Reuni CoWas Jawa Pos, Agus Sudibyo dan Ulil Abshar Abdalla

Dari kiri: Ulil Abshar Abdalla, penulis (Tubagus Adhi), dan tuan rumah Agus Sudibyo. (FOTO: CoWasJP)

COWASJP.COM – Banyak kesan dari silaturahmi Cowas JP (Konco Lawas Jawa Pos), Minggu (26/1/2020) di kediaman Agus Sudibyo.

Pertama, terkait 'keterlibatan' Agus Sudibyo sendiri pada reuni mantan-mantan wartawan dan karyawan Grup Jawa Pos se-Jabodetabek ini.

Reuni-CoWas-2f2492.jpgKoordinator Wilayah Cowas Jabodetabek: Roso Daras.

Tak banyak yang mengetahui jika Agus Sudibyo, yang sudah dua periode ini menjadi anggota Dewan Pers, ternyata pernah bergabung sebagai wartawan di Radar Yogya.

"Saya di sana sebenarnya singkat saja, antara 1999 hingga 2000," papar Agus Sudibyo di awal pertemuan. 

Saat merambah Jakarta, Agus Sudibyo kemudian tercatat sebagai salah satu pendiri dan pengajar di Akademi Televisi Indonesia (ATVI). DR Agus Sudibyo, S.IP, M.Hum memberikan 'pencerahan' tentang Mass Media, Perubahan Sosial & Teori Komunikasi. Alumnus Fisipol UGM dan STF Driyarkara ini di Dewan Pers 2019-2022 menjabat sebagai Ketua Hubungan Antar-lembaga & Komisi Luar Negeri.

"Sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi tuan rumah dari silaturahmi Cowas JP ini, yang saya tahu melahirkan banyak orang hebat," katanya seraya tersenyum. 

Reuni-CoWas-3.jpg

Sosok yang luar biasa, namun senantiasa humble. Agus Sudibyo, 45 tahun, telah 'menelurkan' 17 buku. Yang terakhir, "Jagat Digital, Pembebasan dan Penguasaan", diterbitkan September 2019.

Kesan-kesan lainnya, masih berkaitan dengan tuan rumah juga. Tentang kediamannya yang asri, menyenangkan. Rumahnya sangat teduh, yang sebagian dari 570 meter lahannya diwarnai beberapa pohon mangga besar. 

Kami duduk melingkar di atas tikar di teras rumahnya dengan belaian angin dari pintu depan dan samping. Beberapa lukisan terpampang di sana, di antaranya Semar, Sang Guru. Pisang dan kacang rebus melengkapi leyeh-leyeh penuh makna itu.

Sempurna. Bertambah sempurna dengan sajian makan siang yang lezat. Menu makanan didominasi masakan ala Manado. Nasi liwet, Cakalang suwir, daun singkong dengan teri, ikan bakar, ayam, juga bakwan jagung--yang berpiring piring dan terus habis diserbu.

"Nggak kalah sama menu-menu andalan di resto-resto Manado terkenal," Yu Srie berkomentar.

"Mama saya memang dari sana, Manado," timpal Rini, nyonya rumah. Senyumnya nyaris tak pernah putus saat menjamu tamu-tamunya. 

Reuni-CoWas-4.jpgTofan Mahdi (paling kiri) penggagas silaturahim.

Kesan berikutnya, terkait dengan 'penampilan' Ulil Abshar Abdalla. Gus Ulil mendahului makan siang dengan suguhan tausiyahnya. Selama hampir dua jam, termasuk untuk menjawab beberapa pertanyaan. 

Gus Ulil mengetengahkan berbagai aspek dari hablum minallah wa hablum minannas. 

Apa yang disampaikannya tidak terlepas dari konteks "watawa shoubi haqqi watawa shoubish shabr".

Gus Ulil menguraikan tentang "Hikmah" , ilmu yang telah menjadi "Laku". Atau perilaku. 

Tiap-tiap orang, urai Gus Ulil, biasanya memiliki ayat favorit tertentu dalam Qur’an, sesuai dengan kecenderungan intelektual, spiritual, dan personal-nya masing-masing.

Orang-orang yang menggemari “ilmu kanuragan”, tentu menghafal dengan baik ayat-ayat yang berkaitan dengan “kejadugan”. Sementara orang-orang yang menggemari mistik atau ilmu tasawwuf, tentu akan menyukai ayat-ayat “mistikal”, misalnya ayat 24:35 dalam Surah al-Nur: Tuhan adalah cahaya langit dan bumi. Ayat ini ditafsirkan secara mistikal dan filosofis oleh Imam Ghazali (w. 1111) dalam kitabnya yang masyhur, Misykat al-Anwar.

Salah satu ayat favorit Gus Ulil adalah QS 2:269: wa man yu'ta al-hikmata faqad 'utiya khairan katsira; barangsiapa diberikan hikmah (oleh Tuhan), sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang melimpah.

Menurut Gus Ulil, jika direnungi secara reflektif dan dengan menggunakan "mata rohani" yang tajam, ayat ini akan membawa kita kepada kebijaksanaan yang kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebaikan tuan dan nyonya rumah, Agus Sudibyo dan Rini, serta tausiyah yang disampaikan Ulil Abshar Abdalla setidaknya lebih membuat silaturahmi Cowas JP se-Jabodetabek semakin hidup. Bagaimanapun reuni Cowas JP, baik pusat atau Jabodetabek, senantiasa guyub.

Pada akhirnya, saat meninggalkan kediaman Agus Sudibyo, semua merasa senang. Tak ada yang harus terbebani, dalam rasa dan pikiran. 

"Alhamdulillah. Saya bisa silaturahim dengan dulur dulur Cowas di Jabodetabek. Terima kasih Mas Tofan sebagai penanggung jawab acara, Mas Agus Sudibyo sebagai Sohibul bait, Mas Roso Daras sebagai pengayom Cowas Jabodetabek dan semua dulur Cowas... Semoga silaturahim ini dicatat sebagai ibadah dan manfaat utk semuanya... amiin." 

Begitu komentar Mas Sukoto, Ketua Cowas JP, yang tentunya tak merasa menyesal datang dari Surabaya. Mas Sukoto langsung kembali, diantar Tofan Mahdi ke Bandara.

Tofan Mahdi, penggagas reuni Cowas JP Jabodetabek di kediaman Agus Sudibyo ini, bersyukur karena acara silaturahmi berlangsung sesuai harapan. Hampir 30 anggota Cowas JP Jabodetabek yang hadir bisa mendengarkan tausiyah singkat tentang hikmah dan sedikit saripati ihya ulumuddin dari Gus Ulil Abshar Abdalla. 

"Alhamdulillah, sangat guyub," kata Tofan Mahdi, yang kini aktiv di organisasi sawit nasional. 

Itu pula yang dikemukakan Roso Daras, Ketua Cowas JP Jabodetabek. Ia juga memuji inisiatif menghadirkan Ulil Abshar Abdalla, yang pernah sangat populer dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)-nya.

"Kita tetap bisa saling menghargai, seperti dimaknai dari hablum minannas itu," katanya.

Sampai bertemu pada silaturahmi melalui reuni Cowas JP berikutnya...(*)

Pewarta : Tubagus Adhi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda