Bila Seorang Kakek Insinyur Lulus Doktor

Abdul Azis Hoesein, saat Ujian Terbuka

COWASJP.COM – Nulla aetas ad discendum sera (Tiada kata terlambat untuk belajar). Seneca, filsuf Romawi. 

Ir.Abdul Azis Hoesein Dipl. HE, M.Eng.Sc (73)., mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), memang bukan kandidat doktor tertua yang pernah tercatat media. Ada banyak sarjana, magister dan bahkan doktor lain yang lulus dalam usia di kepala 8 dan bahkan 9.

David Bottomley, misalnya, mahasiswa doktor Universitas Curtin Australia, awal tahun 2019 yang lalu lulus doktor dan diwisuda pada usia 94 tahun. Dan beberapa bulan lalu, seorang nenek, Diana Patricia Pasaribu Hasibuan, lulus doktor di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia, Medan, pada usia 77 tahun.

Tetapi kisah Azis Hoesein tetap menarik. Ini karena jalan kehidupannya yang berliku-liku sebelum dia dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan” dalam Ujian Terbuka Disertasi Doktor di Program Doktor Teknik Sipil Fakutas Teknik Universitas Brawijaya, Rabu 18 Desember 2019.

Dalam ujian doktor tersebut, sebagian besar profesor yang membimbing dan menguji adalah praktis mantan mahasiswanya. Azis sendiri sudah pensiun sebagai dosen PNS pada tahun 2012.

“Malah ada seorang penguji, Dr Ussy, yang di masa kecil pernah mendapatkan les matematika dari Pak Azis Hoesein,” kata Drs. Djanalis Djanaid, motivator nasional dan pensiunan dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB sambil tertawa..

Ujian siang itu juga istimewa karena dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, Prof. Dr.Ing. Wardiman Djojonegoro, mantan Rektor Universitas Airlangga Surabaya, Prof Dr. dr. Soedarso Djojonegoro (kakak kandungnya.Red), dan mantan Rektor UB dan Dirjen Dikdasmen, Prof Dr. ZA Achmady. Tak sedikit pula gurubesar  dan dosen senior UB yang hadir, termasuk Prof Drs. Umar Nimran, Ph.D.. Mereka adalah teman-teman lama Abdul Azis.

Suasana penuh warna dan gelak tawa para undangan yang sudah sepuh tersebut tak terelakkan karena latar belakangan promovendus.

Abdul Azis Hoesein. Siapa warga Universitas Brawijawa dan warga Malang sekitarnya yang tidak kenal?

Akhir dasawarsa 1960-an, laki-laki yang dilahirkan di Bondowoso pada 27 Desember 1946 ini adalah tokoh mahasiswa teknik UB. Tetapi jangan bayangkan Fakultas Teknik UB atau UB keseluruhan sekali pun sudah segede sekarang, dengan bangunan-bangunannya yang serba megah.

Setelah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Teknik periode 1969-1970, mahasiswa berotak encer ini terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa UB periode 1970-1971. Ia menggantikan Agil H. Ali., tokoh mahasiswa orator yang flamboyan.

joko1.jpgAzis bersama mantan Rektor UB Prof Dr ZA Achmady. (FOTO: istimewa)

Menurut buku “40 Tahun Universitas Brawijaya Malang” (2003), masa kepemimpinan Azis Hoesein di Dema ditandai dengan menjadikan UB sebagai tuan rumah Kongres Mahasiswa Teknologi Indonesia (KMTI). Kongres besar ini melahirkan Ikatan Mahasiswa Teknologi Indonesia (IMTI), diikuti mahasiwa teknik seluruh Indonesia. Ini dinilai berkat kepiawaian Azis mencari sponsor untuk transportasi semua peserta.

Azis menikah saat dia masih menjadi ketua dewan mahasiswa ini dikarunia tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Dari tiga anaknya, Azis sudah menjadi kakek beberapa cucu.

Setelah lulus dari Fakultas Teknik UB, Azis menjadi dosen tetap di almamater. Kariernya yang baik membuat dia terpilih sebagai Ketua Jurusan Pengairan (1980-1992) dan Dekan Fakultas Teknik (1988-1992). Di saat menjadi Dekan inilah Azis dipercaya sebagai Ketua Panitia Pelaksana Simposium Nasional Cendekiawan Muslim Indonesia yang melahirkan ICMI. Tokoh besar yang muncul adalah Prof Dr. Ing. B.J. Habibie.

Simposium ini dinilai sebagai karya besar UB dalam sumbangannya pada NKRI karena telah mendekatkan Islam pada pemikiran yang moderat dan akrab dengan teknologi.

Azis pernah mengikuti studi teknik pada International Institute for Engineering tahun 1978 di Delf, Belanda. Pada 1986, dia melanjutkan studi di Department of Water Engineering School of Civil Engineering of New South Wales, Australia, dan lulus 1993.

Prestasinya yang bagus membuat Azis ditarik ke Pusat, menjadi Direktur Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dia pernah pula menjadi Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat pada Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan.

“Saya pernah membantu Bu Khofifah Indar Parawansa lho, saat beliau jadi menteri di bawah Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur,” kata Abdul Azis.

Khofifah sekarang adalah Gubernur Jawa Timur.

joko2.jpgMantan Mendikbud Prof Dr Wardiman Djojonegoro memberi sambutan usai Ujian Terbuka.

Tentang Hidrologi

Dalam Ujian Terbuka Doktor Rabu lalu, Abdul Azis berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Model Curve Number Spasial untuk Memprediksi Limpasan di Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Lesti, di depan majelis penguji.

Dalam disertasi tentang hidrologi itu, Azis memaparkan, air hujan tidak semuanya terserap oleh tanah, sebagian melimpas di permukaan. Limpasan permukaan ini jika tidak terkontrol dapat menyebabkan banjir. Ia pun memprediksi seberapa besar air hujan ini yang melimpas.

Banyak cara untuk memprediksi limpasan di suatu DAS. Salah satunya adalah penggunakan model Curve Number (CN) yang dikembangkan oleh Soil Conservation Service (SCS) Departemen Pertanian Amerika Serikat.

CN sangat tergantung dari tata guna lahan (land use) dan tidak bisa berlaku untuk semua dam. Bahkan dalam suatu dam, tidak semua zona memiliki limpasan yang sama, sehingga nilai CN-nya pun beragam.

“Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian penggunaan model SCS-CN untuk memprediksi besarnya CN di Sub DAS Lesti menggunakan karakteristik Sub-DAS dan dengan peta overlay dari peta tata guna lahan dan jenis tanah,” papar kakek 8 cucu ini.

Dalam penelitiannya, Abdul Azis bermaksud menerapkan secara akurat angka CN yang secara spasial merupakan fungsi dari lapisan penutup tanah, tataguna lahan, kondisi hidrologis, dan kelompok hidrologis tanah di Sub-DAS Lesti.

Dari hasil penelitiannya ia menyimpulkan bahwa model CN yang sesuai untuk memprediksi limpasan di Sub-DAS Lesti adalah CN spasial dan dari peta overlay yang digunakan diperoleh zonasi besarnya CN berkisar antara 45-78 dengan rata-rata CN=64.

joko3.jpgMantan Rektor Unair Prof.Dr.dr Soedarso Djojonegoro.

Dalam paparannya, Azis menuturkan, hasil model CN spasial untuk Sub DAS Lesti cukup akurat sebanding dengan yang dibuat oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat.

“Sebagai tambahan, pemetaan angka CN dapat digunakan secara langsung oleh para insinyur, manager dan disainer dari bangunan pengairan di Sub DAS Lesti,” kata Azis yang aktif pula di dunia pencak ini.

Di bawah Komisi Pembimbing yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS (ketua), Prof. Dr. Ir. Lily Montarcih Limantara, M.Sc (anggota1), dan Dr. Ery Suhartanto, ST, MT (anggota 2), Dr. Azis Hussein berhasil lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan.”

Hadir selaku Dewan Penguji antara lain Dr. Ir. Ussy Andawayanti, MS, Dr. Ir. Rispiningtati, M.Eng, dan penguji tamu Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, M.Sc. (Guru

Dekan FTUB, Prof. Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT., IPU memuji capaian Dr. Azis tersebut.  Ia percaya bahwa temuan Azis ini dapat memberikan kontribusi nyata terkait permasalahan banjir yang sering melanda Indonesia.

Pakar Sumber Daya Air ini juga menambahkan, penelitian Dr. Azis ini sangat bermanfaat di bidang hidrologi. Dengan memprediksi limpasan/debit sebagai fungsi dari CN berbasis parsial,  ia memberikan inspirasi kepada generasi selanjutnya untuk melanjutkan penelitian ini di tempat dan kasus lainnya.

“Saya kagum dengan stamina beliau yang luar biasa. Di usia 73 tahun masih aktif. Tentu saja apa yang dilakukan Pak Azis ini sangat menginspirasi kita semua untuk terus semangat dalam mengerjakan studinya dan terus menimba ilmu,” kata Prof. Pitojo.

 “Meskipun sudah agak pikun di usia senja ini, saya ingin membuktikan kepada anak-anak saya, belajar itu kalau mau sungguh-sungguh pasti bisa,” kata Abdul Azis pula.

Sang kakek rupanya ingin mengirim pesan pada anak, cucu-cucu, dan anak-anak muda lain apa yang dikatakan Seneca, filsuf Romawi: Tiada kata terlambat untuk belajar.

Nulla aetas ad discendum sera (dph, berbagai sumber)

Penulis: Djoko Pitono, jurnalis senior dan editor buku di JPBooks.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda