Selamat Datang Generasi Pamer Bojo

FOTO: Instagram highway.live

COWASJP.COM – NAMA aslinya Dionisius Prasetyo, kelahiran Surakarta  31 Desember 1966. Namun orang-orang lebih mengenalnya sebagai Didi Kempot. Putra seniman Surakarta Ranto Edi Gudel (Mbah Ranto) ini mulai bercampur-sari sejak 1989.

Ketika beberapa lagunya nge-hits sejak beberapa tahun yang lalu, saya sudah menaruh respek ke Didi. Di telinga saya, lagu-lagu Didi tak akan lekang oleh panas, dan tak akan lapuk karena hujan. Enak didengar. Mudah dicerna. Gampang dinyanyikan ulang oleh siapa pun.

Sejak itu pula saya sangat meyakini bahwa Didi adalah seorang legenda: legendanya campur-sari Indonesia. 

Kini --setelah dia sukses dengan lagu Pamer Bojo-- Didi malah dijuluki The Godfather Broken Heart. Lirik lagunya yang mengekspresikan kekecewaan hati karena ulah sang kekasih, justru makin mengokohkan posisinya sebagai seniman besar. Tak heran jika Shopee Indonesia merekrutnya sebagai brand ambassador.

Didi memang layak mendapatkan semua itu. Termasuk memiliki penggemar berat dari kalangan millenial yang berjuluk Sobat Ambyar. 

NAIK KELAS
Saya mencermati, bahwa makin dahsyatnya popularitas Didi dengan 'amunisi' Pamer Bojo--nya, tak lepas dari kecerdasan produser pergelarannya. Yakni pertunjukan Didi dikemas secara apik. Meskipun 'hanya' berkelas campur-sari, namun karakter panggung Didi Kempot dibikin elite. Artinya,  campur-sari-nya Didi Kempot telah disulap sedemikian rupa menjadi sangat layak tonton oleh kalangan atas, sebagaimana telah dicoba diaplikasikan sedemikian rupa oleh OVJ (Opera Van Java) di layar kaca.

Kostum Didi di panggung pun lebih ditata: lebih berbedak, bergincu, dan sederet sentuhan kosmetik lain. Pokoknya: paket komplet pakai telor.

kempot1.jpgDidi Kempot The Lord of Loro Ati. (FOTO: Facebook)

Dan, saya sangat sepakat dengan semua upaya tersebut. Bagi saya, inilah bisnis hiburan yang sesungguhnya. Harus berkesan glamour, meskipun dalam kenyataannya di rumah hanya ada beberapa bungkus mi instan untuk menu makan. Dunia entertainmen adalah dunia khayalan. Dunia di awang-awang. Hanya segelintir orang yang sanggup hidup di sana, lengkap dengan subjek dan objeknya.

Jika mampu memposisikan diri secara baik dan benar, maka bisnis entertainmen nyaris menjanjikan segala-galanya. Namun, kalau tidak pintar menempatkan diri, maka kita hanya menunggu waktu saja untuk masuk ke dalam jurangnya.

Sssst... saya jadi teringat pertemuan saya dengan seorang sahabat bernama Hengky, sekitar 20 tahun yang lalu. Dia mantan jurnalis di Surabaya. "Kamu wajib bergaya parlente. Kalau perlu, pakailah cincin dan gelang emas yang tebal, meskipun perhiasan tersebut hanya emas imitasi," kata saya kepadanya. "Orang tak akan tahu, kalau emas itu imitasi. Begitu selesai acaramu, ya segera lepaskan emas imitasi itu."

Ketika itu Hengky menemui saya untuk meminta saran, karena hendak membikin sebuah seminar kewirausahaan. Saya berpendapat, promotor atau penyelenggara acara tersebut harus mempunyai kecukupan ekonomi, agar memiliki kesan kredibel sebagai penyelenggara acara bisnis. Agar acara itu sukses menarik minat pesertanya.

Hengky manggut-manggut mendengar saran saya. Saya enggan menerjemahkan, apakah dia manggut-manggut karena sepakat dengan ide saya, atau justru memaki-maki di dalam hati. Namun, belakangan hari saya mendengar info bahwa jumlah peserta acara Hengky menembus target.

"Kalau sudah siap lahir-batin hidup di dunia bisnis di Jakarta, lengkap dengan segala pengorbanan dirinya, maka Anda boleh mengadu nasib ke sana," ucap saya kepada seorang model pemula asal Surabaya, ketika berkonsultasi dengan saya belasan tahun yang lalu. "Kalau tidak siap lahir-batin, lebih baik lupakan saja mimpi ke Jakarta."

Di mata saya, bisnis hiburan sangat spesifik. Kejam, namun sangat memanjakan. Salah melangkah sedikit, bisa langsung masuk jurang yang terdalam. Lebih-lebih bagi kaum hawa. Sebab, banyak serigala yang berkeliaran di luar sana. Penuh perangkap. Banyak muslihat dan kepura-puraan. Ibarat kata, gula tak selalu memiliki rasa manis di dunia entertainmen. Begitu pula sebaliknya: kepahitan justru berasa manis bak madu.

Catatan saya ini --dalam kapasitas sebagai mantan wartawan hiburan-- bukan bermaksud mengajarkan siapa pun untuk bertindak membabi-buta, jika ingin eksis di bisnis hiburan di Tanah Air. Atau justru mengharamkan banyak orang untuk menekuninya.

Namun, kita justru wajib belajar dari perjalanan karier The Lord of Loro Ati alias Didi Kempot. "Saya sekarang lebih banyak di studio. Berkarya. Menciptakan lagu. Saya merasa makin disayang Tuhan," ujar Didi kepada wartawan yang mewawancarainya, pekan ini.

Konsistensi Didi sebagai seniman sudah berada di jalur yang benar. Sebagai pribadi, saya belum pernah mendengar nada minor tentang suami perempuan cantik bernama Yan Vella tersebut. Dan, Didi biarlah tetap dipermak untuk naik kelas. Toh, tidak ada pihak yang dirugikan.

Saya justru sangat berharap nama Didi makin harum. Dan, muncul banyak orang  berkompeten yang menggandeng tangannya untuk memompa motivasi terjun sebagai seniman yang baik dan hidup mapan. Artinya, Didi bertindak sebagai inspirator. 

Terkait dengan hal itu, saya menilai Sobat Ambyar bisa menjadi medianya. Mumpung era keemasan Didi telah dimulai kembali. Langkah ini sekaligus sebagai salah satu upaya menjaga popularitas dan eksistensi Didi.

Bagaimana? (*)

Pewarta : M. Taufiq
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda