Parade Cahaya Marakkan Hari Santri

Parade Cahaya Santri Nusantara untuk Perdamaian Dunia.

COWASJP.COM – Wardah Hidayati hanya bisa menonton siaran langsung upacara memperingati Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Putri An-Nur II melalui telepon genggamnya. Dari awal menonton, ia merasa kagum. Sebab bukan hanya upacara bendera berpakaian adat Bali, melainkan juga pertunjukan parade cahaya yang diberi nama “Parade Cahaya Santri Nusantara untuk Perdamaian Dunia”. 

Parade cahaya ini menjadi karya agung yang ditampilkan pada peringatan Hari Santri Nasional tahun ini. Sedang di tahun lalu, para santri putri menampilkan tarian daerah Likok Pulo yang melibatkan hampir seluruh santri putri. 

Parade cahaya ini hanya bisa disaksikan dengan jelas dari ketinggian. Karena formasi cahaya itu terbentuk dari titik-titik cahaya yang berasal dari lampu senter kecil yang dibawa santri. Dan dari gugusan titik tersebut membentuk bendera warna merah putih, sebagai lambang nasionalisme, warna hijau, lambang Hari Santri, dan warna biru sebagai lambang Pondok Pesantren An-Nur II. 

Tayangan langsung yang ditampilkan di Channel YouTube An-Nur II Malang pun diambil dari puncak Flying Fox. Dari situ tampak formasi tiga warna lampu yang berganti-ganti sesuai dengan irama lagu. Dari formasi ini, menurut Ustazah Fatma, mencerminkan nama besar Pondok Pesantren An-Nur II, pesantren pada umumnya, dan pentingnya persatuan. Beberapa bulan lalu, negeri ini dihadapkan oleh kasus rasisme yang terjadi di Papua.  

Dan seusai penampilan cahaya tersebut, lampu sorot yang telah tertata di lapangan barat pondok pesantren mati. Lantas hidup kembali dan menyoroti beberapa santri yang berdiri di panggung pendek yang diletakkan di tengah lapangan. Mereka adalah para penari yang membawakan tarian Kecak khas Bali. 

disway.jpg

Sembari para penari itu menampilkan tarian daerah itu, santri-santri lainnya duduk mengitari dan mengangkat kedua tangannya. Dan dengan irama tertentu, mereka menyerukan kata “Cak-Cak-Cak”. 

Tari Kecak tidak menjadi satu-satunya sajian tarian khas Bali yang ditampilkan, juga tari Asmaradhana. Dengan penari yang sama, tarian ini ditampilkan persis seperti aslinya, di mana para penari memakai topeng saat menampilkan tarian ini. 

Dari kedua tari tersebut, Ustazah Fatma menyebutkan bahwa Tari Kecak melambangkan gotong royong. Sedang Tari Asmaradhana melambangkan kasih sayang. Keduanya merupakan kekayaan budaya Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, santri itu cerminan Islam Nusantara,” tambahnya. 

Di Balik Itu Semua 

Wardah Hidayati adalah salah seorang dari banyaknya alumni Pondok Pesantren An-Nur II yang hanya bisa menahan kerinduan ketika menonton pertunjukan yang melibatkan lebih dari 3.000 santri putri ini. Yang jelas, parade cahaya dan tarian yang tampil usai pelaksanaan upacara ini,  26 Oktober 2019, mendapat banyak apresiasi. 

disway1.jpg

Terkhusus apresiasi dari Ibu Nyai Hj. Latifah. Bukan hanya sebatas memberikan apresiasi, beliau juga memberikan kepercayaan terhadap para santri untuk mempersembahkan penampilan ini. “Beliau (Bu Nyai) yakin kita bisa membuat beliau bangga,” ujar Ustazah Fatma, yang juga salah satu dari pencetus perhelatan tersebut. 

Berkat itu, beragam masalah dan halangan yang telah dilalui, terbayar lunas oleh kesuksesan yang telah dicapai. “Dari banyaknya apresiasi yang datang itu, acara ini pantas disebut sukses,” tambah Ustazah Fatma. 

Ide adanya parade cahaya itu datang sejak 3 bulan sebelum pelaksanaan Hari Santri Nasional. Yang mencetuskan adalah beberapa santri tingkat salafiyah, guru-guru SMP An-Nur, dan pengurus PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) yang kesemuanya hanya berjumlah 10 orang. 

Sebelum diberitakan kepada para santri dan memulai latihan, tim kreatif tersebut menyusun konsep dan jadwal latihan. Jadwal latihan tentunya menjadi pertimbangan penting di mana latihan tidak boleh mengorbankan jam mengaji. 

disway2.jpg

Dengan jadwal dan konsep yang telah ditentukan, para santri turun ke lapangan pondok putri untuk berlatih. Biasanya sekitar pukul 08.30. Hal itu dirasakan betul oleh Anida yang turut dalam barisan itu. 

Karena ada latihan itu, ia harus menyelesaikan tugas sekolahnya lebih cepat. Dan tak jarang, ia tertidur saat pembagian formasi. “Iya, walau pun cuma duduk di atas sandal, sempat pernah ketiduran juga,” tuturnya.  

Perjuangan dan usaha itu tidak sia-sia. Ibunya merasa bangga putrinya terlibat aktif dalam pertunjukan spektakuler tersebut. “Orang tua tentunya sangat bangga anak saya bisa terlibat dalam acara ini,” lanjutnya. 

Bukan hanya bagi Anida. Perhelatan yang berhasil berkat gotong royong dari berbagai pihak ini tentu menjadi bukti bahwa, “Santri di pesantren berasal dari banyak daerah, pastinya banyak perbedaan dalam banyak hal, dalam komunikasi contoh misalnya, namun di pesantren mereka selalu tetap bisa akur dan tak pernah ada permusuhan meskipun banyak perbedaan antara santri satu dengan santri yg lain,” ujar Ustazah Fatma mengakhiri wawancara.

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda