Anak Pedagang Kerupuk yang Sempat Kejutkan Prancis

Sri Mulyani (tengah) bersama grup tarinya. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Sehari-hari orangtua Sri Mulyani dikenal sebagai pedagang kerupuk bawang saja di Surabaya. Namun, pada 1997 sang anak justru menjadi sorotan seniman di Prancis. "Saya keliling Prancis selama 3 bulan. Manggung di 25 kota di negara itu," kenang perempuan 45 tahun ini.

Tentu saja dia tidak pernah menyangka bakal mendapat respon sangat baik di sana. Lebih-lebih dia juga mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan seniman Prancis. "Banyak hal dan pengalaman baru yang saya peroleh dari kunjungan tersebut," kata Sri.

Anak-Pedagang-Kerupuk-2.jpgSri Mulyani dan murid-murid tarinya.

Namun bukan semata-mata karena pernah keliling Prancis selama 3 bulan itulah yang membuat nama Sri populer di kalangan seniman tari di Indonesia. Sebab, dia juga pernah menyabet gelar Pencipta Tari Terbaik Tingkat Nasional pada 2005. Perjalanan karier tarinya memang terbilang panjang.

"Sejak masih di bangku TK pada 1980 saya sudah mulai menari. Orangtua tidak pernah menyuruh. Benar-benar dari keinginan hati saya. Hampir setiap hari saya latihan. Nggak pernah ada bosannya," kenang ibu 5 orang anak ini.

Dia juga masih ingat ketika membawakan tari 'Ikan' untuk manggung pertama kali dalam hidupnya, di Taman Budaya Jawa Timur (Gedung Cak Durasim Surabaya).  "Ketika itu tidak dapat honor, karena saya masih kecil," ceritanya, sambil tertawa kecil.

Entah kenapa jika tidak menari dalam sehari, Sri seakan-akan kehilangan energi di dalam tubuhnya. 

"Mungkin sudah dari sananya, ya..." ujarnya. "Lewat tarian, saya merasa seluruh tubuh ini bergerak penuh ekspresi. Menari, kan sangat membutuhkan kreativitas, inspirasi dan inovasi," sambung Sri.

Tak heran jika sejak kanak-kanak dia hanya punya sebuah cita-cita. Yakni menjadi penari profesional yang berkesempatan untuk keliling dunia, sekaligus menciptakan puluhan atau ratusan judul tarian.

Anak-Pedagang-Kerupuk-3.jpg

Itulah sebabnya sejak kecil dia bergabung bersama beberapa sanggar tari di Kota Pahlawan. Dia ikut latihan tari Jawa Timuran, Solo klasik, dan modern. Bahkan juga ikut-ikutan belajar teater dan baca puisi.

Yang kebagian tugas untuk mengantar-jemput ya, ayah dan ibunya. "Kalau orangtua berhalangan, maka tugas antar-jemput digantikan oleh saudara sendiri," ujar Sri.


Bangga
Di matanya, tari tradisional Indonesia sangat membanggakan. "Karena itu kita sendirilah yang wajib mengembangkan dan melestarikannya. Kita juga harus memperkenalkan kesenian asli Indonesia tersebut ke luar negeri. Sejak dulu sangat yakin, tarian asli kita sangat menarik bagi orang-orang asing itu. Apalagi didukung oleh iringan musik dan kostumnya yang cantik-cantik," tandas Sri.

Maka, sejak SMA dia makin membulatkan tekadnya untuk terjun total sebagai penari. Maklum, mulai masa itulah Sri menikmati hasil latihannya. "Pelan-pelan saya bisa menabung. Uangnya berasal dari honor menari," katanya.

Bahkan ketika masih di bangku SMP, hampir saban hari dia  manggung di Gedung Grahadi Surabaya untuk menyambut tamu kenegaraan. Setiap menari, dia memperoleh honor Rp 35 ribu.

"Kalau mengajar privat, malah dapat honor Rp 50 ribu untuk setiap kali kunjungan, lho," ucap Sri yang pernah berkarier di sebuah bank di Kota Pahlawan ini.

Atas dasar pengalaman hidupnya tersebut, Sri membebaskan kelima anaknya dalam berkarier. Namun, kebetulan anak sulungnya jago mendalang. "Sejak di kelas 1 SMP,  Pringgo Jati Rachmanu sudah menjuarai lomba dalang bocah," kata Sri tentang anak pertamanya itu.

Anak keduanya, Inggar Belzky Tosabila, pintar nyinden. Sedangkan anak ketiganya --Lanang Pujaningwang namanya-- jago kidungan dan menari.

"Selama ditekuni beneran dan konsisten, saya berpendapat profesi sebagai penari bisa memenuhi kehidupan kita secara layak, kok," ujar Sri, serius.

Agar idealismenya makin terjaga, maka pada 1997 Sri mendirikan sanggar olah seni dan budaya Mulyo Joyo Enterprise. Saat ini jumlah muridnya sekitar 60-an orang. "Ada yang masih berumur 5, tahun. Tetapi ada juga yang sudah 30 tahun," kata Sri soal murid-muridnya itu.

Sebagaimana pengalaman hidupnya, Sri berharap orangtua masing-masing muridnya memberikan doa khusus agar buah-hatinya berhasil meraih kesuksesan. 

"Saya merasa tidak pernah menerima pesan khusus dari orangtua, sehubungan dengan karier. Tetapi, saya tahu persis bahwa orangtua benar-benar mendoakan saya untuk sukses," paparnya.

Menariknya, Sri --yang memiliki ijazah S2 di bidang ilmu politik-- beranggapan bahwa pendidikan akademis yang baik tidak selalu berarti untuk berkarier sebagai penari. "Intinya, semua itu bergantung kepada diri kita. Sejauh mana kesungguhan dan pengalaman masing-masing orang," jelasnya.

Dia sendiri mengaku memiliki banyak guru. "Merekalah yang memberikan inspirasi atas dedikasi saya dalam berkesenian," ucap Sri. (*)

Pewarta : M. Taufiq
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda