Mohtar Mas'oed dalam Episode Kehidupan Saya

Prof Dr Mohtar Mas'oed beserta Ibu di tengah Panitia Pelaksana Departemen Ilmu Hubungan International (DIHI) maupun Keluarga Alumni HI UGM (FOTO: Kahigama).

COWASJP.COM – Buku merupakan dunia yang saya akrabi sangat lama. Tidak sekadar sebagai penikmat atau pembaca saja. Sebagai penjual, peresensi, penyunting maupun sebagai penulis. Bahkan juga menjadi penerbit pernah saya lakoni. 

Sebagai penjual buku. "Profesi" tersebut saya jalani secara blessing in disguise ketidaksengajaan yang berkah. Semasa kuliah saya aktif dalam kegiatan mahasiswa. Menjadi panitia ini itu. Panitia seminar, peringatan Hari Besar Islam bahkan sampai drag race. 

Saat menjadi panitia seminar "Menatap Indonesia Masa Depan" yang digelar Senat Mahasiswa Fisipol UGM, dosen saya Dr Mohtar Mas'oed (waktu itu belum Profesor) bertanya siapa yang tahu perwakilan LP3ES di Jogja. LP3ES merupakan penerbit buku-buku sosial bermutu kala itu. Pusatnya di Jakarta.

Saat saya jawab, saya tahu. Pak Mohtar mengajak saya ke perwakilan LP3ES Jogja. Dosen asal Malang ini pun saya antar ke Mas Mursidi Musa. Kebetulan punya kios di Shopping Center. Ini lokasi "bursa buku" yang sangat terkenal di Jogja. Sampai sekarang. 

kagam2.jpgMohammad Rum, Koordinator Acara untuk Prof Dr Mohtar Mas'oed

Saat bertemu dengan Mas Mursidi itulah Pak Mohtar mengatakan mau mengambil buku karyanya yang diterbitkan LP3ES. "Seratus saja. Biar nanti dijual panitia di seminar," kata Pak Mohtar. 

Karena stok di kiosnya Shopping Center tidak ada sebanyak itu, kami diajak ke rumah Mas Mursidi yang dijadikan Depo LP3ES. Seratus eksemplar pun diserahkan ke saya untuk dijual di acara seminar yang bertempat di Gedung UC UGM.

Seratus buku seharga Rp 8.700 dapat diskon sangat besar (50%), saya pajang di satu meja. Di atasnya saya tulisi diskon 10%. Rupanya tulisan tersebut "tidak berlaku". Banyak pembeli yang tidak mau diskon. "Kamu mahasiswa kan? Diskonnya untuk kamu," kata Kepala BPS (waktu itu) Sugito Suwito MA. Begitu pula sejumlah pembeli yang lain.

Di akhir seminar, setelah dihitung, buku terjual 80 eksemplar lebih. Keuntungan yang saya dapat sangat banyak. Maka beberapa buku akhirnya saya berikan gratis ke teman-teman. 

Rupanya, menjadi "penjual" buku Ekonomi Dan Struktur Politik Orde Baru, 1966-1971 ini menjadi awal karir saya di dunia perbukuan.

Sejumlah buku pun hadir dari Bulaksumur. Bunga Rampai tulisan para dosen kala itu -- Pak Mohtar Mas'oed, Yahya Muhaimin, Ichlasul Amal, dan sebagainya. 

Kendati saat skripsi beliau bukan pembimbing saya, beberapa teori untuk memahami etnonasionalisme Pattani saya peroleh darinya. 

Pak Mohtar, tidak hanya "guru" di dalam ilmu Kampus Biru. Beliau juga guru untuk ilmu hidup. Saya sering "konsultasi" dengan beliau perihal "nasib saya" di Jawa Pos. Bagaimana ketika itu, sudah bertahun-tahun bekerja di JP tapi tidak diangkat menjadi karyawan. Bagaimana sistem penggajian Dan seterusnya. 

kagama1.jpg

Bahkan, saya belajar dari Pak Mohtar dalam urusan memotong kumis. Sebagai pemilik kumis tebal, beliau menegur saya saat kumis saya saya cukur habis. "Jangan dihabisi. Dipotong yang panjang saja," katanya. Hehehe

Agenda penyambutan pensiun beliau sudah lama dijadwalkan. 7 November puncaknya. Digelar talk show. Sebagai yang dipercaya sebagai "Lurah Angkatan" saya pun koordinir temen-temen untuk berkontribusi mensukseskan acara ini. 

Sayangnya, justru pada hari Kamis (7/11) itu, saya harus kembali kontrol ke dokter. Silaturahim baru yang harus diagendakan pasca-operasi. Saya hanya bisa "mbrebes mili" melihat keberhasilan acara sebagai bukti bakti murid terhadap gurunya itu. Maka dari atas pembaringan, saya pun membuat tulisan ringan ini. Sembari mohon maaf sebesar-besarnya pada Pak Mohtar dan Bu Yayuk sekeluarga, atas kelakuan "anak murid" yang mursal.

Bayangkan, rumah saya dengan beliau hanya terpisah Ringroad Barat, namun saya sowan ke Ndalem Nogotirto bersama keluarga baru dua kali. Saat anak saya bertanya kemana, saya bilang," Sowan ke Mbah Mohtar ya!" 

Dan itu tertanam sampai sekarang. Setiap kali lewat di sekitaran lokasi, mereka menyebut rumah Mbah Mohtar. 

Nyuwun pangapunten nggih Mbah Mohtar. Semoga terus "Produktif Sampai Mati" seperti judul buku best seller saya. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda