Pasang Gas Pol hingga Akhir Penyisihan

Salah satu bintang Indonesia: Eggy Maulana Vikri. (FOTO: pikiran-rakyat.com)

COWASJP.COM –  Di Grup A Myanmar sudah memastikan diri lolos ke semifinal. Di Grup B belum ada satu tim pun yang lolos. Termasuk juara bertahan Thailand.

"Mukjizat," kata orang Indonesia, atau amazing menurut orang  Inggris benar-benar terjadi. Indonesia menggelontorkan delapan gol ke gawang negeri tetangga Brunei Darussalam dalam pertandingan keempat Grup B SEA Ganes, Selasa (3/12/2019) malam. 

Kemenangan itu membuat Indonesia mempertahankan kans lolos ke semifinal. 
Sedari awal, penggemar sepakbola di Indonesia sudah waswas. Bagi kita, Grup B adalah grup neraka. Sebab, bersama Indonesia, di situ bercokol juara bertahan Thailand dan sang kuda hitam Vietnam. Belum lagi Singapura yang bisa menampilkan permainan mengejutkan. 

Laos dan Brunei memang relatif tidak masuk hitungan. Jangankan memenangkan salah satu pertandingan, mencetak gol saja belum tentu bisa. 

Kekhawatiran kita terbukti. Grup ini benar-benar grup neraka. Indonesia, Vietnam, dan Thailand harus tetap pasang gas pol sampai pertandingan penyisihan terakhir grup, Kamis (5/12/2019).
Mengapa Indonesia harus satu grup bersama Thailand dan Vietnam? 

Buat Indonesia, ini grup neraka. Buat AFC, Thailand, dan Vietnam tentu tidak. Sudah nyaris tiga dekade terakhir, Indonesia memang sudah tidak masuk hitungan. 

Indonesia bukan lagi salah satu kekuatan sepakbola di Asia Tenggara. Pelan tapi pasti, Vietnam menyeruak sebagai musuh nomor satu Thailand di ASEAN (Association of South East Asian Nations) dengan Malaysia sesekali jadi kuda hitam. Indonesia terakhir kali menjadi raja di Asia Tenggara ketika merebut emas SEA Games Manila pada 1991. Itu artinya, sudah 28 tahun lalu. Begitu lama prestasi sepakbola negeri dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini pingsan atau mati suri. 

max-wangge.jpgMaximus Wangge, penulis. (FOTO: istimewa)

Indonesia, Vietnam, dan Thailand memang harus tetap pasang gas pol karena masih memiliki kans yang sama untuk lolos. Lihat saja posisinya sekarang. Vietnam berada di puncak klasemen dengan nilai 12. Selisih golnya 15-2. Artinya, Negeri Paman Ho ini punya plus 13. Indonesia di tempat kedua dengan poin sembilan. Selisih golnya 13-2 atau plus 11. Negeri Gajah Putih Thailand di peringkat tiga dengan nilai poin sembilan. Selisih golnya 12-2 atau plus 10.

Posisi Vietnam memang lebih baik saat melawan Thailand di laga pamungkas grup 5 Desember ini. Negeri sosialis di Asia Tenggara ini hanya butuh seri untuk lolos dan tampil sebagai juara grup. 

Yang bikin ramai justru kalau Thailand yang menang dengan margin dua gol. Kalau ini yang terjadi, justru Vietnam yang tersisih. Indonesia harus menang dan mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang Laos. Kalau skenario ini yang terjadi, bisa-bisa Indonesia yang akan tampil sebagai juara Grup B. 

Kita berharap, Indonesia bermain seperti ketika melawan Vietnam pada babak pertama. Pada momen itu, Indonesia mampu tampil elegan. Kerja sama antarlini bagus. Visi bermainnya oke. Pertahanan solid. Aliran bola mengalir lancar dari kaki ke kaki. Sayang memang, gol yang kita ciptakan ke gawang Vietnam terjadi karena faktor hoki. Karena kesalahan kiper lawan. 

Cara bermain ini yang patut kita garisbawahi karena meski menang besar dari Brunei, Indonesia tidak bagus-bagus amat. Kontrol bola kurang bagus. Passing-nya sering salah alamat. Padahal, kontrol dan passing adalah dua hal paling elementer dalam sepakbola. 

Pelatih Indra Sjafri juga harus membenahi visi bermain anak asuhannya. Saat ditekan secara bergelombang oleh Vietnam di babak kedua, misalnya, pemain kita nyaris kehilangan visi bermain. Kehilangan visi bermain membuat pemain kita gampang panik. Bola yang masuk ke kotak penalti asal buang. 

Kita berharap, kesalahan elementer ini tidak terjadi lagi saat melawan Laos besok. Menang besar atas Laos adalah sebuah conditio sine qua non atau sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. "Eu a Indonesiano," kata orang Brasil. Artinya, saya pendukung Indonesia. (*)

Oleh: Maximus Wangge, wartawan senior di Jakarta.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda