Rally Solo-Purwodadi

"Cockpit" bus Rela yang gagal ngebut karena problem persneling. (FOTO: Joko Intarto/CowasJP)

COWASJP.COMBelum merasakan deg-degannya mengikuti rally? Tidak perlu jauh-jauh. Naiklah bus antarkota: Solo - Purwodadi. Ngebutnya gila. Sport jantungnya sama. 

****

Saya sebenarnya malas naik bus dari Solo ke Purwodadi. Pertama, busnya tua-tua. Usianya sudah di atas 20 tahunan. Suara mesin dan derit interior sama berisiknya.

Kedua, busnya rata-rata jorok. Belum lagi banyak penumpang yang bebas merokok di dalam kabin. Asyiik. 

Ketiga, tidak ada bus yang memiliki fasilitas AC. Panasnya bisa dibayangkan. 

Keempat, Jalan Raya Purwodadi - Solo tidak lebar. Hanya dua jalur. Di beberapa ruas melewati pemukiman penduduk dan pertokoan yang mepet jalan.

Kelima, perilaku sopir busnya yang cenderung ugal-ugalan. Benar-benar “Raja Jalanan”.

Tapi hari ini saya tiba-tiba ingin naik bus itu. Ingin menikmati kembali sensasi kebut-kebutannya seperti waktu itu. Dua puluh tahun lalu.

Berangkat dari Stasiun Jogja Tugu selepas subuh naik kereta Prambanan Ekspres, saya tiba di Stasiun Solo Balapan satu jam kemudian. Perjalanan ke Terminal Bus Tirtonadi Solo saya lanjut dengan jalan kaki melalui sky bridge sepanjang 1,5 Km.

Di ujung jalur, terlihat bus Rela, jurusan Solo - Purwodadi. Bus itu baru saja parkir di jalur keberangkatan. Saya jadi penumpang nomor dua. Pilih kursi paling depan. Penumpang pertama, seorang wanita, duduk di kursi belakang.

Begitu sopirnya naik, saya pun menyiapkan mental. Harus siap kalau bus tiba-tiba zigzag atau berhenti mendadak.  Ransel tidak boleh lepas. Harus selalu dalam dekapan.

 

Pada awal perjalanan, kernet dan sopir terus berdialog. Sopir mengingatkan agar kernet terus memantau bus Barokah yang berangkat 30 menit lagi. 

Kernet langsung merespon. Mengontak teman-temannya: calo penumpang di sepanjang rute agar melaporkan posisi bus Barokah yang melintas.

joko1.jpg

Nama bus Barokah baru saya dengar saat itu. Dari pembicaraan sopir dan kernet, saya menduga Barokah bus yang lebih cepat larinya. Sopirnya lebih berani. Padahal bus Rela menurut saya sudah cepat. Sopirnya juga sudah terkenal nekat.

Saya mulai deg-degan ketika bus mulai masuk kecamatan Sumber Lawang. Pada saat itu perjalanan sudah 30 menit. Berarti bus Barokah mulai berangkat dari Terminal Tirtonadi.

Kernet kembali sibuk. Mengingatkan kembali calo-calo untuk mengabarkan posisi bus Barokah. 

Sopir mulai meningkatkan kecepatan. “Rally sudah dimulai nih,” kata saya dalam hati.

Tiba-tiba terjadi insiden. Sopir tidak berhasil memasukkan persneling ke gigi 5 dan 6. Mentok di gigi 4. Bus pun tak bisa dipacu lebih kencang.

Sopir tiba-tiba menghentikan bus. Kernet diminta memperbaiki posisi setelan tongkat persneling agar bisa lari dengan gigi maksimum. 

Pemberhentian pertama, kernet gagal mereparasi. Sopir memutuskan kembali berhenti di depan bengkel kecil. Lagi-lagi gagal. Sekrup pengatur posisi tongkat persneling itu patah.

Sopir pun pasrah. Ia putuskan meneruskan perjalanan dengan kecepatan sebisa-bisanya. (*)

Masuk wilayah Purwodadi, bus Barokah berhasil mendahului dengan kecepatan tinggi. Bus Rela tetap berlari terseok-seok.

Setelah rally yang gagal, saya pun mulai memejamkan mata. Alhamdulillah. Tidak jadi deg-degan.

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda