Tour POS II & III ke Jabar

Ngeri-Ngeri Senang di Jembatan Gantung

JEMBATAN TERPANJANG SE-ASIA TENGGARA: Rombongan POS II dan III saat akan menyeberang Jembatan Gantung Situ Gunung, Sukabumi. (Foto-Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

COWASJP.COM – Rombongan kecil dari Surabaya yang tergabung dalam alumni Jamaah Umroh the Power of Silaturahim (POS) III dan II melakukan muhibah silaturahim ke Bandung dan sekitarnya, pertengahan Oktober lalu. Inilah sebagian kisahnya:

Hmmmm kereen…indah sekali. Kalimat itu meluncur begitu saja ketika melihat Jembatan Gantung, Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat.

 Wisata itu diprakarsai Achmad Sudrajat (Kang Ajat) dan istrinya, Yani Suryani, anggota POS III asal Sukabumi.

jembatan-gantungsukma.jpgPenulis (kiri) saat mencoba melewati Jembatan terpanjang se-Asia Tenggara itu. 

 Kota tersebut merupakan tempat kedua yang dikunjungi rombongan setelah Bandung. Dari Sukabumi muhibah dilanjutkan ke Bogor, Depok, dan berakhir di Jakarta.

 Jembatan Gantung berada di area wisata Taman Nasional Gede Pangrango. Termasuk, Situ Gunung dan Curug Sawer. Panjang jembatan mencapai 253 meter dengan ketinggian sekitar 150 meter. Disebut-sebut sebagai jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. 

 Berjalan di atas jembatan itu bagaikan melintas di atas pucuk-pucuk pohon yang lebat di bawah sana. Ngeri-Ngeri senang. 

 Jembatan Gantung diresmikan Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, pada 9 Maret 2019. 

Kini jembatan tersebut menjadi ikon wisata di Sukabumi. Apalagi harga tiket masuk tidak mahal, Rp 50 ribu/orang.

 Dari areal parkir kendaraan ke Jembatan Gantung ditempuh sekitar 30-45 menit jalan kaki. Menyusuri jalan tanah turun naik.

jembatan-gantung4.jpg

Wisatawan bisa menikmati suasana dan pemandangan alam yang masih alami. Suara burung dan binatang lainnya.

Sebelum menuju mulut jembatan, pengunjung dipersilakan istirahat sejenak sambil menikmati suguhan makanan minuman tradisional. Ada pisang rebus, singkong rebus, teh, juga kopi. 

Ada panggung kecil dengan tribun kayu di situ. Pada hari-hari tertentu digelar pertunjukan musik.

jembatan4.jpg

Seusai istirahat rombongan menuju mulut jembatan. Satu per satu dipasang sabuk pengaman. Sabuk tersebut hanya digunakan jika ada peringatan.

Uji Nyali Phobia Ketinggian

 Ketika dilalui, jembatan akan bergoyang dan bersuara krieeett..krieeett. Apalagi jika ada yang berjalan agak cepat, goyangan akan lebih keras. Sarana uji nyali yang pas bagi penderita phobia ketinggian.

Goyangan itu membuat sebagian pejalan berteriak histeris. Bahkan, ada yang duduk ketakutan di tengah jembatan. Tapi ada juga yang tertawa, menikmati ketakutan para pejalan itu.

jembatan-gantung9847f.jpg

Rombongan POS III dan II dari Surabaya memang mayoritas emak-emak yang gampang berteriak. Tapi, mereka juga mudah tertawa jika ada cerita lucu. Juga gayeng berceloteh membahas topik apa saja

 ''Pak Jamal jangan lari, jembatan bergoyang keras,'’ teriak Mbak Ita Lizamia sambil tangannya pegangan  keras pada teman-temannya. Pak Jamal Abdel Nasser, Jamaah POS III anggota Satkor Armada II TNI AL itu memang lari mendekati ujung jembatan.

Histeria sebagian emak-emak itu memancing anggota rombongan lain, Pak Yarno, untuk mengusili mereka. Dia menggoyang jembatan dengan menggerakkan tubuhnya, berlari kecil sambil berteriak. Histeria pun kembali menggema. Sekelumit canda menyegarkan sekaligus mendebarkan.

 Setelah menyeberangi Jembatan Gantung, perjalanan dilanjutkan ke Curug Sawer, air terjun. Jaraknya hanya sekitar 180 meter. Tapi, medannya turun cukup terjal.

 Karena terlalu sore, rombongan tidak bisa berlama-lama di sana. Pengunjung harus keluar area setelah pukul 17.00.

selfie.jpg

 Setelah berfoto-foto , berselfiria bak anak remaja, rombongan pun segera balik. Yang tak sanggup jalan kaki, ada ojek motor yang siap membawa ke lapangan parkir dengan ongkos Rp 50 ribu.

 Sedangkan pejalan kaki harus kembali melalui Jembatan Gantung. ''Wah pasti rame nih,'' pikir saya. ''Jelas akan ada yang histeris lagi Pak,'’ kata  Pak Jamal.

 Ternyata, perjalanan balik tidak seheboh waktu berangkat. Selain ada yang memanfaatkan ojek motor, sebagian ingin segera sampai di area parkir untuk istirahat sambil menunggu waktu Maghrib.

Sepeda Danseskoad

 Sebelum ke Sukabumi, rombongan yang dikomandani wartawan senior Fuad Ariyanto (Cakfu) itu, bersilaturahmi ke Pak Mujiono dan Bu Martiani di Bandung. Pasangan suami istri itu juga alumni POS III.

 Mereka tinggal di kompleks Seskoad, Bandung. Rombongan juga menginap di mess Seskoad itu selama di Bandung.

danseskoad2.jpg

 Yang tak terduga, Danseskoad Mayjen TNI Kurnia Dewantara berkenan berkunjung tak lama setelah rombongan masuk mess.

Dia dan ajudannya mengendarai sepeda onthel. Dengan ramah Danseskoad mengucapkan selamat datang, berbincang, dan foto bersama. 

Sebelum berangkat ke Sukabumi keesokan harinya, Danseskoad mengundang rombongan ke kantornya, ditunjukkan ruang kerjanya, dan memberikan sekotak besar oleh-oleh untuk masing-masing anggota rombongan.

 Sebelum melepas rombongan ke Sukabumi dengan bus Seskoad –yang mengantar sampai Jakarta—Danseskoad sempat memperlihatkan sepeda pancalnya dengan plat  bertuliskan Danseskoad.

''Sepeda ini saya pakai untuk keliling kompleks,'' katanya. 

danseskoad.jpg

 Danseskoad juga berpesan, selama di Sukabumi sempatkan main di Jembatan Gantung. Yani Suryani Rustandi, tuan rumah di Sukabumi adalah adik kandung Danseskoad Mayjen TNI Kurnia Dewantara. (*)

Oleh: Ahmad Sukmana, anggota Umroh POS II.

Pewarta : Ahmad Sukmana
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda