Ingat Natuna, Ingat Sosok Ini

Marsda TNI Nanang Santoso yang rendah hati. (FOTO: oborkeadilan.com)

COWASJP.COM – Ramai ramai Natuna dan Skuadron 16 Roesmin Nurjadin kirim pesawat F16 ke Natuna Utara, tiba-tiba terkenang sosok yang saya kenal waktu ditugaskan Jawa Pos di Madiun sekitar tahun 2009. 

Yakni, Dan Ops Lanud Iswahyudi, Kol. Nanang Santoso (waktu itu). Waktu  itu saya sering bertandang ke rumah dinasnya atau kalau tidak ya ke markasnya di Lanud Iswahyudi. Ya setidaknya supaya bisa liputan dan masuk ke Lanud Iswahyudi tanpa berbelit belit. Lalu akhirnya ditarik lagi ke Graha Pena Surabaya tahun 2011. 

Setahun setelah pindah masih sering kontak, tapi setelah itu hilang kontak, karena HP kecelup air, semua kontak hilang. Beberapa tahun kemudian, saya dengar kabar, kalau beliau sudah menjadi Dan Lanud Roemin Nurjadin, Pekanbaru, dengan pangkat Marsma (Bintang Satu). 

Eh, hari ini, karena Natuna lagi gawat, dari berita berita yang ada di internet, Skuadron 16 (Lanud Roesmin Nurjadin) mengirimkan F 16 untuk patroli di perairan Natuna utara. 

Dari berita terkait Natuna dan Skuadron 16 saya juga tahu bahwa Dan Lanud nya Marsekal Pertama Ronny Irianto Moningka. Saya juga kenal dengan P. Ronny waktu di Lanud Iswahyudi kalau tidak salah sebagai Komandan Skuadron 11 atau 14 (tahun 2009). Masih berpangkat Letkol. Dan biasa menerbangkan F-16. 

Nah, dari situ saya teringat P. Nanang Santoso, yang putra Sumbawa ini. Saya coba cari di google, eh ketemu.. Ternyata beliaunya sekarang sudah bintang dua (Marsekal Muda TNI), dan jabatannya Gubernur Akademi Angkatan Udara sejak 2019 .... wow wow... 

Kalau sudah begini jadi ingat tahun 2009, waktu di Madiun, sering ngopi bareng di depan stasiun Madiun malam malam. Beilaunya meski berpangkat Kolonel, mau aja lesehan di tepi trotoar sambil nyruput kopi dan ketan. 

Dan paling ingat lagi, ketika diajak terbang Joy Fly. Beliau pilotnya. Hari itu hari jumat pagi pukul 07.00 terbang di atas kota Madiun. Dengan pesawat latih Bravo, beliau pilotnya. 

Pesawat itu memang pesawat latih, depan dua seat, belakang satu seat memanjang cukup untuk berdua. Jadi kami hanya berdua, Pak Nanang sebagi pilot duduk sebelah kiri, saya duduk sebelah kanan sambil pegang kamera untuk motret kota Madiun. 

Nah ketika di udara, saya hanya jeprat jepret kota Madiun. Paling inget lagi, ketika pesawat latih itu melakukan gerakan screw roll, alias berputar sehingga pesawat membalik beberapa kali. Nah di situlah, langsung perut mau muntah. Tangan saya yang pegang kamera  gemetaran. 

Karena kepala rasanya pusing dan mau muntah. ''Gimana Pak Jatmiko, rolling lagi,'' tanya Pak Nanang sambil tertawa ngakak. Mungkin melihat muka saya tampak pucat pasi. Lalu saya jawab. ''Cukup Ndan, rasanya isi perut mau keluar semua,''  sahut saya sambil menahan perut yang seperti dikocok kocok. Pak Nanang hanya tertawa.

Begitu mendarat, saya langsung keluar keringat dingin. Tapi begitulah, langsung disuguhi soto ayam made in Skuadron 15 (waktu itu kalau gak salah yang berada di hanggar skuadron 15).  

Masih banyak lagi kenangan tak terlupakan bersama Pak Nanang. Ya orangnya humble, dan suka menyapa serta enak diajak bicara. Bravo Jendral, dan Sukses ....Ndan. (*)

Penulis: Jatmiko, mantan wartawan Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda