Revolusi Geprek

Restoran ayam geprek di Bekasi. (FOTO: tribunnews.com)

COWASJP.COM – Apa hubungan antara ayam goreng dengan album musik? Jawaban guyonnya: Hubungan keduanya baik-baik saja. Jawaban seriusnya: Rumit.

Menurut saya ayam goreng dan album musik tidak ada hubungannya. Tetapi ada orang lain yang bisa menghubung-hubungkan. Dan berhasil.

Buktinya KFC bisa menjual compact disk album musik. Bahkan ketika mengunduh lagu-lagu dalam format MP3 begitu mudahnya, CD musik itu masih laku.

Saya punya gagasan meniru cara KFC. Tapi tidak untuk menjual album musik. Saya ingin menulis dan memasarkan buku itu di outlet yang tidak ada hubungannya dengan buku. Misalnya, menjual buku di jaringan waralaba ayam geprek.

Langkah KFC menjual CD album musik sudah betul. Karena pasarnya anak muda. Pilihan genre musiknya juga tepat.

Untuk buku pun demikian. Genre bukunya tidak bisa sembarangan. Harus sesuai dengan karakter konsumen outlet itu.

geprek1.jpgJoko Intarto saat menghadiri reuni IX Cowas JP 2018.(FOTO: JTO)

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Banyak informasi yang bisa ditulis menjadi buku. Salah satunya: manajemen bisnis ayam geprek itu sendiri.

Mengapa ayam geprek begitu larisnya? Mengapa bisnis ayam geprek begitu pesatnya? Tentu dua pertanyaan itu tidak selesai hanya dengan jawaban karena punya resep yang jos dan uang tak berseri (begitu banyaknya uang sampai seperti tidak habis-habisnya).

Ada banyak nilai yang tersembunyi di balik keberhasilannya. Nilai-nilai itulah yang menarik untuk digali dan disebarluaskan melalui buku. Agar menjadi inspirasi dan motivasi pembangunan karakter.

Memperkenalkan nilai perusahaan pernah saya lakukan melalui penulisan buku ‘’Semua Orang Bisa Sukses’’. Buku dua seri itu saya tulis tahun 2014 bersama Anab Afifi, CEO Bostonprice Asia.

‘’Semua Orang Bisa Sukses’’ berkisah tentang orang-orang yang berhasil membangun bisnis bersama Pegadaian. Setelah mengalami jatuh-bangun dan bangkrut berulang kali.


PERAN PEGADAIAN

Dari buku itulah saya akhirnya mengenal Pegadaian. Saya mulai menabung emas, dan beberapa kali menjadi nasabah gadai untuk membiayai proyek video dan buku.

geprek2.jpgPadi Rajalele hasil riset BATAN. Bisa panen 4 bulan. (FOTO: Jawa Pos/Radar Solo)

Buku lain yang baru selesai November lalu berjudul ‘’60 Tahun Batan’’. Buku yang saya tulis bersama almarhum Jacky Kussoy itu menceritakan transformasi 60 tahun dari masih bernama Badan Tenaga Atom Nasional hingga menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Dari buku itu saya tahu padi Raja Lele yang genjah dan bisa dipanen pada umur 120 hari (4 bulan) itu lahir dari teknologi nuklir melalui riset selama 12 tahun. Dari buku itu pula saya baru tahu, Batan merupakan lembaga riset dan pengembangan teknologi nuklir untuk pertanian yang termaju di dunia.

Sekarang saya ingin membayangkan ini: Kawan-kawan wartawan yang korannya tidak terbit lagi mulai sibuk menyiapkan naskah buku untuk memotivasi semua orang menjadi juara.

Revolusi mental tampaknya akan lebih berhasil melalui buku. Bukan pidato. Saya lebih percaya perubahan itu diigerakkan para penulis. Bukan politisi. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda