Jika Perjalanan Jauh

Penderita Jantung Koroner Naik Bus atau Kereta Api?

Tempat duduk di bus malam cukup longgar. (FOTO: Bambang Supriyantoro)

COWASJP.COM – Di usia tua, bepergian jauh dengan moda transportasi umum menjadi pemikiran sendiri.  Hal ini berhubungan dengan kesiapan fisik dan finansial yang ada.  Kita tidak membicarakan yang duitnya berlimpah. Yang badannya sehat bugar. Karena mereka tidak akan menemui masalah yang berarti, kecuali takdir.

Saat masih aktif bekerja, pergi ke mana saja untuk urusan kerja, tak sepeserpun menggunakan dana pribadi. Bahkan mendapat uang kompensasi yang lumayan.  

Tapi setelah pensiun, semua harus dengan biaya sendiri. Alhasil, jika ingin ke luar kota, pilihannya mesti mencari biaya termurah. Sesuai kantong pensiunan. Seperti rakyat jelata umumnya.

Kali ini saya ingin menuliskan pengalaman menggunakan moda transportasi umum, dengan kondisi kesehatan yang pas pasan. Maklum, saya sudah menjadi penderita jantung koroner. Dokter melarang untuk melakukan kegiatan fisik  yang melelahkan. Termasuk bepergian jauh.

Sebelum pensiun, lebih dari 20 tahun saya bertugas di bidang pemasaran. Bisa dikatakan hampir tiap hari hidup  di atas roda. Roda mobil, roda kereta api. Hampir tiap hari harus bepergian menemui banyak  kolega. Bisa mencapai jarak ratusan kilometer.  Sebulan bisa menempuh perjalanan 4.000 km – 6.500 km.

Setelah 5 tahun pensiun, rupanya kerinduan untuk bepergian jauh kembali menderu-deru.

Pingin jalan-jalan dengan kendaraan sendiri. Keliling Jawa Barat. Karena masih ada sebagian wilayah dan kota yang belum saya kunjungi. 

Bulan Oktober lalu teman dekat saat SMA memberitahukan bahwa dia akan mantu. Anaknya yang paling kecil menikah awal November di Bandung. Nah, ini kesempatan baik untuk mewujudkan keinginan berkelana di Jawa Barat. Setidaknya sebagai alasan kepada isteri untuk pergi ke Jawa Barat.   

Semula pilihan bawa mobil sendiri. Sekalian mampir-mampir ke tempat wisata, dan terakhir ke kota Bogor. Sekalian silaturahim ke ibu kost. Dulu saya kuliah di IPB Bogor.

Saya juga ingin melihat  almamater (yang saat ini sudah pindah ke Dermaga) di mana saya pernah menuntut  ilmu di bidang pertanian.  

Tapi isteri saya kurang  setuju pergi ke Bandung bawa mobil sendiri. Saat masih umur 40-an dan sehat, pergi kemanapun tak masalah. Bahkan pernah 2 kali melakukan perjalanan Medan - Malang pergi-pulang (PP). Berjarak 3.000-an km untuk sekali jalan dengan menyopir sendiri.  

Tapi kondisi saya sekarang sudah jauh berbeda. Ditambah sudah divonis sakit jantung koroner. Sudah terpasang  8 ring di pembuluh jantung.   

Melalui pertimbangan yang berulang-ulang, akhirnya diputuskan menggunakan moda transportasi umum saja ke Bandung. Plus yang biayanya terjangkau.   

Naik pesawat? Alamak relatif mahal lebih Rp 1 juta sekali jalan. Berdua dengan isteri bisa menghabiskan Rp 4 juta pergi-pulang. Untuk transpor saja.

Maka, kami putuskan naik transportasi darat saja. Pilihannya: bus atau kereta api. Tarif bus Malang – Bandung Rp 300.000 per penumpang. Satu bus 32 tempat duduk. Sama ongkosnya dengan naik kereta api Mutiara Selatan kelas Ekonomi Premium. Dengan 80 tempat duduk satu gerbong.  

Isteri menyarankan berangkatnya naik bus, pulangnya naik kereta api. “Jadi nanti bisa membandingkan, lebih enak yang mana?” kata isteriku. 

Isteri saya masih selalu was was dengan kondisi saya. Tak pernah lepas memantau kesehatan saya setiap saat.   Sebenarnya saya lebih senang bawa mobil sendiri, tapi isteri tak setuju. ”Belum sebulan kita ke Cirebon nyopiri  sendiri, apa ndak capek? Belum biaya tolnya sekali jalan bisa Rp 600.000-an, BBM bisa Rp 1 jutaan, belum capeknya ”, ujarnya memberi pertimbangan. 

cowas.jpg

Kursi bisa dipanjangkan untuk meluruskan kaki.

“Kalau naik bus atau kereta api, duduk manis, bisa tiduran, sudah nyampai” , tambahnya.  Pernah ada pengalaman buruk naik kereta api Cirebon-Surabaya dan Jogjakarta-Malang. dalam gerbong kereta AC terlalu dingin. Akibatnya kepayahan saat  turun dari gerbong  kereta api di Surabaya. Perlu istirahat agak lama untuk bisa jalan normal kembali.   

Jadi, naik kereta api jadi pilihan kedua setelah bus.

SENSASI BUS MALAM

Saya sudah 24 tahun belum pernah lagi merasakan naik bus jarak jauh. Terakhir tahun 1995, naik bus Palembang-Malang. Lupa bagaimana rasanya naik bus jarak jauh.   

Pada hari keberangkatan ke Bandung, pukul 13.30, bus yang akan saya tumpangi tiba. Kami naik bersama 3 penumpang lainnya. Start dari Malang. Ada  perasaan gembira saat menaiki bus. 

Busnya bagus merk terkenal buatan Eropa, karoseri terkenal dalam negeri, interior terkesan mewah. AC terasa sejuk karena di ruang tunggu agen tadi terasa hangat. Tersedia toilet (cocok untuk saya yang sering kencing), dan diberikan  snack begitu duduk di kursi yang  agak dekat dengan sopir.

Jauh hari saat beli tiket, saya sengaja milih tempat duduk yang bisa melihat sopir bus beraksi. Sekaligus bisa melihat kecepatan bus  serta teknik menyopirnya. Pemandangan ke depan lebih leluasa.  Sejak kecil, jika naik bus saya paling seneng duduk di belakang sopir. Pandangan ke depan lebih menarik, selain itu kalau ada apa-apa bisa mengetahui lebih dulu.

Kembali ke suasana di dalam bus yang interiornya terkesan wah. Menurutku tak kalah dengan pesawat. Tempat duduknya relatif lega untuk berdua. Bisa disetel selonjoran (kaki lurus ke depan). 

Tas bawaan yang relatif besar diletakkan di bagasi bawah yang cukup luas. Saya lihat di ruang bagasi ada sepeda motor di dalamnya. Benar benar luas bagasinya. Memang  busnya type tronton yang besar. Ban belakangnya 8 buah atau double  4. Bakal nyaman nanti saat memasukkan tas bawaan.

cowas1.jpgCadas Pangeran, Jawa Barat. (FOTO: travelingyuk.com)

Benar-benar terasa nyaman saat bus mulai bergerak berangkat. Apalagi  jalanan  mulus, merasakan nikmatnya naik bus malam membuat  perasaaan beda. Maklum cukup lama tak merasakan naik bus malam.   

Tak berapa lama bus masuk tol Purwodadi. Sepanjang tol menuju Terminal Bungurasih sangat nyaman. Bus melaju tak terasa kencang, meskipun kecepatan di atas 100 km/jam. Wah bisa tidur nanti dalam pikiran saya.   

Bus ternyata tidak masuk Terminal Bungurasih. Sebelum pintu masuk terminal, berhenti di agen bus sebentar untuk menaikkan penumpang.  Setelah itu jalan lagi masuk tol menuju jalur arah pantai utara Gresik, Lamongan, Tuban.

Selama perjalanan sampai Gresik, asyik-asyik saja karena masih terasa nyaman. Guncangan tidak begitu terasa, jalanan mulus. Baru setelah masuk Terminal Bus Bunder Gresik, mulai terasa ada sedikit guncangan. Laju kendaraan dikurangi. Mulai terasa ada acara ngerem karena jalur masih padat  kendaraan. Cuma ngeremnya halus. Tidak terasa kejutan rem seperti naik bus regular antarkota, yang kadang cukup keras.  

Meskipun jalan agak bergelombang, masih asyik-asyik saja. Karena kebiasaan saya selalu melihat-lihat pemandangan di luar bus sepanjang jalan.

Ternyata di Kota Lamongan dan Tuban cukup banyak penumpang yang naik. Dari Malang tadi hanya ada 10-an penumpang. Bus berkapasitas 32 tempat duduk. Mungkin ada 11 atau 12 orang yang naik. 5 sampai 6 orang di Lamongan, dan 6 orang lagi di Tuban.   

Sampai Tuban sekitar pukul 19.00 WIB. Bus berhenti di rumah makan. Servis gratis untuk makan malam, sambil Istirahat dan sholat. Makanan yang tersedia: sop, ayam goreng, tempe, mie goreng, tumis kacang panjang,  semua dihidangkan prasmanan di ruangan ber-AC.  

Penumpang  bisa sholat Magrib dan Isyak terlebih dahulu baru makan, atau makan dulu baru mengerjakan sholat.

cowas2.jpg

Salah satu sudut kampus IPB. (FOTO: innnayah.com)

Tak terasa sudah hampir 7 jam berada di atas bus. Badan mulai terasa berbeda dibanding  saat berangkat. Mulai payah, dan sudah waktunya minum obat untuk malam hari yang harus dikonsumsi seumur hidup. 

Setelah satu jam beristirahat makan, sholat, bus berangkat lagi.  Nah di sinilah mulai terasa kurang nyamannya. Kondisi jalan pantura kurang mulus. Kecepatan bus sudah mulai kencang, truk-truk angkutan berat mulai berseliweran  menambah seringnya sopir bus harus mengerem. Lantas mengegas untuk menyalip.  Rencana ingin tidur jadi terganggu. Meskipun cara ngeremnya terasa lembut, tapi posisi duduk terus sedikit bergeser karena pengereman, sehingga harus sering memperbaiki posisi duduk.

Menurut kernet, bus akan masuk tol sebelum kota Semarang. Lanjut ke Bandung lewat Subang, Cadas Pengeran.   

Lumayan, pikirku. Nanti bisa tidur saat masuk tol Semarang.   Jam 23.00 belum masuk tol Semarang. Rupanya sepanjang  jalan dari Tuban hampir Semarang sempat  tertidur, karena kota Pati tak termonitor. Terbangun saat bus terjebak kemacetan, karena ada mobil rusak ditengah jalan. Untung  tak sampai 30 menit kemacetan terlewati.

Tak lama kemudian bus masuk tol. Lupa namanya, mungkin Kadilangu dekat Demak. Sudah dekat Semarang pikirku dan akan terus lewat tol sampai daerah Subang. Bisa tidur,  lumayan, lagi-lagi angan anganku.   

Ternyata begitu masuk tol, supir tancap gas untuk mengejar waktu akibat macet dan tersendat di Gresik, Lamongan, Tuban, dan sebelum Demak.   

Alamak, rencana tidur buyar. Tol Semarang memiliki kontur jalan yang naik turun, berbelok. Bus melaju dengan kecepatan tinggi membuat dag dig dug dan was was.   Meskipun saya memahami para supir bus tersebut sudah ratusan bahkan ribuan kali lewat jalan tersebut, tetap saja ada rasa was was, karena beberapa minggu sebelumnya saya baru saja lewat tol Semarang yang naik, turun, berkelok, dan ada rasa tak nyaman.

DITEGUR PETUGAS POMPA BENSIN

Setelah melewati tol kota Semarang, jalanan tol mulai lurus. Nah inilah saatnya  tidur. Tapi tak berapa lama…. saat mulai tidur ayam, bus keluar tol di Weleri.. ” Waduh ada apa ini? Katanya langsung keluar tol Subang.” 

Sudah pukul 01.00. Sampai Bandung jam berapa? Tak berapa lama, bus masuk semacam terminal khusus bus Malam. Cuma berhenti sebentar entah apa yang dilakukan, awak bus ada yang turun. Setelah itu berangkat kembali arah balik, pada saat balik itulah saya pingin kencing. 

Selama kencing bus terasa memelankan lajunya dan agak bergelombang sedikit, dan akhirnya berhenti. Begitu keluar toilet ternyata Bus sedang ngisi BBM, dan ada  petugas pompa bensin, nunjuk-nunjuk ke arah saya sambil nunjuk toilet milik pompa bensin di luar.  

Ternyata air kencing dan air pembilas pada membasahi area  di samping petugas pompa bensin, oh ternyata air kencing tidak ditampung, tapi dibiarkan jatuh ke bawah.  Pantas saja petugas pompa BBM agak sewot , karena tak ada peringatan gunakan toilet saat bus berjalan. Sayapun geleng geleng  kepala dan mengangkat bahu.

Ada rasa bersalah, tapi tidak disengaja. Koq tiba tiba bus masuk Stasiun BBM saat saya kencing.

Setelah itu bus bergerak lagi masuk tol dan melaju dengan kencang. Saya perhatikan speedometer sudah mentok. Makanya dari masuk tol tak ada kendaraan yang menyalib, kecuali mobil mobil pribadi.  Ini juga membuat ancang ancang untuk tidur batal. 

cowas3.jpgWisudawati IPB 2017. (FOTO: fahryadam.com)

Perasaan ikut mengendalikan stir bus, sampai keluar tol di daerah Subang. Masuk jalan biasa yang relatif mulus, mulai terasa ngantuk dan pingin tidur..pulas.

Terbangun kembali saat bus mulai meliuk liuk di daerah Cadas Pangeran, dan terdengar sayup sayup Adzan Subuh dari masjid pinggir jalan. Inilah salah satu kelemahan naik Bus Malam. Bus tidak berhenti untuk istirahat seperti bus jurusan Jakarta-Surabaya, yang berhenti Istirahat 2 kali di Sukamandi dan Tuban.  

Akhirnya saya tayamum dan sholat, begitu juga Istri. Setelah agak terang saya baru melihat daerah Cadas Pangeran. Meskipun curam banyak rumah penduduknya. Karena belum pernah melewati daerah ini, asyik juga pemandangannya, berliku liku dengan alam pegunungan yang indah.

Semakin terang, semakin ramai kendaraan yang melalui jalan raya menuju Bandung. Tak sampai sengah jam setelah melewati Cadas Pangeran, bangunan bangunan besar mulai tampak. Nah ini mulai masuk Bandung, pikirku. Lalu lintas semakin ramai mendekati kota Bandung.   

Sekitar pukul 07.00 pagi saya turun di depan hotel yang saya pesan, yakni Prime Park Hotel Bandung. Ternyata bus yang saya tumpangi menyediakan servis diantar sampai di tempat untuk wilayah Bandung.  Kebetulan busnya melewati hotel tempat saya menginap. 

Sempat ada pertanyaan dalam hati, setelah bus berjalan dari Tuban, mengapa tiap penumpang ditanya turun di mana?    Ternyata ada servis diantar sampai lokasi terdekat  tujuan penumpang.  Jika jalan terlalu sempit tersedia kendaraan minibus yang akan mengantarkan.

Ini mungkin salah satu kelebihan naik bus dibanding kereta api. Bisa diantar sampai tujuan, mendapatkan snack, makan malam gratis, melaksanakan sholat Magrib, Isyak di Mushola. Yang pasti lebih memudahkan untuk penumpang yang tak ada jalur kereta api. 

Seandainya lewat  jalan tol terus bisa lebih nyaman.  Kelemahannya tergantung  alasan masing-masing pribadi.  Kalau saya masalahnya tak bisa Istirahat. 

Yang penting selama perjalanan kondisi kesehatan cukup baik, meskipun tidur mungkin hanya 1 jam dan konsumsi obat sesuai saran dokter.   

Bus malam tidak sama dengan bus regular yang biasa kebut-kebutan untuk mengejar setoran. Jadi relatif nyaman.   Cerita naik kereta api, akan saya tuliskan pada kesempatan lain.(*)

Oleh: Bambang Supriyantoro, wartawan senior di Lawang.

Pewarta : Bambang Supriyantoro
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda