Pertemuan Setelah 35 Tahun Pisah (1)

Mantan Pemain Nasional Itu Tetap Rendah Hati

Dari kiri, Suhu, Ahmad Ma'mun (Mantan Atlet Nasional Voli), Cak Fu dan Sukma saat ngopi bersama di Hotel.

COWASJP.COMKehilangan kontak selama 35 tahun tidak berarti sebuah persahabatan akan surut. Saat kembali bertemu serasa tidak ada yang berbeda atau berubah pada sikap dan pribadi dirinya.

*******

SEKITAR pukul tujuh malam, Jumat 17 Januari 2020, telepon jadulku berbunyi. Derrrr....derrrr...derrrrr dari nomor yang tak dikenal. 

Saat telepon kuangkat, terdengar suara lantang dari seberang sana. ''Hallo Ma, saya sudah di depan kantor,'' katanya.

''Hah.., ini Ma'mun ya?,''tanyaku.

''Iya,'' katanya pendek. 

''Hah, kok cepet banget,'' jawabku. Telepon pun terputus begitu saja.

Itulah komunikasi saya dan Ahmad Ma'mun pada Jumat malam itu via telepon seluler. Dia adalah sahabat baikku. Bahkan seperti saudara sendiri di masa SMA ku dulu. Kemudian kami berpisah puluhan tahun. Saya hanya mendengar kabar bahwa kemudian dia terpilih menjadi pemain nasional bola voli Indonesia di pentas SEA Games 1985. Kemudian menjadi pejabat Bulog.

Memang, beberapa jam yang lalu, Ma'mun sempat tanya posisi saya. Jumat malam 17 Januari 2020, saya dan tiga rekan Cowas JP (para mantan karyawan Jawa Pos Group): Cak Fuad Ariyanto, Suhu dan Mas Yarno rombongan dari Surabaya lagi dijamu makan malam oleh CEO Radar Semarang, Pak Baehaqi. Acara silaturahim setelah lama tak jumpa. 

''Siapa Sukma?'' tanya Suhu.

''Sahabatku Ma'mun telepon Suhu. Sekarang sudah ada di depan kantor Radar Semarang,'' jawabku.

Sambil makan malam, saya pun bercerita kepada mereka, bahwa saya punya sahabat lama yang kehilangan kontak selama 35 tahun. Saat ini tinggalnya di Kendal, dekat Semarang.

Namun, beberapa bulan ini saya dan dia dipertemukan lagi melalui media sosial tanpa sengaja. Lewat grup WA alumni sekolah.

''Suruh ke Hotel Star saja Suk,'' kata Cak Fu menimpali. 

Mendengar timpalan dari Cak Fu, Pak Baehaqi pun berdiri. ''Ayo kita ke hotel, biar Cak Fu dan teman-teman lainnya bisa istirahat,'' katanya sambil ngloyor.

Sambil menuju mobil, saya pun kirim pesan ke Ma'mun supaya langsung meluncur ke hotel yang tidak jauh dari kantor Radar Semarang (di Jalan Veteran, Semarang).

Sampai di hotel, saya dan teman-teman dari Surabaya duduk santai di Loby Hotel Star, sambil menunggu antrean lift. Maklum, hotel 30 lantai itu hanya punya 2 lift. Per lift kapasitasnya hanya 10 orang. 

Saya pun cerita lagi soal persahabatan saya dengan Ma'mun. Saya bilang bahwa persahabatan saya dengan Ma'mun bukanlah sekadar persahabatan. Namun, sudah seperti saudara walau tidak sedarah.

Lagi asyik bercerita tentang siapa sih sosok Ma'Mun itu? Telepon jadulku bunyi lagi. derrrrr...derrrr...derrr. Tapi, langsung putus kontak lagi.

Saya pun telepon balik, sambil menanyakan posisinya ada di mana. Dia pun menjawab ada di lobby.

''Wow...,'' teriakku.

Tanpa berpikir panjang, saya menuju pintu masuk lobby hotel sambil tengok kiri-kanan untuk mencari sosok sahabat saya yang tinggi besar itu. Namun, gak ada orang.

Akhirnya mataku tertuju di pojok kiri lobby, tampak berdiri sosok laki-laki berbadan tinggi besar lagi main telepon selulernya.

''Assallamuallaikum wr wb, Kang Ma'mun ya?'' tanyaku.

''Kang Ukma!'' katanya sambil teriak. Kami pun saling peluk saking kangennya. 

Saya dan Kang Ma’mun kemudian bergabung di Cafe Hotel bersama Cak Fu, Mas Yarno dan Suhu. Kami gayeng bercerita. Karena Kang Ma’mun mengajak saya untuk menginap di rumahnya, di pedesaan Kabupaten Kendal, saya terpaksa tidak menginap di hotel.

Selama perjalanan ke rumahnya, Ma’mun banyak tertawanya. Dia tetap rendah hati, hangat, bersaudara seperti dulu. Walaupun kini kondisinya ekonominya jauh lebih mapan dari saya.

Dalam perjalanan dengan mobilnya, kami lebih banyak cerita tentang kenangan masa SMA dulu di Bandung. Saya kemudian diajak makan malam dengan menu nasi goreng Jawa. Tentu ada kopi kental plus air putihnya. Hahahaha.

Esok paginya kami mancing ikan dikolam samping rumahnya. Asyiik. Rumahnya cukup besar. Alam sekitarnya desa banget. Banyak pepohonan dan tumbuhan. Menyenangkan dan menenteramkan. (Bersambung)

Pewarta : Ahmad Sukmana
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda