wartawan Suara Karya yang ngepos di Polda Metro dan Mabes Polri itu. 

Dono penasaran ikut menengok karena ingin berbagi cerita juga. Baru dua pekan lalu dia dirawat di RS Hermina di bilangan Kampung Utan juga karena pembengkakan jantung. 

Dono sudah lama tidak merokok. Tapi, berat badannya lebih over dibanding saya, sejak dulu. Dia terkena serangan jantung lebih karena capek dan kolesterol tinggi. 

Dono mendampingi hingga pelataran rumkit. Kami berpisah. Dia ingin kontrol ke Hermina, saya pulang. 

Baru saja sampai rumah ada WhatsApp dari Budi Nugraha. Saya di depan kamar 5022. Wah, akang dah pulang yaah!

Ya ampun. Budi Nugraha tak bilang-bilang akan datang. Saya pikir juga dia masih di luar kota, seperti status WA-nya kemarin.

Ya memang kemarin masih di luar kota, tapi tadi pagi sudah pulang. Saya mau ngomongin rencana diskusi Forum PWI Jaya pekan depan, papar wartawan Suara Merdeka yang ngepos di Kementerian Perhubungan dan lain-lainnya itu.

Okay, Budi, kita bisa bicarakan itu besok yaah. Hari ini saya mesti istirahat dulu. Saya ingin tidur, melelapkan diri, melepaskan tekanan untuk merokok.

Sudah sejak Jumat malam saya tidak merokok. Sudah empat hari berarti. Bisakah untuk seterusnya? Harus bisa!
Bantu saya yaah. Jangan goda saya untuk merokok, apalagi membelikannya juga.

Plisss deeh...(*)

Penulis: Tubagus Adhi, wartawan senior di Jakarta.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda