KH Marzuki Mustamar Terima Pin Emas Duta Perdamaian

Penyematan pin emas Duta Internasional Perdamaian dari Vision of Peace Awards. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, menerima pin emas kehormatan sebagai Duta  Internasional Perdamaian dari Vision of Peace Awards (VPA).

Pemberian pin emas tersebut dilakukan oleh Founder Vision of Peace Awards Indonesia (VPAI), Demien Dematra, Minggu 26 Januari 2020. Usai ratusan santri dan santriwati mengikuti salah satu gema perdamaian. Yakni lomba melukis anak-anak usia 5-18 tahun di Pondok Pesantren Sabilurrosyad-Gasek, Kota Malang, Jawa Timur, milik ulama kelahiran Blitar itu.

Gema perdamaian itu digelar oleh artis senior Erna Santoso yang juga Ketua Umum Yapena (Yayasan Peduli Anak Indonesia). Acaranya sehari penuh dalam bentuk lomba melukis.

Pin yang disematkan ke dada KH Marzuki Mustamar itu adalah pin pertama yang diberikan tahun 2020 ini.

“Beliau mendapat penghargaan sebagai fasilitator perdamaian dan juga sebagai Duta Besar Perdamaian Internasional, ' kata Demien Dematra. 

Penghargaan diberikan oleh Vision of Peace yang berpusat di Amerika Serikat.

Demien berharap, melalui penghargaan ini bisa tumbuh virus-virus perdamaian yang terus disebarkan hingga masyarakat lainnya juga terinspirasi menjadi agen perdamaian di agamanya masing-masing.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang perlu dijaga. Yaitu perdamaian, kebudayaan, dan kemanusiaan. Tanpa itu peradaban akan berakhir.
 
Pemberian pin emas kehormatan itu pas dengan langkah KH Marzuki Mustamar yang ke mana-mana memang selalu menyuarakan kebersamaan, toleransi, serta menghormati kemajemukan.

"Jangan berharap orang lain menghormati kelompokmu atau agamamu jika kamu tidak mau menghormati kelompok dan agama orang lain. Jangan berharap mereka menghormati etnis atau sukumu, kalau kamu tidak mau menghormati etnis dan suku orang lain," kata Kiai Marzuki Mustamar.

kusnin1.jpgKH Marzuki Mustamar, Ketua PW NU Jatim.

Ia mengatakan, proyek sebesar dan sebaik apapun dalam keagamaan, kemanusiaan, dan ekonomi tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik tanpa adanya perdamaian.

Dikatakan, lomba lukis perdamaian seperti yang dilaksanakan di Ponpes Sabilurrosyad yang menyasar anak-anak usia 5-18 itu akan menggoreskan kesan dalam waktu yang sangat lama.

"Akan terkesan banget. Harapannya, tentu ketika mereka nanti menjadi sarjana, politisi, negarawan, birokrat, maka dalam hatinya akan tertanam pentingnya menjaga perdamaian," ujarnya.

Sehingga, ilmu mereka atau jabatan yang mereka miliki  akan menjadi maslahat untuk kemanusiaan.

Marzuki juga berpesan kepada seluruh pemimpin, termasuk kepada para pemimpin di dunia untuk tidak menjadi homo homini lupus. "Jadilah homo sakalares homini atau homo homini homo," katanya.

Sejatinya, kata dia, manusia itu suci. Berpikiran suci, berniat suci, punya hati nurani. "Tapi ketika itu hilang, maka akan menjadi keserakahan, jadi nafsu, mabuk dunia, mabuk amarah. Zahirnya manusia, tapi batinnya singa, macan, anjing dan segala macam. Itu bukan lagi homo homini homo lagi,  tapi itu homo homini lupus," ujarnya.

Homo homini lupus memberi makna bahwa manusia kadang kala berperilaku seperti serigala. Mengancam, manakut-nakuti, menjebak, membentak yang semuanya adalah sikap ketidakadilan.

Sedangkan homo homini homo memberi makna bahwa yang menjadi sesamanya adalah yang berperikemanusiaan, berperasaan, berbudi, bertenggang rasa, bermurah hati, bertanggung-jawab dan bermasyarakat. (*)

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda